
Sesil sedang mematut dirinya di depan cermin, hari ini adalah hari pernikahan sahabat baiknya yang di gelar di salah satu hotel ternama di kota semarang, semuanya atas kesepakatan kedua pengantin untuk menggelar acara di sini, bukan di Bandung tempat dimana kedua orang tua Imelda tinggal, bukan pula di Solo kota asal orang tua Dave.
Nathan sedari tadi sudah siap dengan setelan jaket berwarna hitam yang di padukan dengan kemeja putih berhias dasi kupu-kupu yang melengkapi penampilan Nathan hari ini.
Nathan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, sementara Sesil sedang berdiri berputar di depan cermin riasnya memastikan kalau penampilannya sudah maksimal.
Hari ini Sesil mengenakan gaun mermaid tanpa lengan dengan gaun bagian belakang mengekspose punggung mulusnya.
Gaun pilihan dirinya dan atas saran dari suaminya kini membalut tubuhnya yang begitu seksi.
"Sayang bagaimana?" Sesil berdiri di depan Nathan yang sedari tadi duduk setia menunggu istrinya berdandan.
"Selalu cantik" Nathan tersenyum menatap istrinya yang begitu cantik seperti saat hari pernikahan mereka, mendapat pujian dari suaminya seketika wajah Sesil menjadi bersemu merah. Membuat blush on yang sudah merah menjadi semakin merah saja.
Nathan berdiri dan mendekat ke arah istrinya, dia menatap lekat-lekat wanita yang sangat dia cintai. Kemudian tangannya menyibakkan anak rambut Sesil ke belakang daun telinga istrinya. Karena memang hari ini rambut Sesil di gerai begitu saja.
Tiba-tiba saja Nathan memasangkan sebuah jepit rambut yang terdapat huruf NS kecil di hiasi dengan berlian kecil di samping, nampak begitu berkilau.
Nathan memasangkan di atas daun telinga istrinya. Jepit rambut yang sengaja di pesan di toko perhiasan langganan dirinya ini di pesan sudah sebulan lamanya dari baru saja selesai di buat tiga hari yang lalu.
Jepit rambut yang di desain kusus oleh Nathan ini hanya ada satu-satunya, yaitu yang saat ini di pakai di rambut istrinya
Sesil semakin tersipu malu karena suaminya selalu saja bersikap romantis terhadapnya, bahkan hal-hal kecil seperti ini saja tak luput dari perhatian suaminya.
"Cantik sekali" Nathan memberi kecupan lembut di pipi kanan wanita yang sudah selalu membuat dirinya hilang akal
"Terimakasih Nath" Sesil melebarkan senyumnya sembari tangannya meraba jepit rambut yang saat ini menghiasi rambut panjangnya.
Kemudian keduanya langsung menuju tempat dimana acara pernikahan Imelda di gelar.
^
Gumaya Tower Hotel...
Nathan dan Sesil baru saja turun dari mobilnya, keduanya tidak langsung menuju Ballroom tempat dimana acara pemberkatan akan di laksanakan, namun keduanya memutuskan untuk menuju salah satu kamar hotel yang di gunakan oleh Dave dan Imelda bersiap-siap, bahkan kedua keluarga juga menginap di hotel yang di gunakan sebagai tempat resepsi pernikahannya ini.
Sesil menuju kamar dimana Imelda di rias, sementara Nathan menuju kamar dimana Dave bersiap-siap.
Tok..tok..tok..
"Mel.." Seru Sesil, kemudian tangannya menyentuh knop pintu dan mendorongnya.
"Halo sayang" Sapaan hangat dari Dyana membuat Sesil langsung menghambur ke dalam pelukan wanita paruh baya yang menjadi sahabat terbaik maminya semasa hidup.
"Sesil kangen tante" Sesil mengeratkan pelukannya, karena memang sudah lama Dyana tidak berkunjung ke Semarang.
"Kau semakin cantik" Dyana melepaskan pelukannya dan menatap wajah Sesil yang sangat mirip dengan maminya.
"Mel.." Sesil mengalihkan pandangannya menatap Imelda yang sudah di dandani begitu cantik dan duduk di depan meja cermin, bahkan gadis yang memiliki suara cempreng itu terlihat begitu gugup di buktikan dengan Imelda tak hentinya meremas jari-jemarinya.
