
Sesil berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang begitu datar, sedangkan imelda yang sedari tadi mondar-mandir di depan pintu menunggu hasil tes kehamilan sahabatnya itu seketika berdiri mematung dengan raut wajah yang sama tegangnya seperti raut wajah Sesil saat ini.
"Bagaimana hasilnya?" Imelda rasanya sudah tak sabar menanti jawaban dari sahabatnya itu, namun Sesil masih diam tak bergeming di posisinya, membuat Imelda merasa tak tenang dan seketika memeluk sahabatnya.
"Tidak apa-apa, kau masih muda tentu saja kau dan Nathan harus lebih giat lagi berusaha" Imelda mengusap punggung sahabatnya, mencoba menenangkan sahabatnya.
"Sudahlah, bagaimana kalau kita memesan es cream saja? cuaca kan sedang terik di luar" Imelda melepaskan pelukannya dan menatap sahabatnya.
Namun tiba-tiba saja, Sesil melebarkan senyumnya dan menunjukkan testpack ke depan mata Imel.
Dan saat Imel melihat dua garis merah di testpack yang di pegang oleh sahabatnya seketika itu pula Imel kembali merengkuh tubuh sahabatnya, dia bahkan tak segan untuk mencium wajah Sesil berkali-kali, membuat Sesil merasa begitu geli akan sikap dari Imel.
"Gadis bodoh, selamat ahhh" Imel kembali ingin mencium wajah Sesil namun kali ini Sesil langsung menghindar, dia begitu merasa gerah akan tingkah dari Imelda yang menurutnya berlebihan itu.
"Dasar menjijikkan!!! Jangan bilang kau menyukaiku??? menyukai sesama jenis?" Seru Sesil
"Oh my God!!! jadi itu alasanmu tidak menikah hingga saat ini??"
"Gadis bodoh!!!" Imelda seketika memukul kepala Sesil dengan begitu kesalnya, bukan Imelda tak mau menikah, tapi Imelda masih menunggu kedatangan seseorang yang selama beberapa tahun ini di tunggunya.
"Sudahlah, jangan banyak bicara omong kosong, lebih baik kau ikut denganku" Imelda menarik tangan Sesil dan mengajak sahabatnya keluar dari ruangannya.
Imel mengajaknya ke ruang dokter spesialis kandungan untuk memeriksa kandungan dari Sesil.
Dan ternyata saat di periksa usia kandungan Sesil sudah menginjak 5minggu, dan kandungannya dalam kondisi yang stabil dan sehat.
Sesil begitu lega saat mendengar penuturan dari dokter.
Seusai di periksa dan di berikan vitamin oleh dokter, Sesil dan Imel kembali lagi ke ruang kerja Imelda, kerena kebetulan jam praktek Imelda juga sudah berakhir.
Kini kedua sahabat itu baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa ruang kerja milik Imelda.
Sesil tak hentinya mengusap perutnya yang masih datar itu, senyum di bibirnya tak hentinya menghiasi wajah cantiknya.
Tangan kirinya memegang foto hasil USG dari dokter.
Sesil tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Nathan nanti saat mengetahui dirinya hamil. Imelda saja bisa seheboh itu apalagi Nathan, pasti dia akan lebih heboh dari Imelda, Sesil membayangkan berbagai reaksi dan wajah dari suaminya nanti.
Bahkan imajinasinya membuat Sesil terkekeh pelan,sementara Imelda sudah bisa membaca apa yang ada dalam pikiran dari sahabatnya itu.
"Mel, aku mau pulang"
"Aku berencana akan memasak dan menyiapkan dinner romantis untuk Nathan sekaligus merayakan kehamilanku" Ucap Sesil dengan begitu senangnya.
"Biar ku antar ya?" Imelda merasa tidak tenang jika Sesil harus pulang sendiri dalam kondisi hamil. Imel takut ada orang yang akan mencelakai sahabatnya itu.
Kedua orang tua Imel pernah menceritakan kalau mami Sesil pernah mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya lupa ingatan dan Sesil di keluarkan secara paksa. Bahkan karena kecelakaan itu pula Sesil dan maminya harus terpisah selama Empat tahun lamanya.
