Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Berita Baik


__ADS_3

Terhitung sudah dua hari semenjak meninggalnya Kinos, Sesil serta Nathan juga sudah kembali lagi tinggal di rumah mereka. Meski Sesil sangat berat meninggalkan papinya seorang diri tapi itu pilihan papinya sendiri. Swan terlihat sudah bisa menerima kenyataan kalau Kinos sudah menghadap Tuhan.


Selama dua hari ini Ayah mertua Sesil sering berkunjung dan menemani Swan berbincang, sedikit banyak Swan sudah bisa merelakan keadaan.


Bahkan kemarin sore kedua pria paruh baya yang di pertemukan karena anaknya berjodoh itu berjanji akan memancing bersama akhir pekan ini.


Sesil dan Nathan terlihat baru turun dari mobil yang mereka kendarai, hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus di kerjakan maka dari itu keduanya bisa pulang lebih awal di bandingkan hari biasanya.


Sesil juga sudah lebih membaik kondisi psikis paska di tinggal oleh opahnya. Berkat usaha kerja keras Nathan membuat Sesil terhibur dengan celotehan dan juga berbagai aktivitas yang membuat istrinya bisa melupakan kesedihannya.


Nathan dan Sesil berjalan beriringan menapaki anak tangga menuju lantai dua, karena kemarin Nathan sudah meminta Bi nung dan satpam penjaga rumah untuk memindahkan barang-barang miliknya juga Sesil kembali lagi ke lantai dua, tempat dimana kamar utama berada.


Seperti biasanya Nathan akan mandi terlebih dahulu karena dia paham betul kalau istrinya sudah masuk ke dalam kamar mandi, pasti akan susah keluarnya.


Sementara menunggu Nathan membersihkan diri, Sesil menyiapkan pakaian ganti untuknya dan juga Nathan.


Hingga tak berselang lama Nathan sudah keluar dengan menggunakan selembar handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


Setelah melihat Nathan keluar dari kamar mandi, Sesil bergegas masuk bergantian ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah berganti pakaian rapih, Nathan duduk di atas ranjang sembari meluruskan kakinya yang terasa pegal akibat seharian bekerja.


Namun tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dan terdengar suara Bi Nung dari balik pintu.


"Ada apa bi?" Tanya Nathan saat pintu di buka olehnya.


"Ada Tuan Dave dan Nona Imelda di bawah, Tuan"


"Oh baiklah, aku akan segera turun" Tukas Nathan. Mendengar jawaban dari majikannya, Bi Nung berlalu dari kamar Nathan dan kembali bekerja.


Sementara Nathan memberitahu istrinya kalau di bawah di tunggu oleh Imelda.


Setelah memberitahu istrinya Nathan memutuskan untuk turun terlebih dahulu ke lantai bawah menemui Dave serta Imelda.


Nathan menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai bawah.


"Hai, apa kabar?" Sapa Nathan saat sudah berdiri di balik punggung sahabatnya yang kebetulan duduk di sofa dengan posisi membelakangi.


Seketika Imelda dan Dave kompak memutar badannya melihat kebelakang tempat di mana Nathan berdiri saat itu, keduanya kompak menepiskan senyumnya. Kemudian Nathan duduk bersebrangan dengan dua sejoli yang terlihat semakin mesra.


Ketiganya berbincang ringan mengisi waktu menunggu Sesil menyusul mereka.


Setelah hampir satu jam kemudian Sesil terlihat turun dari tangga dan bergabung dengan mereka.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya opah" Ucap Imel dengan wajah yang begitu sedih.


Pasalnya saat Kinos meninggal dirinya tak bisa memberi penghormatan terakhir untuk Kinos yang sudah di anggap opahnya sendiri, karena kebetulan beberapa hari yang lalu Imelda juga Dave pergi ke Jerman menemui kedua orang tua Dave yang sudah pindah menetap di sana.


Begitupun dengan Dave dia juga mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya opah dari istri sahabatnya.


Sesil terlihat lebih tegar dari sebelumnya, karena memang dia sudah berjanji akan merelakan kepergian opahnya yang sudah di kehendaki oleh Tuhan sebagai jalan kesembuhan terbaik untuk opahnya supaya tidak merasakan kesakitan terus-menerus.


Setelah berbincang sebentar, Dave mengutarakan tujuan utamanya datang mengunjungi sahabatnya yaitu memberitahu kabar bahagia tentang rencana pernikahan mereka yang akan di gelar bulan depan sesuai kesepakatan antara Imel dan juga kedua orang tua Dave.


