Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Bermain Air


__ADS_3

Nathan masih duduk kursi meja makan sementara Sesil sedang membersihkan alat-alat yang di gunakan untuk membuat jus kiwi barusan. Setelah menyimpan peralatan yang kotor pada tempatnya, Sesil kembali duduk di samping suaminya yang senantiasa sedang menunggu dirinya sambil tersenyum.


"Kau ini kenapa tersenyum terus?" Sesil menaikkan kedua alisnya menatap suaminya yang kini duduk di sampingnya.


"Entahlah, rasanya aku begitu puas sudah bisa meminum jus kiwi buatan istriku" Nathan mencubit dagu istrinya dengan gemas lalu menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.


"Ah, dasar menyebalkan" gerutu Sesil


Nathan terkekeh senang saat bisa melihat istrinya cemberut akan ulahnya.


Keduanya kemudian kembali ke ruang santai, keduanya kini duduk sambil menikmati pemandangan hamparan pantai di hadapannya, memang sengaja ruang santai di desain menggunakan kaca supaya bisa leluasa melihat ke luar. Sesil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya sementara Nathan terlihat mengusap lembut kepala istrinya sambil sesekali Nathan mendaratkan ciuman di kepala istrinya dengan begitu mesra


"Aku tak pernah menyangka kalau hari ini kau berada dalam dekapanku sebagai istri sah bagiku, rasanya seperti mimpi. Kadang aku tidak mempercayainya" Seru Nathan membuka obrolan.


"Memangnya kenapa? padahal usia pernikahan kita saja sudah dua tahun lamanya, sudah banyak badai yang kita lewati bersama"


"Ya memang benar sayang, tapi dulu dirimu hanya sebuah mimpi untukku, mimpi yang sangat sulit aku gapai. Dari awal pertemuan kita aku sudah menaruh perhatian lebih padamu, tapi aku rasa nasib baik tidak berpihak padaku saat itu. Kau selalu saja mengacuhkan aku, bahkan pada akhirnya kau membenciku karena aku selalu bersikap usil padamu, dan setelah kau membenciku rasanya nasibku semakin tragis saat mengetahui kau putri tunggal dari raja bisnis di negri ini" imbuh Nathan


"Sudahlah, kenapa harus mengingat yang buruk jika mengingat yang indah jauh lebih menyenangkan?" Sesil mendongak menatap wajah suaminya.


"Jangan pernah pergi dari hidupku sayang, separuh hidupku adalah dirimu" bisik Nathan lembut.


Tanpa menjawab perkataan suaminya, Sesil hanya memeluk erat tubuh kekar suaminya,itu sebagai tanda jawaban atas perkataan yang terlontar dari mulut suaminya.


"Sayang..?" panggil Sesil lembut


"Hm, ada apa"


"Apa kau merasa tidak aneh? sejak kapan kau mulai menyukai buah kiwi? dan yang lebih membuatku heran adalah apa kau tidak merasa asam saat memakan buah kiwi?" Sesil tak bisa menahan rasa penasarannya atas sikap dari suaminya.


Nathan menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya, dirinya sendiri juga merasa aneh akan sikapnya sendiri jika menginginkan sesuatu rasanya harus di penuhi, bahkan beberapa hari ini dirinya semakin merasa sensitif saja.


"Sayang? Kenapa diam saja?" Sesil merenggangkan pelukannya supaya lebih leluasa menatap wajah suaminya.


"Entahlah sayang, aku sendiri tidak tau apa alasannya. Yang jelas jika aku menginginkan sesuatu harus di penuhi, jika tidak rasanya aku sangat sedih, belum lagi perasaanku akhir-akhir ini selalu merasa sangat sensitif"


Sesil menganggukkan kepalanya mengerti akan kondisi suaminya saat ini, Sesil kembali mengingat siklus bulanannya yang belum juga datang hingga hari ini. Jika mengingat hal tersebut ampuh membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya, perasaan penuh harap jika saat ini perutnya kembali ada kehidupan orang lain.


