
Sesil berdiri di ujung lorong lantai dua sembari memegang dadanya yang begitu terasa sesak seperti di sayat belati yang tajam. Sesil menatap ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat, di dalam sana ada suaminya dan wanita lain yang di bawa pulang oleh suaminya di depan mata kepalanya sendiri. Sesil tak menyangka rumah tangannya akan mengalami masa seperti ini, masa dimana kesabarannya sedang di uji.
Perlahan Sesil membawa langkah kakinya mendekat ke arah kamarnya yang terlihat tertutup rapat.
Sementara Sasha mendudukan tubuhnya di tepi ranjang, dia melihat Nathan yang memejamkan matanya. Tangan Sasha membelai lembut pipi lelaki yang sejak dulu di cintainya.
"Kau semakin tampan Natha" Sasha tersenyum penuh kemenangan, tangan Sasha beralih menuju dada Nathan, dia mengusap dada kekar milik lelaki yang selama ini mengisi hatinya itu, perlahan Sasha membuka kancing kemeja milik Nathan.
Namun baru saja Sasha menyentuk kancing kedua, tiba-tiba saja tangannya di cengkram erat oleh tangan kokoh milik Nathan.
"Jangan menyentuhku ! atau aku bunuh" Ucap Nathan yang seketika membuka matanya dan menatap tajam ke arah Sasha
"Ayolah sayang, aku tau kau juga menginginkannya" Sasha tersenyum menggoda Nathan, namun Nathan malah terlihat menautkan kedua alisnya. Rasanya dia begitu jijik melihat wanita yang tak rau malu ini ada di dalam kamarnya.
"Pergi, atau kau ku bunuh" Nathan beranjak duduk dan mencekik leher Sasha, membuat Sasha begitu terkejut dan kedua matanya membulat secara sempurna.
"Pergi atau kau mati?" Seru Nathan lagi
"Ba-ba-baik" Sasha menganggukkan kepalanya dengan takut, dan mendengar penuturan dari Sasha Nathan melepaskan tangannya dari leher Sasha. Sedangkan Sasha memegang lehernya yang terasa sakit dan mengatur pernafasannya yang hampir saja habis.
"Pergi!!!" Nathan berteriak dengan begitu keras, membuat Sasha ketakutan dan langsung beranjak dari ranjang lalu melangkahkan kakinya dengan begitu cepat.
Dan saat Sasha membuka pintu, Sesil berdiri di hadapannya dengan menatap dengan tatapan yang begitu sendu. Sesil tak menyangka wanita yang pernah di tolongnya kini menikamnya dari belakang. Sedangkan Sasha hanya menatap sengit ke arah kedua bola mata Sesil, kemudian dia pun melangkahkan kakinya meninggalkan rumah kediaman Nathan.
Sepeninggal Sasha, Sesil melirik ke arah dalam kamar, kebetulan pintu kamar terbuka sedikit, nampak begitu jelas Nathan terbaring di atas ranjang. Sesil memberanikan diri masuk ke dalam kamar tersebut.
Dengan hati-hati Sesil membuka lemari pakaian dan mengambil satu set piyama tidur milik Nathan.
Perlahan Sesil membuka kancing baju milik suaminya yang sedang dalam kondisi setengah sadar.
Nathan yang merasakan kancing bajunya di lucuti seketika langsung mencengkram kembali tangan Sesil, kedua matanya terbuka sedikit serta bayangannya sedikit kabur.
Nathan menautkan kedua alisnya menatap Sesil, dia takut wajah Sasha berubah kembali menjadi istrinya.
"Lepaskan Nath, sakit" Sesil merintih mencoba menjauhkan tangan Nathan dari tangannya.
"Kau jangan berpura-pura menjadi istriku" Nathan semakin mencengkram erat tangan Sesil dan menautkan alisnya dengan tajam
"Aku Sesil Nath, aku istrimu ! percayalah" Ucap Sesil lagi, namun Nathan seolah tidak percaya dan malah mendorong tubuh istrinya hingga membentur meja kecil di samping ranjang, bahkan siku Sesil terlihat tergores dan membiru akibat benturan tersebut.
"Aku mencintai istriku ! apapun yang menimpa kami, aku tidak sudi di sentuh wanita ****** sepertimu" Nathan menunjuk ke arah wajah Sesil, dia masih mengira Sesil adalah Sasha yang berusaha menggodanya.