Dave juga menceritakan kalau awalnya kedua orang tuanya tidak memberikan restu atas hubungannya dengan Imel. Tapi dengan usaha Imel dan perjuangan Dave yang berusaha meluluhkan hati kedua orang tuanya, akhirnya kedua orang tua Dave memberikan restu kepada keduanya.


Meskipun ini bukan moment yang pas untuk berbicara seperti ini di dalam rasa duka yang masih Sesil rasakan, tapi bagaimanapun juga hubungan Dave dan Imel bisa di bilang terjalin seperti saat ini berkat usaha Sesil dan Nathan yang membantu dirinya mendapatkan dokter yang memiliki suara cempreng.


Setelah mengutarakan keperluannya datang berkunjung ke rumah Nathan, Dave dan Imel berencana pulang namun di tahan oleh Sesil juga Nathan.


Sepasang suami istri itu malah mengajak sepasang calon pengantin untuk merayakannya dengan makan malam di luar. Karena hari ini Nathan dan Sesil tidak memiliki banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


Dan lagi sesekali makan malam di luar itu di perlukan untuk sedikit membuat Sesil melupakan kesedihan hatinya saat ini.


Saat mendengar permintaan sahabatnya, Imelda dengan senang hati menyetujuinya karena dirinya memang ingin banyak menghabiskan waktu bersama sahabat baiknya. Imel ingin menghibur Sesil yang masih dalam masa berkabung.


Gumaya Tower Hotel..


Sesil, Nathan, Imelda dan Dave kini sedang duduk melingkar di sebuah meja yang terletak di ruang VVIP restoran di sebuah hotel ternama.


Sesil sedari tadi hanya diam dan sesekali tersenyum menanggapi celotehan yang di lontarkan oleh Imelda.


Tak berselang lama terlihat beberapa pelayan mengantarkan pesanan mereka dan meletakkannya di atas meja.


Tak lupa pelayan menuangkan anggur ke dalam gelas sebagai pembuka acara makan malam.


Setelah menyajikan semua makanan di atas meja pelayan tersebut pamit dari sana.


"Bersulang" Dave mengangkat gelasnya dan mengajak calon istri serta sahabatnya merayakan hari bahagianya.

__ADS_1


Kemudian mereka melanjutkan dengan menyantap makanan yang sudah tersedia. Sesekali Sesil juga terlihat ikut menimbrung obrolan suaminya dan Dave.


"Imel.." Terdengar suara yang tidak asing di telinga Imelda maupun Sesil. Seketika kedua wanita itu mencari sumber suara dan terlihat seorang pria yang mereka kenal.


"Hai Jie.?" Sesil yang menjawab pertanyaan Jie Sung yang kebetulan baru datang, Jie Sung terlihat membalas senyuman Sesil dengan membungkukkan kepalanya, sementara Imelda menjadi diam tak bergeming di posisinya.


"Mel, apa kabar?" Jie Sung terlihat menyentuh pundak Imelda, membuat Dave memicingkan matanya tidak suka akan hal itu.


"Baik.." Imel menjauhkan tangan Jie dari pundaknya.


"Oh ya Jie, kenalkan ini Dave, calon suamiku" Imel melirik ke arah Dave yang sedari tadi terus menatapnya.


Mendengar ucapan Imel, Jie mengalihkan pandangan matanya ke arah pria bermata cokelat dan rambut kemerahan yang duduk tepat di samping Imelda.


"Dave Alberic" Dave mengulurkan tangannya menjabat tangan Jie Sung. Terlihat Jie membalas uluran tangan Dave.


"Mel bolehkan kita berbicara sebentar?" Jie mengalihkan kembali pandangan matanya menatap Imelda


"Katakan saja di sini"


"Tidak bisa Mel, hanya sebentar?" Pinta Jie memohon. Sejenak Imelda melirik ke arah Dave dan mendapat anggukan kepala dari Dave.


Bukan tanpa alasan Dave mengijinkan Imelda berbicara dengan Imel, itu semata-mata Dave lakukan hanya ingin mengetahui perasaan Imelda padanya.


Imelda berjalan berlalu dari meja tersebut menuju meja kosong yang terletak dipojok resto, sementara Dave terlihat acuh dan kembali berbincang dengan Sesil dan Nathan.


Jie Sung dan Imelda duduk berhadapan di sebuah meja kosong, Jie masih menatap lekat-lekat wajah gadis yang menjadi teman dekatnya saat menempuh pendidikan dulu.


Jie tak menyangka kalau gadis di hadapannya saat ini sudah memiliki calon suami.


Imelda yang di lihat sedemikian rupa merasa risih dan tal nyaman.