"Kau kenapa?" Seru Sesil sambil tersenyum menggoda dan duduk di tepian ranjang berhadapan dengan Imelda sahabat baiknya yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.
Imelda diam saja tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, hatinya begitu berdebar tak karuan karena sebentar lagi dia akan resmi menjadi istri dari Dave, pria yang selalu saja mengajaknya bertengkar.
"Mel, kau tidak perlu kawatir. Jika Dave sampai melakukan kesalahan nanti saat pengucapan janji suci di depan pastur, kau bisa mematahkan lehernya saat itu pula" Sesil melebarkan senyumnya bahkan kedua alisnya naik-turun menggoda sahabat baiknya.
"Bicara apa kau ini? Dasar gadis jodoh" Imelda menjitak kepala Sesil dengan begitu kesal, karena di saat seperti ini saja Sesil masih melontarkan candaan padanya.
"Sayang ayo" Tiba-tiba James datang dari arah luar pintu dan masuk ke dalam mendekat ke arah Imelda.
"Hai om James" Sesil melebarkan senyumnya dan menyalami pria yang juga sahabat dari papinya.
Kemudian James mengandeng tangan Imelda menuju tempat dimana acara pemberkatan akan di mulai, di ikuti oleh Sesil dan Dyana yang berjalan di belakanganya.
Pintu Ballroom di buka oleh penjaga, tampak semua tamu undangan menatap ke arah kedatangan mereka, bahkan suara riuh menjadi begitu senyap menyambut kedatangan Imelda.
James mengantar putrinya naik ke Altar dan menyerahkan tangan putrinya kepada Dave yang sedari tadi sudah berdiri menunggunya.
Setelah menyerahkan putrinya kepada Dave, James bergabung duduk dengan istri berserta kerabat yang lainnya.
Pastur segera membuka acara pemberkatan sepasang sejoli yang akan mengucap janji sehidup semati.
Pastur mulai membimbing Dave dan Imel mengucapkan janji pernikahan yang harus di pegangnya hingga maut memisahkan nanti.
Setelah acara pemberkatan di lakukan, pastur meminta Dave menyematkan cincin kepada Imelda begitupun sebaliknya.
Setelah cincin tersemat di kedua jari manis sepasang pengin, terdengar tepukan bergemuruh dari para tamu undangan yang menyaksikan acara pemberkatan tersebut.
Setelah acara pemberkatan berlangsung dengan lancar dan khidmat, para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Dave dan Imelda terlihat membaur dengan para tamu undangan.
Sementara Nathan menemani istrinya mengambil makanan, karena entah kenapa Sesil ingin sekali makan es cream lagi.
Setelah mendapatkan dua gelas es cream, Sesil mencari meja kosong, tiba-tiba Sesil menyipitkan matanya melihat seorang gadis yang duduk sendirian di meja yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Tanpa berkata sepatah katapun, Sesil menarik tangan Nathan mendekat ke arah wanita yang di rasa tak asing olehnya.
"Yasmine?" Sesil memanggil gadis yang sedang duduk sendiri sambil menikmati segelas minuman di tangannya.
"Sesil? Nathan?" Yasmine menyambut kedatangan sepasang suami istri yang sudah di anggap saudara olehnya.
"Kau dengan siapa kemari?" Sesil tanpa sungkan langsung duduk bergabung dengan Yasmine begitu juga Nathan duduk di samping istrinya.
"Bersama teman-teman yang lain, teman kuliah dulu"
"Oh ya, Bagaimana kabar kalian? Lama tidak jumpa? apa kalian belum memiliki momongan?" Imbuh Yasmine lagi
Mendengar pertanyaan Yasmine seketika wajah Sesil berubah menjadi murung, pasalnya hingga umur pernikahan mereka yang menginjak hampir dua tahun belum juga di percayakan momongan.
__ADS_1
Yasmine yang menyadari perubahan mimik wajah Sesil seketika menjadi tidak enak, dan langsung meraih tangan Sesil dan menggenggamnya.
"Sabarlah, jika sudah waktunya pasti akan ada bayi di rahimmu" Yasmine mencoba memberi semangat pada Sesil supaya tidak bersedih lagi karena pertanyaan yang dia utarakan baru saja.