Imel benar-benar tidak bisa membayangkan jika itu menimpa Sesil.
"Tidak usah, aku akan memesan taxi saja" ucap Sesil
"Pokoknya aku antar, atau kau tidak usah pulang sama sekali!" Imelda beranjak dari sofa lalu melepaskan jas berwarna putih yang membalut tubuh seksinya.
Kemudian Imelda merapihkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas jinjing miliknya. Setelah merasa yakin tidak ada barangnya yang tertinggal, Imelda meraih kunci mobil dan mengajak Sesil untuk kembali ke rumahnya.
^
Sementara itu, Nathan baru saja menyelesaikan pertemuan penting dengan Clientnya. Setelah semua orang meninggalkan ruang meeting, Nathan meneliti kembali hasil meeting yang baru saja di lakukan olehnya.
Namun tiba-tiba saja, sekretarisnya Emilia terlihat memasuki ruang meeting dengan membawa sebuah amplop cokelat di tangannya.
"Bos, ini ada paket untuk anda" Emilia meletakkan amplop cokelat di hadapan Nathan, dan seperti biasanya Nathan nampak acuh tak acuh
"Tidak ada nama pengirimnya Bos" Imbuh Emilia lagi
Kali ini ucapan Emilia membuat Nathan sejenak mengalihkan pandangannya dari layar laptop
"Kalo tidak ada nama pengirimnya, buang saja" Tukas Nathan
"Tapi Bos, siapa tau isinya penting?" Emilia mencoba mengingatkan Bosnya
Nathan berdecak kesal dan meraih amplop tersenut dengan begitu kasar.
Dia mulai menyobek amplop tersebut dan perlahan mengeluarkan isi amplop tersebut.
Nathan mengernyitkan dahinya saat melihat foto almarhum om nya di dalam amplop tersebut.
"Kau bisa kembali bekerja" Nathan menyuruh Emilia keluar ruangan, karena Nathan tak ingin Emilia mengetahui masalah pribadinya.
__ADS_1
Setelah yakin Emilia kembali ke ruang kerjanya, Nathan kembali membuka amplop tersebut.
Kali ini sebuah foto wanita cantik mengenakan pakaian Sekolah Menengah Atas yang sedang tersenyum sambil menaikki sebuah sepeda.
Nathan menyipitkan matanya saat melihat foto tersebut, foto itu sangatlah mirip dengan Sesil saat masih duduk di bangku SMA.
"Lalu apa hubungannya Sesil dengan Om?" Nathan semakin merasa penasaran dan menumpahkan semua isi amplop tersebut.
Dan betapa terkejutnya saat melihat foto omnya dan mendiang mami Sesil di sebuah Rumah sakit di Bandung.
Bahkan foto om dan mendiang Mami mertuanya juga begitu banyak, dari mereka masih duduk di bangku SMA hingga di bangku Universitas.
Kini di kepala Nathan timbul banyak sekali pertanyaan, ada hubungan apa antara Om Arik dan mendiang Mami mertuanya itu.
Bahkan ayahnya saja tidak pernah menceritakan perihal masalah ini padanya.
Nathan membalikkan amplop mencari nama pengirimnya, namun bukan nama yang dia dapatkan melainkan sebuah kata-kata yang tercetak dengan huruf kapital
JIKA KAU PENASARAN, DATANGLAH KE RUMAH LAMA MENDIANG ARIK DI SOLO!!
Nathan menyipitkan matanya dan mencoba mencerna apa yang di lihatnya. Jika di hubungkan dengan foto tersebut, Nathan bisa menyimpulkan kau mendiang omnya pasti memiliki hubungan dengan mendiang mami mertuanya, dan mungkin ini jalan pembuka untuk mengungkap kematian omnya yang menurut Nathan tragis.
Bahkan kebangkrutan perusahaan Angkasa Entertainment yang secara mendadak membuat keluarga Ibunya harus mengalami kebangkrutan dan menyebabkan Adik Nathan yang kala itu menderita Gagal ginjal harus meninggal karena tidak memiliki biaya untuk berobat.