"Katakan Jie, ada perihal apa?"


Jie diam saja, kedua matanya masih menatap wajah Imelda yang di rasa semakin cantik.


Jie Sung baru menyadari kalau Imel memang sangat cantik serta baik terhadapnya selama ini.


"Mel, mungkin aku bodoh baru menyadari perasaanku selama ini. Tapi ini yang aku rasakan, aku suka sama kamu mel" Jie hendak memegang tangan Imel namun dengan cepat Imel menepis tangan Jie menjauh dari tangannya.


"Jie aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu, bahkan aku menunggumu selama dua tahun ini. Aku berusaha mencari posisimu, mencari kabar tentangmu yang tiba-tiba pulang ke Korea tanpa berpamitan denganku, memblokir semua sosial media bahkan nomor ponselmu saja kau ganti. Apa kau tau Jie selama ini aku menanti kedatanganmu?Aku juga menyukaimu Jie" Imelda terdiam sejenak mengatur nafasnya.


"Tapi itu semua dulu Jie, aku sekarang di hatiku ada pria lain. Dia di sana" Imel menoleh melihat ke arah Dave yang sedang tertawa bersama Sesil juga Nathan.


"Dia pria baik Jie, dan terimakasih karena kamu juga, aku mengerti perasaanku terhadap Dave. Tempo hari saat kau bergandengan dengan seorang wanita, di saat itu hatiku terasa sakit, tapi lebih sakit saat melihat Dave bersama gadis lain. Sejak saat itu aku menyadari kalau bukan kamu lagi yang berada di sini" Imel menunjuk dadanya.


"Lebih baik kita tetap seperti ini, menjadi seorang teman adalah pilihan terbaik" Imel tersenyum ke arah Jie yang seketika wajahnya begitu muram.


"Aku permisi" Imel beranjak dari kursinya menuju meja dimana Dave berada.


Sedangkan Jie Sung hanya bisa melihat kepergian Imelda saja. Rasanya Jie Sung begitu menyesal telah bersikap seperti itu pada gadis sebaik Imelda.


"Sudah melepas rindunya?" Sindir Dave


"Sekarang masih aku ijinkan, tapi jika nanti sudah menikah, kalau kau berani bertemu dengannya lagi akan aku pastikan kau aku telan hidup-hidup" Tukas Dave


"Kau berani denganku hah?" Imelda menaikkan kedua tangannya dan meletakkan di atas pinggangnya, bahkan kedua matanya melotot dengan sempurna dan hampir saja keluar dari tempatnya.


"Siapa yang takut dengan dokter gadungan sepertimu hah?" Sanggah Dave dengan nada santai seolah-olah dia berani melawan Imelda.


Buk..


Imelda menendang kaki Dave dengan sepatu wedges yang dia kenakan saat itu. Tidak puas dengan itu saja, Imelda menjitak kepala Dave dengan tangan kanannya, membuat Dave mengusap kepalanya yang terasa sedikit pegal.


Dave yang kesal langsung mengalungkan satu tangannya di leher Imelda dan meletakkan Imelda di bawah ketiaknya. Membuat gadis itu meronta minta di lepaskan, namun Dave malah semakin mengeratkan tangannya, seolah-olah dia tak ingin melepaskan Imelda dari cengkramannya hingga gadis itu meminta ampun kepadanya.


Nathan dan Sesil hanya melihat dengan menggelengkan kepalanya, tingkah kedua insan manusia yang sebentar lagi akan menikah membuat keduanya benar-benar tak percaya.


"Lepaskan, dasar kurang ajar" Imel meronta-ronta namun Dave malah terkekeh senang bisa membuat gadis yang di sukai bahkan sebentar lagi akan menjadi istrinya menjadi kesal.


"Sudahlah, kenapa kalian seperti anak kecil" Sesil menengahi pertikaian sepasang kekasih di hadapannya.


"Baiklah.." Dave melepaskan tangannya dari leher Imelda dan kembali duduk di tempat semula, begitu juga Imelda duduk di tempat semula dengan wajah membrengut kesal.


Kemudian keempatnya melanjutkan kembali berbincang santai sambil menikmati alunan musik yang mengalun merdu di restoran terebut.


Setelah di rasa puas mengobrol, mereka memutuskan untuk kembali lagi ke rumah masing-masing menggunakan mobil yang berbeda.


^

__ADS_1


Dave memarkirkan mobilnya di bassement apartemen yang Imelda kendarai, dia terlebih dahulu turun dari mobil dan berlari kecil mengitari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Imelda.


