
Tiga hari sudah berlalu semenjak insiden yang Sesil alami, insiden yang membuatnya harus kehilangan calon anak yang di kandungnya dan kini dia juga harus duduk di kursi roda karena kakinya mengalami kelumpuhan. Meskipun ada kemungkinan sembuh jika terus melakukan pengobatan dan terapi jalan.
Siang ini seperti biasanya, Nathan sedang menyuapi istrinya makan siang, dengan begitu telaten Nathan terus memasukkan satu persatu sesendok nasi ke dalam mulut istrinya.
Setelah semua makanan yang berada di piring habis, Nathan mengambilkan obat dan membantu istrinya meminumnya. Nathan sudah bersumpah akan menjadi kaki untuk istrinya. Maka sedari kemarin Nathan tak pernah meninggalkan istrinya barang sedetikpun.
"Terimakasih Nath" Sesil melebarkan senyumnya saat Nathan baru saja meletakkan gelas berisi air yang baru saja di gunakan untuk melarutkan obat yang istrinya minum.
Nathan tak menjawab sepatah katapun, dia hanya mengusap kepala istrinya dengan begitu lembut, di wajahnya tergambar penyesalan luar biasa.
"Senyum sedikit" Sesil menarik pipi suaminya dan mencoba membuat suaminya tersenyum, bukannya tersenyum Nathan malah meraih tangan Sesil dan langsung mengecupnya dengan lembut.
"Sayang, kapan aku bisa melihatmu tersenyum lagi" Sesil mengerucutkan bibirnya dengan begitu manja, pasalnya selama tiga hari di rawat oleh suaminya dia belum sekalipun melihat senyum di wajah suaminya.
Nathan terus menjaganya setiap waktu tapi tak menampakkan wajah cerianya seperti dulu, tak lagi menggodanya seperti biasanya.
"Sayang, tunggu sebentar di sini, aku akan menebus obat di apotik depan rumah sakit ya" Nathan mengusap puncak kepala istrinya dan beranjak dari duduknya.
"Hati-hati" Seru Sesil, sedangkan Nathan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya kemudian berlalu keluar dari ruang rawat istrinya.
Sepeninggal suaminya, Sesil menatap keluar jendela yang menampakkan sinar mentari yang begitu cerah hari ini, bulir air matanya kembali menetes dari kedua sudut matanya.
Hatinya tak sekuat yang orang lain kira, dia begitu merasa kehilangan anaknya yang sudah di tunggunya selama setahun ini, belum lagi kelumpuhan yang mendera kakinya membuatnya harus duduk di kursi roda entah hingga kapan dia tak sendiri tak mengetahui jawabannya.
Selama tiga hari ini Sesil terus menyembunyikan luka hatinya dari semua orang terdekatnya, dia tak ingin semua orang kawatir padanya dan akan menyalahkan Nathan atas semua yang menimpanya saat ini.
"Mami, ingin rasanya Sesil pergi bersama mami" Air matanya semakin deras membasahi wajah cantiknya
"Tuhan.." Sesil berucap dengan bibir yang masih bergetar, saat ini dia merindukan maminya, merindukan papinya yang sedang pergi keluar negri untuk membawa opahnya berobat
Sesil memejamkan kedua matanya, dan berusaha mengeringkan air matanya dengan mengusap menggunakan jari jemarinya, namun sayangnya air matanya tak kunjung mengering
Hingga Sesil merasakan ada jari-jemari milik orang lain yang mencoba menghapus air matanya. Awalnya dia mengira itu milik Nathan, namun betapa terkejutnya saat Sesil membuka matanya beridirilah sosok tegap dengan wajah yang begitu dingin dan datar.
Kedua matanya menatap Sesil yang terbaring di atas pembaringan, tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh sosok yang terus menatap wajah Sesil setiap incinya.
"Pa-a-papi" Sesil berucap dengan bibir yang bergetar, dia tak menyangka papinya saat ini berdiri di sampingnya dan kembali berusaha mengusap air matanya.
Sesil sekuat tenaga menepiskan senyum termanis ya ke arah lelaki paruh baya uang sudah menyerahkan sisa hidupnya untuk membesarkan dirinya.
"Papi, kapan datang?"
Swan masih tak menjawab pertanyaan putrinya, dia menatap wajah Sesil dengan seksama, seolah sedang mencari jawaban dari sorot mata putri semata wayangnya itu
"Papi?" Sesil kembali memanggil papinya dan mencoba menggoyangkan tangan papinya
Tanpa menjawab putrinya, Swan mendudukkan tubuhnya di kursi yang terletak tepat di belakangnya.
