
Malam semakin larut, Imel sudah pulang terlebih dahulu karena merasa lelah, sedangkan Dave masih duduk santai di teras menemani Nathan meminum kopi. Sebenarnya Nathan ingin menemani istrinya di kamar, namun karena Dave masih enggan pulang makannya Nathan masih duduk di teras menikmati secangkir kopi bersama Dave.
"Nak, kami pulang dulu ya" Terlihat Adibjo dan Swan berjalan mendekat
"Ayah, papi, lebih baik menginap saja di sini" Nathan menyarankan kepada dua pria paruh baya yang nampak masih terlihat begitu gagah.
"Tidak nak, kami lebih baik pulang" Timpal Swan. Kemudian dua pria paruh baya itu berpamitan pulang menggunakan mobil mereka masing-masing.
Kini tinggallah Dave bersama Nathan duduk menikmati suasana malam kota Semarang.
Keduanya asik tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Sunyi...
Sunyi...
"Nath, bagaimana rasanya menikah?" Tiba-tiba saja pertanyaan Dave membuat Nathan tertawa, sahabatnya yang satu ini sungguh menggelikan. Du usianya yang hampir kepala tiga, kok masih bisa menanyakan rasanya menikah
"Apa kau tidak merasa terkekang? atau ya setidaknya kau tak sebebas dulu lagi?" Tanya Dave penuh selidik
"Kau ini bagaimana Dave, menikah adalah ibadah. Dan menurutku sangat menyenangkan, karena setelah kita penat bekerja saat pulang ada istri kita yang menunggu di rumah, menyiapkan segala keperluan kita. Pokoknya menyenangkan" Nathan berkata sambil tersenyum membayangkan wajah cantik istrinya
"Makannya cepatlah menikah" Timpal Nathan lagi mencoba memprovokasi sahabatnya itu. Namun Dave malah terdiam, dia kembali teringat perkataan ibunya yang hendak menjodohkan dirinya dengan salah satu putri rekan bisnis keluarganya.
Dave sama sekali tidak mengenal gadis yang akan di jodohkan dengan dirinya itu, seperti apa rupanya saja dia tak tau.
"Kau kenapa?" Nathan menatap heran melihat raut wajah Dave yang tiba-tiba saja muram. Dave menghela nafasnya berat lalu menceritakan rencana perjodohan yang di usulkan oleh ibunya, ibunya memintanya cepat menikah karena usianya memang sudah matang dan pantas menikah.
"Apa kau menyukai gadis lain?" seru Nathan
Dave diam saja, dia memang tidak menyukai siapapun saat ini, tapi akhir-akhir ini dia merasa senang bisa menggoda dokter cempreng sahabat istrinya, bahkan melihat raut wajah kesal dari Imel adalah hiburan tersendiri untuk Dave.
"Apa kau menyukai Imel? kalau di lihat dari caramu menatapnya itu berbeda dari caramu menatap gadis lain?"
Seketika Dave tersedak kopi yang baru saja di minumnya, bahkan membuat Dave terbatuk-batuk. Bahkan matanya terlihat berair karena terus-menerus batuk.
Setelah batuknya berhenti, Dave menatap ke arah Nathan dengan tajam.
"Aku tidak menyukainya Nath, aku hanya suka saja membuat gadis itu kesal. Itu hiburan tersendiri" Dave kembali membayangkan wajah Imelda yang cemberut, membuat Dave tersenyum sendiri
"Lagi pula, dokter gadungan itu sepertinya sudah memiliki kekasih, Jie Sung namanya" Imbuh Dave lagi. Entah mengapa saat mengatakan nama pria lain itu membuat Dave merasa tak nyaman
"Dari mana kau tau?" Nathan menautkan kedua alisnya
Dave menarik nafasnya, kemudian menceritakan kejadian malam itu. Saat dirinya meeting di sebuah resto dan tak sengaja bertemu dengan Imelda. Bahkan kala itu Imelda hampir di lecehkan oleh teman sejawatnya yang ternyata tinggal satu apartemen dengannya.