Sesil membungkam mulutnya rapat-rapat, dia bingung harus menjawab apa. Ada ketakutan tersendiri dari lubuk hatinya. Seharusnya pasca di kuret biasanya akan cepat hamil kembali. Tapi ini sudah berlalu beberapa bulan pasca kuret,perutnya belum kembali berisi bayi. Bahkan siklus bulanannya masih lancar seperti biasanya.
"Nath.." Tiba-tiba bahu Nathan di tepuk oleh Justin.
"Hai Just, apa kabar?" Nathan beranjak berdiri dan menyalami Justin
"Baik, oh ya ayo kita ke sana, di tunggu oleh teman-teman yang lain" Justin menarik tangan Nathan, namun Nathan malah memandang wajah istrinya yang sedang muram.
"Pergilah, aku akan menunggu di sini" Seru Sesil
Awalnya Nathan menolak ajakan Justin, tapi karena beberapa temannya juga datang menghampiri membuat Nathan terpaksa meninggalkan istrinya sebentar.
Nathan berdiri mengobrol dengan teman-teman semasa kuliahnya dulu, tapi sepanjang obrolannya, pandangan mata Nathan tidak lepas dari istrinya, kedua matanya terus mengawasi gerak-gerik istrinya yang terlihat sudah mulai mengobrol lagi dengan Yasmine.
"Yas.." panggil Sesil lirih
"Kenapa Sil?" Yasmine menatap kedua mata Sesil yang terlihat hendak mengutarakan sesuatu.
"Kau sudah memiliki kekasih?" imbuh Sesil
"Hm, belum. Kenapa?" Jawab Yasmine dengan suara yang begitu santai.
"Kau tidak berniat mencarikan jodoh untukku di sini kan?" Yasmine terkekeh menanggapi pertanyaan Sesil
"Tidak.." Jawab Sesil ragu-ragu. Sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin di utarakan olehnya. Tapi niatnya dia urungkan, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menyampaikan keinginan hatinya.
Sementara itu alunan musik terdengar semakin menggema di gedung resepsi pernikahan Imelda.
Suasana begitu meriah dan di padati oleh banyak sekali tamu undangan. Bahkan Sesil melihat papi serta ayah mertuanya juga turut menghadiri acara pernikahan Imelda.
Setelah lama berbincang dengan Yasmine, dan memastikan Yasmine belum memiliki kekasih hati Sesil sedikit lega, setidaknya jika sudah waktunya nanti Sesil pasti akan mengutarakan keinginan hatinya.
"Sayang, kemana Yasmine?" Nathan kembali mendudukkan tubuhnya di samping istrinya yang kini duduk seorang diri.
"Pergi menemui Dave dan Imel" jawab Sesil dengan begitu lesu
Nathan terdiam sejenak melihat mimik wajah istrinya yang lesu, dia memutar otaknya untuk membuat istrinya kembali ceria seperti sedia kala.
Belum sempat Nathan menemukan ide, tiba-tiba saja muncul seseorang yang membuat Nathan mendengus dengan kesal.
"Tuan Nathan, Nona Sesil" Geordan berdiri di balik punggung Sesil, membuat sepasang suami istri itu kompak melihat ke belakang.
"Kita bertemu lagi?" Geordan menyunggingkan senyumnya kepada Nathan dan Sesil.
"Geordan, apa kabar?" tiba-tiba terdengar suara milik Swan yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Baik om, apa kabar?" Geordan menyalami Swan dan tersenyum ramah.
"Ayah ada om, sedang mengobrol dengan yang lain"
"Oh baiklah, bisakah kau menemani om minum di selah sana?" Swan menunjuk meja kosong lalu mengajak Geordan pergi dari meja putri dan menantunya duduk.
Tiba-tiba saja Nathan melirik ke arah stand es cream, dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, Nathan beranjak berdiri dan menuju stand es cream.
Hingga tak lama kemudian Nathan sudah kembali lagi dengan membawa segelas es cream rasa cokelat.
"Sayang buka mulutmu" Nathan menyodorkan sesendok es cream ke depan mulut istrinya.
Awalnya Sesil menolak, tapi karena Nathan tak pantang menyerah, akhirnya Sesil kembali memakan satu gelas es cream hasil suapan suaminya.
Karena sikap sabar Nathan mampu mengembalikan mood Sesil yang sempat redup. Bahkan kini Sesil sudah bisa kembali tersenyum dan menikmati pesta dari sahabatnya.