Nathan mengepalkan tangannya ketika mengingat masa sulitnya dulu. Keluarganya begitu menderita saat itu.
Hingga pada akhirnya Ayahnya bisa mendirikan perusahaan kecil-kecilan di bidang properti.
Nathan sedari dulu sangat ingin mengetahui tentang rahasia ini, namun ayahnya Adibjo selalu menutupi semuanya.
Nathan mengepalkan kedua tangannya, bahkan otot di tangannya begitu tergambar dengan jelas. Raut wajahnya seketika memerah menahan emosi.
Nathan memasukkan kembali semua foto-foto itu ke dalam amplop.
Tanpa pikir panjang lagi, Nathan mengambil kunci mobilnya dan langsung meminta Emilia untuk membatalkan semua schedule untuk satu minggu ke depan.
Nathan berencana akan pulang ke Solo tanpa sepengetahuan ayahnya.
Dan Nathan juga berpesan kepada Emilia, jika ada yang mencarinya maka katakan saja dirinya sedang mengurus proyek yang bermasalah di luar kota.
Nathan dengan langkah kaki yang lebar menuju parkiran mobil, dan dengan begitu keras dia membanting pintu mobil dan menancapkan gas mobilnya meninggalkan area kantornya.
Nathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk menuju ke kampung halaman ibunya di Solo.
^
Sesil meraih ponselnya, dia mulai menyalakan layar benda pipih yang di pegangnya dan mulai menggulir layar ponsel miliknya untuk mencari nomor suaminya.
Setelah menemukan nomor Nathan lantas dirinya menekan icon bergambar telefon untuk menghubungi Nathan.
Panggilan terhubung namun tidak kunjung ada jawaban.
Sesil mencoba kembali menghubungi Nathan tapi sayangnya kali ini telefon Nathan malah tidak aktif.
"Mungkin dia sedang meeting" Sesil menghela nafasnya panjang dan mencoba berfikir positif
"Nak, mungkin papi sedang sibuk di kantor, jadi tidak mengangkat panggilan telefon dari kita" Sesil mengusap perutnya dan mencoba mengajak janin yang berada di perutnya berbicara
"Papihmu itu seorang yang sangat pekerja keras seperti kakekmu, dia pasti tidak mau membuat kita hidup susah"
"Oh ya papi, aku lupa belum memberitahu kabar baik ini kepada papi, Lebih baik besok aku mengajak Nathan mengunjungi papi"
"Nak, lebih baik kita menyiapkan makan malam untuk papih sayang" Sesil tak hentinya mengusap perutnya yang masih rata itu, kemudian dia bergegas turun dari ranjang untuk menuju dapur.
Sesil ingin menyiapkan dinner romantis untuk Nathan.
Dengan begitu semangat Sesil di bantu oleh Bi nung memasak berbagai hidangan yang di sukai oleh Nathan.
Dari Appertisert hingga Dessert Sesil mengolahnya dengan begitu senang, bahkan senyum di bibirnya tak berhenti mengembang sempurna di sana.
Hingga tak terasa hampir dua jam lebih Sesil di bantu Bi nung berkutat dan bertempur di dapur. Rasa lelah Sesil terbayarkan saat melihat makanan yang di buatnya mulai tertata rapih di atas meja makan. Makanan yang begitu berbau harum dan menggoda selera setiap orang yang melihatnya.
Sesil tersenyum puas saat melihatnya, dan Sesil memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menghias meja makan.
Sesil kembali ke kamar untuk membersihkan diri, selama hampir setengah jam lamanya.
Setelah mandi, Sesil memilih gaun di dalam lemari, malam ini Sesil memilih gaun berwarna cream tanpa lengan dengan panjang selutut.
Kemudian Sesil memberi sentuhan make up tipis di wajah mungilnya, dan menyelipkan sebuah jepit rambut bermotif pita di rambutnya bagian pinggir sebelah kanan.
__ADS_1
Setelah memastikan penampilannya sudah maksimal, Sesil kembali menuju ruang makan.
Dia sudah memesan bunga Lili kepada toko bunga langganannya, dan sepertinya bunga pesanan dirinya baru saja di antar.
