
Setelah semalam Sesil menceritakan keluh kesah perihal clientnya yang berlaku kurang sopan terhadapnya, Nathan lebih posesif lagi pada istrinya, dia tidak mau istrinya di ambil oleh orang lain.
Seperti biasanya saat weekend seperti ini Nathan dan Sesil akan menghabiskan waktu bersama. Keduanya sudah sepakat kalau weekend akan di jadikan untuk menghabiskan waktu bersama. Seperti pagi ini, Nathan menemani istrinya joging disekitar komplek perumahannya. Setelah tubuhnya di rasa berkeringat, keduanya tak lantas mandi melainkan mereka berdua malah berkebun di samping rumahnya. Nathan tak hentinya tersenyum mendengar suara merdu istrinya.
Selain cantik, istrinya juga memiliki suara yang cukup bagus di dengar. Tak ayal banyak pria yang menginginkan Sesil, jika saja Nathan bisa menyimpan Sesil di rumah saja pasti Nathan akan lakukan itu, karena dia tak ingin istrinya sampai di rebut oleh orang lain.
"Ah, geliii" Teriakan Sesil ampuh membuat Nathan yang sedang mencabut rumput liar di taman rumahnya melihat ke arah Sesil yang sedang berjingkrak-jingkrak tidak jelas.
"Ada apa sayang?" Nathan mendekati istrinya, seketika istrinya langsung bersembunyi di balik punggung Nathan
"Sayang itu ada katak" Sesil bergidik ngeri melihat katak berwarna cokelat kehitaman yang berada tak jauh darinya.
Nathan malah terkekeh melihat wajah istrinya yang sudah pucat pasi, bahkan Sesil masih terus bersembunyi di balik punggung tegap suaminya.
Nathan maju beberapa langkah sedangkan Sesil masih berdiam di posisi sebelumnya.
Tiba-tiba Nathan menarik sebelah sudut bibirnya dan tersenyum usil. Tangannya mengambil katak dan langsung mengarahkan tangannya ke depan wajah Sesil.
"Ahhh" Sesil berteriak histeris karena tingkah Nathan yang di rasa begitu menyebalkan.
"Hayo" Nathan semakin mendekatkan katak tersebut, membuat Sesil lari ke dalam rumah sedangkan Nathan malah mengejarnya dengan tertawa geli melihat tingkah istrinya yang di rasa konyol.
Sesil berlari sekuat tenaga dan langsung masuk ke kamarnya serta mengunci pintu rapat-rapat.
Nathan masih saja terus menggoda dengan mengetuk pintu kamarnya beberapa kali membuat Sesil semakin kesal di buatnya.
Sesil berdiri di balik pintu sembari memegang dadanya yang di rasa jantungnya berdetak lebih kencang, bahkan nafasnya masih tidak beraturan akibat rasa takut serta lari dari kejaran suaminya.
Sesil mengacuhkan ketukan pintu dari Nathan yang masih berada di luar kamar. Rasanya dia begitu kesal dengan sikap Nathan kali ini.
"Sayang bukalah" Suara Nathan terdengar kembali dari balik pintu, namun Sesil masih diam saja tak bergeming dan mengacuhkannya kemudian Sesil memutuskan untuk membersihkan diri dengan mandi.
Nathan berdiri mondar-mandir di depan pintu kamarnya, menunggu istrinya membuka pintu. Namun setengah jam berlalu pintu kamar tak kunjung terbuka.
"Tuan ?" Bi nung tiba-tiba berdiri di ujung tangga dan menatap aneh Nathan yang berdiri di depan pintu kamarnya sendiri yang tertutup rapat.
"Eh Bi Nung" Nathan tersenyum pelik sambil mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Bi Nung hanya tersenyum saja melihat tuannya berdiri di depan kamarnya sendiri. Tanpa bertanya lebih lanjut, Bi Nung kembali lagi ke lantai bawah.
Setelah memastikan Bi Nung turun kebawah, Nathan kembali mencoba mengetuk pintu kamarnya memanggil nama istrinya namun hasilnya masih sama.
Nathan yakin betul kalau istrinya pasti marah karena tadi dirinya menggodanya dengan katak.
"Tuan.." Tiba-tiba suara Bi Nung menyentak indera pendengaran Nathan.
