Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Daimtarta


__ADS_3

Nathan membawa satu kotak kardus berisi cake khas Swedia yang sangat dia inginkan kemudian Nathan kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Sudah?"


"Sudah sayang, ini" Nathan mengangkat kresek berisi cake yang dia inginkan ke depan wajah istrinya, bahkan aroma cak tersebut membuatnya menelan air liurnya beberapa kali.


"Ya sudah ayo kita pulang" imbuh Nathan sambil menyalakan mesin mobil lalu melajukannya bergabung dengan padatnya lalu lintas kota Semarang.


Kurang dari setengah jam kini mobil yang mereka kendarai sudah terparkir kembali di garasi mobil rumah mereka, bahkan Nathan terlihat turun dan berlari kecil mengitari mobilnya untuk membukakan pintu untuk istrinya, sementara Sesil turun dari dalam mobil dengan menenteng tas kresek berisi Cake Daimtarta.


Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh Bi Nung yang terlihat membukakan pintu utama.


Setelah bertegur sapa sebentar dengan Bi Nung, Nathan segera mengajak istrinya masuk menuju ruang makan.


Terlebih dahulu Nathan mencuci tangan di washtafel sementara Sesil terlihat duduk di kursi meja makan, sambil memangku dagunya menggunakan tangan. Sebenarnya Sesil sangat merasa aneh karena dirinya yang hamil malah Nathan yang mengidam.


"Sayang mari kita makan kuenya" Nathan mendudukkan tubuhnya tepat di samping kursi yang saat ini di tempati oleh istrinya.


Dengan satu kali tarikan kresek tersebut terbuka dan menampakkan kotak kardus yang berisi kue khas Swedia.


"Kau mau sayang?" Tanya Nathan sambil mulai membuka kue kardus kue tersebut dan memotong kue tersebut menggunakan sendok.


"Untuk suamiku saja" jawab Sesil sambil menggelengkan kepalanya


"Benarkan?" tanya Nathan sekali lagi


"Uhm" Sesil mengangguk dengan cepat sebagai jawabannya.


Setelah yakin istrinya tidak mau memakan kue yang dia inginkan, Nathan langsung dengan lahap menghabiskan kue tersebut. Bahkan kurang dari sepuluh menit kue tersebut sudah masuk semua ke dalam perut Nathan.


"Lezat sekali" Nathan menyapu area bibirnya menggunakan lidahnya,Nathan merasakan masih tersisa rasa Cake Daimtarta di area bibirnya.


"Sayang kenapa kau curang sekali?" Sesil mengerucutkan bibirnya ke arah suaminya yang duduk tepat di sampingnya.


Nathan hanya menaikkan kedua alisnya karena tidak tau apa maksud dari ucapan istrinya.


"Uhm, aku yang mengandung dan kau yang mengidam sekarang" Sesil melipat kedua tangannya di atas perut


"Dari masih berlibur di Kamboja suamiku yang menyebalkan ini sudah mulai mengidam, meminta buah kiwi tengah malam, lalu hari ini kau meminta kue Daimtarta yang hanya toko kue tertentu yang menjajakannya" imbuh Sesil.


"Hahaha" Seketika tawa Nathan pecah.


Nathan baru menyadari kalau dirinya yang selalu merasa sensitif, mudah sekali tersinggung, serta suka menginginkan hal-hal yang aneh, bahkan merasa pusing dan mual itu semua karena mengidam anak yang baru saja di ketahui keberadaannya.


"Sayang kau memang sangat adil, tidak membiarkan Mamimu sendiri yang merasakan susahnya mengandung" Nathan mengusap perut rata istrinya dengan gemas.


"Jagoan papi memang hebat bisa membuat Papi juga merasakan susahnya hamil" Nathan terkekeh pelan sambil terus memberi usapan di perut istrinya.


Sesil hanya menarik kedua sudut bibirnya ke atas, dia sangat senang bisa melihat Nathan mengajak calon anak mereka berbicara. Jika dulu saat mengandung yang pertama Nathan sama sekali tidak mengetahui perihal kehamilannya, bahkan hingga detik terakhir saat dirinya harus di kuret di rumah sakit saja harus menghadapi dinginnya ruang operasi sendirian.

__ADS_1


"Sayang ayo kita ke kamar" Nathan langsung membopong tubuh istrinya di depan dadanya.


"Hei, apa yang kau lakukan ? cepat turunkan aku!" Sesil meronta minta di turunkan namun Nathan malah terkekeh saja tanpa mau menurunkan tubuh istrinya.


Saat melewati ruang tamu, Bi Nung tak sengaja berpapasan dengan tuannya yang sedang menggendong istrinya, dengan menunduk malu Bi Nung menyapa tuannya yang sepertinya selalu saja bersikap romantis di setiap sudut rumah ini, tidak perduli pagi, siang maupun malam seperti ini.


Sesil yang merasa tertangkap basah oleh Bi Nung, langsung menenggelamkan wajahnya ke depan dada bidang suaminya dengan malu-malu.


Nathan semakin tertawa senang bisa mengganggu istrinya.


Setelah sampai di depan kamar, tangan Sesil terulur untuk membuka pintu kamar, setelah pintu kamar terbuka Nathan masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutupnya rapat-rapat menggunakan kakinya.


Kini Nathan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang "Tunggu di sini, jangan kemana-mana" Nathan berlalu dari samping ranjang menuju lemari pakaian.