Masih dengan ekspresi yang sama, Swan duduk mematung di posisinya, sorot matanya menunjukkan emosi yang memuncak.
Berulang kali dia merasa kecolongan dan gagal menjaga orang-orang yang di cintainya, dulu istrinya dan sekarang putrinya.
Swan yang awalnya sedang berada di Australia untuk proses pengobatan Ayahnya, harus terbang kembali ke Indonesia karena berulang kali menghubungi putrinya tapi tidak ada jawaban sama sekali, begitupun dengan Nathan ponselnya sama tidak aktif.
Maka dari itu, Swan mengutus anak buahnya untuk mencari tau apa yang terjadi, hingga dia mendapat kabar kalau putrinya masuk rumah sakit dan keguguran.
__ADS_1
"Papi bagaimana opah?" Sesil mencoba mengalihkan perhatian papinya dari masalah yang menimpa dirinya saat ini
"Tinggalkan dia" Hanya dua kata yang keluar dari mulut Swan namun mampu menusuk hingga relung terdalam hati Sesil.
"Papi" Sesil menggelengkan kepalanya, bahkan bulir air matanya lolos tak terkendalikan lagi
"Papi tidak sudi memberinya maaf" Tukas swan
"Papi sayang Sesil?" Sesil meraih tangan papinya dan menggenggamnya dengan erat.
"Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, bahkan papi rela memberikan nyawa papi untukmu, hanya kau nak satu-satunya harta yang paling berharga"
"Jadi papi tidak mau kan melihat Sesil bersedih?" Swan diam saja tidak bergeming dan menjawab putrinya, setidaknya Swan ingin membalas apa yang sudah terjadi pada putrinya.
"Papi.." Suara yang tiba-tiba mengalihkan pandangan Sesil tapi tidak dengan Swan, dia tau suara milik siapa itu, suara yang sangat di nantikan olehnya, ingin rasanya dia meremukkan tulang belulang milik Nathan saat ini juga.
"Kau sudah kembali?" Sapa Sesil sambil mengedipkan sebelah matanya memberi kode supaya suaminya paham dan keluar dari ruangan tersebut. Namun Nathan menutup matanya akan kode yang di berikan oleh Sesil, dia masih tak berdiri tepat di balik punggung Swan. Nathan akan menerima apapun yang akan papi mertuanya lakukan padanya.
Swan beranjak berdiri dan membalikkan badan menghadap menantunya yang juga sedang menatapnya.
"Papi, ini semua salah Nathan..." belum sempat Nathan menyelesaikan perkataannya, Swan langsung memukul Nathan hingga jatuh tersungkur ke lantai.
"Papi cukup" Sesil berteriak ke arah papinya, namun Swan hanya tersenyum sinis melihat kondisi Nathan, dengan menepuk satu kali tangannya, masuk dua anak buah Swan dengan tubuh kekar layaknya Algojo yang siap mengeksekusi sang terdakwa
Nathan berlutut di hadapan Swan dengan mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya
"Maafkan aku Tuan Swan, mungkin anda tidak akan sudi menganggapku sebagai menantu lagi, semua karena ke bodohanku sendiri, tapi yakinlah ini semua di luar kendaliku" Tanpa menjawab perkataan Nathan, Swan hanya menganggukkan kepalanya saja, awalnya Sesil menyangka papinya akan memaafkannya, namun sedetik kemudian dua anak buah papinya maju dan langsung memukul Nathan hingga hidung mancung Nathan terlihat mengeluarkan darah.
Sesil yang melihat kejadian itu hendak beranjak dari ranjang, namun Swan menahan tubuh putrinya hingga Sesil tak bisa bergerak sedikitpun.
"Lanjutkan" Imbuh Swan lagi, kali ini bahkan anak buahnya dengan membabi but memukul Nathan berkali kali, bibir Nathan terlihat sobek, darah segar mengalir di sana.
"Ceraikan dia, atau dia mati di tangan papi" Swan berkata dan menatap tajam ke arah putrinya yang terus memberontak minta di lepaskan
"Papi cukup" Sesil berteriak dengan di selingi isak tangis, air matanya sudah mengalir tanpa bisa di kendalikan lagi, dia tak tega melihat suaminya di perlakukan seperti itu oleh papinya, meskipun Sesil paham betul akan sikap papinya yang akan membuat orang yang sudah melukainya menerima ganjaran yang setimpal.
