
Sesil masih diam di pelukan suaminya, rasanya Sesil enggan sekali melepaskan pelukannya terhadap Nathan, rasa nyaman yang sangat di rindukan olehnya selama ini.
Begitu pula dengan Nathan yang sama enggannya melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya, wangi harum aroma tubuh Sesil membuatnya selalu tak ingin melepaskan istrinya barang sedetik saja.
Tok..tok..tok..
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya, namun seolah tak memperdulikan siapapun saat ini keduanya masih tak bergeming dari posisi saling memeluk.
Tok..tok..tok..
Kembali terdengar suara ketukan pintu, membuat Nathan mendengus dengan kesal dan terpaksa melepaskan pelukannya.
"Tunggi di sini sayang" Nathan mengusap lembut pipi istrinya kemudian dia beranjak berdiri dan berjalan ke arah pintu, dan membuka pintu tersebut.
Terlihat Bi Nung berdiri di depan pintu dan mengatakan sesuatu pada Nathan. Nathan hanya mengangguk mengerti, kemudian saat Bi Nung sudah pergi dia lantas menutup pintu kamarnya dan kembali menuju istrinya yang sedang duduk menunggunya di tepi ranjang.
"Ada apa sayang?" Seru Sesil saat Nathan kembali duduk di sampingnya.
Nathan hanya tersenyum, kemudian tangannya menyibakkan anak rambut yang menutupi pipi istrinya dengan perlahan Nathan menyelipkan rambut tersebut di balik telinga Sesil.
"Ada yang menunggu kita di bawah, ayo kita turun"
Sesil mengeryitkan dahi menebak siapa yang berkunjung ke rumahnya di saat kondisi seperti ini, kondisi dirinya baru saja menangis, bahkan matanya sampai sangat menyipit karena sudah beberapa jam dia menangis.
"Tidak mau" Sesil berkata dengan manjanya bahkan dia tidak sungkan langsung bergelayut manja di lengan suaminya
Nathan merasa sangat bahagia melihat istrinya sudah kembali lagi seperti dulu bersikap manja dan selalu saja mudah mengambek.
"Ayo sayang, tidak apa-apa" Nathan beranjak berdiri dan menarik tangan istrinya.
"Tidak mau" Ketus Sesil masih tak bergeming di posisinya.
"Benar tidak mau? jadi kau mau berdua saja di kamar bersamaku? kita bermain yah?" Nathan tersenyum penuh makna membuat Sesil langsung paham arah pembicaraan suaminya.
Dengan sedikit kesal akhirnya Sesil lebih memilih bertemu dengan tamu yang menunggu mereka di bawah.
Keduanya berjalan beriringan menuju lantai bawah dengan saling bergandeng tangan.
Saat berdiri di ujung tangga dan melihat siapa orang menunggu mereka, seketika itu Sesil langsung bersembunyi di balik punggung suaminya.
"Hai Dave" Sapa Nathan ke arah Dave
__ADS_1
Terlihat pula Yasmine duduk bersebelahan dengan Imelda, keduanya sedang mengobrol santai seputar kehamilan dari Imelda.
Imelda yang mendengar suara Nathan seketika langsung mengalihkan pandangan matanya.
"Hei gadis bodoh, kenapa kau bersembunyi di balik punggung suamimu hah?" Teriak Imelda dengan suara cemprengnya.
"Kapan kalian datang?" Tanya Nathan
"Baru saja" jawab Imelda.
"Gadis bodoh cepatlah kemari, aku sedang berkenalan dengan istri kedua suamimu" Ledek Imelda
Sesil mengerucutkan bibirnya dan tak bergeming dari posisinya, masih bersembunyi di balik punggung Nathan. Dia malu karena matanya menyipit akibat menangis tadi. Imelda yang merasa tak sabaran langsung mendekati Sesil yang masih sembunyi di balik punggung suaminya dan menarik tangannya.
"Kau kenapa? apa pria ini memukulmu hah?" Tanya Imelda berpura-pura kawatir saat melihat wajah Sesil yang terlihat bengkak efek menangis, bahkan Imelda meraba-raba pipi sahabat kecilnya.
"Dasar gadis menyebalkan" Teriak Sesil dan langsung menjewer telinga Imelda dengan kesal.
"Lepaskan, dasar bodoh" Seru Imelda sambil menahan rasa sakit di daun telinga miliknya.
"Sayang sudah, kasian Imelda" Nathan menjauhkan tangan istrinya dari telinga Imelda.