"Katak"
Mendengar kata Katak, seketika Nathan membungkam mulutnya rapat-rapat. Dia tau betul jika hanya orang terdekat Sesil yang mengetahui phobia Sesil sedari kecil.
Nathan berusaha bangun dan menyandarkan dirinya di sandaran ranjang.
Dengan kepala yang masih sangat pusing Nathan menatap Sesil yang terlihat duduk di tepian ranjang sembari meniup lengannya yang tergores dan membiru.
"Biar ku bantu" Sesil mendekat ke arah Nathan dan mulai melepaskan kancing kemeja baju yang Nathan kenakan, sedangkan Nathan begitu pasrah dan menurut kepada Sesil.
Hingga tak lama kemudian Nathan sudah berganti dengan piyama tidur yang nyaman.
Sesil membantu Nathan berbaring kembali dan membalutkan selimut hingga menutupi bagian dada suaminya.
Nathan terlihat masih membuka matanya walau hanya sedikit, dia tak menyangka Sesil akan begitu baik terhadapnya, bahkan setelah tadi dia mengatakan kalau Sasha adalah kekasihnya saat ini.
Sesil membawa pakaian kotor Nathan dan meletakkannya di dalam keranjang kotor yang terletak tak jauh darinya.
Kemudian dia berlalu keluar kamar tersebut menuju lantai satu, tempat dimana dia tidur nantinya, kamar yang akan di gunakan olehnya untuk waktu yang belum bisa dia sendiri tentukan, karena mulai malam ini Nathan meminta dirinya tinggal di kamar yang berbeda.
Perlahan Sesil menuruni anak tangga untuk menuju kamarnya.
Dan saat tiba di kamar, Sesil langsung duduk bersandar di ranjang tempat tidur, terlihat kedua kakinya berselonjor ke depan.
Perkataan Nathan kembali terngiang di kepalanya, ada kelegaan tersendiri saat mendengar Nathan tak mau di sentuh oleh wanita lain selain dirinya. Keyakinan dalam hati Sesil semakin meningkat, dia yakin akan mempertahankan rumah tangganya, san akan mencari tau apa penyebab suaminya berubah sikap terhadapnya.
"Nak, bantu mami ya membuat papi kembali seperti dulu" Sesil mengusap perutnya yang masih rata.
****
Keesokan paginya Sesil bangun kesiangan, dia beranjak duduk dan melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 08.40am
Malam tadi Sesil susah sekali tidur, dan baru bisa tidur menjelang pagi.
"Ya Tuhan" Sesil meraih ikat rambut dan mengikat rambutnya lalu menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Sesil beranjak dari ranjang dan mencuci wajahnya di wash tafle lalu menggosok giginya.
Setelah membasuh wajah dan menggosok gigi, Sesil lantas segera keluar kamar hendak melihat kondisi Nathan.
__ADS_1
Namun saat melewati ruang makan, Sesil melihat Bi Nung sedang membersihkan meja makan.
"Bi, Tuan sudah bangun?"
"Sudah Nona, Tuan juga sudah sarapan dan pergi ke kantor seperti biasanya"
"Oh, syukurlah" Ucap Sesil sambil tersenyum, kemudian dia kembali lagi masuk ke dalam kamarnya bertujuan untuk mandi dan membersihkan dirinya terlebih dahulu.
^
Sore harinya terlihat Sesil duduk di bangku taman rumahnya, dia terlihat menatap ke arah langit yang perlahan berganti warna menjadi jingga.
Namun suara deru mobil yang tiba-tiba saja masuk ke dalam halaman rumahnya mengalihkan perhatian Sesil.
Sesil mengernyitkan dahi saat melihat mobil mewah berwarna hitam memasuki area rumahnya.
"Papi.." Gumam Sesil, dan benar saja saat mobil tersebut terparkir sempurna di bagasi rumahnya, terlihat sopir turun membukakan pintu mobil untuk Swan.
Swan melebarkan senyumnya saat melihat putri semata wayangnya berjalan mendekat ke arahnya.
"Papi??"
"Ada apa datang kemari?" Seru Sesil, mendengar perkataan Sesil, seketika Swan mengernyitkan dahinya, tidak biasanya putrinya menanyakan hal yang seperti itu.
"Maksud Sesil, kenapa papi tidak memberitahu kalau mau kemari?" Imbuh Sesil lagi, Sesil takut jika papinya mengetahui rumah tangganya sedang ada masalah yang dia sendiripun tidak tau apa masalahnya.