"Ini Tuan" Bi Nung menyodorkan sebuah kunci kepada Nathan, dan Nathan seketika langsung tersenyum sumringah kemudian mengambil kunci tersebut dan mengucapkan terimakasih.
Setelah Bi Nung berlalu dari hadapannya, Nathan menancapkan kunci kedalam lubang kunci lalu memutarnya beberapa kali hingga pintu terbuka.
Saat pintu berhasil terbuka, Nathan perlahan masuk ke dalamnya dan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Seketika senyum di wajah Nathan terukir kembali, dia kini menunggu di depan pintu kamar mandi.
Entah sudah berapa lama Nathan berdiri menunggu istrinya, akhirnya suara gemericik air di kamar mandi tak lagi terdengar, suara air yang mengalir dari shower juga sudah mati, itu menandakan Sesil sudah selesai mandi dan pasti akan segera keluar.
Nathan melihat sekeliling kamar mencari tempat persembunyian supaya nanti bisa mengejutkan istrinya lagi. Kemudian pandangan matanya berhenti di tirai jendela kamarnya yang tebal, kemudian dia memutuskan untuk bersembunyi di sana
Tak berselang lama akhirnya pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Sesil keluar kamar mandi mengenakan handuk kimono berwarna pink yang membalut tubuhnya, bahkan terlihat handuk yang melilit di rambutnya yang menandakan dia habis keramas.
Sesil yang tak menyadari kehadiran Nathan, berjalan mendekat ke arah lemari pakaian lalu membukanya, saat dia sedang asik memilih pakaian ganti, tiba-tiba saja ada yang memeluk tubuhnya dari belakang, bahkan langsung menempatkan kepalanya di lehernya. Membuat Sesil begitu terkejut.
"Sayang kau marah?" Bisik Nathan lembut di telinga istrinya.
Namun Sesil masih diam saja tak bergeming ataupun membuka mulutnya. Dia begitu kesal karena meskipun Nathan tau Sesil phobia dengan katak, dia masih saja membuat lelucon dengan binatang yang sangat menjijikan untuk Sesil.
"Sayang?" Panggil Nathan lagi, bahkan kali ini Nathan memberikan ciuman di area leher Sesil, membuat Sesil geli dan menahan tawanya.
Lama tak mendapat respon dari istrinya, akhirnya Nathan melepaskan pelukannya dan membalik tubuh istrinya hingga kini keduanya saling berhadapan.
Bahkan Nathan langsung menghimpit tubuh istrinya di antara kedua tangan dan pintu lemari.
__ADS_1
"Sayang?" Nathan menarik dagu runcing istrinya supaya bisa leluasa menatap wajah cantik istrinya yang selalu bersikap manja terhadapnya.
Lagi dan lagi, Nathan tergoda akan kemolekan wajah Sesil yang tanpa polesan make up, sangat terlihat natural tapi tetap mampu membangkitkan hasrat di dalam diri Nathan. Hingga Nathan hilang kendali dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya, dia memberikan usapan lembut di bibir tipis istrinya dan semakin mendekatkan wajahnya. Bahkan kini Nathan memejamkan matanya dan memanyunkan bibirnya ke depan, membuat Sesil geli melihatnya. Saat semakin dekat, Sesil malah berjongkok hingga Nathan malah mencium pintu lemari.
Saat menyadari sudah di kerjai oleh istrinya, Nathan membuka matanya dan tak melihat Sesil di hadapannya. Kini Sesil malah berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang seolah ingin menerkam Nathan dan memakan daging tubuhnya.
Tanpa sungkan lagi, Sesil langsung menarik daun telinga suaminya dan menariknya seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya karena bandel.
Sesil menarik Nathan menuju kamar mandi.
"Sayang sakit" Nathan mendesis kesakitan saat daun telinganya di tarik oleh Sesil. Namun. seolah tak perduli, Sesil menarik daun telinga Nathan hingga masuk ke dalam kamar mandi, setelah masuk ke dalam kamar mandi, Sesil mendorong tubuh Nathan hingga terduduk di atas closet,bahkan kedua tangan Sesil dengan cekatan mengambil shower dan menyalakannya lalu mengarahkan air shower ke sekujur tubuh suaminya yang masih berpakaian lengkap hingga kini semua pakaian bahkan rambut Nathan basah kuyup.
