Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Pemberian Nama


__ADS_3

Dua hari pasca melahirkan, kini Sesil sudah di perbolehkan kembali ke rumahnya. Rona kebahagiaan begitu terpancar dengan jelas dari raut wajah Sesil maupun Nathan, bagaimana tidak bahagia kalau saat ini keluarga mereka sudah menjadi keluarga yang utuh, keluarga inti yang lengkap.


Siang ini, Nathan terlihat duduk di kursi kemudi mengemudikan mobilnya untuk di bawa kembali ke rumahnya. Sementara Sesil duduk tepat di samping kursi kemudi dengan menggendong seorang bayi laki-laki mungil. Sesil dan Nathan belum memberikan nama untuk putranya. Rencananya adalah hari ini mereka baru akan memberi nama untuk putra pertama mereka.


Baby boy diam dan memejamkan mata setelah dj berikan ASI oleh Sesil, bahkan seolah paham dan tidak mau mengganggu papinya mengemudikan mobil, setelah selesai meminum ASI baby boy terlihat langsung menguap dan kembali memejamkan matanya. Sesil mengusap-usap pipi gembul milik putranya. Rasanya dia benar-benar tidak menyangka bisa menimang seorang bayi yang sudah di kandungnya selama sembilan bulan, di lahirkannya dengan penuh perjuangan. Bahkan bisa di bilang baby boy adalah kado terindah Tuhan alam rumah tangganya yang sudah menginjak usia empat tahun.


"Anak Papi.." Nathan hendak mencubit pipi gembul putranya namun dengan cepat sesil memukul telapak tangan suaminya dan seketika itu pula Nathan menjauhkan tangannya yang sudah sangat dekat dengan wajah putranya.


"Dia sedang tidur, jangan di ganggu" ketus Sesil dengan memlototkan kedua bola matanya.


"Ayolah sayang, aku sangat gemas padanya" Nathan menyunggingkan senyuman tanpa dosa ke arah Sesil.


"Kau ini.." Sesil mendengus dengan kesal melihat tingkah suaminya


"Sudah kemudikan saja mobilnya dengan benar, kau ingin membuat kita semua celaka hah?" tegas Sesil


Mendengar ucapan istrinya seketika itu pula Nathan sadar kalau saat ini dirinya sedang mengemudi, tidak baik jika saat mengemudi malah sambil bercanda, di sini bukan hanya mempertimbangkan nyawa Nathan saja, tapi masih ada dua nyawa yang begitu Nathan cintai yaitu nyawa istrinya serta anak yang baru saja terlahir ke dunia.


Seolah sadar akan kesalahannya, Nathan langsung kembali fokus membawa mobilnya membelah ramainya kota semarang.


^


Nathan baru saja memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, terlihat di sana terparkir dua mobil mewah yang di yakini milik papi serta ayahnya.


Setelah berlari kecil mengitari mobil untuk membuka pintu untuk istrinya, kini Nathan membantu Sesil berjalan masuk ke dalam rumahnya, tangan kanannya mengandeng lengan istrinya sementara tangan kirinya memegang tas jinjing yang berisi pakaian milik istri serta anaknya.


Nathan menekan bel rumahnya satu kali dan tanpa menunggu lama pintu utama rumahnya kini terbuka, kedatangan keduanya di sambut oleh Bi Nung dengan senyuman yang begitu ramah.


"Selamat datang Tuan, Nyonya, dan tuan kecil" Bi Nung melebarkan senyumnya sambil pandangan matanya melihat ke arah bayi kecil dalam gendongan Sesil.


"Halo Bi" Sapa balik Sesil, kemudian Bi Nung mempersilahkan Sesil dan Nathan untuk masuk ke dalam rumah.


Nathan mengeryit heran saat ayah serta papinya tidak menyambut kedatangan mereka berdua,begitu pula dengan Sesil yang sama bingungnya karena tak mendapat sambutan dari papinya padahal jelas-jelas mobil papinya berada di halaman rumahnya.


Nathan dan Sesil terus melangkahkan kakinya hingga tiba di ruang tamu mereka di kejutkan oleh ruang tamu yang sudah di hias begitu cantiknya, berbagai pernak-pernik permainan untuk anak laki-laki.


Di ruang tamu tersebut juga sudah berkumpul seluruh keluarga besar dari kedua pihak keluarga.