Sesil juga kawatir jika Nathan tiba-tiba pulang dengan keadaan mabuk seperti kemarin, karena dua hari berturut-turut Nathan selalu kembali dalam kondisi mabuk.
"Papi hanya rindu terhadapmu dan juga calon cucu papi"
"Oh"
"Sepertinya Papi belum tau kalau rumah tanggaku bermasalah" Gumam Sesil dalam hatinya.
"Ya sudah, ayo kita masuk pi" Sesil melingkarkan tangannya ke lengan papinya dan menggandeng papinya lantas mengajak lelaki paruh baya yang sudah membesarkannya itu masuk ke dalam rumahnya.
"Apa Nathan belum kembali?" Swan melihat ke sekeliling ruangan putrinya yang terlihat sepi.
"Belum pi, paling sebentar lagi" Ucap Sesil dusta, padahal dia tidak tau Nathan akan kembali jam berapa.
"Apa dia masih lembur? apa dia tidak menjaga istri dan calon anaknya? astaga, anak itu" Swan menggelengkan kepalanya dengan begitu kesal akan tingkah menantunya yang masih mengutamakan pekerjaan di bandingkan istri dan calon anaknya.
"Keterlaluan anak itu, biar nanti papi akan menegurnya" Terdengar nada kesal dari ucapan yang terlontar dari mulut Swan.
"Jangan pi, kasihan Nathan, dia sudah lelah bekerja pi" Sesil mengusap lengan papinya dan mencoba menenangkan papinya yang sedang kesal.
"Katanya, Nathan harus lebih bekerja keras untuk memberi penghidupan yang layak untuk Sesil serta bubuk susu untuk calon anak kita pi" Sesil melebarkan senyumnya ke arah papinya, dan mengajak papinya duduk di sofa ruang tamu.
Swan yang mendengar penuturan putrinya seketika yang awalnya kesal menjadi tersenyum pula, dia memang tak salah memilih Nathan menjadi pendamping putrinya. Nathan lelaki baik serta bertanggung jawab.
Melihat perubahan di raut wajah papinya, Sesil menarik nafasnya dengan begitu lega.
Kemudian Sesil berbincang-bincang dengan Swan, bahkan sesekali Sesil tertawa saat mendengar papinya bercerita hal yang lucu.
Di tengah obrolan mereka terlihat Bi Nung mengantar dua cangkir teh hangat dan sepiring kue macaron yang di belinya tadi sepulang dari pasar.
Entah berapa lama Sesil mengobrol dengan papinya membuat perasaan Sesil sedikit teralihkan dari masalah yang sedang di jalaninya saat ini.
Suara mobil yang sangat familiar di indera pendengaran Sesil membuat Sesil sejenak menghentikan obrolannya, rasanya dia begitu takut jika Nathan kembali dalam kondisi yang mabuk berat seperti kemarin.
Swan yang melihat perubahan raut wajah putrinya seketika menatap wajah Sesil penuh selidik.
Ceklekkk...
Terdengar pintu utama terbuka dan menampakkan wajah Nathan masuk ke dalam rumah.
Sesil segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Nathan yang baru saja tiba.
"Kau sudah kembali" Sesil mencoba melebarkan senyumnya,seolah-olah rumah tangganya baik-baik saja, dia tak mau papinya mengetahui masalah rumah tangganya saat ini.
Nathan hanya menatap Sesil dengan tatapan wajah yang datar.
Swan memperhatikan gerak-gerik anak dan menantunya yang menurutnya sedikit berbeda.
"Papi menunggumu" Sesil mengambil alih tas kerja yang di bawa oleh Nathan, Sedangkan Nathan mengalihkan pandangannya ke arah ruang tamu, benar saja di sana ada papi mertuanya yang sedang menatapnya dengan intens.
"Pi, Sesil antar Nathan berganti pakaian dulu ya" Sesil menarik paksa tangan Nathan untuk naik ke lantai dua.
Setelah tiba di lantai dua dan memastikan tidak ada orang lagi, Sesil menjauhkan tangannya dari lengan suaminya, dia takut Nathan akan marah terhadapnya.
