
Hoek..Hoek..Hoek...
Seketika imel memuntahkan semua isi perutnya ke jas yang Dave kenakan.
Untung saha hanya air yang berisi di dalam perut imelda.
"Menggelikan" Umpat dave yang langsung beranjak berdiri dari sofa dan segera melepaskan jas yang dia kenakan saat itu.
Jas yang tertumpah oleh mutahan imelda.
Bahkan kini setelah Dave berdiri, muntahan imelda mengalir dari mulutnya membasahi baju yang imelda kenakan.
Dave begitu merasa jijik melihatnya, ingin rasanya Dave melemparkan imelda ke jalanan, namun itu hanya ada dalam angannya saja, karena jika Dave melakukan itu pasti laki-laki hidung belang di luar sana akan dengan senang hati memungut dan membawa imelda yang dalam kondisi mabuk berat ke hotel.
Terlebih lagi Dokter mesum yang hampir saja melecehkan imelda barusan, seketika Dave merasa iba.
"Jie Sung, Aku merindukanmu" tangan Imelda menarik lengan tangan Dave yang kala itu berdiri tepat ri hadapannya, membuat Dave mendengus dengan kesal.
"Jie, apa kau sudah tak mengingatku Jie? bahkan aku di sini menunggumu selama hampir satu setengah tahun Jie !" Imelda beranjak berdiri dengan memegang tangan Dave sebagai tumpuannya.
"Apa kau hanya berjanji palsu denganku Jie? bahkan kau mengganti nomor ponsel dan semua sosial mediamu!!" Imelda memukul dada bidang Dave dengan kedua tangannya, membuat Dave harus meraih tangan imelda dan menghentikannya.
Imelda menatap kedua bola mata Dave yang saat itu di lihat sebagai Jie Sung, teman dekatnya selama menempuh pendidikan di bangku Universitas.
Imelda rasanya tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya, kepalanya terasa begitu pusing, pandangan matanya menjadi kunang-kunang dan lama kelamaan menggelap.
Imelda jatuh tak sadarkan diri ke dada bidang Dave.
Dengan sigap Dave langsung menangkap tubuh imelda dan membopongnya masuk ke dalam kamarnya.
Dave membaringkan tubuh imelda di atas ranjang yang biasa dia gunakan. Dave melihat sebagian baju imelda kotor akibat muntahannya sendiri.
Dave menggaruk kepalanya dengan frustasi, pasalnya dia tidak mungkin mengganti pakaian imelda sendiri.
Namun pandangan mata Dave tersita dengan baju bagian atas imelda yang sudah terbuka kancingnya dua, menunjukkan bagian dada atasnya yang begitu putih. Dave menelan air liurnya dengan susah payah dan dengan cepat Dave mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah.
"Shitt" Umpat Dave, Dia pun segera pergi dari kamarnya.
Dave berdiri mondar-mandir tidak jelas di depan kamarnya, dia bingung harus bagaimana saat ini, sekilas Dave melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 10.57pm, rasanya dia ingin meminta bantuan pada Sesil, tapi jika harus menunggu Sesil datang itu akan memakan waktu yang cukup lama, karena rumah Nathan dengan apartemen yang di tempati Dave saat ini memilik jarak yang cukup lumayan jauh.
Seketika Dave tersenyum ketika mengingat seseorang. Dave bergegas keluar dari kamarnya.
Kini Dave berdiri di depan Kamar apartemen yang memiliki jarak satu kamar dengannya.
Dengan sedikit ragu, Dave memencet Bel yang menempel di pintu.
Ting..tong..ting..tong..
"Dave.." Sapa pemilik kamar yang saat itu membuka pintu
"Kak Lea, maaf menganggu malam-malam" Dave tersenyum pelik, rasanya dia tidak enak mengganggu tetangganya, namun Dave tak memiliki pilihan lain lagi.
"Istri kakak ada ?", seketika Lea mengernyitkan keningnya saat mendengar Dave malam-malam seperti ini mencari Istrinya.
Dave yang sadar akan perubahan raut wajah Lea, seketika langsung menjelaskan pada Lea.
