
Swan terlihat masih tertawa dengan begitu renyah di samping Nathan, sedangkan nathan hanya tersenyum pelik menanggapi papi mertuanya yang terus saja meledek dirinya.
"Papi juga sewaktu muda selalu hilang kendali bila berdekatan dengan mendiang mami sesil" Imbuh Swan lagi, kali ini wajah swan berubah menjadi datar, dia kembali mengingat masa-masa bersama mendiang istrinya.
Rasanya dia begitu merindukan mendiang istrinya yang sudah terlebih dulu kembali kepangkuan Tuhan.
"Pi, masih ada kami, kami pasti akan selalu menemani papi" Nathan memberanikan diri mengusap pundak milik swan, swan yang mendapat perlakuan seperti itu seketika menolah dan menatap nathan.
Nathan yang di tatap begitu langsung menjauhkan tangannya dari pundak milik Swan.
Nathan begitu merutuki kelancangannya tersebut.
"Jaga sesil seperti papi menjaganya sedari kecil nath" Ucap swan terhadap nathan, bahkan ucapan swan terdengar begitu dalam di indera pendengaran milik nathan.
Nathan yang mendengar penuturan dari Swan seketika langsung menganggukkan kepalanya dengan pasti.
Swan yang melihat nathan menganggukkan kepala seketika dia langsung tersenyum dan menepuk pundak menantunya.
"Pi, ini minumnya" Sesil membawa nampan berisi tiga orange jus dan meletakkannya di atas meja kaca.
Setelah meletakkan gelas tersebut, sesil langsung duduk di sebelah swan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik papinya tersebut.
Rasanya tinggal beberapa hari berjauhan dengan papinya, sesil merasa rindu ingin bermanja dengan papinya.
"Kau ini, sudah punya suami masih saja manja" swan membelai kepala putrinya dengan begitu lembut, rasanya dia juga sangat merindukan putrinya.
Sedangkan nathan hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Apa di dalam sini sudah ada isinya sayang?" Swan tersenyum sembari mengusap perut datar milik sesil.
"Ada pih, makanan" Celetuk sesil, rasanya dia benar-benar geli melihat tingkah papinya yang tak berbeda jauh dengan nathan yang selalu mengajak perutnya berbicara.
"Papi ini sama seperti nathan, apa mungkin aku hamil secepat itu? semua butuh proses pi" Sesil memutar bola matanya dengan malas menanggapi celotehan papinya
"Biarkan semua berjalan dengan alami" Imbuh sesil lagi, kali ini swan hanya tersenyum saja menanggapi jawaban putrinya.
"Oh iya, imel datang kemari sayang, tadi dia sudah ke rumah papi dan meninggalkan barangnya disana, tapi imel sekarang sedang pergi untuk melakukan pertukaran tenaga medis di salah satu rumah sakit di sini, sepertinya imel bakalan menetap di sini dalam jangka waktu cukup lama"
"Benarkah pi? Sesil senang mendengarnya" Sesil melebarkan senyumnya, dia begitu bahagia mendengar sahabatnya akan tinggal lama di sini. Itu artinya sesil tidak akan merasa kesepian lagi, bahkan akan ada teman yang menemaninya shopping.
"Pi, besok sesil ngantor ya, sesil jenuh di rumah sendirian?" Imbuh sesil lagi, kali ini sesil memelaskan wajahnya ke arah papinya.
"Bagaimana nath?" Swan melirik ke arah nathan yang kala itu habis meminum orange jus yang di buatkan oleh sesil.
"Kalau nathan sih gimana sesil pi, asal dia senang nathan selalu mendukungnya" tukas nathan.
Sesil begitu tersenyum lebar mendapat persetujuan dari nathan, dan Swan hanya bisa menghela nafas saat mendengar jawaban dari Nathan, pasalnya swan ingin sesil istirahat di rumah agar sesil bisa cepat hamil.
Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang hingga petang, dan ketika hari mulai gelap Swan memutuskan untuk kembali ke rumahnya, awalnya sesil melarang dan meminta papinya menginap semalam di rumahnya, tapi swan menolaknya dan memilih pulang ke rumah.
Setelah mobil swan meninggalkan halaman rumah, Sesil dan Nathan berjalan beriringan memasuki rumahnya.