Dan benar saja, saat Sesil sampai di ruang makan bunga Lili segar yang masih terbungkus dengan koran terletak di atas meja tersebut.
Dengan begitu semangat Sesil mulai merangkai bunga Lili tersebut dan memasukkannya ke dalam Vas bunga yang baru saja di ambilnya dari lemari.
Setelah selesai merangkai bunga Lili tersebut, Sesil lantas meletakkan vas tersebut di tengah meja makan.
Kemudian Sesil melanjutkan untuk memasang Lilin di tepian meja makan.
Lilin yang di susun membentuk gambar hati itu perlahan mulai di nyalakan oleh Sesil, karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.40malam, biasanya Nathan sebentar lagi pasti akan sampai rumah.
Setelah menyalakan Lilin di lantai, Sesil kemudian menyalakan Lilin yang berada di atas meja. Setelah smua lilin menyala, Sesil beranjak ke arah saklar untuk mematikan lampu.
Kemudian dengan raut wajah yang begitu bahagia, Sesil duduk kembali di kursi meja makan untuk menunggu suaminya pulang kerja.
Dua puluh menit berlalu, namun orang yang di tunggu oleh Sesil tak kunjung kembali pulang.
Perasaan Sesil menjadi tidak tenang, apalagi Nathan sama sekali tidak menghubunginya sedari siang tadi, biasanya sesibuk apapun Nathan jika dia pulang terlambat pasti akan memberitahu Sesil.
Sesil meraih ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Nathan, namun sayangnya ponsel Nathan masih di luar jangkauan.
Sesil meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, dan mencoba berpikir setenang mungkin.
"Nak, mungkin papih akan pulang terlambat, kau tidak marah kan?" Sesil lagi dan lagi mengusap perutnya dan mengajak janin yang berada di dalam perutnya berbicara.
Waktu terus berlalu, jarum jam terus berputar hingga kini waktu sudah menunjukkan pukul 09.00pm namun Nathan tak kunjung kembali, bahkan Lilin yang di nyalakan Sesil juga sudah mulai terlihat mengecil dan sebentar lagi habis.
Dengan begitu tidak tenang, Sesil kembali mencoba menghubungi ponsel Nathan namun hasilnya masih sama seperti tadi.
Sesil kali ini tidak menyerah, dua teringat akan sekretaris suaminya, pasti Emilia mengetahui dimana Nathan berada saat ini.
Sesil menggulir layar ponselnya dan mencari nomor emilia, setelah menemukan nomor Emilia Sesil lantas menghubunginya.
"Halo, selamat malam nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Suara Emilia terdengar begitu jelas dari balik ponsel milik Sesil
"Mil, apa Nathan masih berada di kantor?"
"Oh, Bos Nathan sedang pergi keluar kota untuk mengurus proyek yang sedikit mengalami kendala di sana"
"Keluar kota?" Seru Sesil, dia begitu terkejut mendengarnya, karena Nathan sama sekali tidak memberi kabar apapun, padahal biasanya jika dia dinas keluar kota pasti akan memberi kabar terlebih dahulu dan tidak asal pergi seperti sekarang ini.
Tiba-tiba saja perasaan Sesil menjadi tidak tenang.
"Ya sudah terimakasih" Sesil mematikan panggilan telefonnya dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja makan.
Perasaan Sesil kali ini begitu terasa tidak tenang, seolah-olah terjadi sesuatu kepada suaminya.
Selera makannya juga sudah hilang, rasa laparnya juga menguap begitu saja.
Namun Sesil tidak boleh egois, di dalam perutnya ada nyawa lain yang harus mendapatkan gizi yang baik.
"Nak, mungkin lain kali kita makan malam bersama papih ya, kau tidak boleh marah, papih sibuk seperti ini semata-mata untuk memberi kehidupan yang layak untuk kita"
Sesil kemudian mengambil nasi dan beberapa lauk untuk menemani santap makan malamnya.
Meskipun kecewa karena suprisenya gagal, namjn Sesil tetap harus makan demi calon anak yang berada di perutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Mulai masuk konflik sebenarnya ya, siapkan tisu kalianš¤£ā„ļø
Makin hari makin pedit komentar, srayu sedih dehš