Nathan mendengarkan dengan seksama penjelasan Dave, dan bisa di artikan kalau sahabatnya itu memiliki perhatian lebih terhadap sahabat dari istrinya.
Setelah keduanya berbincang cukup lama, akhirnya Dave memutuskan untuk pulang ke apartemennya.
Sedangkan Nathan masuk kembali ke dalam rumah menuju kamar tidurnya.
Dengan perlahan Nathan membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya. Nathan melihat istrinya sudah terlelap.
Dengan begitu berhati-hati Nathan mengambil satu set piyama dan memakainya, kemudian dia ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya.
"Selamat malam istriku" Nathan memberi banyak kecupan di wajah mungil istrinya kemudian dia pun ikut memejamkan mata sembari kedua tangannya memeluk tubuh istrinya.
^
Pagi ini, Nathan mulai melakukan aktivitas seperti biasanya.
Dengan setelan baju kantor yang rapih kini dirinya sedang menikmati sarapan pagi di temani oleh istrinya.
Sesil hanya meminum susu hangat saja, karena dirinya memang belum merasa lapar.
Sebenarnya Nathan enggan sekali meninggalkan Sesil seorang diri di rumah, karena melihat kondisi istrinya yang tidak terlalu baik. Tapi bagaimana lagi, pekerjaan kantor sudah menunggunya.
Di sela-sela menguyah makanan, Nathan membicarakan perihal Dave yang akan di jodohkan dan kejadian yang sudah Dave dan Imelda alami tempo hari.
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka?" Seru Sesil begitu antusias
"Sayang, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintainya orang yang tidak di cintai. Dan kalau yang aku dengar dari Dave, sepertinya Imel masih mencintai pria yang bernama Jie Sung itu"
"Jie Sung itu tidak mungkin kembali Nath, dia itu sudah kembali ke negaranya, bahkan sampai saat ini Imel tak bisa menghubunginya lagi. Mungkin Dave adalah jodoh yang di kirim Tuhan untuk mengobati hati Imel. Aku lihat Dave pria yang baik" Imbuh Sesil pagi
"Ya sudah, lebih baik kau bicarakan dulu baik-baik dengan Imel" tukas Nathan. Kemudian keduanya kembali melanjutkan sarapan mereka.
Sesil duduk memainkan kamera di tangannya, setelah Nathan pergi ke kantor kini dirinya hanya di temani oleh Bi Nung yang sedang sibuk membersihkan rumah.
Sesil membuka kameranya melihat beberapa foto yang tersimpan rapih di sana. Rasanya sudah lama sekali dirinya tak memotret, semenjak menikah Sesil lebih banyak menghabiskan waktu bersama suami serta keluarganya.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah menjelang siang. Sesil yang merasa jenuh memutuskan untuk duduk di teras rumah sambil menikmati hangatnya sinar mentari.
Sesil memutar roda kursinya dan mengarahkan menuju teras rumahnya.
Saat sampai di teras rumah, Sesil melihat penjaga rumah di temani beberapa bodyguard yang di sewa Nathan sedang duduk di bangku panjang yang terletak tepat di depan pos satpam.
Tak lama kemudian terdengar klakson mobil dan masuklah mobil yang begitu familiar di mata Sesil. Mobil milik sahabatnya baru saja berhenti tepat di depan teras rumahnya.
__ADS_1
Dengan menyunggingkan senyum, Imel turun dari mobil menghampiri sahabatnya.
"Hai gadis bodoh" Imel langsung mendudukkan dirinya di kursi teras dengan tersenyum lebar
"Aku kemari menjemputmu, kau lupa ada jadwal konsultasi dokter ya?" Seru Imel
"Astaga, kau benar Mel, untung kau datang kemari"
"Ya sudah, aku ambil tas serta ponselku dulu ya" Imbuh Sesil sambil memutar kursi rodanya mengarahkannya kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara Imel duduk menunggu di luar, hingga tak butuh waktu lama, Sesil sudah kembali keluar lantas keduanya langsung bergegas menuju rumah sakit.