"Nath, maafkan aku, aku hanya tidak ingin papi mengetahui kita sedang bertengkar" Sesil berucap dengan sedikit takut, bahkan dia terlihat menunduk dan melihat ke arah lantai
__ADS_1
"Aku harap papi jangan sampai mengetahui apapun masalah kita, aku tidak mau papi kawatir terhadapku ! Kau tau kan, sedari kecil aku sudah banyak merepotkan papiku, bahkan hingga saat ini aku belum bisa membahagiakan papiku Nath" Suara Sesil terdengar begitu bergetar.
Bahkan Sesil sendiri merasakan tenggorokannya tercekat dan sakit saat mengatakan hal tersebut.
"Papi selalu susah karenaku" Lanjut Sesil, Nathan diam saja tak menjawab sepatah katapun ucapan Sesil, tangannya mengambil alih tas kerja yang di bawa oleh istrinya, kemudian Nathan berbalik badan dan masuk ke dalam kamar. Sedangkan Sesil masih berdiri mematung di depan kamar.
"Bagaimana ini" Sesil menggigit bibir bagian bawahnya, dan dengan perasaan takut Sesil kembali lagi ke bawah menemui papinya yang duduk menyilangkan kakinya dengan kedua tangannya terlipat di atas perut.
"Kalian bertengkar?"
"Siapa pi" Sesil berpura-pura bodoh dan duduk menyandar di bahu papinya.
"Papi bukan orang buta yang tak bisa melihat"
"Pi, kami baik-baik saja, Nathan hanya lelah ! Nathan bilang ada sedikit masalah di proyek yang dia tangani" Sesil mencoba meyakinkan papinya
Swan diam saja tak merespon, dia sedang mencoba menganalisa situasi dan kondisi saat ini.
Hingga tak lama kemudian terdengar langkah kaki menuruni anak tangga.
Pantulan dari suara sendal yang Nathan kenakan kala itu.
Nathan terlihat menuruni anak tangga dengan setelan baju rumahan yang santai.
"Papi sudah lama? bagaimana kabarnya?" Nathan memaksakan senyum kepada Swan yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Maaf pi, Nathan hanya lelah saja, kemarin baru pulang dari luar kota dan ada beberapa pekerjaan yang sedikit mengalami masalah" Imbuh Nathan.
"Apa benar seperti itu?" Swan menyipitkan matanya menatap ke arah Nathan yang terlihat duduk santai di hadapannya.
"Papi ih, Sesil kan sudah bilang tadi" Sesil mengerucutkan bibirnya ke arah papinya.
"Mari kita makan malam pi, baru setelah itu kita bisa lanjutkan mengobrol lagi" Nathan melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Sesil pasti sudah lapar" Imbuh Nathan lagi, dan Sesil pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, Sesil ingin mengalihkan perhatian papinya.
Swan menghela nafasnya dan menuruti kemauan dari anak dan menantunya, meskipun hatinya masih sedikit mengganjal.
Kemudian ketiganya berjalan beriringan menuju meja makan dan menikmati santap makan malamnya.
"Sil, besok sore papi akan membawa opah berobat ke Australia untuk waktu yang cukup lama" Ucap Swan di tengah acara makan malamnya.
"Semoga opah bisa kembali seperti sedia kala pi"
"Jaga Sesil untuk papi Nath" Swan mengalihkan pandangan matanya ke arah menantunya yang sedari tadi terlihat fokus menikmati makanannya.
Nathan pun menganggukkan kepalanya.
Tak banyak bicara lagi, Swan melanjutkan makan malamnya.
Setelah acara makan malam berlangsung, Nathan mengajak Swan bermain catur untuk mengalihkan obrolan yang tidak Nathan inginkan. Karena memang Nathan tau, papi mertuanya memang menyukai permainan itu. Permainan yang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi itu setidaknya bisa membuat mertuanya tidak akan bertanya atau mengobrol perihal rumah tangganya.
Dan benar dugaan Nathan,Swan begitu fokus bermain catur dan hanya mengobrol ringan bersama Nathan, obrolan sesama kau pria yang menurut Nathan tidak terlalu penting. Sedangkan Sesil duduk di sofa ruang tamu sembari melihat televisi.
Hingga hampir jam sebelas malam, Swan baru mengakhiri permainan catur tersebut bersama Nathan dan berpamitan pulang ke rumahnya.
Setelah mengantar papinya pulang, Sesil kembali masuk kedalam rumah dan sudah tak terlihat Nathan di dalam ruang tamu. Sesil tau pastinya suaminya sudah masuk ke dalam kamar dan menghindari dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gabut
nggak semangat Nulis ah, sepi komentar😣💔
__ADS_1