Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Posesif Husband


__ADS_3

"Sampai kapan sayang?" suara Sesil terdengar begitu bosan, sementara Nathan masih terus berkutat dengan map yang menumpuk di meja kerjanya, di tambah lagi dengan ratusan email yang di kirim ke email perusahaan.


Melihat suaminya mengacuhkannya,Sesil semakin merasa kesal. Pasalnya selama hampir dua bulan dia mengandung, Nathan selalu saja mengajaknya ke kantor sesuai seperti permintaan Sesil yang meminta ijin untuk tetap ke kantor. Tapi sialnya, Nathan mengajak dirinya ke kantor bukan untuk bekerja, melainkan untuk menemani Nathan bekerja.


Nathan sengaja melakukan itu semua karena dia tidak mau berjauhan dari istrinya, Nathan tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk pada istri serta calon anaknya. Bahkan semua yang dia lakukan saat ini sudah mendapatkan ijin dari papi mertuanya selaku orang tua kandung dari istrinya.


Jikalaupun Sesil tidak di ajak ke kantor, Nathan pasti akan menitipkan Sesil di rumah ayah ataupun papi mertuanya.


"Sayang kau mendengarkan aku atau tidak?" seru Sesil dengan sangat kesal.


"Kenapa sayang?" Nathan mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop untuk menatap wajah istrinya yang menampakkan ekspresi sangat cemberut.


"Aku bosan" Sesil merajuk dengan manja


"Mau aku antar ke rumah papi atau ayah?" tawar Nathan, bahkan kini Nathan beranjak dari kursinya menuju istrinya yang duduk di sofa ruang kerjanya


"Atau kau mau sesuatu?" tawar Nathan saat kini dirinya sudah duduk di tepat di samping istriny, tangannya terlihat mengusap lembut kepala istrinya.


"Tidak mau" Sesil mengerucutkan bibirnya dengan begitu manja, bahkan kini Sesil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Nathan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang semakin hari semakin bertambah manja. Meskipun Nathan beberapa kali bekerja lewat rumah, tapi tetap saja masih membuat istrinya merasa bosan. Ingin rasanya Nathan menghabiskan waktu di rumah bersama istrinya, menemani serta melakukan banyak hal yang bisa membuat istrinya senang. Tapi apalah daya, banyak kehidupan yang harus Nathan tanggung di sini, semua karyawan Nathan membutuhkan dirinya.


"Sayang, bersabarlah. Kalau kau bosan kau boleh bermain bersama Imelda, nanti biar aku minta Dave untuk datang kemari bersama Imel" bujuk Nathan sambil tangannya terus memberi usapan di puncak kepala Sesil.


Sesil diam saja tidak merespon perkataan suaminya, rasanya dia begitu sebal dengan sikap posesif Nathan yang menurutnya terlalu berlebihan selama ini. Suaminya selalu saja harus berada di sisinya selama dua puluh empat jam nonstop.


"Ya sudah, biarkan aku ke cafe sebrang kantor ini. Aku ingin minum jus stroberi. Bolehkan?" pinta Sesil


"Ya sudah biar aku menyuruh office boy membelikannya untukmu ya" tangan Nathan menjauh dari kepala istrinya dan hendak meraih ponsel dari dalam saku celananya untuk menghubungi office boy di kantor ini.


Namun belum sempat Nathan menekan tombol di layar ponselnya, tiba-tiba saja Sesil dengan cepat mengambil ponsel milik Nathan dari tangan suaminya "Aku ingin membelinya sendiri"


"Tapi sayang..."


"Pokoknya aku mau membelinya sendiri titik" tegas Sesil yang langsung menyela omongan suaminya.


Nathan menghela nafasnya dengan berat, kemudian Nathan terpaksa meninggalkan sejenak pekerjaannya untuk menemani istrinya membeli jus stoberi di cafe yang terletak di sebrang jalan kantor ini.


Meskipun ada deadline yang harus di selesaikan tapi Nathan tidak mungkin membiarkan istrinya pergi seorang diri tanpa pengawasan darinya.


