
Dor..
Terdengar satu dentuman pistol menggema di rumah tersebut.
Nathan menarik satu sudut bibirnya dan tersenyum sinis. Sorot matanya benar-benar menakutkan, membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa takut, begitu juga Elena dia menutup matanya serta kedua tangannya mengusap dadanya yang tiba-tiba berdetak dengan hebat, tidak di sangka Nathan bisa melakukan hal tersebut di depan mata kepalanya sendiri.
"Bagaimana? Anda puas?" Seru Nathan sambil mulutnya meniup ujung pistol yang kini di pegang olehnya.
Tasya mengepalkan tangannya bahkan urat di punggung tangannya tergambar dengan jelas. Wajah senjanya begitu menunjukkan kekesalan yang luar biasa.
Dia tak menyangka Nathan bisa melakukan ini padanya.
"Sialan" Umpat Tasya menautkan kedua alisnya menatap Nathan.
Belum selesai keterkejutannya, kedua telinga Tasya kembali mendengar baku tembak di luar rumah yang bisa di pastikan anak buahnya sedang di habisi di luar sana. Sementara saat ini dirinya tak memegang senjata apapun untuk melawan Nathan.
Nathan tersenyum penuh kemenangan dan segera melepaskan ikatan tali yang berada di kedua tangan istrinya.
Kemudian tanpa ragu dia memeluk istrinya dan memberi kecupan di kepala istrinya.
Sesil merasa begitu lega saat ini, namun dia begitu ngeri melihat anak buah Tasya terkapar tepat di belakang kursi roda miliknya.
"Tutup matamu" Nathan mengusap paksa kedua mata istrinya supaya tidak melihat kejadian yang pasti akan kembali mengingatkan kejadian masa lalu keluarganya yang tewas mengenaskan di kedua matanya.k.
Tasya yang melihat situasi lengah mengendap mengambil pistol milik anak buahnya yang terjatuh tak jauh darinya.
"Sepertinya akan sangat menyenangkan" Tasya mengarahkan pistol ke tubuh Nathan.
Seketika Nathan menjauh beberapa langkah dari istrinya karena dia tidak mau sesuatu buruk sampai menimpa Sesil.
"Aku akan mengambil apa yang gadis cacat ini cintai untuk kedua kalinya, hahaha" Tasya tertawa sarkas seperti orang yang kadar kewarasannya tinggal setengah.
Sementara Elena diam di posisinya, dia tak menyangka rencananya tidak berjalan sesuai rencana awal.
Nathan mendengar derap kaki memasuki rumah, nampak Dave dan beberapa orang sudah berdiri di balik tubuh tegap Nathan dengan saling mengarahkan pistol siap menyerang, namun tidak semudah itu jika saja mereka gegabah pasti nyawa Nathan dan Sesil adalah taruhannya.
Nathan mencoba setenang mungkin saat ini, jika ada yang harus di korbankan maka biarkan dirinya bukan Sesil.
"Liswa Sesilia Cornelio, katakan selamat tinggal pada suamimu" Tasya mulai menarik pistol yang dia genggam
"Jangan tolong" Sesil berteriak dan berusaha bangkit dari kursi roda yang dia tempati saat ini.
Dor..
"Awas.." Sesil berteriak dan berlari mendorong tubuh Nathan hingga peluru yang Tasya arahkan meleset dari sasaran.
Dor..
terdengar dentuman kembali, namun kali ini peluru Dave mengarah ke pistol yang di pegang oleh Tasya hingga pistol itu jatuh ke lantai.
Tasya semakin geram dan hendak mengambil pistol tersebut namun dengan cepat anak buah Dave menahan tubuh Tasya dan Elena.
Kedua wanita itu terus saja membrontak minta di lepaskan.
"Awas kalian, aku tidak akan pernah melepaskan kalian" Tasya berteriak histeris ke arah Nathan.
Sedangkan Nathan masih dalam posisi jatuh di peluk istrinya.
Sesil yang menyadari keadaan sudah aman, seketika melepaskan dari dari atas tubuh Nathan dan beranjak berdiri membantu suaminya.
Nathan seperti orang pikun dengan mulut yang menganga karena melihat istrinya bisa kembali berdiri di hadapannya.