Setelah puas, Sesil meletakkan shower di telapak tangan suaminya dan berlalu keluar dari kamar mandi.
Sedangkan Nathan hanya bisa memanyunkan bibirnya melihat istrinya yang masih mengambek padanya, bahkan wajah istrinya lebih galak dari wajah ibu tiri yang sering Nathan kiat di sinetron-sinetron televisi.
Sesil yang masih merasa kesal mengambil satu set pakaian dengan asal lalu mengenakannya di tubuhnya, setelah selesai mengenakan pakaian di tubuhnya, tanpa menunggu suaminya yang sedang mandi, dia langsung turun ke lantai bawah.
Sesil meraih remote tv dan menyalakan televisi rumahnya, sambil mendengarkan siaran televisi, Sesil meraih majalah dan membacanya untuk menghilangkan rasa bosan yang mendera.
Namun tiba-tiba bel rumahnya berbunyi beberapa kali, membuat Bi Nung yang sedang memasak di dapur berlari kecil menuju pintu rumahnya lalu membukanya.
"Tuan Besar, silahkan masuk" Bi Nung mempersilahkan Swan masuk ke dalam rumah majikannya.
"Sayang?" Suara bariton Swan mampu. membuat Sesil langsung menoleh ke belakang dan melihat papinya datang menghampirinya.
"Papi?" Sesil menepiskan senyumnya menyambut kedatangan papinya.
"Sayang, Nathan ada?" Swan melihat sekeliling rumah putrinya mencari menantu satu-satunya
Sesil diam saja tak bergeming, bahkan raut wajahnya menjadi tidak bersahabat dan terkesan judes. Seketika Swan mengeryitkan dahinya melihat perubahan ekspresi di wajah putrinya. Sepertinya putrinya sedang mengambek, tapi karena perihal apa, Swan tidak tau.
"Papi, kapan datang?" Tiba-tiba suara Nathan terdengar di belakang punggung Swan.
"Baru saja nak, oh ya Papi kemari mau mengajakmu memancing bersama Ayahmu juga?" Seru Swan antusias, namun tidak dengan Sesil, wajahnya semakin terlihat mendung bahkan kedua alisnya menaut dengan sempurna.
"Papi, Sesil buatkan minum dulu" Sesil langsung berdiri saat Nathan baru saja duduk di sampingnya.
"Hehehe" Nathan tertawa pelik dan mengusap kepalanya yang tidak gatal.
Dia bingung harus menjelaskan apa pada Papi mertuanya.
"Ada apa?" Swan merasa tak sabar menunggu jawaban dari Nathan, karena Swan paham betul jika putrinya mengambek pasti biasanya sedang mempunyai sebuah permintaan.
"Itu pih.." Nathan tak melanjutkan kata-katanya dan malah tersenyum tidak jelas, membuat Swan menggelengkan kepala melihat tingkah Nathan.
"Itu pih, tadi Nathan bercanda mendekatkan katak kepada Sesil, maka dari itu Sesil sekarang mengambek"
"Ya Tuhan kalian" Nathan menggelengkan kepalanya dan malah ikut tersenyum.
"Ya sudah, kau jangan kemana-mana hari ini, soal memancing bersama papi bisa lain waktu. Lebih baik kau bujuk istrimu saja" Tukas Swan.
"Ya sudah, Papi pergi dulu ya, sudah di tunggu ayahmu serta om sean" Swan beranjak berdiri dari duduknya. Sesil yang melihat papinya hendak pergi merasa terkejut.
"Papi mau kemana?"
"Papi pergi dulu sayang, sudah di tunggu om Sean dan ayah Adibjo" Swan mengecup kening putrinya dan memberi usapan lembut pada puncak kepala putrinya
"Suamimu tidak ikut, dia takut tidur di luar malam ini" Swan terkekeh sambil melirik ke arah Nathan yang duduk di sofa, lalu berlalu keluar rumah putrinya.
Sementara Sesil membrengut kesal dan kembali masuk ke dalam dapur meletakkan secangkir kopi yang baru saja di buat oleh papinya.