Imel duduk menunggu di ruang tunggu, sementara Sesil sedang di cek di dalam ruang periksa, hampir setengah jam sahabatnya berada di dalam, akhirnya Sesil keluar di antar oleh seorang perawat.
"Selamat siang dokter Imel" Sapa perawat tersebut dengan ramah dan di balas oleh Imel juga dengan ramah pula. Setelah berbasa-basi, Imel berencana mengajak Sesil makan siang di salah satu cafe yang terletak tidak jauh dari rumah sakit.
Menempuh perjalanan kurang dari dua puluh menit, Kini Imel dan Sesil duduk di salah satu meja sambil mengobrol santai menunggu pesanan mereka datang. Di sela obrolan mereka, tiba-tiba Sesil melihat pria berdarah Korea masuk ke dalam cafe bergandengan dengan seorang gadis. Pria yang sangat familiar itu terlihat begitu intim dengan gadis yang di gandengnya.
"Sil?" Imel yang merasa di acuhkan oleh Sesil mengernyitkan dahinya, kemudian dia mengikuti arah pandangan mata Sesil, dan betapa terkejutnya Imel melihat seseorang yang sudah lama di tunggu olehnya bergandengan dengan wanita lain.
"Jie.." Gumam Imel lirih. Rasanya bukan ini pertemuan yang di harapkan oleh Imel, dia membayangkan pertemuan yang menyenangkan dengan pria yang sudah berhasil mencuri hatinya itu sekian lama.
"Jie Sung" Kali ini Sesil berteriak dengan begitu lantangnya, membuat seisi cafe menatap ke arahnya termasuk sang pemilik nama.
Jie Sung mencari sumber suara dan begitu terkejut melihat Imel duduk di salah satu meja.
Jie Sung bersama gadisnya berjalan mendekat ke arah meja Imel, dan membungkukkan badan memberi salam.
"Hai Mel" Jie Sung tersenyum manis hingga menampakkan dua lesung pipi yang menambah kadar ketampanannya, matanya yang sipit, rambutnya yang kecoklatan serta memiliki postur tubuh yang tinggi di tunjang dengan penampilan yang keren membuat siapa saja pasti luluh terhadapnya
Imelda diam tak bergeming, dia menatap ke arah tangan Jie Sung yang mengandeng tangan seorang gadis. Hatinya merasa sedih, sedih karena sudah menunggu seseorang yang tak menginginkannya.
"Hai, Jie ?" Sapa Sesil dengan tersenyum begitu ramahnya, membuat Jie Sung pun membalasnya senyuman Sesil. Kebetulan Sesil pernah berlibur ke Korea bersama Imelda dan di sana Jie Sung lah yang menemaninya.
"Apa dia kekasihmu?" Sesil melirik ke arah gadis yang memiliki postur tubuh tak jauh darinya, wajahnya begitu kental dengan wajah orang indonesia
"Ya, ini Manda"
"Hai.." Manda melambaikan tangan ke arah Sesil dan Imel.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan Sesil, Jie Sung pamit untuk mencari meja kosong. Sedangkan Imelda diam tak bergeming akan posisinya saat ini. Hatinya merasakan sedih.
"Mel, kau baik-baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja" Imel menepiskan senyumnya supaya Sesil tak mengkawatirkannya.
Setelah makan Siang, Imelda mengantarkan Sesil kembali ke rumahnya, namun dia hanya mengantarkannya saja tanpa berniat mampir ke tempat Sesil.
Setelah memastikan sahabatnya masuk ke dalam rumah, Imel melajukan kembali mobilnya menyusuri kota semarang, Imelda terus melajukan mobilnya tanpa tujuan yang jelas.
Entah sudah berapa lama Imelda membawa mobilnya, kini dia membawa laju mobilnya menuju pantai.
Setelah sampai di tepian pantai, Imel turun dari mobil dan duduk di bamper mobil bagian depan. Dia menghirup udara dalam-dalam.
Mencoba menenangkan diri. Cukup lama dia duduk di sana, bahkan mentari sudah mulai berganti menjadi warna jingga yang begitu indahnya.
Imel terlihat masih menatap kosong ke depan hingga langit mulai berubah menjadi gelap.
