
Tepat sebulan sudah Yasmine tinggal bersama Nathan dan Sesil. Ketiganya selalu hidup rukun, terlihat begitu harmonis di pandang oleh orang, tapi tidak ada yang tau bagaimana perasaan Sesil yang sebenarnya.
Sesil sering kali menangis tengah malam saat memanjatkan doa, meminta pada sang Pencipta untuk selalu menguatkan hatinya, dan membuang jauh-jauh rasa iri hatinya.
Siang ini Sesil sedang berjanji dengan salah seorang temannya yang memiliki usaha di bidang travel.
Dia berencana membelikan Nathan dan Yasmine tiket berlibur sebagai hadiah pernikahan mereka, karena sudah sebulan lamanya Nathan dan Yasmine menikah dirinya belum memberikan kado apapun pada Yasmine.
Padahal seharusnya Sesil memberikan apa yang menjadi hak Yasmine yang juga istri dari Nathan.
Bahkan hingga hari ini saja, Sesil masih belum melihat Nathan membelikan barang apapun untuk Yasmine. Berbeda dengan pernikahannya dulu, Nathan membelikan satu set perhiasan bertahta berlian yang di desain kusus untuk dirinya, terlebih lagi baru-baru kemarin Nathan juga membelikan jepitan rambut di hiasi berlian kusus untuk dirinya.
Rasanya akan sangat tidak adil jika Yasmine tidak mendapat apa yang Sesil dapatkan. Maka dari itu tanpa sepengetahuan Nathan, Sesil ingin membeli hadiah pernikahan untuk mereka.
"Sory, lama menunggu" Sapa seorang wanita yang memiliki umur sepadan dengan Sesil.
"Maria, apa kabar?" Sesil mengulurkan tangannya dan menjabat tangan teman masa sekolah dulu.
"Baik" Maria tersenyum dan duduk berhadapan dengan Sesil.
"Jadi apa yang bisa aku bantu?" Seru Maria langsung pada inti masalah.
"Aku membutuhkan liburan yang spesial menuju Paris untuk minggu depan. Apa kau bisa membantu?"
Maria malah terkekeh mendengar penuturan dari Sesil, menurutnya perkataan Sesil hanya lelucon semata. Mana mungkin seorang keluarga Cornelio meminta dirinya membantu merencanakan liburan, rasanya sangat tidak mungkin. Perusahaan travel milik Maria tidak sebanding dengan apa yang keluarga Cornelio miliki.
"Kau ini lama tidak berjumpa semakin lucu saja" Kilah Maria tak hentinya tertawa
"Aku bersungguh-sungguh" Tegas Sesil.
Seketika Maria menghentikan tawanya saat melihat raut wajah serius dari Sesil.
"Aku memesan satu paket lengkap untuk dua orang, kau bisa membantuku merencanakannya bukan?" tanya Sesil lagi.
"Setahuku kau jika ingin berlibur tidak pernah memakai jasa travel, bukankah papimu itu sangat kaya raya Sil?" Maria mengernyitkan dahinya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar.
Sesil terdiam sejenak, memang ini kali pertama Sesil membeli tiket liburan di agen travel, biasanya jika dia ingin berlibur semua keperluan akan papinya siapkan, termasuk jika ingin menggunakan pesawat pribadi untuk transportasinya. Tapi kasus kali ini berbeda, jika Papinya sampai tau, makan habislah sudah, papinya pasti tidak akan setuju.
"Aku ingin memakai jasa travel saja, memangnya ada yang salah?" Sesil menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Jadi kau mau bantu atau tidak?" ketus Sesil
"Baiklah, baiklah" Maria mengeluarkan sebuah tablet dan mulai menunjukan beberapa pilihan paket terbaik di usaha travelnya, ini kali pertama agen travel miliknya mendapatkan client kelas kakap seperti keluarga Cornelio.
Setelah melihat beberapa paket yang di tunjukkan oleh Maria, Sesil sudah memilih satu paket yang di rasa cocok untuk Nathan dan juga Yasmine. Paket tersebut memakan waktu sepuluh hari lamanya.
Setelah bercakap-cakap seputar liburan, Sesil yang sudah mendapatkan dua tiket liburan langsung kembali lagi ke kantornya, karena masih ada deadline yang harus di selesaikan olehnya.
^
Malam harinya, Nathan sudah pulang terlebih dahulu, sementara Sesil ada pertemuan di luar kantor dengan clientnya jadi dia pulang agak larut malam.
Nathan sudah terlihat selesai mandi dan kini duduk santai sambil menikmati secangkir kopi beserta kue yang di hidangkan oleh Bi Nung di atas piring.
