Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Aku akan tetap Sayang


__ADS_3

Hari semakin berlalu, hari-hari Sesil di isi dengan berbagai kegiatan di rumah. Bahkan karena di larang berpergian bila tidak di dampingi oleh Nathan maupun orang tuanya, kini Sesil mengembangkan taman bunga miliknya. Bunga-bunga yang dia tanam bahkan di lirik oleh salah satu toko bunga ternama di kotanya.


Bunga lili adalah bunga yang rutin Sesil kirimkan ke toko bunga tersebut, meski kapasitas pengirimannya sedikit tapi hobi Sesil berkebun membawa manfaat serta hiburan untuknya. Belum lagi kelihaiannya memainkan kamera banyak membawa berkat untuknya, beberapa pelanggan toko bunga bahkan meminta bantuan jasanya untuk mengambil foto untuknya. Tak jarang agensi iklan datang ke rumah untuk meminta bantuan Sesil, namun karena batasan dari Nathan, Sesil sering menolak job besar yang mengharuskannya mengambil pekerjaan di luar rumah.


Sesil hanya mengambil pekerjaan fotografer jika pekerjaan tersebut bisa di kerjakan di rumahnya, tapi semua tawaran pekerjaan yang masuk sudah di seleksi oleh Siska yang kini bekerja di rumah sesil sepanjang hari untuk mengawasinya.


Bahkan tidak itu saja,semua pekerjaan yang Sesil terima sudah terlebih dahulu di periksa keamanannya oleh Bram.


Nathan begitu posesif membatasi segala kegiatan yang menyangkut istrinya, Nathan sadar diri jika rival bisnisnya di luar sana pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk bisa mengalahkannya. Dunia bisnis memang terlihat begitu glamor di luarnya, tapi di balik hal tersebut tersimpan banyak cerita yang penuh lika-liku untuk bisa sampai di puncaknya.


Pengalaman banyak membuat Nathan sadar kalau dirinya harus sangat berhati-hati pada siapa saja, meskipun bisa di bilang saat ini Nathan adalah orang yang kejam dalam pekerjaan, tapi Nathan tidak mau istrinya mengetahui sisi gelapnya.


Nathan hanya ingin Sesil tau, kalau dirinya itu adalah suaminya yang baik, bukan Nathan Adibjo pemilik Dignal Group yang akan menyingkirkan rival bisnisnya dengan cara yang orang lain tidak akan pernah duga.


Nathan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, hari ini Nathan akan menemani Sesil untuk periksa kandungan ke rumah sakit. Sebenarnya Nathan sangat ingin mengetahui jenis kelamin anaknya, tapi karena Sesil melarang dokter untuk memberitahukan, alhasil hingga saat ini usia kandungan istrinya sudah delapan belas minggu Nathan masih belum mengetahuinya.


Berulang kali Nathan membujuk Sesil, tapi istrinya bersikukuh untuk tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak dalam kandungannya. Istrinya bilang kalau apapun jenis kelamin anak mereka kelak, harus tetap di sayangi.


Walau sebenarnya Nathan lebih berharap kalau anak pertama mereka adalah laki-laki, tapi apapun jenis kelamin anaknya kelak, Nathan tetap akan menyayanginya.


Nathan menutup map yang baru saja selesai di paraf olehnya, setelah menutup map tersebut, Nathan menutup layar komputer lipatnya lantas mengambil jas yang melingkar di kursi kerjanya lalu mengenakan jas tersebut.


Nathan keluar dari ruang kerjanya, dan melihat Bram sudah berdiri menunggunya "Bram, aku tidak akan kembali lagi ke kantor, sisa pekerjaan aku serahkan padamu"


"Baik CEO" Bram menganggukkan kepalanya tanda mengerti perintah bosnya.


^


Gold Garden Regency..


Mobil yang Nathan kendarai berhenti tepat di depan pintu utama rumahnya, terlihat Sesil sudah duduk menunggu di kursi yang terletak tepat di teras rumahnya.


"Sayang, kau sudah menunggu lama?" Nathan turun dan mendekat ke arah istrinya, bahkan dia terlihat langsung merangkul pundak istrinya sambil tangannya mengusap perut istrinya yang semakin terlihat membuncit.