Tak lupa Sesil mengabadikan momen indah sahabat baiknya dengan kamera miliknya.
Pesta berlangsung begitu meriah dan penuh suka cita. Rona kebahagiaan terpampang dengan jelas di wajah Dave maupun Imelda beserta keluarga besarnya. Hingga menjelang malam acara baru selesai dan tamu undangan mulai membubarkan diri saru persatu.
^
Sesil sudah kembali ke rumahnya, bahkan kini dirinya sedang duduk di depan layar laptopnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang perlu di selesaikan. Sementara Nathan sedang melakukan video konferensi dengan anak cabang perusahaan yang berada di sebrang benua.
Sesil terlihat fokus mengetik di komputer lipatnya hingga konsentrasinya terganggu karena ponselnya terus berdering tanda ada pesan masuk.
Sesil yang merasa kesal meraih ponselnya ternyata ada beberapa pesan masuk dari Imelda.
Sesil ~Imelda
Ada hal penting yang ingin aku tanyakan ~Imelda
Sesil mendengus kesal dan mengacuhkan pesan dari sahabatnya, pasti Imelda akan menanyakan sesuatu yang tidak penting padanya. Sesil meletakkan kembali ponsel miliknya ke tempat semula.
^
Sementara di sebuah kamar apartemen, Imelda sedang duduk menyandar di ranjang kamarnya dengan meremas ponselnya, dia menunggu balasan dari sahabatnya, tapi rasanya sahabatnya mengacuhkannya begitu saja.
Suara gemericik air masih terdengar di dalam kamar mandi, karena memang dirinya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru kemudian Dave.
Jantung Imelda berdetak dengan kencang, Dia bingung harus bersikap seperti apa pada Dave malam ini. Meskipun dirinya dan Dave menikah atas dasar Cinta, tapi tetap saja dia bingung harus bersikap bagaimana.
Imelda kembali melihat pakaian yang di kenakannya malam ini. Jika dulu dirinya memberi Sesil kado pernikahan sebuah gaun Ligeria, tapi nyatanya malam ini dirinya tak memiliki nyali mengenakan gaun ligeria. Imelda mengusap wajahnya kasar dan semakin frustasi karena pikirannya sendiri.
Imelda kembali membuka layar ponselnya dan menyentuh deretan abjad di layar ponselnya kemudian kembali mengirim pesan kepada Sesil, sahabatnya.
Gadis menyebalkan `~Imelda
Saat malam pertama kau melakukan apa dengan Nathan ? ~Imelda
__ADS_1
Imelda melebarkan matanya saat melihat Dave keluar kamar mandi hanya mengenakan selembar handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya.
Seketika Imelda langsung mengubur dirinya ke dalam selimut. Setelah tubuhnya tertutupi selimut, Imelda kembali meraih ponsel dan kali ini mencoba menghubungi Sesil lewat panggilan suara, tapi sialnya sahabatnya tak kunjung menjawab panggilan telefonnya membuat Imelda mendengus dengan kesal.
Tapi tiba-tiba saja Imelda merasakan ada sebuah tangan kokoh melingkar di perutnya bahkan punggung Imelda tiba-tiba merasa sangat hangat.
"Sayang.." Panggil Dave mesra tepat di telinga Imelda, Membuat bulu halus di area tengkuk leher Imelda meremang dengan sempurna.
Imelda yang merasa geli langsung menyibakkan selimut untuk meraup udara yang banyak, karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa panas.
Dave semakin senang menggoda Imel sebelum Dave benar-benar mengajak wanita yang sudah sah menjadi istrinya bergulat nanti.
"Kenapa Mel? Apa kau takut?" tanya Dave dengan menggoda
"Untuk apa aku takut denganmu hah?" Jawab Imelda dengan sewot tak mau kalah.
"Oh ya?" Dave menaikkan sebelah alisnya menatap intens wajah Imelda yang sudah berubah menjadi merah merona.
Tanpa menunggu lama, Dave langsung merubah posisi hingga kini dirinya menindih tubuh Imelda.
"Turun, kau ini berat sekali seperti ****" Seru Imelda dengan kesal saat Dave kini berada di atas tubuhnya
Dave malah terkekeh mendengar celotehan dari istrinya. Dan semakin terpancing untuk melakukan lebih.