Setelah turun menggunakan lift kusus Eksekutif, Nathan dam Sesil kini sedang berjalan di lobi kantor, semua karyawan yang berpapasan dengan keduanya menganggukkan kepala memberikan salam hormat pada pimpinan perusahaan mereka.


Namun tiba-tiba saja langkah kaki keduanya terhenti saat ada yang memanggil Nathan "CEO, tunggu"


Nathan dan Sesil kompak memutar badannya menghadap ke belakang, dan melihat kepala bagian keuangan berlari tergopoh-gopoh ke arah Nathan


"CEO, maaf saya meminta waktu anda sebentar, tadi saya ke ruangan anda, tapi kata Emilia, anda baru saja turun bersama istri anda, jadi saya menyusul anda kemari" imbuh pria paruh baya yang kini menjabat sebagai kepala bagian keuangan kantor ini.


"Ini ada berkas penting yang harus anda tanda tangani, karena dana ini harus segera di cairkan untuk memperlancar pembangunan proyek hotel kita yang berada di luar negri" imbuh kepala bagian dengan sedikit mengatur nafasnya yang masih terdengar belum stabil


Kemudian pria paruh baya tersebut menyerahkan sebuah map berwarna merah yang di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas berwarna putih yang penuh dengan deretan angka.


Nathan melihat secara seksama laporan keuangan yang di serahkan oleh kepala bagian yang di ketahui memiliki nama Suseno, atau biasa akrab di panggil Pak Seno.

__ADS_1


Sesil merasa bosan menunggu suaminya sedari tadi, bahkan kakinya terasa pegal karena terus saja berdiri di samping tubuh tegap suaminya yang siang ini di balut dengan kemeja berwarna hitam di padukan dengan jas yang senada.


Merasa kakinya semakin pegal, Sesil memutuskan untuk pergi terlebih dahulu dari samping tubuh suaminya.


Dengan sedikit mengendap-endap perlahan Sesil meninggalkan suaminya yang sedang fokus membaca dokumen.


Sementara Nathan sama sekali tidak menyadari kalau saat ini istrinya sudah tidak berada di sampingnya.


Sementara Sesil tersenyum senang karena sudah berhasil pergi dari suaminya, bahkan kini langkah kakinya terhenti di depan lobi kantornya, karena merasa suasana sepi, Sesil menyebrang jalan depan kantornya tanpa melihat situasi, hingga akhirnya terdengar suara klakson mobil yang begitu memekikkan telinganya


Tinnnnnnnn.....


Sesil menoleh ke arah belakang dan melihat sebuah mobil mengarah padanya dan naas mobil tersebut menyrempet bagian samping tubuhnya hingga Sesil berputar dan terhuyung jatuh ke belakang.


Buk....


"Sesilllllll..." teriak Nathan melihat istrinya jatuh tersungkur membentur aspal depan kantornya


"Ahhhh" Sesil mendesis menahan rasa sakit di perutnya, serta kepalanya terasa sangat pusing


Nathan melemparkan map yang di pegangnya ke sembarang arah, bahkan isi map tersebut berhamburan ke ke udara. Tanpa memikirkan apapun lagi, Nathan berlari sekuat tenaga menuju istrinya yang sudah tergeletak di atas aspal jalan dengan kakinya mengeluarkan cukup banyak darah.


"Sayang, bertahanlah" Nathan merengkuh tubuh istrinya dan mendekapnya dengan erat.


"Sakit.." Hanya satu kata yang mampu Sesil ucapkan sambil tangannya memegang erat perutnya yang terasa begitu sakit. Lama kelamaan pandangan mata Sesil menghitam dan akhirnya kedua matanya terpejam.


"Sayang, buka matamu! ayolah" Nathan menepuk pipi istrinya dan menggoyangkannya berharap kedua mata istrinya mau terbuka kembali.


Tanpa berpikir panjang lagi Nathan menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil milik Seno.


