
Sesil menggeliat dari tubuhnya dan beranjak duduk di tengah ranjang kamarnya. Kedua tangannya naik ke atas dan Sesil melakukan peregangan kecil saat bangun tidur.
Tubuhnya terasa lebih baik dan lebih segar, hari ini memang bukan akhir pekan, tapi hari ini tangga merah nasional, maka dari itu Sesil bisa bangun agak siang dari biasanya.
Sesil meraih pengikat rambut di atas meja dan mengikat rambutnya asal-asalan.
Setelah rambutnya terikat, Sesil menyibakkan selimut lalu turun dari ranjang, tapi betapa terkejutnya saat mendapati dirinya kini tidur hanya mengenakan piyama tanpa pakaian dalam.
Sesil meraba-raba bagian tubuhnya namun dia tak merasakan ada perbedaan yang berarti. Sesil mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, seingat dia, dirinya langsung tidur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.
Tapi mengapa saat ini sudah berganti dengan pakaian tidur ?
Sesil tau siapa orang yang sudah melakukan ini, pasti suaminya sendiri. Tapi bukankah semalam Nathan menemani Yasmine yang sedang kurang enak badan dan mual-mual?
"Sepertinya Yasmine hamil" Ucap Sesil pada dirinya sendiri.
Jika benar Yasmine hamil tentu saja ini kabar baik untuknya, maka sebentar lagi rumah ini akan ramai oleh tangisan bayi, meskipun bayi tersebut bukan terlahir dari rahimnya sendiri.
Sesil memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum turun untuk sarapan pagi.
Di dalam kamar mandi, Sesil merendam tubuhnya dengan air busa, rasanya begitu menyenangkan bisa memanjakan diri di dalam rendaman air busa.
Sesil mengusapkan busa ke seluruh bagian tubuhnya, membalurkan dengan rata dan menggosok-gosok seluruh lengannya.
Hingga satu jam kemudian Sesil terlihat baru menyelesaikan mandinya dan keluar dari dalam kamar mandi sudah rapih mengenakan pakaiannya.
Setelah mengenakan make up tipis dan memoles bibirnya dengan lip cream Sesil keluar kamarnya menuju lantai bawah untuk sarapan pagi.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dari lantai bawah, Sesil yaktin betul kalau itu pasti suara milik Yasmine, tapi dengan siapa Yasmine bercanda itu menjadi pertanyaan sendiri oleh Sesil.
Namun saat dia menuruni anak tangga, matanya menyipit melihat Yasmine sedang duduk bersebalahan di sofa sambil tertawa renyah dengan Nathan. Keduanya terlihat begitu akrab dan dekat. Membuat Sesil merasa iri melihatnya.
Jika dulu Nathan selalu membuatnya tersenyum dengan semua perilaku manisnya tapi akhir-akhir ini sikap baik Nathan terhadap Yasmine malah membuat hatinya semakin terluka.
Tapi Sesil sekuat tenaga menyembunyikan isi hatinya. Karena pernikahan kedua Nathan juga atas permintaan dirinya.
"Selamat pagi" Sapa Sesil sambil melebarkan senyumnya.
"Hai Sil, kemarilah. Nathan sedang mengupas buah untukku. Kau mau juga?" Tawar Yasmine, namun Sesil malah menggelengkan kepalanya
"Tidak terimakasih" Seru Sesil "Aku sarapan pagi dulu" Imbuh Sesil lagi berlalu dari hadapan Yasmine dan Nathan.
Nathan diam saja mengacuhkan istrinya, rasanya dia sudah tak sabar menjalankan rencana selanjutnya.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Nathan kembali melanjutkan mengupas buah apel untuk Yasmine, setelah beberapa buah terkupas dengan rapih Nathan memotongnya menjadi dadu berukuran sedang.
Kemudian keduanya kembali mengobrol dengan santai sambil sesekali Nathan menyuapkan potongan buah apel ke dalam mulut Yasmine.
Hingga entah sudah berapa lama, Sesil yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya ikut bergabung dengan mereka.
Yasmine melemparkan senyum ke arah Sesil yang duduk berhadapan dengannya.