Ingin rasanya Sesil mengeceknya saat ini, tapi itu tidak mungkin dia lakukan karena tempat liburan mereka saat ini sangat terpencil, jika harus ke pusat kota, pasti Nathan akan curiga. Bukan Sesil tidak mau menceritakan perihal ini pada suaminya, tapi Sesil tidak mau membuat suaminya kecewa jika hasilnya negatif nantinya.


"Sayang kenapa diam saja?" Nathan menarik dagu istrinya yang sedang melamun.


Namun sialnya Nathan malah gagal fokus ketika melihat bibir seksi istrinya yang selalu mampu membangkitkan gairahnya.


"Tidak ada yang melamun, aku..." Ucapan Sesil terhenti saat Nathan malah mulai mengusap sudut bibirnya menggunakan ibu jarinya. Perlahan usapan Nathan malah semakin tak terkendalikan, dia menarik tengkuk leher istrinya dan mulai mengecup mesra bibir istrinya.


Sesil yang merasa terkejut langsung memejamkan matanya, dirinya mulai menikmati ciuman suaminya. Bahkan tangan Nathan sudah tak bisa di kendalikan lagi, tangannya sudah menyusup di balik kaos yang istrinya kenakan saat ini.


Sesil sedikit terkekeh saat Nathan mulai bermain-main di area dadanya bahkan kini keduanya terlibat ciuman panas di cuaca yang cukup panas.


Di tengah aktivitas panas keduanya tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu kamar resort yang mereka tempati. Namun Nathan menutup telinganya rapat-rapat dan mengacuhkan ketukan pintu tersebut, dirinya asik mencumbu istrinya.


Tok..Tok..Tok...


Ketukan pintu terdengar semakin keras sepertinya yang datang semakin tidak sabar menunggu pintu terbuka..


"Shitttt" Nathan melepaskan cumbuannya, dan menoleh ke arah pintu, dia begitu kesal pada orang yang sudah datang mengganggunya saat ini, padahal dirinya sudah memilih tempat ini supaya tidak akan ada yang datang menganggu acaranya dengan istrinya.


Tok..tok..tok..


Kali ini bukan suara ketokan tapi sudah mirip suara gedoran pintu.


"Sial" Nathan beranjak berdiri dari duduknya ingin rasanya Nathan menghancurkan orang yang sudah berhasil menyulut emosinya.


Melihat suaminya beranjak berdiri, Sesil juga mengikuti suaminya,Sesil merapihkan pakaiannya dan rambutnya yang sudah berantakan karena tingkah suaminya.


Nathan dengan paksa membuka pintu dan saat pintu terbuka, dia semakin merasa kesal melihat siapa yang kini berdiri di ambang pintu.


Chan melebarkan senyumnya tanpa dosa, karena memang dia tidak tau kalau sudah membuat Nathan terganggu.

__ADS_1


"Kenapa kau lama sekali membuka pintunya?" Seru Chan, namun Nathan diam saja tidak menjawab perkataan Chan.


Chan mengernyitkan dahinya melihat wajah Nathan yang malah terlihat cemberut seperti itu.


"Kenapa dia ini?" Kali ini Chan bertanya sambil menatap ke arah Sesil yang berdiri di samping Nathan.


"Hai Tuan Chan, ada keperluan apa?" Sesil mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya sampai lupa. Aku datang kemari mengantarkan pesanan suamimu" Chan meminta asistennya menyerahkan paper bag kepada Sesil.


"Apa ini?" tanya Sesil sambil menerima paper bag tersebut.


"Itu semua gaun untuk nona, semoga pilihan kami tidak mengecewakan" kali ini asisten Chan angkat bicara.


"Oh terimakasih banyak, maaf sudah merepotkan"


"No problem" Chan melebarkan senyumnya.


"Kau tidak mau mengucapkan terimakasih padaku hah?" Chan melirik ke arah Nathan yang malah melipat kedua tangannya di depan dada.