"Terimakasih, dan hati-hati di jalan"


"Aku akan mengantarmu, ini juga masih sore baru jam 09.40pm" Dave melihat ke arah jam tangan berwarna hitam di pergelangan tangannya.


"Terserah kau saja" Imelda berlalu dari Dave terlebih dahulu di ikuti oleh Dave di belakangnya.


Lift berdenting dan pintu juga terbuka, Imelda di antar oleh Dave hingga ke depan pintu kamarnya.


Namun saat Imelda sudah membuka pintu apartemennya, Dave masih berdiri mematung di posisinya membuat Imelda mendengus dengan kesal.


"Mau apa lagi?" Ketus Imelda


"Kau tidak mengajakku masuk?" Tanya Dave


"Tidak ! Sudah kau pulanglah" Imelda mendorong tubuh Dave, namun Dave terlihat diam saja dan malah matanya melihat ke dalam apartemen milik wanita yang sudah menjadi kekasihnya.


"Astaga Ya Tuhan Dave" Imelda kembali mendengus menahan emosinya.


"Ya sudah masuklah ! Sebentar saja" Imelda membuka lebar pintu apartemen miliknya dan Dave tersenyum lebar kemudian masuk ke dalamnya.


Tanpa di persilahkan sang empunya rumah, Dave langsung duduk di sofa ruang tamu, sementara Imelda masuk ke dalam kamar berganti pakaian yang lebih nyaman. Setelah berganti pakaian Imelda menuju dapur minimalis yang dia susun dengan desain interior kesukaannya.


Imelda menuangkan orange jus dan membawanya ke ruang tamu tempat dimana Dave sedang menunggunya.


"Minumlah" Imelda meletakkan segelas orange jus di depan Dave, kemudian dia duduk bersebrangan dengan Dave.


Sedangkan Dave masih asik melihat desain apartemen milik Imelda yang di rasa begitu minimalis tapi elegan, dengan polesan cat berwarna abu dan putih.


"Mel, kau apartemen milikmu bagus sekali" Dave kembali memfokuskan pandangan matanya melihat Imelda yang kini duduk di hadapannya menggunakan mini dress rumahan yang begitu membentuk lekuk tubuhnya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Seru Imelda dengan kesal, karena tiba-tiba saja Dave menatapnya dengan tatapan aneh.


Bukan menjawab pertanyaan Imelda, Dave malah terlihat berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Imelda lalu mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Imelda.


Imelda merasa terkejut ketika Dave malah memposisikan dirinya tepat di sisinya.


Perlahan tangan Dave menyentuh pipi mulus Imelda, pandangan mata Dave begitu dalam melihat Imelda.


Perlahan tangan Dave turun mengusap bibir Imelda dengan lembut, Imelda sudah tak bisa berkonsentrasi lagi, pikiran liarnya tiba-tiba muncul begitu saja.


Dave semakin mendekatkan wajahnya mendekat ke arah wajah Imel, lebih dekat dan semakin dekat bahkan Imelda bisa merasakan terpaan hangat nafas yang keluar dari lubang hidung Dave.


Secara naluri Imelda memejamkan matanya menanti apa yang akan Dave lakukan terhadapnya, dan benar saja tiba-tiba Imelda merasakan bibirnya di kecup perlahan oleh Dave, begitu lembut dan berhati-hati, bahkan Imelda merasakan sentuhan lembut bibir Dave di bibirnya.


Keduanya saling menikmati ciuman mereka, hingga akhirnya Imelda malah bersikap usil dengan menggigit bibir Dave dengan keras, membuat Dave mendesis kesakitan dan langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Imelda.


"Kenapa kau menggigitku?" Dave meraba bibirnya yang terasa perih. Dave yakin betul kalau bibirnya pasti sudah bengkak.


Imelda hanya tersenyum saja sambil mengusap bibirnya yang basah karena masih tersisa air liur milik Dave.


"Dasar dokter gadungan" Dave menarik pipi Imelda dengan gemas lalu mengacak-acak rambut kekasihnya.


"Awas nanti, kau tidak akan aku lepaskan" Dave mulai menggelitiki tubuh Imelda hingga Imelda tertawa geli akan tingkah Dave. Keduanya saling tertawa hingga perut keduanya sakit.


Setelah cukup larut, Dave memutuskan untuk kembali pulang ke apartemen miliknya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yang minta Sesil hamil, nanti ya sabar😁


Tuliskan komentar kalian, jangan pedit😁

__ADS_1


Kalau pedit nanti Srayu buat Sesil bernasib sama seperti maminya heheheh✌️


__ADS_2