Namun tidak dengan Sesil, dia belum menyadari kalau dirinya sudah bisa lepas dari kursi roda.
Dengan tidak ragu Nathan menarik tubuh istrinya dan memeluknya kembali.
"Terimakasih Tuhan" Ucap Nathan sambil memberi banyak kecupan di puncak kepala istrinya.
"Akhirnya kau sembuh sayang" Nathan merenggangkan pelukannya dan menatap lekat-lekat kedua bola mata istrinya, sedangkan Sesil mengedipkan matanya beberapa kali mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Nathan.
Dan saat menyadari apa yang di maksud oleh suaminya, seketika dirinya mendorong tubuh Nathan menjauh darinya, lantas Sesil melihat ke arah kedua kakinya yang sudah bisa berdiri kembali.
"Ye..Ye..Ye.." Sesil meloncat-loncat saking merasa gembiranya karena dirinya bisa kembali pulih seperti sedia kala.
"Dave, tolong" Seru Nathan melihat ke arah Dave yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, sedangkan Tasya dan Elena sudah di ikat dengan tali serta mulutnya di sumpal dengan kain.
__ADS_1
"Hm" Dave menganggukkan kepala sebagai jawaban tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, bahkan wajah Dave terlibat begitu berseri.
Nathan tanpa mengucapkan sepatah katapun, langsung menarik tangan istrinya keluar rumah tersebut dan mengajak Sesil kembali ke rumah.
^
Gold Garden Perum
Nathan memarkirkan mobilnya di bagasi mobil dan mengajak istrinya keluar dari mobilnya, wajah Nathan terlihat tidak bersahabat, bahkan sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Nathan tak menjawab pertanyaan Sesil, membuat Sesil merasa tak nyaman karena suaminya tiba-tiba saja mendiamkan dirinya.
Bahkan kali ini Nathan berjalan di depan Sesil dan masuk kembali ke kamar mendahului Sesil yang masih berada di belakangnya.
Saat Sesil masuk ke dalam kamar, tiba-tiba pintu kamar langsung tertutup dan dirinya di tarik lalu di kunci antara tembok dan kedua tangan Nathan.
Sesil merasa begitu terkejut akan tingkah suaminya, namun seketika nyalinya menciut melihat tatapan mata Nathan yang menyiratkan kemarahan.
Keduanya saling memandang cukup lama hingga membuat Sesil semakin merasa takut.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Nathan
"Hm, aku tidak sengaja bertemu dengan Elena di taman komplek, lalu dia bilang menyesal akan sikapnya kemarin dan mengajakku minum kopi sebagai tanda pertemanan.." Sesil berucap dengan nada takut-takut bahkan suaranya hampir saja tidak di dengar oleh Nathan
Nathan menghela nafas panjang, rasanya dia tak menyangka kalau istrinya bisa semudah itu mempercayai orang, meskipun Nathan paham betul istrinya adalah orang yang pemaaf, tapi biasanya istrinya sangat pandai menganalisa situasi, tapi bagaimana mungkin kalau hari ini istrinya dengan mudah menyerahkan nyawanya kepada Elena.
"Kau tau jantungku hampir lepas? kau tau Sil?" Ucap Nathan dengan begitu kesal, bahkan tangannya menarik paksa tangan istrinya untuk menyentuh dadanya yang masih berdetak dengan kencang akibat insiden yang baru saja mereka alami. Nathan tidak bisa membayangkan apa yang harus dia lakukan kalau dia kehilangan istrinya.
Sesil terdiam dengan satu telapak tangannya terletak di dada bidang suaminya.
"Jangan pernah bertindak ceroboh lagi" Nathan kembali mengunci tubuh istrinya bahkan dia semakin menghimpit tubuh istrinya hingga Sesil sendiri merasa terjepit di antara tubuh suaminya dan dinding kamarnya.
"Gadis nakal, kau harus aku hukum"
"Maafkan aku Nath, aku janji tidak akan membuatmu kawatir denganku lagi" Seru Sesil memelaskan wajahnya namun Nathan malah semakin menatap tajam istrinya.