"Diamlah, atau aku patahkan lehermu" ketus Nathan sambil melirik tajam ke arah Chan


"Ah, kan aku hanya bercanda" kilah Chan sambil menatap takut ke arah Nathan yang juga sedang menatapnya


Karena merasa takut pada Nathan, Chan lebih memilih untuk pergi. Chan paham betul jika Nathan marah, temannya itu bisa saja menghajarnya hingga babak belur, karena Chan tau kalau Nathan menguasai dua bela diri sekaligus.


Setelah kepergian Chan, Sesil melirik ke arah Nathan yang sedang melebarkan senyumnya.


Sesil menggelengkan kepalanya lalu dia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam.


"Sayang tunggu" panggil Nathan saat sudah melihat istrinya berlalu dari sampingnya.


Sesil mengacuhkan panggilan suaminya, dia bahkan mempercepat langkah kakinya masuk ke dalam kamar.


Bukk...


"Ah.." Nathan mendesis sembari mengusap wajahnya.


Dengan sedikit kesal, Nathan menyentuh knop pintu dan membukanya, terlihat Sesil sedang berselonjor kaki di atas ranjang, kedua tangannya melipat di atas perutnya serta wajahnya begitu cemberut.


Nathan berjalan mendekat dan mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang. Dia menatap istrinya yang tiba-tiba saja mengambek padanya.


"Kau ini kenapa Nath? Harusnya berterimakasih pada Chan yang sudah banyak membantu kita selama di sini, kita sudah banyak merepotkan dia. Kenapa malah kau membentaknya seperti tadi?" suara Sesil terdengar begitu kesal.


"Hehe, itu karena Chan sudah menganggu acara kita tadi" jawab Nathan sambil tersenyum tidak jelas


"Kita kan bisa melakukannya kapan saja, kenapa hanya insiden kecil kau harus semarah itu?" Sesil mendengus dengan kesal.


"Baiklah aku minta maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi" Nathan mengacungkan jari kelingkingnya di depan wajah istrinya. Namun sayangnya Sesil masih diam saja tak merespon suaminya.


Dia masih kesal akan tingkah Nathan yang di rasa semakin menyebalkan.


"Sayang?" panggil Nathan kembali, kali ini bahkan Nathan langsung menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking istrinya dengan paksa.


"Sudah jangan mengambek lagi, ayo kita bermain air saja sambil menunggu sunset tiba" bujuk Nathan.


"Bermain air?" Sesil melebarkan matanya, dia sangat senang mendengar ajakan suaminya kali ini.


"Iya bermain air, cepatlah ganti pakaianmu, aku akan menunggu di luar" Nathan beranjak dari duduknya dan berlalu keluar kamarnya. Sementara Sesil langsung berganti pakaian yang lebih santai, dia mengenakan tang top di padukan dengan celana hot pen berwarna hitam.


Setelah berganti pakaian, sesil bergegas menyusul Nathan yang sedang menunggunya di depan pintu. Kini keduanya memutuskan untuk menuju bibir pantai.


Sesil dan Nathan berjalan tanpa mengenakan alas kaki. Bahkan Nathan yang kali ini memegang kamera tak hentinya mengambil potret istrinya yang sedang berlari-lari di atas hamparan pasir putih. Rona kebahagiaan terpancar jelas di raut wajahnya.


"Sayang, ayo kita buat istana pasir" Sesil menarik tangan suaminya.


"Baiklah, aku akan menyimpan kameranya dulu" Nathan kemudian meletakkan kamera yang di bawa olehnya ke tempat yang lebih tinggi supaya tidak terjangkau oleh ombak.


Sementara Sesil sudah mulai membentuk bagian depan istana pasirnya. Sebenarnya Nathan enggan sekali melakukan permainan anak-anak ini, bahkan saat dulu dirinya masih kecil saja sangat malas jika harus menemani adiknya bermain istana pasir.

__ADS_1


Eh saat sudah berumah tangga malah istrinya mengajaknya bermain istana pasir.