Mulai dari Tante Rara, Keluarga Kyla (adik sepupu Ayu), Sean , Keandra serta sepupu Nathan (anak asuh dari mendiang Arik), Keluarga kecil Dave juga turut hadir di sana.


Sesil begitu tak menyangka kalau orang-orang di sekelilingnya membuat suprise untuk kepulangan serta kedatangan Baby Boy yang baru saja lahir dua hari yang lalu,tidak berbeda dengan Nathan yang juga terkejut saat melihat semua orang sudah berkumpul di rumahnya.


"Welcome" Teriak semua orang dengan begitu kompaknya.


Baby boy yang sedang terlelap dalam gendongan Sesil seketika menjadi terkejut dan terbangun, bahkan dia terlihat langsung menangis dengan kencang. Sesil berusaha menenangkan anaknya yang menangis dengan begitu kencangnya.


Namun seolah tak mau diam anak dalam dekapan Sesil masih terus saja menangis, membuat Sesil kewalahan menghadapi anaknya, karena terus terang saja dia masih bingung mengurus bayi.

__ADS_1


"Cup..cup..cup anak papi yang tampan" Nathan meletakkan tas yang di bawanya kemudian mengambil alih putranya dari tangan istrinya.


"Sayang, cup..cup..cup.."Nathan berusaha menimang putranya supaya tidak menangis, dan benar saja tangisannya mulai mereda, Nathan menghela nafasnya dengan lega karena kini putranya sudah tenang dalam dekapannya.


Kini mereka semua berkumpul menikmati pesta yang di buat kusus untuk keluarga, rona kebahagiaan terpancar begitu nyata di sana. Bahkan Baby boy dalam gendongan Nathan juga ikut tersenyum seolah bisa memahami situasi saat ini.


"Hei, kalian belum memberi nama untuk anak kalian" teriak Imelda dengan suara cemprengnya membuat semua orang mengalihkan pandangan ke arah dirinya. Imelda tersenyum malu sambil tangannya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Sesil dan Nathan yang kala itu berdiri sebelahan dengan kedua orang tuanya, langsung kompak saling memandang satu sama lain. Senyum di bibirnya terukir dengan begitu jelas.


"Kenzo Hidejhosi Cornelio" jawab Sesil dan Nathan kompak.


"Kenzo yang artinya Anak laki-laki pandai, Hidejhosi artinya penuh keberuntungan, dan Cornelio di ambil dari nama keluarga istriku. Kami sepakat jika anak kami laki-laki maka akan mengenakan nama besar keluarga dari pihak perempuan yaitu Cornelio, dan jika Anak kami perempuan maka akan mengikuti nama besar keluargaku, Adibjo" jelas Nathan.


"Ah, nama yang bagus" Swan tersenyum menatap cucu pertamanya.


"Kenzo cucu opah" imbuh Swan sambil mencondongkan tubuhnya dan memberikan satu kecupan di pipi cucunya.


Semua orang kini larut dalam suka cita, tawa dan senyuman tak henti terpancar dari seluruh anggota keluarga. Bahkan Keandra juga tak kalah ikut senangnya melihat keponakan pertamanya, setidaknya akan ada teman kecil yang bisa menghiburnya saat dirinya kembali nanti dari studynya di Australia.


Imelda dan Dave mendekati Sesil yang sedang duduk di sofa memangku Kenzo " Sil, sayang sekali kita tidak bisa menjadi besan" seru Imelda dengan wajah yang kecewa.


"Meski tidak bisa menjadi besan, tapi anak kita tetap bisa bersahabat seperti kita" jawab Sesil dengan menyunggingkan senyumannya.


"Ah, siapa tau nanti Steve memiliki adik perempuan atau sebaliknya Kenzo memiliki adik perempuan, kita kan bisa menjodohkan mereka"


"Ide konyol ! Dave nasehati lah istrimu, aku kan sudah katakan kalau aku tidak berminat berbesannan dengan kalian" timpal Nathan yang baru saja kembali dengan membawa segelas teh hangat untuk istrinya.


"Dave lihatlah istrimu, selain memiliki suara yang cempreng, perkataannya juga tidak enak di dengar" tukas Nathan


Dave mengalihkan pandangan matanya menatap ke arah istrinya yang kini duduk tepat di sampingnya, Dave menatap tajam ke arah Imelda yang nampak acuh saja. Sementara Nathan menarik sebelah sudut bibirnya sebentar lagi pasti dokter cempreng itu akan terkena omel oleh suaminya.