"Tapi sayang..." Sesil mengerucutkan bibirnya ke arah Nathan, wajahnya kembali merajuk.
"Jadi sudah akur nih?" Suara pria paruh baya yang begitu familiar di indera pendengaran Sesil membuat dirinya langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Nathan dan melihat ke arah sumber suara.
Pria yang kini sudah berumur kepala lima berdiri di ambang pintu sambil tersenyum penuh wibawa, belum terlihat ada kerutan di area wajahnya, bahkan jika bukan orang yang mengenalnya pasti menyangka kalau dirinya masih berumur kepala empat.
Sesil memutar bola matanya malas saat melihat papinya datang, dia merasa kesal karena papinya turut andil dalam mempermulus rencana Nathan.
Tanpa menyambut kedatangan papinya, Sesil langsung berjalan ke arah sofa dan mendudukkan diri di sana, kedua tangannya di lipat di atas perut, pandangan matanya tidak mau melihat ke arah papinya yang kini berjalan mendekat ke arah dirinya. Bahkan langsung duduk di sampingnya.
"Kau marah dengan papi?" Swan mengusap puncak kepala putri semata wayangnya.
Sesil sejak kecil selalu mengutamakan kebahagiaan orang yang di cintai meskipun dirinya akan terluka.
"Sayang?" Swan memanggil putrinya dengan lembut.
"Kalian semua jahat sama Sesil. Sesil sebal" Ketus Sesil tanpa mau memandang wajah papinya.
"Papi jahat, papi tidak bilang kalau ini semua akal-akalan dari Nathan saja" Imbuh Sesil dengan suara yang cukup pelan
__ADS_1
"Sayang, jika kau mau marah, marahlah pada suamimu. Ini semua ide datang dari suamimu sendiri. Papi dan Imelda hanya membantu sedikit" Sanggah Swan
Sementara Sesil melihat tajam ke arah Nathan yang duduk bersebelahan dengan Dave, di lihat seperti itu oleh istrinya Nathan hanya tersenyum pelik dan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Pasti nanti setelah tidak ada orang, dirinya akan habis terkena omellan dari Sesil.
"Jadi masih marah sama papi?" Goda Swan lagi sambil mencolek dagu Sesil.
"Papi" Ucap Sesil dengan begitu manja bahkan dia langsung memeluk tubuh papinya dengan erat, rasanya dia sangat beruntung memiliki papi sepertu Swan.
Pria yang sangat hangat dalam keluarga, setia pada satu wanita meskipun maminya sudah meninggal sejak lama tapi papinya tidak menikah lagi hingga sekarang.
Sejenak Sesil melihat ke arah Nathan yang juga sedang memandangnya, Sesil yakin kalau Nathan akan sama seperti papinya, menjadi pria yang setia hanya dengan dirinya saja, bersikap hangat terhadap keluarganya, meskipun Sesil sadar dirinya memiliki banyak kekurangan dan sering kali merepotkan Nathan suaminya.
Sejenak Sesil teringat akan permintaan dirinya, jika saja suaminya bukan Nathan, pasti sudah sangat senang hati di minta menikah lagi untuk kedua kalinya. Banyak pria di luar sana yang malah diam-diam bermain api dengan wanita lain di luar rumah. Tapi Nathan? dia sudah di suruh oleh Sesil malah masih berpegang teguh pada pendiriannya, bahkan dia sama sekali tidak tergiur untuk menyentuh Yasmine,padahal mereka berdua tidur dalam satu ruangan.
Sesil benar-benar merasa bersyukur mendapat jodoh seperti Nathan, yang tampan, baik hati, pekerja keras, penyayang serta romantis tapi hanya dengan istrinya saja. Jika di luar rumah dan berhadapan dengan wanita lain, Nathan akan selalu memperlihatkan aura yang dingin dan cuek. Membuat wanita merasa penasaran dan banyak yang merasa heran dengan sosoknya. Sudah kaya, sukses sejak muda tapi hanya setia pada satu wanita.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semoga masih ada yang mau baca karya receh Srayu🙏
Srayu masih menyimpan satu lagi ide yang akan di bahas dalam part-part selanjutnya.
Dukung terus Srayu biar semangat nulis.
__ADS_1
Vote , like, komentar dari pembaca adalah motivasi terbesar untuk Srayu menulis😍😘
Terimakasih untuk yang sudah mendukung di saat yang lain meninggalkan Srayu, hanya Tuhan yang bisa membalas ketulusan hati kalian♥️ peluk jauh dari Srayu🤗