"Belum" Sesil melebarkan senyumnya


"Jagoan Papi sedang apa?" Bisik Nathan sambil mendekatkan telinganya ke arah perut istrinya.


"Kenapa kau selalu mengatakan Jagoan? kau pikir anak kita laki-laki?" ketus Sesil.


Karena jujur saja Sesil berharap anak dalam kandungannya adalah perempuan. Tapi berbeda dengan suaminya yang selalu mengatakan jagoan yang berarti Nathan menginginkan anak mereka berjenis kelamin laki-laki.


"Lihatlah Mami sayang, dia marah jika kau laki-laki kelak"


"Bukan seperti itu" sanggah Sesil


"Lalu apa?" Nathan menegakkan kembali tubuhnya lalu kedua alisnya terangkat ke atas dengan sempurna.


Sesil mengerucutkan bibirnya sambil terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang sekiranya pas untuk suaminya.


"Kita kan sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin calon anak kita sampai dia terlahir nanti, jadi mengapa kau selalu mengatakan dia ini jagoan? bagaimana kalau dia ini seorang princess? Apa kau tidak akan menyayanginya?"


'Astaga kenapa dia bisa berbicara seperti itu' gumam Nathan dalam hatinya.


"Sayang, apapun jenis kelamin anak kita nanti, tentu aku akan tetap menyayanginya. Tapi kalau aku boleh jujur aku menginginkan anak pertama kita berjenis kelamin laki-laki" imbuh Nathan.


"Memangnya kenapa kalau dia perempuan? apa kau meragukan kemampuan perempuan hah?" Sesil meletakkan kedua tangannya di atas pinggangnya, sambil matanya memlotot dengan sempurna


"Ya Tuhan" Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, istrinya semakin hari semakin sensitif dan galak terhadapnya, membuat Nathan kewalahan luar biasa menghadapi sikap Sesil yang selalu menilai dirinya salah.


"Perempuan juga bisa berbisnis? perempuan juga memiliki kemampuan yang sama seperti laki-laki, bahkan bisa di katakan perempuan bisa bersikap sangat kejam bila sudah di lukai. Kau mau mencobanya?" tantang Sesil


"Tidak, Tidak" Nathan langsung mengibaskan kedua tangannya di depan istrinya.


Nathan tidak mau merasakan kembali dinginnya udara teras rumahnya seperti beberapa minggu yang lalu saat dirinya di tanya perihal perubahan pada fisik istrinya.


Flashback Off


*Sesil tidur di pangkuan suaminya, sementara Nathan tangannya sibuk memberikan usapan lembut di kepala istrinya.


Semakin hari sikap istrinya semakin manja, namun Nathan sangat senang karena meskipun Sesil bersikap manja tapi istrinya selalu menurut pada aturan yang dia buat.


"Sayang apa aku terlihat gemuk?" tanya Sesil sambil tangannya sibuk mengusap perutnya

__ADS_1


"Tidak sayang, siapa yang bilang?"


"Banyak yang bilang, cepatlah katakan sejujurnya ! aku gemuk atau tidak?" desak Sesil.


"Tidak sayang tidak gemuk, hanya sedikit berisi"


"Apa? kau bilang aku berisi? lalu apa bedanya dengan mereka yang mengatakan aku gendut hah?" Sesil langsung beranjak duduk di atas ranjang sambil menyilangkan kedua kakinya, kedua matanya menatap tajam Nathan yang kini duduk tepat di hadapannya.


"Bukan seperti itu sayang.."


"Lalu apa?" Sesil langsung memotong ucapan suaminya


"Berisi bukan berarti gemuk, berisi yang aku maksud adalah kau semakin terlihat montok dan seksi" Nathan terlihat hati-hati memilih kata-kata yang dia ucapkan.


"Benarkah?" Sesil tersenyum malu-malu sambil tangannya mencubit lengan suaminya


"Syukurlah dia percaya" gumam Nathan lirih sambil tangannya mengusap dadanya beberapa kali.


"Oh ya sayang, apa aku masih cantik seperti dulu?"