"Semua yang kau katakan benar juga sayang, aku sependapat denganmu" seru Dave sambil terkekeh, membuat Nathan seketika memlototkan matanya, dia merasa kesal akan tingkah sahabatnya yang di rasa sama menyebalkan seperti istrinya.


"Sudahlah, kenapa terus ber-agumen yang tidak penting?" Sesil melerai suami serta sahabatnya.


^


Hari berlalu begitu cepat, hingga tak terasa malam pun sudah tiba. Sesil yang kala itu sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi harus segera menuntaskan acara mandinya karena mendengar suara tangisan dari Kenzo yang kala itu di temani oleh Nathan.


Sesil segera mengenakan handuk kimono untuk menutupi tubuh polosnya. Dengan tergesa-gesa Sesil keluar dari kamar mandi dan segera menghampiri Nathan yang sedang mencoba menenangkan Kenzo.


"Sayang sepertinya Kenzo haus"


"Kemarikan, biar aku beri dia Asi"Sesil menengadahkan tangannya lalu mengambil alih Kenzo dari tangan Nathan.


Sesil membuka pengait handuk dan mulai memberikan Asi kepada Kenzo. Seketika Nathan membuka matanya lebar, rasanya istrinya sudah tidak malu memamerkan buah dadanya di depan matanya. Padahal dulu Nathan tau betul meskipun mereka sering melakukannya tapi Sesil tidak akan mau jika berganti pakaian di depan matanya.

__ADS_1


"Kenapa kau melihatku seperti itu? bukankah kau sudah terlebih dahulu mencobanya?" sindir Sesil sambil menarik sebelah sudut bibirnya


Seketika Nathan tersipu malu mendengar ucapan istrinya yang di rasa cukup mengena di hatinya "Iya memang aku sudah mencobanya, tapi setidaknya mulai hari ini aku harus rela berbagi dengan Kenzo" imbuh Nathan dengan nada suara yang polos.


"Dasar mesum" Sesil meraih bantal dan melemparkan ke arah suaminya dengan begitu kesal. Sesil tak menyangka sikap mesum suaminya masih melekat hingga saat ini.


Tawa Nathan kembali pecah, dia senang sekali bisa menggoda istrinya seperti saat awal pernikahan mereka dulu. Bahkan rona merah muda terlihat begitu jelas menyembul di kedua pipi Sesil.


Sesil mendengus dengan begitu kesal. Tanpa memperdulikan Nathan yang masih sibuk menertawakan dirinya,Sesil memberikan Kenzo Asi hingga putranya kenyang dan kembali tertidur.


Setelah Kenzo tertidur, Sesil meletakkan Kenzo di tengah ranjang, kemudian Sesil mengambil piyama tidur dan berganti pakaian di dalam kamar mandi.


Tak butuh waktu lama Sesil sudah keluar kembali dengan mengenakan piyama tidur yang nyaman.


Namun saat baru beberapa langkah meninggalkan pintu kamar mandi, tiba-tiba saja Sesil merasakan ada tangan kokoh yang melibgkar sempurna di perutnya.


Nathan memeluk istrinya dari belakang, bahkan Nathan meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya.


"Sayang terimakasih sudah memberiku kado terindah, yaitu Kenzo" bisik Nathan lembut di telinga Sesil.


Sesil mencoba melepaskan tangan suaminya dan memutar tubuhnya hingga kini Sesil berdiri menghadap ke arah suaminya. Sejenak keduanya terlibat adu pandang yang cukup lama. Kemudian Sesil mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


"Terimakasih kau telah hadir dan memberikan banyak warna di kehidupanku" Sesil tersenyum dan berjinjit lalu mengecup bibir suaminya.


Seolah tak percaya dengan yang di lakukan oleh istrinya Nathan malah melebarkan matanya, namun tidak butuh waktu lama Nathan ikut menikmati ciuman istrinya, bahkan kini kedua tangan Nathan melingkar sempurna di atas pinggang Sesil.


Keduanya terlibat ciuman yang cukup lama hingga saat keduanya merasa puas baru melepaskan bibir masing-masing, kini keduanya mencoba meraup oksigen banyak-banyak karena nafasnya yang hampir habis.


Karena malam semakin larut, Nathan mengajak Sesil untuk beristirahat bersama putra mereka yang sudah terlelap lebih dulu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2