Namun seolah tuli dan buta, Swan sama sekali tak mendengarkan apa yang putrinya katakan. Anak buahnya terus memukul Nathan meskipun Nathan sama sekali tidak melawan. Tubuh Nathan sudah terkulai lemas di di lantai.
"A-a-aku tidak akan menceraikan istriku"
uhuk...uhukk.. Nathan terbatuk-batuk dan darah segar keluar dari mulutnya, hati Sesil begitu sakit melihat suaminya seperti itu akibat papinya sendiri.
"Teruskan" Satu kata yang terlontar dari mulut Swan membuat dua anak buahnya melanjutkan kembali perintah tuannya.
"Papi cukup" Sesil kembali berteriak
"Sesil mohon pi, sudah cukup" Sesil menangis terisak-isak melihat kondisi suaminya
"Sesil benci papi !!! Ternyata apa yang orang katakan itu benar ! Papi kejam ! papi tidak punya hati"
Kali ini ucapan Sesil mampu mengalihkan mata Swan, dia menatap mata putrinya dengan tajam
"Sesil tidak mau menjadi putri papi ! Sesil benci papi ! benci !! " Sesil mengibaskan tangan papinya yang memegang tubuhnya sedari tadi.
Hati Swan begitu terasa sakit, putrinya tidak mau menjadi putrinya, selama ini Swan selalu melakukan hal terbaik untuk putri semata wayangnya, bahkan kali ini dia melakukan hal ini juga karena dia begitu menyayangi putrinya.
__ADS_1
Sesil kembali mencoba beranjak dari ranjangnya, namun Swan kembali memegang tubuh putrinya.
"Patahkan kakinya"
Sesil membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar dari mulut papinya, papinya meminta anak buahnya untuk mematahkan kaki Nathan hanya karena saat ini dirinya lumpuh dan tak bisa berjalan.
Nathan yang sudah tak berdaya tergolek di atas lantai hanya bisa pasrah saja tak melawan. Semua yang di rasakan saat ini di anggapnya sebagai penebusan dosa terhadap apa yang sudah di lakukan olehnya terhadap istrinya. Nathan maklum dan mengerti betul mengapa Swan melakukan ini semua. Semua orang tua tidak akan pernah rela melihat anaknya menderita meski hanya tergores oleh sebiji jarum.
"Tidak, jangan papi Sesil mohon pi" Sesil menggelengkan kepalanya dan memelaskan wajahnya, berharap papinya tidak akan melalukan hal sekejam itu pada papinya.
"Jika papi melakukan hal buruk terhadap Nathan, seumur hidup Sesil tidak akan mau bertemu papi lagi ! Sesil lebih baik menyusul mami pi ! papi tidak sayang Sesil !"
Swan terkesiap mendengar ucapan putrinya, dan tiba-tiba saja Swan melihat istrinya berdiri di ambang pintu dengan berderai air mata, Istrinya terlihat mengatupkan tangannya di depan wajahnya.
Seketika Swan melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan tubuh putrinya.
Sesil yang mendapat kesempatan langsung berusaha turun dengan susah payah.
Kedua ank buah Swan terlihat siap menginjak kaki Nathan dengan kedua kakinya, namun di detik terakhir Swan meminta mereka berhenti dan keluar.
Sedangkan Sesil dengan mengesot mendekat ke arah suaminya yang terkulai lemas, dengan berlinang air mata Sesil mengangkat kepala Nathan dan meletakkannya di pangkuannya. Air matanya semakin deras hingga bulir demi bulir jatuh di wajah Nathan yang terlihat babak belur.
Nathan menepiskan senyumnya dan dengan susah payah mengangkat tangan kanannya untuk menghapus air mata istrinya.
"Aku baik-baik saja"
"Jangan menangis" Imbuh Nathan lagi, dia kembali mengusap air mata istrinya menggunakan ibu jarinya.
Sedangkan Sean terlihat terduduk lemas di kursi, dia terus menatap ke arah pintu tempat dimana bayang istrinya berdiri saat ini.
Swan merutuki kebodohannya yang terbawa emosi hingga membuat dua wanita yang menjadi belahan jiwanya tersakiti seperti ini. Andai saja dia bisa lebih tenang dan mengontrol emosinya hal bodoh seperti ini tidak akan terjadi. Bahkan Swan seakan gelap mata dan menyakiti pria yang jelas-jelas putrinya cintai di depan mata putrinya yang pasti juga sedang terpukul akibat musibah yang menimpanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Banyakin komentar dong🙏😭
__ADS_1
Kok pedit banget sih komentarnya, keluarkan isi hati kalian gengs♥️