"Temanku mabuk berat kak, bajunya yang di kenakan olehnya terkena muntahannya, Dan aku tidak mungkin mengganti pakaiannya, karena dia seorang wanita kak"Imbuh Dave
Seketika Lea melebarkan senyumnya dan menepuk pundak Dave, Lea begitu kagum dengan Dave yang masih memegang teguh norma kesopanan yang berada di indonesia. Meskipun teman wanitanya mabuk tapi dia tidak mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sekiranya tidak pantas dan bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
"Tunggi sebentar, aku akan memanggil Istriku" Lea berlalu dari hadapan Dave dan memanggil Istrinya yang kala itu juga kebetulan belum tidur dan sedang menonton Tv.
Tak lama kemudian Lea keluar bersama Istrinya, dan ketiganya segera menuju kamar Dave.
Dave menunjukkan dimana keberadaan Imelda, Lisa pun dengan senang hati membantu Dave mengganti pakaian imelda yang basah dengan piyama milik Dave yang memiliki ukuran kebesaran di tubuh imelda.
Kurang dari dua puluh menit, Lisa pun keluar dari kamar Dave dan berpamitan kembali ke apartemen miliknya. Dave mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf karena sudah merepotkan Lea dan Istrinya tengah malam seperti ini.
Setelah mengantar Lea dan Istrinya hingga depan pintu, Dave menutup pintu kamarnya kembali dan segera masuk ke dalam.
Dave memasuki kamar utama dan hendak mengambil pakaian ganti untuk mengganti pakaiannya.
Setelah mengambil pakaiannya dari dalam lemari, Dave menutup kembali lemari tersebut dan hendak masuk ke dalam kamar mandi.
Namun pandangan mata Dave tersita dengan posisi tidur Imelda yang terlentang sembarang arah, bahkan selimut yang menutupi tubuhnya kini sudah di tendang olehnya hingga tak lagi membalut di tubuhnya. Dave menggelengkan kepalanya.
"Menyusahkan saja dokter gadungan ini" Dave meraih selimut tersebut dan kembali menyelimuti Imelda hingga ke bagian perutnya. Karena memang udara malam ini cukup dingin dan menusuk hingga ke tulang.
__ADS_1
Dave pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Seusai mandi Dave menuju kamar sebelah dan mengistirahatkan badannya yang terasa begitu letih.
***
Keesokan paginya, tidur imelda terganggu dengan dering jam wekker yang terus saja berdering memekikkan telinganya.
Tangannya meraba-raba meja kecil di samping tempat tidurnya untuk mencari benda yang mengeluarkan suara begitu nyaring dan mengganggu mimpi indah Imelda.
Setelah mendapatkan jam wekker tersebut imelda mematikannya dan melanjutkan kembali tidurnya, karena matanya masih merasa begitu mengantuk.
Namun baru saja imelda terlelap jam tersebut kembali berbunyi, membuat imelda meraih bantal dan menutup daun telinganya, namun sialnya suara jam wekker tersebut masih terdengar begitu nyaring di telinga imelda.
Membuat imelda melemparkan bantal dan segera beranjak dari tidurnya. Imelda duduk menyilangkan kedua kakinya di atas ranjang. Matanya mengerjap beberapa kali menyesuaikan dengan sinar mentari yang sudah menerobos melewati celah jendela kamar tersebut.
Imelda memperhatikan warna cat kamar yang kini dia tempati, rasa-rasanya kamarnya bukan berwarna abu-abu. Imelda mengeryit keheranan, dan mencoba mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi semalam, seingat imelda dia terakhir kali bersama dengan Lian.
Dengan reflek imelda memegang dadanya dengan telapak tangannya. Memastikan kalau tubuhnya masih sama dan utuh.
Namun saat imelda menyadari kalau dirinya kini hanya mengenakan pakaian tidur dan bukan baju yang kemarin dia kenakan seketika Imelda memekik saking terkejutnya.
"Aahhhhhh" Suara cempreng imelda terdengar hingga ke dapur, bahkan Dave yang kala itu sedang memanggang roti dan menyiapkan sarapan pagi mampu membuat Dave merasa terkejut.
Namun Dave mengacuhkannya begitu saja dan kembali melanjutkan menyiapkan sarapan pagi, karena dia tidak punya banyak waktu untuk meladeni dokter cempreng yang menyusahkan itu.
Sedangkan Imelda melirik ke seluruh ruangan kamar yang di anggapnya begitu asing olehnya.