Dave mulai membelai lembut pipi Imelda dengan jari jemarinya. Bahkan Dave terlihat mulai menciumi pipi istrinya dan beralih menuju leher jenjang Imelda. Dia memberi rangsangan pada Imelda, membuat istrinya memejamkan mata menikmati sentuhan demi sentuhan dari Dave.
Rasa gugup dalam diri Imelda seketika lenyap, bahkan kini dirinya menginginkan lebih dari apa yang sedang Dave lakukan padanya.
Sentuhan demi sentuhan terus saja di lakukan oleh Dave, bahkan bibirnya kini sudah bermain-main di area sensitif milik istrinya, membuat Imelda berkali-kali mendesah menahan hasratnya sendiri.
Namun di tengah semakin panasnya sentuhan Dave, tiba-tiba ponsel Imelda berdering, awalnya Imelda mengacuhkannya, tapi karena terus saja berdering dan menimbulkan suara berisik, membuat Dave merasa tidak nyaman dan sejenak melepaskan cumbuannya.
"Itu ponselmu berisik sekali" Dave mendengus kesal begitu pula dengan Imelda. Imelda merapihkan gaun tidur yang sudah berantakan dan setelah rapih Imelda meraih benda pipih yang terus saja berbunyi.
Terlihat Sesil melakukan panggilan video call dengannya.
"Ada apa?" Seru Imelda saat mengangkat panggilan telefon dari sahabat baiknya.
Sesil mengernyit heran melihat raut wajah Imelda yang terlihat kesal.
"Bukankah kau tadi menanyakan perihal...."
"Terlambat" Ketus Imelda memotong ucapan Sesil
"Diamlah, dasar gadis bodoh" imbuh Imelda lagi
"Sudah ya, bye" Imelda mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Sesil yang membuatnya kesal karena sudah menganggu acaranya.
Kali ini bahkan Imelda langsung mematikan daya ponselnya dan meletakkan kembali ke atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
"Sudah?" Dave menarik dagu Imelda dan menatap wajah istrinya yang sedang cemberut.
"Diamlah" Ketus Imelda yang masih terbawa emosi kepada Sesil.
Dave mendekatkan kembali wajahnya kerah bibir Imelda, tapi tiba-tiba saja Imelda menghindarinya, membuat Dave mengernyit keheranan akan penolakan istrinya.
"Ponselmu matikan dulu, aku tidak mau ada gangguan"
Dave tersenyum geli kemudian meraih ponsel miliknya dan mematikannya sesuai permintaan istrinya.
"Sudah" Dave melebarkan senyumnya dan kembali meraih dagu istrinya. Tampa menunggu lama Dave mencium bibir Imelda dan tangannya melakukan sentuhan dia area dada Imelda. Membuat Imelda terhanyut dalam suasana.
Bahkan rasa sakit yang mendera Imelda tak membuat keduanya mengurungkan niatnya, selain karena Imelda memang sudah tau resiko dari malam pertama, Imelda juga memang sudah mempersiapkan mentalnya untuk malam ini.
^
Sementara Sesil baru saja meletakkan ponselnya sambil terus mengumpat Imelda yang di rasa begitu aneh dan di saat bersamaan Nathan baru saja masuk ke dalam kamar dam melihat wajah Sesil yang di tekuk.
"Kenapa sayang?" Nathan membaringkan tubuhnya di samping istrinya yang baru saja berbaring.
"Entahlah, ini semua karena dokter cempreng itu, tadi aku sedang sibuk dia mengirim banyak pesan bahkan menelfonku" Seru Sesil dengan begitu kesal
"Pesan apa?" Nathan menaikkan satu alisnya.
"Menanyakan, hal apa yang di lakukan saat kita malam pertama" Jawab Sesil dengan wajah polos
Mendengar jawaban istrinya Nathan hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Kemudian tangannya perlahan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Sudahlah sayang, pasti mereka saat ini sedang..." tiba-tiba Nathan tersenyum mesum, membuat Sesil mendengus dengan kesal dan langsung tidur memunggungi suaminya.
Nathan kembali terkekeh dan langsung tidur memeluk tubuh istrinya, Nathan paham betul pasti Sesil sangat merasa lelah jadi tidak mau melayaninya malam ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1