Sesil terlebih dulu mandi sedangkan nathan memilih membuka laptop untuk mengecek pekerjaan yang selama tiga hari di tinggalkannya.
Setelah sesil menyelesaikan mandinya, nathan bergantian dengan sesil untuk mandi. Sambil menunggu Nathan mandi, sesil menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Karena ART yang di pesan oleh nathan dari yayasan baru akan datang besok pagi.
Sesil mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam kulkas dan mulai aktifitas memasaknya.
Malam ini sesil membuat spageti jamur untuk dirinya, sedangkan untuk nathan sesil membuatkan ayam bakar rumahan.
Sekitar hampir satu jam lamanya sesil berkutat di dapur, masakan sederhana buatan sesil sudah terhidang di atas meja makan.
Sesil terlebih dahulu melepas celemek yang membaluti tubuhnya, setelah celemek terlepaskan, sesil kemudian memanggil nathan di Ruang kerjanya.
__ADS_1
Sesil perlahan menyentuh knop pintu dan mendorongnya hingga pintu terbuka, dan benar saja Nathan tak menyadari kehadirannya karena Nathan sibuk bekerja.
"Nath, makan malam sudah siap" Seru sesil.
Mendengar suara istrinya, sejenak nathan mengalihkan pandangannya dari layar komputer ke arah sesil yang berdiri di ambang pintu.
"Kau duluan saja, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, nanti aku akan menyusul" tukas nathan, dia pun kembali memfokuskan pandangannya ke arah layar laptop miliknya, mendengar penuturan Nathan, sesil mendengus dengan kesal dan masuk ke dalam ruang kerja nathan, dia kemudian mendudukkan dirinya di atas sofa sembari kedua tangannya di lipat di atas perut.
"Aku akan menunggumu" Seru sesil lagi, bahkan wajahnya terlihat begitu kesal.
"Kau ini" Nathan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sesil yang seperti itu.
"Ya sudah ayo" Nathan beranjak dari kursinya untuk menghampiri sesil yang sedang duduk di sofa dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ayo kita makan" Nathan menarik tangan istrinya, namun sayangnya sesil diam tak bergeming di posisinya.
"Sayang ayo" Imbuh nathan lagi, namun sepertinya sesil mengambek dan tak menjawab perkataan nathan sama sekali.
Nathan tersenyum gemas melihat sesil yang ngambek terhadap dirinya. Seketika nathan mencondongkan tubuhnya dan mengecup pipi kanan sesil dengan begitu lembut.
Membuat sesil melebarkan matanya dan tersenyum samar.
"Ayo ! Apa kau saja yang aku makan?" Goda nathan lagi.
Sesil hanya mengerucutkan bibirnya menatap nathan dan kemudian dia beranjak berdiri berjalan beriringan dengan nathan menuju ruang makan.
Keduanya menikmati santapan makan malam dengan hening, karena sesil selalu di ajarkan di larang berbicara ketika di meja makan oleh papinya.
Seusai makan malam, Nathan terlebih dahulu membantu sesil membereskan piring kotor. Sesil mencuci piringnya sedangkan nathan menata piring yang sudah di cuci ke dalam rak.
Keduanya terlihat begitu kompak saling membantu satu sama lain.
Setelah piring kotor semuanya tercuci dengan bersih. Nathan berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya kembali, dan sesil lebih memilih untuk menonton tv di ruang tamu.
Waktu terus berlalu hingga rasa kantuk mulai menyerang mata sesil, beberapa kali sesil menguap bahkan menyebabkan matanya berair. Namun dirinya berusaha menahan rasa kantuknya untuk menunggu nathan selesai bekerja.
Namun lama kelamaan sesil pun terlelap di atas sofa ruang tamu.
Hampir pukul 01.00 dini hari nathan baru menyelesaikan pekerjaannya, dia menutup laptopnya dan berjalan keluar ruang kerja, dan saat membuka pintu ruang kerja, betapa terkejutnya Nathan melihat sesil tertidur di atas sofa.
Nathan berjalan mendekat ke arah sofa dan berdiri tepat di hadapan sesil. Nathan terdiam menatap wajah mungil istrinya yang terlelap begitu pulasnya.