Angin malam mulai menusuk ke tulang belulang Imel bahkan suasana juga sudah sangat sepi.
Akhirnya Imel memutuskan untuk meninggalkan pantai dan kembali melajukan mobilnya. Kali ini Imel membawa laju mobilnya menuju sebuah restoran untuk mengisi perutnya yang terasa lapar.
Saat Imelda masuk ke dalam restoran dan mencari meja kosong, lagi-lagi pandangan matanya di suguhkan dengan seseorang yang terlibat sedang menikmati makan malam.
Orang tersebut adalah Dave. Dia terlihat sedang menikmati makan malam dengan seorang gadis cantik yang memiliki wajah ke timur tengahan.
Kali ini entah mengapa hati Imel terasa begitu sakit, lebih sakit dari sebelumnya. Bahkan saat tadi siang melihat Jie Sung bergandengan dengan gadis lain saja hatinya tak sesakit ini.
Imel memegang dadanya yang semakin sesak dan mendudukkan tubuhnya di meja pojokan supaya bisa leluasa mengamati Dave.
Dave pria yang baik, bahkan sudah berulang kali Dave membantu Imel, dan entah mengapa Imel merasa selalu berdebar saat berdekatan dengan Dave. Bahkan tempo hari saat Dave mengecup pipinya, Imel sampai tidak membasuh wajahnya selama hampir 12jam lamanya.
Imel terus mengawasi Dave yang terlihat akrab berbincang dengan gadis tersebut, bahkan terlihat beberapa kali Dave tertawa terlihat semakin menambah wajah tampannya.
Imel yang merasa geram akhirnya tak kuasa menahan diri untuk tidak mendekat ke arah mereka.
Imel beranjak berdiri dan dengan sengaja berjalan melewati meja Dave dan duduk tepat di meja kosong samping Dave.
Dave mengernyitkan dahinya melihat Imel duduk di sana sendirian dengan raut wajah yang begitu muram.
"Aku pulang dulu ya, kapan-kapan kalau aku kemari lagi kita bertemu lagi" Yasmine beranjak berdiri dan memeluk Dave yang sudah di anggap saudara olehnya.
"Hati-hati Yas" Dave melambaikan tangan melihat kepergian Yasmine.
Setelah Yasmine pergi, Dave berniat kembali pulang dan mengacuhkan Imelda.
"Kekasihmu cukup menarik"
Ucapan Imel mampu menghentikan langkah kaki Dave yang sudah meninggalkan meja makan.
__ADS_1
Bahkan kali ini Dave memutar badannya menatap ke arah Imel.
"Apa kau tidak mau mengenalkan kekasihmu padaku?" Seru Imel sambil melihat ke arah buku menu makanan.
Dave mengernyitkan dahinya, kemudian dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Imel dan menarik kursi kemudian duduk di kursi tersebut.
"Mba.." Imel melambaikan tangannya memanggil pelayan untuk memesan makanan, setelah menyebutkan makanan dan pelayanan mencatat, pelayan tersebut pamit.
"Kekasihmu cantik sekali" Seru Imel mencoba tersenyum di atas hatinya yang tiba-tiba merasa sesak
"Kau sedang apa di sini" Timpal Dave tanpa menghiraukan pertanyaan Imel
Imel diam saja, rasanya hari ini dia begitu sial. Entah mengapa rasanya Imel tak terima jika melihat Dave bersama wanita lain. Meskipun sedari awal pertemuan mereka selalu bertengkar, tapi Imel merasa nyaman dengan kebaikan dan kesopanan Dave
Sedangkan Dave menatap Imel yang terlihat menunduk. Wajah gadis yang memiliki suara cempreng tak seperti biasanya yang selalu terlihat ceria.
" Apa telah terjadi sesuatu padamu?" Dave menaikkan kedua alisnya
Sedangkan Imel diam saja tak menjawab perkataan Dave.
"Mel..?" Dave berusaha memanggil Imel kembali
"Jangan berbuat baik padaku Dave, kalau itu hanya akan membuatku menyalah artikan kebaikanmu" Imel memberanikan diri menatap wajah Dave, dan Dave juga di buat terkejut dengan mata Imel yang sudah penuh dengan cairan bening yang siap tumpah kapan saja.