Kedua kaki Nathan terlihat menyilang, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
^
Sementara di salah satu cafe, Sesil sedang duduk sendirian, Siska sudah di minta pulang terlebih dahulu karena memang pekerjaan mereka sudah selesai. Setelah bertemu dengan Client, Sesil tak lantas pulang, dia malah duduk dan memesan sebotol bir untuk menemaninya saat ini.
Sesil menuangkan bir ke dalam gelas di hadapannya, kemudian perlahan dia menegukknya hingga tandas.
Sekarang saja Yasmine belum mengandung Nathan terlihat lebih perhatian dengan Yasmine, bahkan kemesraan mereka itu di tunjukkan di depan mata Sesil.
"Ah dasar gila" Sesil memukul kepalanya sendiri dengan tangannya, kemudian dia kembali menuangkan bir ke dalam gelas dan meminumnya kembali. Dia berharap minuman yang dia minum bisa menghilangkan sikap iri dengki yang ada di hatinya.
Namun tiba-tiba saja, bahu Sesil di tepuk oleh seseorang " Nona Sesilia, apa kabar?" Geordan terlihat melebarkan senyumnya.
"Sepertinya kabar anda sangat buruk" timpal Geordan tanpa menunggu Sesil menjawab pertanyaannya.
Bahkan Geordan tanpa meminta ijin langsung duduk di kursi depan Sesil.
"Kau terlihat begitu menderita dengan pernikahan kedua suamimu?"
Sesil hanya menatap sinis Geordan yang duduk di hadapannya "Pria tak tau malu" gumam Sesil.
"Jika Nathan tidak bisa menyenangkanmu, maka aku dengan senang hati membuka tanganku lebar-lebar untukmu, datanglah ke pelukanku"
Sesil mengacuhkan saja setiap perkataan yang terlontar dari mulut Geordan, sangat tidak bermutu untuk di dengar menurut Sesil.
__ADS_1
Sesil kembali menuangkan bir ke dalam gelas di hadapannya lalu meneguknya kembali.
Namun tiba-tiba saja Geordan malah menyentuh pipinya dengan telapak tangannya, membuat Sesil seketika diam tak bergeming. Geordan semakin merasa di atas awan saat Sesil di sentuhnya namun tak menolak.
Geordan kembali mengusap pipi Sesil dengan lembut, namun Sesil makin cuek tak memperdulikannya dia malah kembali menuangkan bir ke dalam gelas.
Sesil sejenak menarik sebelah sudut bibirnya hingga tiba-tiba "Byurr" Sesil menyiram Geordan dengan segelas bir yang baru saja di tuang olehnya.
Bahkan bukan hanya menyiram Geordan dengan segelas bir, Sesil juga membanting gelas tersebut hingga pecah dan menimbulkan suara yang cukup keras, suara pecahan gelas tersebut mampu menarik perhatian pengunjung cafe. Bahkan tak sedikit dari mereka yang berbisik-bisik.
Sesil semakin senang dapat mempermalukan pria tak tau diri ini.
"Suamiku hanya satu, dan jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu" Seru Sesil dengan suara yang menggelegar luar biasa
Tanpa berkata sepatah katapun, Sesil beranjak dari kursi dan membawa tas jinjing miliknya meninggalkan Geordan yang terlihat wajahnya memerah menahan amarah.
Namun baru beberapa langkah, Sesil berhenti dan memutar badannya melihat ke arah Geordan. Tangannya mengambil dompet dari dalam tas jinjing yang di bawanya.
Kemudian Sesil mengeluarkan semua uang cash yang saat itu dia bawa, dan langsung melemparkannya ke udara hingga uang dengan pecahan seratus ribu itu terbang di udara bahkan berjatuhan ke tubuh Geordan.
"Hartamu tidak bisa membeli cintaku, Karena hartaku sudah cukup untuk memberiku sesuap nasi tanpa harus menggadaikan kesetiaanku pada suamiku"
Semua orang menatap kagum melihat Sesil yang begitu berani, seperti bukan seorang wanita pada umumnya. Bahkan beberapa pria sampai tak berkedip melihat Sesil, selain berani Sesil juga memiliki wajah yang cantik, tubuh yang seksi dan auranya begitu terpancar membuat para pria pengunjung cafe ingin berkenalan secara baik-baik dengan Sesil.
Sesil melenggangkan kaki meninggalkan cafe tersebut tanpa memperdulikan pandangan orang yang pasti menilainya wanita bar-bar.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.