
Sebulan sudah berlalu semenjak kematian tragis dean, bahkan selama sebulan ini pula kematian dean mengisi berbagai berita elektronik dan cetak.
Dan selama sebulan ini pula sesil di larang ke luar rumah tanpa di temani nathan ataupun papinya, karena Swan takut tasya akan menuntut balas atas kematian putra tirinya.
Dan selama sebulan ini pula, nathan sedang sibuk mengerjakan proyek kerja sama dengan dave, bahkan nathan selalu berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam, sudah sebulan pula sesil sangat sulit berkomunikasi dengan nathan.
Nathan pergi saat sesil masih tidur dan nathan kembali juga sesil sudah terlelap tidur.
Sore ini sesil sedang duduk di depan televisi sembari bermain sosial media.
Tiba-tiba terdengar deru mobil memasuki halaman rumahnya, padahal waktu masih menunjukan pukul 05.30pm.
Sesil mengernyit keheranan, tapi saat pintu terbuka, ternyata nathan yang baru saja kembali.
"Kau sudah pulang?" Sesil menoleh ke arah nathan yang baru saja memasuki rumahnya.
"Aku mandi dulu" nathan berlalu meninggalkan sesil, yang memandangnya dengan tajam, ada kerinduan di relung hati sesil karena sudah hampir sebulan dia jarang sekali berkomunikasi dengan Nathan.
Tak berselang lama, nathan sudah kembali lagi ke ruang tamu menggunakan stelan baju rumahan yang santai, dan di tangannya menggenggam kunci mobil.
"Mau kemana lagi dia" gumam sesil dalam hatinya.
"Ayo!" ucap nathan.
"Kemana?" Sesil mengernyit keheranan
"Lihat rumah, malam ini kita akan pindah rumah, aku sudah berbicara kepada papi tadi saat jam makan siang, dan papi sudah menyetujuinya" Imbuh nathan lagi.
"Kenapa mendadak sekalu" Gerutu sesil
"Aku sudah menyuruh pelayan mengemasi beberapa barang yang perlu di bawa, dan nanti akan di antar sopir ke rumah baru kita"
Nathan menarik tangan sesil dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya, nathan menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya meninggalkan rumah kediaman swan.
Selama perjalanan sesil diam saja, rasanya dia sangat kesal karena nathan membuat keputusan yang begitu mendadak.
Mobil yang nathan kendarai memasuki sebuah area perumahan elite, dan berhenti tepat di depan rumah bergaya eropa minimalis dengan cat berwarna putih.
Di halaman rumah itu terdapat taman kecil di lengkapi dengan ayunan dan bunga lili yang tumbuh begitu cantiknya.
Nathan memarkirkan mobilnya dan mengajak sesil masuk kedalam rumah yang sudah di persiapkan olehnya.
Sesil berdecak kagum melihat rumah yang sangat minimalis tapi elegan.
Nathan membukakan pintu dan mengajak sesil masuk ke dalam ruangan.
Sesil berdecak kagum melihat isi rumah tersebut, bahkan foto pernikahan dirinya dan nathan sudah terpampang dengan jelas di ruang tamu mereka.
Sesil berdiri tepat di depan foto pernikahannya, sesil menatap foto itu begitu lama, tak terasa sebulan sudah dia menjadi istri dari nathan, tapi hingga hari ini sesil merasa belum menjadi istri seutuhnya untuk nathan.
"Apa kau suka?" nathan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu.
"Selama sebulan ini, ketika aku pulang dari kantor aku sempatkan datang kemari untuk menata perabot di sini" Imbuh nathan lagi
Sesil cukup tercengang mendengar penuturan dari nathan, sesil pikir nathan melupakannya dan tak lagi perduli padanya. Seketika sesil menghadap ke nathan dan langsung melingkarkan kedua tangannya di leher nathan.
"Terimakasih" Sesil tersenyum manis dan menatao dalam kedua bola mata nathan.
"Papi siang tadi berangkat keluar kota mungkin tiga hari ke depan, tapi papi bilang akan segera mengunjungi kita setelah papi pulang nanti" Imbuh nathan, nathan sangat gemas melihat sesil bersikap manja kepadanya, bahkan satu kecupan mendarat di pipi kanan sesil.
Setelah puas melihat isi ruang tamu, nathan mengajak sesil melihat kamar tidur mereka.