"Aku selalu salah mengartikan kebaikan orang lain terhadapku yang membuatku akhirnya menjadi terluka" Akhirnya cairan bening dari pelupuk mata Imel tak terbendung lagi.
Beberapa pengunjung restoran menatap penuh tanya ke arah mereka berdua. Membuat Dave menjadi malu di buatnya.
"Pergi Dave, pergi" Imel berucap dengan sesenggukkan
Dave yang merasa malu akan tingkah Imel langsung menarik tangan gadis itu keluar resto, namun sebelumnya Dave sudah meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar pesanan makanan Imel.
Dengan paksa, Dave menyuruh Imel masuk ke dalam mobilnya kemudian Dave melajukan mobilnya begitu kencang ke arah apartemen milik Imel.
Setelah sampai di parkiran apartemen, Dave kembali memaksa Imel turun dari mobilnya dan menarik tangannya masuk ke dalam lift.
Bukan tanpa alasan Dave memaksa Imel pulang dua tak ingin kejadian tempo hari terulang lagi.
Setelah sampai di depan kamarnya, Imelda berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya dan langsung mendudukan tubuhnya di sofa. Air matanya kembali mengalir di kedua sudut matanya.
Dave yang berdiri di ambang pintu menatap iba Imelda, kemudian dia memutusakan untuk masuk ke dalamnya dan mengambilkan segelas air putih lalu menyuruh Imel meminumnya.
Dave menyodorkan segelas air putih dan meminta Imelda meminumnya.
Setelah meminumnya sedikit, Imel melelakkan gelas tersebut ke atas meja kaca yang terletak di depannya pas.
Sedangkan Dave duduk sejajar dengan Imel namun ada jarak di antara keduanya.
Imel masih terlihat menangis, bahkan matanya sudah terlihat begitu sembab akibat terus menangis.
"Ada apa sebenarnya?" Dave merasa hatinya nyeri melihat Imel menangis.
"Jangan berbuat baik terhadapku Dave, jangan sampai membuatku salah mengartikannya" Ucap Imel lirih
"Jangan sampai kau menjadi Jie Sung ke dua. Dulu dia sangat bersikap baik terhadapku, bahkan saat kami sama-sama menempuh pendidikan di bangku universitas. Hingga pada akhirnya aku mulai menaruh hati padanya dan tiba-tiba saja dia pulang ke negaranya dan menghilang tanpa jejak" Imel menarik ingusnya yang terlihat meler dari hidungnya.
"Hingga pada akhirnya aku menyadari kalau Jie Sung tak menganggapku ada. Bahkan hari ini aku melihat dia bergandengan tangan dengan wanita lain Dave" imbuh Imel lagi, Imel semakin sesenggukkan menangis.
Dave yang merasa bingung harus seperti apa, tiba-tiba dia menggeser duduknya dan mendekat ke arah Imel. Dia berusaha mengusap air mata Imel dengan ibu jarinya.
"Sudahlah, jangan menangis"
Imel menepis tangan Dave menjauh dari wajahnya, dan menatap Dave dengan begitu tajamnya
"Jangan berbuat baik padaku Dave !! Jangan menjadi Jie yang kedua"
"Ingat kau sudah memiliki kekasih, jangan sampai kekasihmu salah paham dengan apa yang terjadi saat ini. Lebih baik kau pulang !" tukas Imelda.
"Gadis yang kau lihat tadi itu Yasmine, dan Yasmine adalah..."
"Cukup Dave, lebih baik kau pulang ! Aku hanya ingin sendiri saja" Imel beranjak berdiri dan menarik tubuh Dave hingga Dave terpaksa beranjak dari duduknya, Imel mendorong tubuh Dave dengan paksa hingga keluar dari apartemen yang di tempati olehnya.
Setelah Dave berada di luar pintu, Imel menutup pintu apartemennya.
Sedangkan Dave hanya mengangkat kedua bahunya kemudian dia berlalu dari apartemen Imel.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1