"Tentu saja sayang, masih cantik malah semakin cantik" tegas Nathan


"Bohong, pasti kau bohong kan? aku lihat pipiku semakin cuby saja" Sesil meraba kedua pipinya dengan telapak tangannya.


"Katakan yang sebenarnya, pasti aku tidak secantik dulu kan?" cecar Sesil kembali


"Jujurlah" imbuh Sesil lagi


"Hm baiklah kau memang pipimu semakin cuby sayang..."


"Apa kau bilang pipiku cuby? itu berarti sama saja kau mengatakan aku gendut? dan aku menjadi jelek?"


Hiks..hiks..


"Kau jahat, cepat keluar aku tidak mau melihatmu lagi" Sesil mendorong tubuh suaminya dengan begitu kesal bahkan hingga keluar dari rumah utama.


Setelah suaminya keluar dari rumah utama, Sesil lantas langsung menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Bahkan dia mengacuhkan ketukan pintu yang berasal dari tangan suaminya. Meski beberapa kali Nathan mencoba memanggil istrinya tapi usahanya sia-sia saja, dia tetap harus tidur di luar bersama para penjaga rumahnya*.


"Wanita memang selalu benar" gumam Nathan dalam hatinya, namun kata-kata tersebut tidak mungkin dia ucapkan langsung kepada istrinya saat ini, jika dia berani mengucapkannya sudah tidak bisa di bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Sayang, apapun jenis kelamin anak kita nanti aku janji tidak akan mempermasalahkannya, aku akan tetap menyayanginya sayang. Tidak akan membedakan anak-anak kita kelak" bujuk Nathan.


"Yang terpenting adalah anak kita lahir dengan selamat, begitu juga kau selalu di berikan kesehatan oleh Tuhan hingga bisa membesarkan anak-anak kita kelak" Nathan memberikan belaian lembut di pipi istrinya.


Meskipun masih kesal terhadap suaminya, namun akhirnya Sesil mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh suaminya.


Sesil ingat betul bagaimana perjuangannya bisa hamil kembali, bukan hal yang mudah bahkan bisa di bilang ujiannya sangatlah berat sebelum akhirnya Tuhan kembali memberinya kepercayaan padanya untuk kembali mengandung.


^


Kariadi Hospital..


Sesil baru saja menyelesaikan rangkain pemeriksaan seputar kondisi kandungan serta kondisi kesehatannya. Dan Puji Tuhan kandungannya sangat sehat, baik kondisi janin maupun kondisi dirinya semuanya dinyatakan sehat.


Setelah memberikan beberapa vitamin dan menentukan jadwal periksa kandungan selanjutnya, dokter Kirana memberikan banyak tip kesehatan pada Sesil. Baru setelah puas berkonsultasi Sesil dan Nathan pamit.


^


Kini Nathan mengemudikan mobilnya untuk menuju kembali ke rumahnya, dalam benaknya sebenarnya dia sangat ingin mengetahui jenis kelamin calon anaknya, meskipun tadi dokter ingin memberitahukannya namun sayangnya Sesil masih pada pendiriannya bersikukuh tidak mau mengetahuinya hingga terlahir kelak.


Nathan sesekali melirik Sesil yang sedang sibuk berbalas pesan di benda pipih yang selalu di bawanya kemanapun mereka pergi.


"Sayang, besok ada yang meminta aku memotret makanan untuk banner di cafe miliknya, apa boleh?" Sesil melirik Nathan yang sedang sibuk mengemudi


"Berikan detail informasi orangnya pada Bram, dia yang akan menentukan boleh atau tidaknya"


"Hm" Sesil mengangguk paham, lalu dia mengirimkan biodata clientnya kepada Bram melalui Email.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya karena jalanan memang sangat macet jadi pantas saja jika waktu tempuh yang seharunya hanya setengah jam menjadi satu jam lamanya.


Kini mobil yang Nathan kendarai sudah sampai dengan selamat di halaman rumah yang menjadi saksi awal rumah tangganya dulu di mulai.


Nathan seperti biasa turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya, kemudian Nathan mengajak Sesil masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Papi." Sesil berteriak saat melihat pria paruh baya yang sudah membesarkannya sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Halo sayang?" Swan melebarkan senyumnya menyambut putrinya yang sedang hamil


Kadang Swan masih tak menyangka kalau putrinya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, padahal Swan merasa baru kemarin dirinya mengantar Sesil berangkat sekolah di taman kanak-kanak, tapi hari ini kedua mata Swan melihat perut putrinya yang terlihat semakin membesar.