Nathan berdiri tepat di depan lemari yang sangat besar namun semuanya terbuat dari kaca, Nathan menggeser pintu lemari dan membukanya, mata Nathan menyapu seluruh isi lemari mencari pakaian yang cocok untuk di kenakan oleh istrinya, pandangan matanya berhenti di salah satu piyama couple berwarna hitam bermotif bulan dan bintang.


Setelah yakin atas pilihannya, Nathan langsung mengambil pakaian tersebut dan membawanya menuju istrinya.


"Sayang bagaimana dengan yang ini"? Nathan menunjukkan piyama couple kepada istrinya


"Boleh" Sesil mengangguk dengan senang saat melihat piyama yang di pegang oleh suaminya.


Piyama yang di bawa oleh suaminya adalah piyama pasangan yang di belikan oleh Nathan saat berlibur di Kamboja kemarin. Tangan Sesil terulur dan hendak meraih namun dengan cepat Nathan menyembunyikannya di balik punggungnya.


"Kenapa?" Sesil mengernyitkan dahinya.


Bukannya menjawab, Nathan malah langsung mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, kedua matanya menatap istrinya dengan seksama kemudian Nathan meletakkan piyama yang sedari tadi di pegang olehnya tak jauh darinya. Kemudian Nathan semakin mendekatkan dirinya ke arah istrinya.


"Aku hanya ingin membantumu mengganti pakaian sayang, tidak ada yang lain" Nathan tersenyum sambil mengelus pipi istrinya.


"Benar??" Sesil mencoba meyakinkan


"Hm" Nathan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Nathan menyingkirkan tangan istrinya dan mulai membuka resleting gaun Sesil yang berada di punggung kemudian Nathan melepaskan gaun tersebut dari tubuh istrinya, kini Sesil hanya terlihat mengenakan pakaian dalam di tubuhnya meskipun Sesil terlihat sangat malu-malu bahkan wajahnya terlihat semakin memerah seperti tomat yang sudah sangat matang, namun kali ini Nathan benar-benar tidak memiliki tujuan lain. Dia terlihat begitu telaten memasangkan piyama di tubuh istrinya. Setelah piyama tersebut terpakai dengan rapih di tubuh istrinya, kini giliran dirinya yang berganti pakaian. Setelah berganti pakaian dengan rapih, Nathan langsung merangkak ke atas tempat tidur dan langsung menyandarkan tubuhnya tepat di samping Sesil yang juga sedang menyandarkan tubuhnya.


"Apa kau lelah?" Nathan mengusap kepala istrinya dengan lembut, dan dengan cepat Sesil menggelengkan kepalanya.


Sunyi..


Sunyi..


Sunyi, Nathan tak lagi berbicara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, membuat Sesil memikirkan hal yang buruk di dalam kepalanya, tiba-tiba saja Sesil langsung menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Ada apa sayang?" Nathan merasa heran saat istrinya tiba-tiba saja menyandarkan kepalanya di pundaknya.


"Apa aku sudah tidak menarik lagi?" tanya Sesil lirih pada suaminya, karena untuk kali pertama Nathan tidak mau menyentuhkan saat melihat dirinya tak mengenakan pakaian yang lengkap.


"Siapa bilang? Kau selalu membuatku tertarik sayang" tegas Nathan.

__ADS_1


Sesil hanya diam saja tak menjawab perkataan suaminya, dirinya berfikir kalau tubuhnya pasti sudah sedikit bertambah berisi.


"Aku bukan tak ingin menyentuhmu sayang, aku hanya tak ingin menyakiti istriku serta calon anak kita saja. Usia kandunganmu baru saja dua minggu, dan aku mendengar dari Dave kalau awal-awal kehamilan itu jangan dulu bersentuhan badan sayang, bahkan nanti juga aku akan mengatur kapan aku bisa menyentuhmu, karena semasa kehamilan tidak boleh terlalu sering menyentuh pasangan" tutur Nathan mencoba menjelaskan.


Sesil hanya diam saja, tangannya terlihat memeluk erat tubuh istrinya, serta kepalanya menyandar dengan sempurna di bahu suaminya.


"Aku tidak mau menyakitimu atau calon jagoan kita" Nathan kembali mengusap perut rata istrinya.


"Bantu Papi menjaga Mamimu sayang"


Sesil hanya tersenyum mendengar semua celotehan yang keluar dari mulut suaminya.


"Oh ya, memangnya sejak kapan kau mulai merasakan ada perubahan dalam tubuhmu sayang?" tanya Nathan sedikit penasaran


"Dua minggu terakhir ini sayang, setelah malam itu kita menghabiskan waktu bersama, saat Yasmine sedang tidak enak badan, dan dua minggu ini aku mulai merasa mudah lelah, dan selalu saja ingin di manjakan" imbuh Sesil mencoba menjelaskan


"Oh" Nathan membulatkan bibirnya


"Pokoknya anak Papi baik-baik, tidak boleh nakal dan menyusahkan Mami ya. Biar Papi saja yang merasakan pusing serta mual, Kasihan Mami jika sudah mengandungmu dan merasakan pusing di kepalanya"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ada yang kangen Srayu?

__ADS_1


Apa malah Kangen sama Sesil dan Nathan nih?🙄


Maaf dua hari nggak Up, nggak ada ide nulis nih, kurang komentar kalian😁


__ADS_2