Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Kabar Duka


__ADS_3

Sesil masih melahap spageti mashroom buatan nathan, sedangkan nathan duduk di samping sesil sembari menikmati teh panas yang di buatkan oleh sesil.


Sesekali nathan menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum samar karena melihat sesil yang makan dengan lahapnya.


"Ah kenyang" Sesil bergumam dan tangannya meraih segelas air putih di atas meja tersebut.


"Hm, sil..." Nathan nampak ragu mengatakan kata-kata berikutnya.


Sesil mengernyitkan dahinya dan memalingkan pandangannya menatap nathan yang duduk tepat di sampingnya.


Sedangkan nathan nampak sedang menimang mempertimbangkan sesuatu.


Terlihat wajahnya penuh keraguan, bahkan nathan terlihat mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja makan yang terbuat dari kaca itu.


"What your mind?" Sesil semakin menyipitkan matanya melihat gerak-gerik nathan yang mencurigakan.


"Hm, apa suatu saat jika aku tidak mempunyai apa-apa kau masih mau berdiri di sampingku? dan apakah kau yang sedari kecil hidup berkecukupan akan bisa bertahan di saat terbawah sekalipun?"Nathan menatap dalam kedua bola mata sesil, sedangkan sesil terhenyak dengan pertanyaan nathan, harus bagaimana dia menyikapinya, sedangkan sesil saja belum yakin atas perasaannya sendiri.


"Sil..?" Nathan mengibaskan telapak tangannya di depan wajah sesil, dan sesil yang kala itu sedang sibuk dengan pikirannya seketika langsung sadar dan ikut menatap kedua bola mata nathan yang kini juga sedang menatapnya.


Bahkan sesil melihat ada kegelisahan di sana, ada sirat kawatir dari sorot mata nathan saat ini.


"Mungkin, aku akan langsung menendangmu menjauh dariku" Sesil tiba-tiba tersenyum sinis ke arah nathan, dan seketika itu pula nathan melebarkan matanya seakan tidak percaya akan jawaban dari gadis yang saat ini duduk berhadapan dengannya.


"Aku tidak suka hidup susah" imbuh sesil lagi, bahkan kali ini wajah sesil berubah begitu serius dan mengalihkan pandangannya dari nathan.


"Aku sedari kecil selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, jadi jika kau mengajakku hidup susah lebih baik kau mengembalikan aku kepada papiku, kekayaan yang papiku miliki tidak akan habis hingga generasi ke sepuluh" Sesil kembali tersenyum sombong dan terlihat mengintimidasi nathan yang semakin terkejut mendengar semua penuturannya.


"Jadi kau..." Nathan menarik nafasnya dengan berat dan perlahan menghembuskannya, bahkan nathan terlihat mengusap dadanya yang terasa sesak.


Dalam hati sesil sangat senang bisa membuat nathan seperti itu, biasanya nathan yang selalu membuat jantungnya terasa sakit karena berdetak lebih kencang dari yang seharusnya saat nathan memperlakukannya dengan manis.


Sesil masih menunggu ucapan nathan yang selanjutnya, dan berusaha keras untuk menahan tawanya yang sebentar lagi akan pecah.


"Sebenarnya aku.. hmmm"


"Aku sudah membeli rumah yang letaknya tidak jauh dari sini, rumah itu aku beli dari hasil kerja kerasku selama dua tahun ini, dan baru saja selesai tahap renovasi seminggu yang lalu, dan aku berniat ingin mengajakmu tinggal di sana, tapi..." Nathan tidak melanjutkan kata-katanya lagi.


"Tapi apa?"Sesil memiringkan kepalanya menatap nathan.


"Tapi sepertinya kau tidak akan betah tinggal di sana, karena rumah itu memiliki ukuran yang lebih kecil dari rumahmu saat ini. Sebenarnya aku bisa saja membeli rumah yang lebih besar lagi dengan menggunakan uang ayahku, tapi aku tidak menginginkan itu, aku lebih suka dengan semua hasil kerjaku sendiri" Imbuh nathan lagi, wajahnya terlihat begitu bermuram durja saat ini.


Sesil terkesiap mendengar penuturan yang baru saja di sampaikan oleh nathan.


"Ya sudah lupakan perihal rumah itu, aku akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa membelikan istana untukmu" Dengus nathan, seketika tawa sesil pecah, rasanya begitu lucu melihat ekspresi wajah nathan yang seperti itu, dan nathan hanya menautkan kedua alisnya menatap keheranan karena sesil tak hentinya tertawa.


Dan saat sesil melihat ekspresi nathan, sesil seketika menghentikan tawanya dan membuat wajahnya kembali serius lagi.


"Hm, jadi begini nath.."