Imelda menyipitkan matanya tatkala melihat ke arah foto yang di cetak dengan ukuran yang sangat besar serta di bingkai dengan begitu rapih, menampakkan Sebuah keluarga yang utuh dengan Ayah,Ibu serta satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.
Namun rasa-rasanya imelda tidak mengenal satu orang pun yang berada di dalam foto tersebut, karena memang yang Imelda lihat adalah foto Dave saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
"Dimana aku" Imelda menggaruk kepalanya dan beranjak dari ranjang tidurnya, kemudian dia berjalan keluar kamar dan mencari keberadaan sang empunya apartemen.
Imelda melangkahkan kakinya mencari sumber aroma yang menggoda indera penciumannya, karena cacing di dalam perutnya sudah berdemo minta jatah makan, karena memang sedari kemarin siang imelda belum makan sama sekali.
Imelda melangkahkan kakinya menuju dapur dan melihat sosok pria yang berdiri memunggunginya dan sedang menggoreng telur.
Tubuh atletis pria tersebut mengingatkan Imel kepada seseorang yang lama dia rindukan.
"Jie Sung" Gumamnya dalam hati, perlahan Imelda melangkahkan kakinya mendekat ke arah pria tersebut, namun betapa terkejutnya saat pria tersebut mematikan kompor dan berbalik badan.
"Kau ini senang sekali berteriak tidak jelas" Gerutu Dave, imelda menjawabnya namun suaranya tertahan di balik telapak tangan Dave yang kini membekap mulutnya
"Sungguh menyusahkan" umpat Dave lagi, kali ini Imelda berusaha menjauhkan tangan Dave dari mulutnya, namun rasanya usahanya sia-sia saja.
"Aku akan melepaskan tanganku, tapi jika kau berani berteriak kembali aku akan memasukkanmu ke dalam karung dan melemparmu dari balkon apartemenku" Suara Dave penuh dengan tekanan, membuat Imelda menganggukkan kepalanya dengan takut.
Setelah Imelda menganggukkan kepalanya, Dave menjauhkan telapak tangannya yang menutup mulut imelda.
Seketika imelda menghirup udara banyak-banyak, karena memang Imelda hampir saja kehabisan nafas.
"Duduklah, aku sudah menyiapkan sarapan" Imbuh Dave sambil mengambil piring dari rak, kemudian dia meletakkan dua telur mata sapi setengah matang yang baru saja dia goreng, kemudian Dave membawa piring berisi Telur mata sapi itu dan meletakkan di atas meja makan.
Dave mengambil selemebar roti tawar panggang dan meletakkan telur tersebut di atasnya kemudian Dave meraih satu lembar lagi untuk menutupnya.
Dan dia segera melahap roti tersebut. Membuat imelda menelan air liurnya dan mengusap perutnya yang terasa lapar.
"Kau tidak lapar?" Ucap Dave tanpa menatap ke arah Imelda yang kini masih berdiri mematung di posisinya.
"Nanti Jie Sung marah jika kau tak makan"Imbuh Dave lagi.
Ucapan Dave membuat imelda melebarkan matanya.
"Kau tau dari mana Jie Sung??" Imelda menarik kursi kosong dan langsung mendudukkan tubuhnya di sana, pandangan mata Imelda menatap tajam ke arah Dave yang sedang asik menikmati sarapan paginya tanpa mau menatap dirinya balik.
"Katakan!!" Imelda menggebrak meja makan, membuat Dave langsung mengalihkan pandangannya ke arah Dave.
"Kau ini selain tidak tau terimakasih juga tidak tau etika ya? jika bukan karena kebaikan hatiku, mungkin saat kau bangun pagi ini tubuhmu tak lagi utuh!! Seharusnya aku membiarkanmu bersama dokter mesum itu atau jika aku menolongmu dari dokter mesum itu seharusnya aku melemparkanmu ke jalanan" Tukas Dave, kemudian Dia beranjak dari kursinya dan meninggalkan roti yang baru saja di habiskan setengahnya.
Tanpa memperdulikan Imelda, Dave meraih tas kerja dan meninggalkan apartemen miliknya untuk menuju kantornya.
Sedangkan Imelda mendengus dengan kesal menatap kepergian Dave.