"Dimana-mana orang yang salah harus di hukum" Nathan tersenyum memiringkan kepalanya, bahkan senyuman di bibir Nathan membuat Sesil paham arah pembicaraan suaminya.
"Dasar mesum" Sesil mendorong tubuh suaminya menjauh, namun sayangnya usahanya sia-sia. Nathan malah menarik tubuh Sesil dan menjatuhkannya di ranjang, kemudian langsung menindih tubuh istrinya
Rasanya hasratnya sudah tak bisa di bendung lagi, meskipun cuaca di luar begitu terik tapi tidak membuat Nathan mengurungkan niatnya, dia semakin merasa ingin melakukan lebih saat melihat tubuh polos istrinya.
Dan entah sudah berapa lama, akhirnya Nathan melepaskan apa yang menjadi tujuannya dalam aktivitas panas ini, Sesil terkulai lemas di bawah tubuh suaminya yang bercucuran keringat, kedua matanya rasanya begitu berat dan tak bisa membuka, nafasnya terdengar tidak beraturan karena ulah suaminya yang terus saja melakukannya hingga merasa puas terhadapnya.
Nathan merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang sudah terlelap tidur karena merasa begitu lelah. Nathan terlebih dahulu mengatur nafasnya yang masih naik turun tak beraturan, kedua sudut bibirnya tersenyum mengingat liarnya dirinya saat menikmati tubuh istrinya, meskipun usia pernikahan mereka sudah setahun lebih tapi Nathan masih selalu hilang akal ketika sudah berada di atas tubuh istrinya yang begitu memiliki lekuk tubuh yang indah.
Setelah nafasnya berangsur teratur, dirinya turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak butuh waktu lama, Nathan sudah keluar dari kamar mandi dengan kemeja hitam di lengkapi dengan jaket kulit hitam serta celana hitam. Tidak lupa juga kacamata dan sepatu hitam melengkapi stayle yang dia pilih untuk hari ini.
Nathan berjalan mendekat ke arah Sesil yang tertidur pula, kemudian Nathan meraih selimut dan membalutkannya menutupi tubuh istrinya yang tidak mengenakan pakaian, kemudian membesarkan volume AC kamarnya karena cuaca begitu terik di luar.
Sebelum Nathan meninggalkan kamarnya, dirinya terlebih dahulu mengecup kepala Sesil dengan begitu mesra.
Nathan menuju bagasi mobil dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya.
^
Nathan kembali memasuki pelataran sebuah rumah minimalis yang terbuat dari kayu, letak rumah ini jauh dari jangkauan penduduk.
Nathan di sambut oleh beberapa orang yang berpakaian serba hitam dengan tubuh tegap dan kekar.
Nathan kembali masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya di beri sinar lampu temaram di dalamnya.
Sudah tidak ada Dave di sana, sepertinya sahabatnya itu sudah lebih dulu kembali ke kota untuk bertemu kekasihnya. Maklum saja karena Dave sedang di mabuk cinta dengan dokter cempreng sahabat istrinya.
"CEO, anda sudah datang" Bram membungkuk memberi hormat kepada Nathan
"Bagaimana?"
"Semua berjalan sesuai apa yang anda inginkan, saya berhasil membuat investor menanam modal di perusahaan kita" Jawab Bram
"Bagus"
"Lalu?" Imbuh Nathan lagi.
Bram terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang bosnya tanyakan, meskipun dirinya sudah di latih oleh Sean beberapa waktu lalu, tapi untuk prakteknya ini adalah yang pertama.
__ADS_1
Masih ada sedikit keraguan di dalam hatinya apakah dia sanggup melakukannya atau tidak. Meskipun bisa di akui dirinya sering melihat hal tersebut saat di ajak Sean menyingkirkan musuh-musuh dari papi mertua Nathan.
"Kau bisa mengundurkan diri" Seru Nathan yang melihat Bram terdiam tak merespon perkataannya
"Tidak, saya bisa" Jawab Bram pasti
"Bagus, buktikan!" Nathan melangkahkan kakinya duduk di sebuah kursi dengan menyilangkan kedua kakinya
Melihat bosnya sudah duduk, Bram memanggil anak buahnya untuk membawa tawanan mereka ke hadapan bosnya.