Kamar tidur mereka ada di lantai dua, perlahan sesil menapaki anak tangga, dan kini sesil dan nathan berhenti di depan sebuah kamar, dengan perlahan nathan menyentuh knop pintu dan membukanya, sesil terkesiap melihat kamar tidurnya yang di cat biru muda sesuai dengan warna favoritnya.
Sesil perlahan masuk ke dalam kamar tersebut, terdapat dua lemari di dalamnya, dan satu ranjang yang ukurannya lumayan besar, meskipun ukuran kamarnya lebih kecil dari kamarnya di rumah swan, tapi sesil sangat suka dengan desain kamar ini.
Sesil berdecak kagum saat melihat lemari kecil yang berisi kamera antik, sesil menoleh ke arah nathan yang berdiri di belakangnya.
"Itu aku beli dari temanku, kau kan suka fotografi" imbuh nathan lagi sambil tersenyum.
Pandangan mata sesil beralih ke arah, lemari yang berukuran besar, sesil mendekat ke arah lemari dan menggeser pintu lemari tersebut, betapa terkejutnya ternyata lemari itu sudah penuh dengan berbagai baju wanita dan baju nathan tentunya.
__ADS_1
Sesil tak menyangka nathan menyiapkan ini semua untuknya.
"Apa kau suka?" Nathan memeluk tubuh sesil dari belakang, sesil tak lagi menolaknya, karena memang dia juga merindukan kebersamaannya dengan nathan.
"Oh iya, aku sudah menyiapkan tiket liburan untuk kita ke jepang besok" imbuh nathan lagi
"Jepang?" sesil terkejut mendengar ucapan nathan, namun nathan dengan enteng mengangguk.
"Papi yang memintaku untuk mengajakmu bulan madu, sepertinya papi sudah sangat menginginkan cucu" Nathan terkikik pelan.
"Tapi aku tidak mau ke jepang" Sesil mengerucutkan bibirnya, nathan yang melihat raut wajah sesil dari pantulan kaca lemari tersenyum, dan langsung membalikkan tubuh sesil menghadapnya.
"Lalu, kau ingin kemana?" Nathan menaikan kedua alisnya menatap sesil, dan tangannya menyibakkan rambut sesil.
"Rembang"
"Rembang??" Nathan mengulangi ucapan sesil
"Ehm"
"Di sana ada resort papi yang menghadap langsung ke pantai, aku sangat menyukai pantai, jadi kita kesana saja ya?" Rengek sesil sambil bergelayut manja di lengan suaminya itu.
"Kau yakin?" tanya nathan, dan sesil langsung mengangguk mantap sebagai jawabannya.
"Baiklah" Nathan tidak bisa menolak semua permintaan istri kecilnya itu.
"Ya sudah besok kita berangkat pagi-pagi kesana" Nathan mengusap puncak kepala istrinya itu.
"Nath...." Ucap sesil lirih, entah mengapa wajah sesil berubah menjadi merona, bahkan sesil tak berani menatap wajah nathan, sesil menundukkan oandnagannya
"Kenapa?" Nathan mengangkat dagu sesil untuk menatapnya. Pikiran liar nathan kembali bergejolak, apalagi di rumah ini hanya ada mereka berdua, nathan melihat ke arah bibir tipis sesil yang sangat menggiurkan itu, perlahan nathan mendekatkan wajahnya dan mengecupnya, rasa bibir sesil selalu membuat nathan mabuk kepayang.
Bahkan kali ini sesil langsung membalas ciuman nathan dan melingkarkan kedua tangannya di leher nathan.
Mendapat sambutan baik dari sesil, nathan memperdalam ciumannya, bahkan lidahnya masuk dan membelit lidah sesil.
Ciuman mereka semakin panas, bahkan tangan nathan sudah bergerilya menelusup di balik baju sesil.
Ada rasa baru yang belum pernah sesil rasakan sebelumnya. Nathan menggiring sesil dan menjatuhkannya di atas kasur, tangan kanan nathan mulai melepaskan kancing baju yang sesil kenakan, sedangkan tangan kiri nathan masih asik meremas dada sesil.
Keduanya sudah sangat menikmatinya, tapu sialnya tiba-tiba saja terdengar suara motor memasuki halaman rumahnya.