Sesil begitu senang membuat istana pasirnya, bahkan dia tak hentinya melantunkan beberapa lagu yang membuat Nathan ikut bernyanyi bersamanya.


Kini istana pasir buatannya sudah hampir selesai, istana pasir yang di desain oleh Sesil memiliki banyak pintu serta menara pengintaian bak di negri dongeng.


Setelah puas bermain istana pasir, Sesil meminta ijin pada Nathan untuk bermain air. Natha. juga mengijikan istrinya bermain air, sementara dirinya menunggu di tepian, karena memang ombak di sini tidak besar jadi aman untuk Sesil bermain air.


Sesil terlihat berlari ke arah air dengan sesekali meloncat-loncat dengan senangnya. Dia sungguh sangat suka dengan segala sesuatu yang berbau pantai.


Sesil terlihat berenang ke sana kemari dengan gembira, bahkan sesekali Sesil melambaikan tangan dan memanggil nama Nathan.


Nathan hanya tersenyum melihat istrinya bahagia. Bahkan pandangan mata Nathan terus saja mengawasi pergerakan istrinya yang sedang berenang ke sana kemari.


"Sayang jangan terlalu ke tengah" Teriak Nathan memperingatkan, kemudian Nathan mulai membuka kamera untuk melihat hasil jepretan yang baru saja dia ambil.


"Tolong..Tolong..." Sesil berteriak meminta tolong sambil tangannya melambai ke arah Nathan.


Nathan yang mendengar suara istrinya meminta tolong langsung mengalihkan pandangan matanya dari layar kamera, dan benar saja istrinya sepertinya tenggelam, bahkan sudah tak terdengar lagi suara istrinya, hanya terlihat telapak tangan Sesil yang semakin menghilang tenggelam ke dalam air.


"Sesillll..." Nathan berteriak histeris melihat istrinya tak terlihat di permukaan air.


Nathan melemparkan kamera ke sembarangan arah dan langsung berlari ke arah air.


Nathan mulai berenang menggapai tubuh istrinya, dengan cepat Nathan membawa tubuh Sesil ke tepian, dan saat sudah sampai di tepian Nathan langsung membopong tubuh Sesil menjauh dari air.


Nathan meletakkan tubuh Sesil di tempat yang sudah tak terjangkau oleh ombak.


Nathan menepuk pipi istrinya, berharap Sesil mau membuka matanya.


"Sayang, sadar lah" Nathan tak hentinya menepuk kedua pipi istrinya.


Menyadari usahanya tidak berhasil, Nathan meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada Sesil dan mulai menekannya perlahan.


"Ayo sayang bangun, jangan membuatku kawatir" Nathan terus berusaha sebisanya, namun usahanya masih tak membuahkan hasil.


Kali ini Nathan menutup lubang hidung istrinya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya mengapit pangkal hidung istrinya, dia mulai memberikan nafas buatan untuk istrinya. Namun sudah beberapa kali memberikan nafas buatan, Sesil tak kunjung membuka kedua matanya.


Nathan semakin panik, dia mengusap wajahnya dengan kasar, merutuki kebodohannya membiarkan Sesil berenang seorang diri, jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada istrinya, Nathan tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Sayang bangun ! bangun!" Teriak Nathan histeris, dia mengangkat kepala istrinya dan menenggelamkan di dada bidangnya.


"Sayang, buka matamu" Teriak Nathan kembali, kali ini lebih keras dari sebelumnya.


"Liswa Sesilia Cornelio, bangun ! buka matamu!" Suara Nathan terdengar semakin frustasi saat kedua mata istrinya tak kunjung membuka.


"Jangan tinggalkan aku" Nathan memeluk erat tubuh istrinya yang masih diam saja tak bergerak sedikitpun.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Vote, dan komentarnya ya guys😘


Kemarin sibuk banget jadi nggak sempat up😁 maaf ya🙏

__ADS_1


__ADS_2