Wajah yang selalu membuatnya merasakan rindu yang membunuh ketika berjauhan.
Nathan tersenyum dan membopong tubuh sesil untuk dipindahkan ke kamar tidurnya.
Perlahan nathan membawa sesil menuju kamarnya, kemudian Nathan meletakkan tubuh sesil di atas ranjang dan menutupkan selimut ke tubuh sesil.
Sebelum membaringkan tubuhnya, nathan terlebih dahulu berganti dengan piyama tidur yang nyaman.
Setelah berganti pakaian nathan juga ikut membaringkan tubuhnya di samping sesil.
Dia terlebih dahulu mengecup kening sesil dan tidur dengan memeluk tubuh mungil istrinya.
****
Pagi ini nathan dan sesil sudah berpakaian rapih dan sedang menikmati menu sarapan pagi di meja makan.
Karena hari ini mereka akan kembali beraktifitas seperti biasanya.
Setelah sarapan pagi, nathan mengambil tas kerjanya di ruang kerja, sedangkan sesil menunggunya di ruang makan.
Tak lama kemudian Nathan kembali dengan membawa tas kerjanya di tangannya.
Nathan pun mengajak sesil untuk berangkat bekerja.
__ADS_1
Terlebih dahulu Nathan mengantar sesil ke kantor papinya, baru setelah itu dirinya akan menuju kantornya.
Seperti biasanya lalu lintas kota semarang di jam berangkat ke kantor selalu saja padat. Membuat setiap warganya harus memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapi kemacetan itu.
Setelah menempuh perjalanan yang begitu macet, mobil yang nathan kendarai berhenti di depan lobi kantor milik Swan. Sesil pun segera turun dari mobil, setelah sesil turun nathan kembali melajukan mobilnya, namun tiba-tiba saja sesil teringat kalau ponselnya tertinggal di mobil Nathan, dengan segera sesil berlari mengejar mobil nathan yang hendak meninggalkan kantor papinya.
Nathan segera menepikan mobilnya saat melihat dari kaca spion sesil mengejarnya.
Nathan turun dan menghampiri sesil yang berdiri tak jauh darinya sambil mengatur nafasnya.
"Nath, ponselku tertinggal" Sesil berteriak ke arah nathan yang hendak menghampirinya, mendengar penuturan sesil, nathan memutar kembali laju kakinya menuju mobilnya.
Setelah mengambil ponsel milik istrinya, nathan pun segera mengantarnya kepada sesil.
Dan saat sudah dekat dengan sesil, tiba-tiba saja ada mobil pick up kecil dari arah berlawanan mengarah kepadanya.
Sesil yang menyadari hal itu langsung berlari sekuat tenaga dan mendorong tubuh nathan hingga jatuh tersungkur.
Dan alhasil sesil yang tertabrak, tubuhnya terpental dan darah segar mengalir dari kepala dan kakinya.
"Sesil" Nathan berteriak histeris dan berlari menghampiri sesil yang terjatuh di atas aspal jalanan.
Nathan menarik kepala sesil dan meletakkannya di atas pangkuannya.
"Kau baik-baik saja?" Tangan sesil terangkat dan mengelus pipi nathan dengan begitu lembut, bahkan sesil tersenyum begitu lega ketika melihat Suaminya baik-baik saja.
Namun senyum di wajah sesil lama kelamaan memudar, pandangan matanya menjadi gelap dan sesil pun menutup matanya.
Swan yang kala itu baru saja tiba di kantornya, begitu terkejut melihat sesil dengan kondisi seperti itu.
Swan hendak turun dari mobilnya namun tiba-tiba saja ponselnya berdering, satu miss call dari nomor tak di kenal, dan satu pesan masuk
Aku mengincar menantumu, tapi sayangnya putrimu yang terkena.
Anggap saja kita Dua sama ~+6281222888000
Membaca pesan singkat tersebut Swan meremas ponsel miliknya, berani sekali dia mengirim pembunuh bayaran di pagi buta seperti ini.
Swan melemparkan ponselnya ke kursi mobil yang kosong. Dia segera berlari menghampiri Nathan.
Swan segera meminta nathan membawa sesil masuk ke dalam mobilnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1