Bram mulai melakukan introgasi terhadap dua wanita yang sudah hampir merenggut nyawa bosnya.
Tasya masih tak mau membuka mulutnya meskipun anak buah Bram memukulnya beberapa kali.
Nathan yang merasa geram beranjak dari duduknya dan langsung mendekat ke arah Elena yang masih di sumpal mulutnya dengan kain, tanpa aba-aba dia langsung menampar wajah Elena seperti siang tadi dia terpaksa harus menampar wajah cantik Sesil.
"Membuang banyak waktu" Dengus Nathan menatap kedua wanita itu secara bergantian dengan tatapan sinis
"Biar aku tunjukkan siapa Nathan yang sebenarnya"
"Bram, buang wanita ini ke penangkaran buaya milik keluargaku yang terletak di dekat perkebunan pohon pepaya" Nathan menunjuk di depan wajah Elena.
"Dan untuk wanita tua ini, yang harga nyawanya saja tidak sebanding dengan satu sampo sachet, kau perlakukan dia seperti yang dia pernah lakukan kepada mendiang om Arik" Nathan melemparkan sebuah flashdisk ke arah Bram, kemudian Bram meminta anak buahnya memutarnya di laptop kerjanya.
"Lakukan dengan baik dan rapih" Nathan kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursi dan menyilangkan kedua kakinya, sementara anak buah Bram masuk menyeret Elena yang meronta minta di lepaskan.
Setelah Elena di bawa keluar, giliran Tasya yang sudah menelan air liurnya dengan susah payah, bahkan keringat dingin mengalir di dahinya saat melihat salah seorang anak buah Bram masuk membawa vas bunga keramik.
Bayang kematian Arik kembali berputar di atas kepalanya.
"Jangan lakukan ini, beri aku kesempatan untuk bertaubat" Seru Tasya saat Bram melepaskan kain penutup mulutnya.
"Hahaha" Nathan tertawa sarkas dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Tasya
"Bukankah Papi Swan sudah memberimu banyak kesempatan hidup setelah kau merebut belahan jiwanya? lalu saat ini kau meminta ampunan terhadapku setelah apa yang kau lakukan terhadap istriku?"
"Bram.." Nathan menggelengkan kepalanya, membuat Bram menganggukkan kepalanya kepada anak buahnya, seketika vas bunga yang di pegang oleh anak buah Bram melayang mengenai kepala Tasya.
Tasya mendesis menahan rasa sakit dan pusing di kepalanya.
"Kau sudah menghilangkan nyawa om Arik, Mami Ayu dan tadi kau hampir saja menghilangkan nyawa istriku. Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?"
"Menjijikkan" Nathan beranjak berdiri dari kursinya.
"Lakukan apa yang harus di lakukan, setelah itu hilangkan rumah ini. Kau paham Bram?" Imbuh Nathan.
"Baik CEO" Bram menganggukkan kepalanya, kemudian Nathan berlalu dari ruangan tersebut, dan saat pintu ruangan tertutup hanya terdengar jeritan yang begitu mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya. Namun seolah tuli, Nathan melangkahkan kakinya keluar rumah dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah itu.
"Om, apa yang seharusnya Nathan lakukan sudah di lakukan, Nathan sudah memenuhi semua janji serta sumpah Nathan. Jadi Om yang tenang di sana" Ucap Nathan lirih, kemudian dia kembali fokus melihat jalanan sekitar.
Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, Nathan sudah kembali lagi ke rumahnya, dan saat baru saja memarkirkan mobilnya, dia menerima beberapa pesan gambar juga video terakhir dari kedua wanita jelmaan itu.
Setelah melihatnya Nathan langsung menghapus video serta foto tersebut supaya Sesil tak melihatnya.
Nathan tidak mau istrinya sampai mengetahui sisi gelap dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Srayu terimakasih buat kak Hany yang sudah kasih masukan, srayu tampung dan akan di realisasikan pada part selanjutnya, meskipun Srayu terima saran kalian, bukan berarti akan mengubah alur cerita yang Srayu buat ya😁
__ADS_1
Ceritanya masih cukup panjang nih, semoga tetap di hati pembaca😘♥️🙏