Nathan yang masih tau kalau istrinya marah terhadapnya, hanya bisa mengikuti kemanapun istrinya pergi, mulai dari ke dapur, masuk ke kamar, hingga kini Sesil menyiram beberapa bunga yang terdapat di balkon kamarnya juga tak luput dari pandangan Nathan.
Sesil semakin merasa kesal karena suaminya terus saja menguntit kemanapun gerak-geriknya.
Hingga Sesil memutuskan untuk masuk dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu mengubur tubuhnya di balik selimut tebal.
Seolah tak mau menyerah, Nathan ikut berbaring dan mengubur diri di dalam selimut. Bahkan Nathan langsung memeluk tubuh istrinya yang tidur memunggunginya. Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Sesil yang merasa kesal langsung menyibakkan selimut dan melepaskan tangan Nathan yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
Kemudian Sesil langsung duduk bersandar di ranjang dengan kedua tangannya terlipat di atas perut.
"Sayang jangan diamkan aku seperti ini" Terdengar nada frustasi dari ucapan yang terlontar dari mulut Nathan.
Namun Sesil hanya melirik suaminya dengan sinis dan kembali menatap keluar jendela karena masih merasa kesal.
"Sayang come on" Nathan meraih tangan istrinya lalu memberikan kecupan cukup lama di punggung tangan istrinya, namun Sesil masih diam saja tak menjawab perkataan Nathan.
"Sayangku, istriku yang cantik?" Nathan membelai lembut pipi Sesil berharap istrinya mau kembali berbicara dengannya.
Nathan mulai kehabisan akal membujuk Sesil istrinya,kemudian dia memutuskan untuk tidur memunggungi istrinya yang masih mengambek padanya.
Melihat suaminya tak lagi membujuknya bahkan tidur memunggungi dirinya, seketika bibir Sesil menjadi manyun semakin kesal. Namun dia masih bertahan tak mau membuka mulutnya.
Satu jam Kemudian..
Nathan terlihat masih tidur memunggungi istrinya yang masih setia duduk bersandar di ranjang.
Sesil yang merasa kesal langsung berbaring di samping Nathan dan memeluk tubuh kekar suaminya. Seharusnya dirinya yang mengambek, malah sekarang posisinya tertukar.
"Nath.." Panggil Sesil lirih
Merasakan istrinya memeluk bahkan memanggil namanya, membuat Nathan menarik kedua sudut bibirnya dan berpura-pura tak mendengar panggilan istrinya
"Nath, kau marah?" Imbuh Sesil lagi.
Namun suaminya masih diam tak bergeming, membuat Sesil mendengus dengan kesal dan mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Nathan yang tidur memunggunginya.
Namun tiba-tiba Nathan berbalik badan dan langsung menindih tubuh istrinya.
Nathan tersenyum geli melihat ekspresi wajah Sesil yang terkejut.
"Masih marah hm?" Nathan mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Turun" Sesil mendorong tubuh suaminya yang kini berada di atas tubuhnya.
"Masih marah atau tidak?" Goda Nathan lagi sambil tersenyum
"Jangan menakuti aku dengan katak lagi" Ucap Sesil dengan nada bicara yang sangat manja, membuat Nathan semakin gemas di buatnya.
"Sayang??" Panggil Sesil lagi
"Baiklah, aku janji" Nathan mengacungkan jari kelingkingnya ke depan wajah Sesil, dan dengan melebarkan senyum Sesil juga mengangkat jari kelingkingnya lalu menautkan di jari kelingking Nathan.
"Dasar gadis nakal" Nathan mendaratkan banyak ciuman di bibi istrinya, membuat Sesil geli dan tertawa.
Setelah puas mengecup pipi istrinya, kini Nathan membaringkan tubuhnya di samping istrinya, dan Sesil langsung memeluk tubuh Nathan.
"Pasti ada maunya" batin Nathan
"Sayang, kita ke spa yuk, ke salon dan berbelanja. Aku sudah lama tidak berbelanja" Pinta Sesil penuh harap
"Tuh kan, apa aku kata" gumam Nathan lagi.
"Sayang" Suara Sesil terdengar menyentak di telinga Nathan, membuat Nathan menggosok daun telinganya dan terpaksa menyetujui kemauan dari istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.