
Sesil duduk mematung di depan cermin rias kamarnya, malam ini adalah malam pertunangannya dengan nathan, sesil kini sedang di rias oleh beberapa orang perias, bahkan sedari tadi sore tantenya sudah terus menemani sesil.
Kini riasan di wajahnya sudah selesai, sesil begitu cantik dengan balutan gaun berwarna pink dusty.
Sesil melihat kembali pantulan wajahnya dari dalam cermin.
"Tante, bagiamana ? apa sudah cukup?" sesil berbalik badan melihat ke arah rara yang duduk membelakanginya.
"Oh my god, keponakan tante cantik sekali !" Rara bercak kagum melihat kecantikan sesil, Rara kembali teringat mendiang kakak iparnya, sesil memang sangat mirip dengan mendiang maminya.
"Tante yang benar, sesil sudah cantik belum?" Sesil rasanya ada yang aneh dengan dandannya.
"Kakak, momy.." suara keandra yang baru saja memasuki kamar sesil
"Kakak..?" Keandra menatap ke arah sesil dengan begitu aneh
"Kakak seperti tante, tante malam ini" imbuh keandra, bahkan dia terlihat menahan tawanya.
"Benarkah?" Sesil memalingkan kembali wajahnya ke arah cermin, bahkan dia meraih selembar tisu dan ingin menghapus make up di wajahnya.
"Kau mau apa?" Rara meraih tangan sesil dan menahannya.
"Kata kean, dandanan sesil sepertu tante-tante, jadi lebih baik sesil hapus dan ganti dengan riasan sesil sendiri.
"Kau sudah cantik sayang, jangan perdulikan adikmu" Rara melirik tajam ke arah putranya yang selalu meledek sesil.
"Iya mom, kak sesil cantik" seru keandra yang takut mendapat tatapan tajam dari momynya.
Keandra mengajak momy dan kakaknya untuk segera turun, karena tamu undangan juga sudah mulai berdatangan, dan nathan juga sudah datang sedari tadi.
Sesil dengan di mengandeng lengan keandra berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan.
Sesil melihat ke arah nathan yang berdiri dengan papi dan ayahnya, nathan begitu tampan dengan setelan jaket tuxedo berwarna putih yang melekat pas di badannya yang atletis.
Bahkan beberapa kali terlihat nathan tertawa dengan swan.
Sesil berjalan mendekat ke arah mereka, seketika nathan terbengong melihat kecantikan dari diri sesil.
Rasanya baru kemarin nathan melihat sesil mengenakan baju putih biru dan kini sesil sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.
"Kak nathan, keandra serahkan kakak kean kepada kakak" Keandra melepaskan tangan sesil dari lengan tangannya.
Kini sesil dan nathan berdiri berdampingan menyambut beberapa tamu undangan, malam ini begitu cerah, bahkan di langit terlihat ribuan bintang yang sangat indah, memang acara ini di lakukan di luar ruangan villa milik swan yang terletak di pegunungan ungaran.
"Nath, bintangnya cantik sekali ya?" Sesil melihat ke arah langit yang di penuhi berjuta taburan bintang.
"Hm, tapi kau lebih cantik di bandingkan bintang di langit" Nathan mencubit pipi sesil dengan begitu gemas.
__ADS_1
"Sesiliaaaa..." terdengar suara cempreng dari seorang gadis yang memanggil sesil, bahkan gadis tersebut terlihat berlari menghampiri sesil yang melebarkan matanya karena terkejut melihat kehadirannya.
"Ah, kenapa kau mendahuluiku?" gadis itu melipat kedua tangannya di atas perut.
"Dasar gadis bodoh, kau datang juga?" sesil menoyor kepala sahabatnya imelda, imelda adalah anak angkat dari dokter james dan dyana, karena hingga saat ini mereka belum di karuniai seorang anak.
"Tentu saja, ayahmu mengundang ayahku kemarin" imbuh imel dengan hebohnya.
"Tante dyana dan om james juga datang? dimana mereka?" sesil melihat ke arah belakang imel mencari keberadaan orang tua imel.
"Biasa, sedang mengobrol dengan tante rara, ngomong-ngomong, mana calon suami mu?" seru imel.
"Oh iya lupa.." sesil menepuk jidatnya karena lupa memperkenalkan nathan kepada imelda.
"Halo, saya nathan?" nathan yang sedari tadi berdiri di belakang sesil mengulurkan tangannya menjabat tangan imel.
"Ahhh, tampan sekali, seperti oppa-oppa korea !" imel menarik pipinya ke bawah dengan kedua telapak tangannya.
"Memalukan" sesil menginjak kaki imel dengan begitu keras, membuat imel mendesis kesakitan, dan akhirnya imel mambalas jabat tangan dari nathan.