"Memangnya kau siapa hah? berani sekali menyebutkan namanya di hadapanku? kau tau apa tentang dia hah??" Imelda berteriak ke arah Dave yang sudah menghilang di balik pintu.
Dengan begitu kesal, imelda meraih segelas susu dan meneguknya hingga menghabiskan setengah gelas.
__ADS_1
Tidak puas hanya dengan minum susu, imelda kembali meraih dua lembar roti panggang dan mengolesinya dengan selai stroberi kesukaannya.
Setelah menghabiskan dua lembar roti, imelda kembali meneguk sisa susu yang berada di dalam gelas hingga tandas tak bersisa.
Tidak itu saja, imelda mengambil Apel dan menghabiskannya.
Masih merasa belum puas Imelda meraih satu buah Pir dan memakannya. Merasa perutnya kenyang dan emosinya sudah sedikit berkurang, imelda meninggalkan meja makan dan mendudukkan dirinya di sofa,namun rasa kantuk begitu menyerang matanya hingga imelda kembali merebahkan dirinya di sofa.
^
Entah berapa lama Imelda tertidur di atas sofa, kini perlahan Imelda membuka matanya dan meregangkan ototnya yang terasa begitu pegal.
Rasanya tubuh imelda sudah segar kembali setelah lama tertidur.
Imelda melebarkan matanya saat melihat ke arah jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Belum juga hilang keterkejutannya, tiba-tiba bel berbunyi.
Membuat Imelda terpaksa harus membuka pintu. Dan saat membuka pintu, ternyata hanya seorang petugas laundry yang mengantar pakaian milik Dave, namun Imel cukup terkejut melihat pakaian yang di terimanya bukan milik Dave, melainkan baju miliknya yang kemarin dia kenakan.
Setelah mengucapkan terimakasih Imelda masuk kembali dan berganti pakaiannya.
Setelah berganti pakaian, imelda mencari tas jinjing yang di bawanya kemarin,ternyata tas tersebut berada di sofa ruang tamu.
Imelda membuka tas tersebut dan memasukan piyama yang tadi sempat Dia pergunakan ke dalam tasnya.
Imelda hendak kembali pulang, namun rasanya dia tak enak hati karena kejadian tadi pagi.
Maka untuk menebus rasa bersalahnya Imelda memutuskan untuk memasak makanan untuk Dave sebagai ucapan terimakasih sekaligus permintaan maaf karena perilakunya tadi padi yang sudah berpikir macam-macam.
Setelah hampir satu setengah jam berkutat dengan peralatan dapur, kini di atas meja makan sudah terhidang beberapa hidangan rumahan.
Kemudian Imelda meraih selembar kertas dan menuliskan memo untuk Dave.
*To Dave
Maafkan perilaku ku tadi pagi yang kurang sopan, serta terimakasih sudah menolongku
~Imelda*
Imelda meletakkan kertas tersebut di bawah piring kosong yang di siapkannya untuk makan Dave, kemudian dia berlalu pergi untuk kembali ke apartemennya, karena hari ini Dia harus menggantiakan temannya tugas malam.
***
Malam harinya saat Dave kembali dari kantornya dia mendudukkan tubuhnya di atas sofa, rasanya dia begitu lelah hari ini. Setelah cukup lama duduk di sofa, tenggorokan Dave terasa begitu kering membuat Dave beranjak berdiri untuk mengambil air mineral di dalam kulkas di dapur.
Namun saat sampai di meja makan, matanya begitu terkesiap melihat ada beberapa hidangan makanan di atas meja.
Dave berjalan mendekat ke arah meja makan dan mengambil kertas di bawah piring.
Dan membaca tulisan dari Imelda yang menurutnya sangat jelek.
Setelah membaca tulisan Imelda Dave mengangkat kedua bahunya.
Dan kembali mengambil air mineral di dalam kulkas, setelah meneguk air mineral dan tenggorokannya terasa lega. Dave mendudukan dirinya di kursi meja makan dan mengambil beberapa sayur yang di masak oleh imelda.
Setelah memasukkan beberapa sendok sayur ke dalam mulutnya, Dave menganggukkan kepalanya.
"Lumayan" ucap Dave, kemudian dia menikmati makan malam dari masakan yang imelda buat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.