"Aku sekarang adalah istrimu, jadi surgaku ada padamu, restu mu sama halnya dengan restu tuhan. Jadi kemanapun kau akan mengajakku, asalkan itu dalam hal kebaikan, pasti aku akan patuh. Dan soal ukuran rumah, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Tapi soal pindah rumah, kita bicarakan pada papi terlebih dahulu, kau kan tau, aku anak tunggal di rumah ini, terlebih lagi mami sudah tiada" Sesil mengalihkan pandangannya dari nathan, rasanya begitu berat jika harus meninggalkan papinya seorang diri.


"Kau tenang saja, kau bisa setiap hari berkunjung kemari, karena letak rumah yang aku beli tidak jauh dari sini" Nathan mencoba meyakinkan sesil dan menggenggam tangan sesil dengan erat.


"Kita bicarakan ini besok lagi, mari kita tidur, aku sudah mengantuk" Nathan beranjak berdiri dan hendak membawa piring bekas makan sesil dan cangkir teh yang sudah kosong, namun sesil melarangnya,dan kini sesil merapihkan wadah bekas makan mereka dan menyimpan di tempat yang semestinya.


"Ayo" nathan seketika membopong sesil di dalam dekapannya.


"Turunkan aku" Sesil menggerakkan kakinya dan berusaha turun dari bopongan nathan, namun nathan tidak menghiraukannya sama sekali, dia dengan mantap membawa sesil kembali ke kamarnya.


Setelah sampai kamar, sesil dan nathanterlebih dahulu menggosok giginya ke dalam kamar mandi, bahkan keduanya terlihat bermain busa yang ada di dalam mulut mereka, layaknya anak kecil.


Setelah menggosok gigi, sesil dan nathan beriringan menuju ranjang kamar sesil dan merebahkan tubuh mereka di sana.


Nathan menarik selimut untuk sesildan menutupkan hingga bagian dada.


Tangan nathan terulur mengusap puncak kepala sesil dan mengusapnya dengan lembut di sana.

__ADS_1


"Terimakasih nath, atas semua kebaikan yang sudah kau berikan padaku, aku juga akan mengusahakan yang terbaik untukmu" Sesil merubah posisi tidurnya menjadi menghadap nathan.


Sesil baru menyadari kalau suaminya memang tampan, pantas saja dulu ketika SMA nathan menjadi bintang sekolah,bahkan hampir semua wanita di sekolah mereka berlomba menjadi kekasihnya, dan sayangnya nathan selalu memasang wajah tak ramah kepada setiap wanita termasuk sesil.


Sesil tersenyum geli mengingat masa lalunya, dan dia jadi berandai-andai, jika teman wanita sekolahnya mengetahui nathan menjadi suaminya, kira-kira apa yang akan di perbuat oleh mereka?


Banyak hayalan yang berputar di kepala sesil, dan saat sesil sadar dari lamunannya, tangan nathan sudah tak lagi mengusap kepalanya.


Sesil melihat ke arah nathan yang matanya sudah terpejam.


Bahkan deru nafasnya juga sudah terdengar begitu teratur, sepertinya nathan sudah tidur karena kelelahan bekerja seharian.


Sesil tersenyum menatapi wajah teduh lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Tiba-tiba sesil mengecup pipi kanan nathan, kemudian melingkarkan tangannya di atas perut nathan, dan sesil kemudian memejamkan matanya.


****


Jam weker di atas meja kecil samping tempat tidur mengganggu tidur pulas sesil, sesil dengan kesal meraih jam tersebut dan mematikkannya, kemudian dia beranjak duduk dan menggosokkan matanya.


Sesil melihat ke arah jam dinding di dalam kamarnya, waktu masih menunjukkan setengah enam pagi.


Sekilas sesil menoleh ke arah nathan yang masih tertidur pulas.


Sesil meraih ikat rambut dan mengikat rambut panjangnya, kemudian dia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Setelah mencuci wajahnya, sesil langsung berlalu menuju dapur rumahnya, terlihat di sana kepala koki rumahnya sudah sibuk mempersiapkan menu sarapan pagi ini.


"Pagi paman" Sesil menyapa kepala pelayan yang sudah setengah baya itu.


"Nona, ada yang bisa saya bantu?" Kepala pelayan terkejut melihat sesil yang sepagi ini sudah berada di dapur.


"Paman pagi ini tidak usah memasak sarapan, sesil yang akan membuat sarapan untuk papi dan nathan" Sesil menyunggingkan senyumnya dan menarik tangan kepala pelayan dan membimbingnya untuk duduk di salah satu kursi.


"Paman di sini saja, temani sesil mengobrol" ucap sesil


"Sudahlah paman, menurut saja" Sesil berbalik badan dan langsung mengenakan celemek di tubuh mungilnya.


Pagi ini sesil berencana akan membuat roti panggang dan telor setengah matang sebagai pelengkapnya, di tambah sandwich beberapa makanan ringan lainnya.


Tidak lama kemudian sesil sudah menyelesaikan masakannya dan kembali lagi ke dalam kamar untuk membangunkan nathan.