Nathan terlihat kembali menyuapkan buah apel ke dalam mulut Yasmine sambil tangannya mengusap lembut kepala Yasmine. Bahkan dengan tidak sungkan Yasmine juga terlihat melingkarkan tangannya di perut Nathan. Keduanya begitu terlihat mesra bahkan seperti mengacuhkan keberadaan Sesil di sana.
Hati Sesil semakin mencelos, rasanya begitu perih menjadi yang pertama namun ternomor duakan oleh wanita lain di hidup suaminya Sendiri.
__ADS_1
Hati Sesil terasa begitu sesak, sekuat tenaga dia tersenyum, namun seolah hatinya tak mau berkompromi lagi, tiba-tiba matanya terasa panas, dan semakin lama semakin panas.
Sesil berusaha sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air matanya. Tapi rasanya sudah sampai pada batas kemampuan hatinya untuk bertahan. Hingga Sesil memutuskan untuk segera pergi dari sepasang pengantin yang belum lama menikah.
"Aku ambil ponsel di kamar ya" Sesil segera beranjak dari duduknya dan tergesa-gesa pergi dari hadapan Nathan serta Yasmine.
Namun seolah nasib baik tidak berpihak padanya, kaki Sesil malah tersandung kaki meja hingga dirinya kehilangan keseimbangan dan jatuh hingga keningnya terbentur pojokan meja, bahkan lututnya juga terasa begitu nyeri karena terbentur langsung dengan marmer rumahnya.
"Ah..." Sesil mendesis menahan sakit saat memegang keningnya.
"Kau tidak apa-apa?" Yasmine melepaskan pelukan tangannya dari perut Nathan dan menghampiri Sesil.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Yasmine begitu kawatir kepada Sesil.
"Tidak apa-apa" Sesil menepiskan senyum dan berusaha bangkit sendiri. Sejenak dia melirik ke arah Nathan yang malah mengacuhkannya dan asik memakan potongan buah apel.
"Yas kemarilah" Nathan menepuk kursi kosong di sampingnya
Yasmine hanya tersenyum dan dengan patuh dia kembali duduk di samping Nathan. Sementara Sesil berlalu dari hadapan mereka sambil menyeret kakinya yang terasa sakit.
Perlahan Sesil menapaki satu persatu anak tangga dengan susah payah.
Di dalam kamar Sesil langsung duduk di tepi ranjang, dia melihat lututnya yang mulai membiru, bahkan rasa perih di kening mulai di rasakan olehnya, tapi semua luka itu tal ada artinya jika di bandingkan dengan luka hatinya saat ini. Begitu perih.
Air mata Sesil tak bisa terbendung lagi, dia memejamkan matanya merasakan hatinya yang sudah tak mampu menahan rasa cemburunya, rasa tidak suka melihat suaminya lebih memperhatikan wanita lain ketimbang dirinya.
Namun tiba-tiba saja Sesil merasakan ada tiupan di lututnya yang membiru, dengan masih berlinang air mata Sesil perlahan membuka matanya dan melihat Nathan berjongkok di hadapannya sambil meniup kakinya yang luka.
Bahkan Nathan terlihat membawa kotak obat di tangannya sebelah kanan.
Perlahan Nathan mengusap luka kaki istrinya dengan begitu lembut, hatinya terasa sakit melihat istrinya kembali terluka karenanya. Namun sekuat tenaga Nathan menekan rasa egonya untuk tidak terlalu bersikap berlebihan selagi sikap keras kepala istrinya belum hilang.
"Aku baik-baik saja" Sangkal Sesil
Namun seolah tak mendengar apapun, Nathan kembali mendekatkan tangannya dan hendak membersihkan luka istrinya.
"Aku baik-baik saja" Teriak Sesil dengan begitu keras, membuat Nathan seketika mengalihkan pandangan matanya melihat ke arah wajah istrinya.
Sesil terlihat berlinang air mata, namun tangannya tak henti mencoba menghapus air mata yang terus saja mengalir dari sudut matanya tal mau berhenti.
"Aku baik-baik saja ! Jangan menyentuhku" Sesil berusaha beranjak dari ranjang dan hendak berlalu dari hadapan Nathan yang masih berjongkok.
Namun baru beberapa langkah Sesil berjalan, pergelangan tangannya sudah di tarik oleh Nathan hingga kini mereka berdiri saling berhadapan.
"Ada apa?" Nathan setenang mungkin mengatur nada suaranya.