"Kakak..." Terdengar suara keandra memanggil dari luar rumah.
"Kak sesil, kak nathan, keandra datang" Keandra kembali berteriak memanggil kakaknya.
Nathan mendengus kesal saat aktivitasnya di ganggu, Sama halnya dengan sesil
"Anak nakal itu, kenapa bisa kemari" Dengus sesil.
Nathan beranjak dan melepaskan sesil, kemudian nathan mengenakan kembali kaos yang sudah sempat terlepas tadi.
"Mau kemana?" Seru sesil yang melihat Nathan berjalan menjauh darinya
"Menemui keandra" Suara nathan terdengar begitu kesal
"Rapihkan pakaianmu, cepatlah ke bawah" imbuh nathan lagi.
Nathan sudah terlebih dulu pergi meninggalkan sesil, sedangkan sesil merapihkan kembali pakaiannya dan rambutnya yang sudah berantakan akibat nathan lagi.
Sesil kembali teringat adegan panasnya tadi, seketika pula wajahnya bersemu merah.
"Kakak..." Keandra kembali berteriak dan mengetuk pintu rumah nathan.
Nathan menyentuh knop pintu dan mencoba tersenyum menyambut kedatangan keandra yang sudah menganggu acara sorenya.
Saat pintu terbuka, keandra tersenyum senang dan langsung memeluk nathan yang sudah di anggap seperti abangnya sendiri.
"Kakak kenapa lama sekali? tadi kean datang ke rumah om swan, tapi kata pelayan di sana kakak pindah rumah kemari, jadi kean menyusul kemari, oh iya kak, mama, papa dan opah juga sebentar lagi akan tiba kemari, tadi mereka semua juga berniat berkunjung ke rumah om swan" Ucap keandra panjang lebar.
"Ya sudah, ayo masuk" nathan mengajak kean masuk ke dalam rumah barunya, dan saat itu pula sesil baru turun dari lantai atas.
__ADS_1
"Anak nakal, kenapa kau datang kenari" Dengus sesil
"Kakak, aku...."
tin.. tin... tinn...
Ucapan kean terhenti saat mendengar klakson mobil yang memasuki pelataran rumah sesil.
Seketika nathan dan sesil kembali ke teras rumah, benar saja keluarga Tante rara dan satu mobil pengangkut barang datang ke rumah mereka.
Nathan dan Sesil menyambut kedatangan mereka
Semuanya kini berbincang di ruang tamu keluarga, sedangkan rara sedang membantu sesil merapihkan barang-barangnya.
Di tengah obrolan mereka, sean menyodorkan amplop putih ke depan nathan.
"Ini kado pernikahan dari om dan tente, maaf sedikit terlambat" ucap sean,
"Bukalah" Ucap sean kembali, dan nathan pun menerimanya dan membuka isi amplop tersebut.
"Tiket honeymonth ke maldiv?"
"Iya" jawab sean.
"Terimakasih om, tapi rencananya besok kami akan liburan ke rembang selama tiga hari, awalnya saya mau mengajak sesil ke jepang, tapi sesil menolak dan malah meminta ke rembang" imbuh nathan kembali.
"Ah, sayang sekali" ucap sean dengan nada yang kecewa.
Kemudian mereka semua berbincang-bincang hingga larut malam, Rara juga sudah bergabung dengan mereka kembali begitu dengan sesil, bahkan sesil beberapa kali menguap karena menahan rasa kantuk.
Hampir setengah sebelas malam mereka baru berpamitan untuk kembali ke rumah.
Setelah semua keluarganya pulang, sesil langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan melemparkan dirinya di atas kasurnya yang empuk.
Nathan hanya mengulum senyum dan ikut berbaring di samping sesil, nathan membalutkan selimut ke tubuh sesil, lalu memeluk sesil dengan erat.
"Sil.. " nathan mencoba memanggil sesil
"Hm" sesil berdehem tanpa mau membuka matanya, karena matanya terlalu lengket
"Aku sangat mengantuk, tidurlah, besok kan kita juga mau liburan" imbuh sesil lagi
Nathan hanya tersenyum saja mendengar ucapan sesil, padahal nathan sangat menginginkannya saat ini, tapi melihat sesil yang sudah mengantuk dan kelelahan merapihkan barang, nathan tak tega memaksanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1