Setelah mereka berbincang lama, akhirnya acara puncak pun di lakukan.
Nathan dan sesil yang di pandu oleh pembawa acara, kini saling menyematkan cincin yang di jari masing-masing.
Setelah acara penyematan cincin, kini para tamu undangan di persilahkan menikmati hidangan.
Ayahnya dan nathan terlihat sedang berbincang dengan beberapa tamu undangan.
Sejenak nathan melirik ke arah sesil yang sedang duduk menyendiri di sana.
Nathan seketika itu pamit kepada swan dan beberapa tamu yang sedang mengobrol dengan dirinya, nathan kemudian masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian nathan kembali keluar dari rumah dengan menenteng sepasang sendal jepit rumahan di tangannya, nathan berjalan menghampiri sesil yang sedang duduk menyendiri di sana.
Nathan berjongkok di depan sesil dan melepaskan sepatu heels yang melekat di kedua kaki sesil.
"Mau apa?" sesil menatap heran ke arah nathan yang sedang berjongkok di depannya sembari melepas sepatu heelsnya.
"Lepaskan saja, pasti kakimu lelah mengenakan heels sepanjang beberapa jam ini" Nathan melepaskan sepatu heels dari kaki sesil dan menggantinya dengan sendal jepit yang di ambilnya dari dalam villa tadi.
Sesil yang selalu mendapat perlakuan manis dari nathan sangat bahagia, senyum di bibirnya kembali mengembang.
Nathan bangkit dan kini mendudukkan dirinya tepat di samping sesil, sunyi cukup lama, tidak ada yang memecah kesunyian di antara mereka berdua.
Angin berhembus begitu kencang malam ini, bahkan beberapa kali sesil menggosokkan kedua telapak tangannya karena dingin.
Dan nathan yang melihat sesil kedinginan, seketika melepas jas yang melekat di tubuhnya, dan meletakkannya di tubuh sesil.
Kemudian nathan menggenggam tangan sesil begitu erat. Tidak ada kata yang terucap di antara mereka tapi mereka tau satu sama lain apa arti dari malam ini.
__ADS_1
Malam semakin larut, tamu-tamu juga sudah membubarkan diri masing-masing, kini tinggal keluarga inti saja disana dan beberapa kerabat yabg masih asik mengobrol menikmati malam.
Sesil sudah beberapa kali menguap, dan matanya juga sudah terlihat berair.
Nathan mengajak sesil untuk naik ke lantai dua beristirahat, nathan terlebih dahulu pamit kepada swan yang sedang mengobrol dengan sean, rara, kedua orang tuanya, james, dyana dan imelda serta keandra.
Setelah mendapat ijin, nathan hendak mengantar sesil ke kamarnya, namun baru beberapa langkah sudah di hentikan oleh swan.
"Tunggu..!" Suara swan mengagetkan seluruh orang yang berada di ruang tamu, seketika itu pula nathan dan sesil menoleh kembali ke belakang.
"Jangan berani macam-macam" Swan menatap tajam ke arah nathan seolah-olah akan menerkamnya.
Nathan hanya bisa tersenyum sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, kemudian dia melanjutkan kembali langkah kakinya mengantar sesil ke kamarnya.
Setelah tak terlihat oleh orang, nathan langsung menggendong sesil di dekapannya,sesil seketika meronta minta di turunkan namun karena nathan yang tetap kekej tidak mau menurunkan sesil, sesil pasrah sudah.
"Diamlah, kakimu pasti lelah" nathan mulai menapakki anak tangga menuju lantai dua, setelah sampai di lantai dua nathan menyuruh sesil membuka pintu, setelah pintu terbuka nathan membawa sesil masuk ke dalamnya dan meletakkan sesil di atas tempat tidurnya, kemudian nathan menarik selimut untuk menyelimuti tubuh sesil, karena malam ini terasa begitu dingin.
Nathan mendudukkan dirinya di samping tempat tidur, dan tangannya terulur mengusap puncak kepala sesil. Tak lama kemudian sesil sudah terlelap dan memasuki alam mimpinya.
Nathan menatapi wajah mungil sesil, rasanya nathan tidak percaya malam ini memang nyata adanya, nathan kembali melihat ke jari manis sesil yang terdapat cincin yang modelnya sama seperti yang nathan kenakan. Senyum di bibir nathan mengembang begitu sempurna.
Nathan kemudian mengecup puncak kepala sesil, dan keluar dari kamar sesil.
Nathan kembali bergabung di ruang tengah untuk mengobrol bersama keluarganya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pokoknya season dua bakalan beda sama season satu, bakalan banyak senangnya deh😁 staysion terus ya pems, dan jangan lupa like dan komentarnya biar srayu tambah semangat nulisnya😘
__ADS_1