Sedangkan nathan menggeliat dari tidurnya dan meraba kasur sebelahnya, dan saat kasur sebelahnya sudah terasa kosong, mata nathan terbelalak karena terkejut, nathan mengernyit heran karena sesil sudah menghilang dari peredaran.


"Kemana gadis itu" Gumam nathan dalam hatinya, namun tiba-tiba pintu kamarnya terdengar terbuka.


Ceklek....


Masuklah sesil yang masih mengenakan gaun tidurnya berjalan memasuki kamar,dan nathan yang mengetahui sesil masuk, kembali berpura-pura tidur kembali.


"Nath, bangun..!" Sesil menggoyangkan bahu suaminya dengan pelan, namun nathan masih tak bergeming.


"Nath, sudah siang, bangunlah.." kali ini sesil menepuk pipi nathan tapi tiba-tiba saja tangan nathan menarik tangan sesil sehingga sesil kehilangan keseimbangan tubuhnya dan jatuh tepat di atas dada nathan.


"Lepaskan" Sesil mencoba bangkit, namun nathan semakin mengeratkan pelukannya.


"Tiga menit" gumam nathan yang masih terlihat memejamkan matanya.


tik..tok..tik..tok..


Waktu berdetik begitu cepat di rasa oleh nathan.


"Sudah lepaskan, sekarang kau bangunlah dan bersiap siap" Imbuh sesil, kemudian sesil mencoba melepaskan diri dari pelukan nathan, namun tiba-tiba nathan mencuri cium pipi sesil.


Mengecupnya sebentar dan langsung melepaskannya, membuat wajah sesil seketika bersemu merah.


Sedangkan nathan segera bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap bekerja.

__ADS_1


Tak lama kemudian nathan keluar dari kamar mandi, namun nathan sudah tidak melihat sesil di dalam kamar itu, pandangan mata nathan teralih ke arah satu stel baju kerja yang sudah sesil siapkan dan di letakkan di atas ranjang tidurnya.


Nathan langsung meraihnya dan mengenakannya, dan setelah selesai berpakaian nathan memakaikan sepatu di kedua kakinya, laku meraih tas kerja yang di simpan di atas sofa kamarnya, lalu dia bergegas menuju lantai bawah.


Nathan berjalan menuju ruang makan, dan benar saja sesil dan swan sudah menunggunya di sana.


"Selamat pagi pi" Sapa nathan kepada swan, dan swan juga menyapa balik nathan.


Nathan mendudukkan diri di kursi kosong samping sesil.


"Nath kau mau makan yang mana? Ini semua masakanku" Sesil tersenyum ke arah nathan yang terlihat terkejut.


"Roti panggang dan telor setengah matang saja"


Setelah mendengar jawaban nathan, sesil lantas menyiapkanya dan meletakkan di atas piring kosong yang terletak di depan nathan, sedangkan swan menikmati sandwich dan segelas susu hangat.


Setelah selesai acara sarapan pagi bersama, swan sudah pergi pamit bekerja, sedangkan nathan harus kembali ke rumahnya terlebih dahulu karena ada berkas penting yang tertinggal.


Sekitar setengah jam dari kepergian nathan, sesil yang sedang duduk santai sambil menikmati susu hangat dan membaca majalah di tangannya, tiba-tiba di kejutkan dengan dering telefon rumahnya yang terletak tidak jauh darinya, Sesil beranjak mendekat dan meraih gagang telefon.


"Halo..."


"...."


"Iya, dengan saya sendiri"


"...."


"Apa tidak mungkin, pasti anda salah" seketika sesil menjatuhkan gagang telefon yang di pegangnya dan kakinya begitu terasa lemas, bahkan kedua kakinya sudah tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya, seketika kaki sesil terasa begitu lemas dan jatuh terduduk di lantai, derai air mata sudah tidak bisa di bendung lagi.


Dengan sekuat tenaga sesil mengumpulkan kekuatannya dan berdiri lalu menuju garasi mobilnya


Sesil masuk ke dalam salah satu mobil sport milik papinya dan langsung melajukan mobilnya dengan kencang mengarah ke salah satu rumah sakit di semarang.


Sesil dengan asal memarkirkan mobilnya dan berlari menyusuri ruang UGD, dan seketika kakinya terasa lemas saat melihat papinya sudah terduduk di kursi panjang yang terletak di depan ruang UGD.


"Bagaimana pi?" Sesil langsung melontarkan pertanyaan ke arah papinya yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Swan yang merasa terkejut langsung menoleh ke arah sesil lantas swan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Sesil seketika membekap mulutnya, hatinya rasanya bagai di hantam benda runcing, terasa begitu perih dan sakit


Sesil langsung jatuh terduduk di lantai dan derai air mata tak bisa di bendung lagi.


Tuhan mengambilnya begitu cepat, rasanya ini tidak adil.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa yang ada di dalam ruang UGD ?


tetap station di sini ya pems, dan liat eps selanjutnya😁

__ADS_1


__ADS_2