Andaikan mendiang istrinya bisa berada di tengah-tengah mereka pasti kebahagiaan akan terasa semakin lengkap.


"Papi susah lama?


"Belum sayang, baru saja" Swan mengusap kepala putrinya uang baru saja duduk tepat di sampingnya.


"Cucu opah, apa kabar sayang?" Swan memberikan usapan di perut putrinya.


"Sangat sehat opah, bagaimana dengan opah?" jawab Nathan menirukan suara layaknya anak kecil.


Melihat tingkah menantunya seketika tawa Swan pecah, dia tak menyangka Nathan bisa bersikap konyol seperti itu.


Setelah puas tertawa dan mengobrol dengan Sesil, Swan meminta putrinya untuk mandi terlebih dahulu, dan Sesil langsung menyetujui perkataan papinya karena memang tubuhnya sudah terasa sangat lengket karena keringat.


Setelah Sesil pergi dari ruang tamu, kini tersisa Swan dan Nathan di sana. Tiba-tiba suasana hening begitu terasa, tidak ada yang memecah kesunyian tersebut.


Sunyi..


Sunyi..


"Nak, jagalah istrimu baik-baik, jangan seperti papimu ini yang sudah gagal menjaga mendiang mami saat dia sedang mengandung. Karena yakinlah pasti di luar sana ada yang sedang mengincar istrimu nak"


Nathan membungkam mulutnya rapat-rapat, namun kepalnya terangkat dan kedua matanya menatap lekat-lekat ke arah wajah Swan yang juga sedang menatap dirinya.


"Jangan biarkan siapapun menyakiti mereka nak, lindungi istri serta calon anakmu" Swan terdiam, pandangan matanya menerawang jauh ke belakang


Bayang kejadian buruk yang menimpa mendiang istrinya membuat hatinya terasa sakit dan perih, dia tak ingin putrinya mengalami hal yang sama seperti mendiang maminya dulu.


"Papi, Nathan janji pi, Nathan akan menjaga Sesil, seperti Papi sudah menjaganya sejak kecil, tugas Nathan adalah melanjutkan tugas papi menjaga Sesil. Apapun akan Nathan lakukan pi" suara Natha. terdengar penuh keyakinan.


"Papi berharap papi bisa melihat cucu papi terlahir ke dunia nak, tapi jika Tuhan tidak mengijinkan, papi akan melihat cucu papi bersama mami dari surga"


"Papi ini bicara apa, Nathan yakin papi akan sehat dan bisa melihat cucu papi lahir, mendengar tangisannya serta bisa mengajak cucu papi bermain nanti" Nathan menggeser duduknya dan langsung memeluk tubuh Swan yang semakin terlihat tua. Bahkan beberapa keriputan terlihat di kulit wajahnya.


Swan membalas pelukan menantunya, bahkan air matanya terlihat berkaca-kaca karena merasa terharu akan sikap Nathan yang menganggapnya seperti ayah kandungnya, bahkan selama ini Nathan selalu memberikan apapun yang dia berikan kepada Adibjo.


Swan merasa beruntung bisa menikahkan putri semata wayangnya dengan pria sebaik Nathan, bertanggung jawab dan sangat penyayang. Semua bisnisnya di urus dengan benar, bahkan bisa di bilang semakin berkembang dengan pesat saat Nathan mulai menanganinya.


"Terimakasih nak" ucap Swan lirih.


"Tentu pi. Papi harus tetap menjaga kesehatan, tidak boleh terlalu banyak berfikir berat, mami sudah tenang di sana pi" Nathan mengusap punggung pria yang menjadi ayah biologis dari istrinya.


Swan juga mengusap air matanya sebelum sempat mengalir di pelupuk matanya, air mata kebahagiaan serta air mata kebanggaan bisa di pertemukan dengan anak menantu sebaik Nathan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih yang sudah Vote๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Banyak komentar jadi Srayu semangat nulis nih๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2