Nathan meletakkan kepala istrinya di pangkuannya, sementara Seno duduk di kursi kemudi lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


^


Semarang Medical Center..


Nathan berdiri mondar-mandir di depan ruang Instalasi Gawat Darurat, dia menunggu dokter yang sedang menangani istrinya di dalam sana. Dengan perasaan yang sangat kalut Nathan tak hentinya memanjatkan doa terbaik untuk istri serta calon anaknya, berharap kejadian buruk dua tahun silam tak terulang kembali. Jika saja sampai terulang kembali Nathan adalah orang pertama yang sangat menyesalinya karena sudah lalai untuk kedua kalinya menjaga istrinya.


Ceklek..


Pintu ICU terbuka dan terlihat keluar seorang dokter dengan di temani oleh tiga perawat yang mengenakan pakaian serba hijau.


Setelah membuka masker yang


dokter itu kenakan, terlihat wajah suram tergambar jelas di wajahnya "Anda suaminya?"


"Ya, saya suaminya dok" jawab Nathan pasti.


Dokter tersebut menghela nafasnya berat kemudian menceritakan kondisi Sesil saat ini, setelah menjelaskan panjang lebar mengenai keadaan Sesil saat ini, dokter tersebut mempersilahkan Nathan untuk masuk ke dalam.


Nathan perlahan mendorong pintu ruang rawat istrinya, dan melihat Sesil masih menutup kedua matanya, wajah istrinya terlihat begitu sangat pucat lengkap dengan pakaian pasien.


Perlahan Nathan membawa langkah kakinya mendekat ke arah pembaringan istrinya, dan perlahan Nathan mendudukan tubuhnya di atas kursi yang tersedia.

__ADS_1


"Sayang.." Nathan meraih tangan Sesil dan mengecupnya begitu lama, bahkan tak sedikit air mata yang menetes dari kedua sudut matanya.


Nathan merasa benar-benar sudah gagal menjaga istrinya, untuk kesekian kalinya dirinya kecolongan dan menyebabkan istrinya hingga celaka.


Bahkan Nathan merasa sudah mengecewakan kedua orang tua mereka yang sudah memberinya kepercayaan untuk menjaga wanita sebaik Sesil.


Karena semenjak Swan dan Adibjo tau Sesil kembali mengandung kedua pria paruh baya tersebut begitu menjaga serta memanjakan Sesil.


"Nath.." panggil Sesil lirih sambil membuka kedua matanya dan menyesuaikan dengan bias sinar lampu yang begitu terang serta menyilaukan


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tangan Nathan membelai lembut pipi istrinya


"Bagaimana keadaan dia Nath?"


Nathan hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan istrinya, kedua bola matanya menatap dalam ke arah kedua bola mata istrinya.


"Nath, bagaimana keadaan anak kita? dia baik-baik saja kan?" Sesil menggoyangkan lengan tangan suaminya, namun Nathan masih terlihat menutup mulutnya rapat-rapat.


"Nath, ayo katakan kalau anak kita baik-baik saja kan?" teriak Sesil dengan suara yang menggema di seluruh ruangan.


"Katakan, kenapa kau diam saja?" seru Sesil semakin mendesak suaminya, namun Nathan masih tak membuka suaranya sama sekali.


"Jangan buat aku kawatir Nath, anak kita baik-baik saja kan?" Air mata Sesil tak lagi bisa terbendung, kedua sudut matanya terlihat mengalirkan air mata penyesalan.


"Tenanglah" Nathan memeluk istrinya yang sedang menangis, tangannya mengusap lembut punggung istrinya.


"Ini semua karena salahku Nath, andaikan aku menurut semua perkataanmu, pasti ini semua tidak akan terjadi" ucap Sesil sambil sesenggukkan di dalam dekapan suaminya, bahkan air matanya juga terlihat membasahi kemeja yang saat ini Nathan kenakan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Vote Like dan komentar kalian adalah spirit buat Srayu untuk terus menulis♥️🤗

__ADS_1


__ADS_2