"Aku baik-baik saja, aku kan sudah katakan" Ketus Sesil.
Nathan hanya mengeryitkan dahinya melihat istrinya yang masih bersikukuh keras kepala ini. Ingin rasanya Nathan mengucapkan semua isi hatinya saat ini.
Sesil berusaha melepas tangan Nathan yang memegang pergelangan tangannya, namun seolah tidak mau melepaskan tangannya, Nathan berdiri tak bergeming di posisinya.
"Katakan yang terjadi? Apa lukamu sesakit itu?" Sura Nathan kali ini penuh penekanan.
Bahkan tangannya perlahan menyentuh kening Sesil yang memerah karena memar.
__ADS_1
"Ini tidak sakit. Sakit sakit di keningku tak sebanding dengan luka yang berada di sini" Sesil menunjuk dadanya di selah isak tangisnya. Mungkin ini sudah sampai pada batas mampunya untuk melihat kemesraan antara Nathan dan Yasmine.
Nathan menaikkan satu alisnya dan semakin menatap intens istrinya ini. Sepertinya sebentar lagi Sesil akan menyerah padanya.
"Aku cemburu melihatmu lebih mencintai Yasmine, memperhatikannya, bahkan dirimu lebih banyak menghabiskan waktu bersama Yasmine ketimbang diriku. Bahkan saat waktunya kau tidur bersamaku kau malah memilih tidur bersamanya. Tidak adil" Teriak Sesil meluapkan isi hatinya.
"Bukankah kau yang menginginkan pernikahan itu terjadi? bukankah kau juga ingin Yasmine cepat mengandung anakku? kau bilang bukan, rumah kita akan ramai jika ada suara tangisan bayi?"
Mendengar jawaban Nathan hati Sesil semakin terasa sakit, memang benar apa yang di katakan Nathan barusan, tapi bukan berarti Nathan harus bersikap tidak adil terhadapnya.
"Tapi aku cemburu melihatmu dengan wanita lain, aku sakit ! Hampir setiap malam aku menangis saat kau tidur bersama Yasmine. Apa kau tau Nath, bagaimana rasanya menjadi aku?" Seru Sesil tak mau kalah
"Itu kan yang kau inginkan?" Jawab Nathan santai
"Aku tidak menginginkan itu, aku mencintaimu ! Aku mencintaimu" Sesil mengibaskan tangan Nathan dari lengan tangannya, bahkan dia langsung memukul dada bidang suaminya dengan membabi buta, air matanya semakin mengalir dengan deras, bahkan matanya semakin menyipit karena terus menerus menangis.
"Aku mencintaimu Nath. Kenapa nasib buruk datang terhadapku? aku ingin kau bahagia dengan memiliki anak, tapi di satu sisi aku tersakiti" Sesil berkata dengan sesenggukan.
Sementara Nathan hanya diam saja melihat istrinya yang terus memukul dada bidangnya serta meluapkan isi hatinya.
"Aku mencintaimu Nath" Sesil berteriak histeris meluapkan isi hatinya.
Nathan menarik paksa tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat. Hatinya terasa sakit melihat Sesil histeris seperti itu.
"Lepaskan aku" Sesil memberontak dan berusaha lepas dari pelukan suaminya, namun semakin Sesil memberontak, Nathan semakin memeluknya dengan erat.
"Aku mencintaimu sayang" Ucap Nathan lirih tangannya terulur mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri. Maafkan jika cara mencintaiku ini salah" Imbuh Nathan lagi, bahkan Nathan semakin mengeratkan pelukannya kepada Sesil, memberi kecupan di kepala istrinya begitu lama.
Sesil yang sudah kehabisan tenaga hanya bisa pasrah di pelukan suaminya saat ini. Air matanya terus mengalir membasahi baju yang Nathan kenakan.
"Dalam hidupku, aku hanya satu kali menikah, dan hanya memiliki satu orang istri" Tegas Nathan
Dia semakin mengeratkan pelukannya.
Sementara Sesil mengeryitkan dahi mencoba mencerna apa yang suaminya baru saja katakan. Bukankah Nathan saat ini memiliki dua orang istri, lalu bagaimana bisa Nathan berkata seperti itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Penasaran sama kelanjutannya kan? Hahaha jangan lupa Vote sama tinggalkan komentar kalian yang panjanggggg♥️