Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Merasa Bersalah


__ADS_3

Dua hari terakhir Nathan sangatlah sibuk bekerja, bahkan Nathan selalu lembur dan pulang malam, siang ini Nathan sedang berkutat dengan file yang menumpuk di meja kerjanya, dan nathan juga beberapa kali mengecek email, email proposal kerja sama yang sudah di ajukan 2bulan lalu belum mendapat respon dari pihak Carnal Group.


Namun entah mengapa sedari kemarin nathan merasa ada yang tidak enak, seolah olah terjadi sesuatu kepada gadis kecilnya, padahal Nathan sudah meninggalkan kartu nama berisi nomor ponselnya, tapi gadis kecilnya tak kunjung memberinya kabar.


Batin dan hati nathan terus bergejolak,perasaan tidak tenang semakin menyelimuti relung batinnya, Nathan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 11.30am, sudah waktunya makan siang.


Nathan menutup file yang sedang di kerjakan dan mematikan laptopnya.


Nathan mengambil jas yang tersimpan di kursi kerjanya, kemudian nathan berjalan keluar dari ruangannya, di sana nampak emilia sekretarisnya yang masih sibuk bekerja.


"Mil, saya akan makan siang di luar, dan mungkin akan sedikit datang terlambat, jadi jika ada tamu yang mencari saya, kamu segera hubungi saya" setelah mengatakan hal tersebut, Nathan berlalu dari meja kerja emilia, Rasanya nathan sudah tidak bisa menahan gejolak batinnya, jadi nathan memutuskan untuk memanfaatkan waktu makan siang untuk menemui sesil.


Nathan berjalan menuju parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil, kemudian nathan mulai menyalakan mesin mobilnya, seketika itu nathan melihat ke arah jok belakang mobilnya, terdapat paper bag berisi pakaian yang sudah di pinjamkan sesil kala hujan saat itu, pakaian itulah yang akan nathan gunakan untuk bisa menemui sesil, tidak mungkin nathan datang tanpa alasan untuk bertemu dengan sesil, nathan takut mendapat penolakan dari papinya sesil.


Nathan menjalankan mobilnya menuju perumahan sesil, jalanan nampak lengan pada jam makan siang seperti ini, jadi nathan bisa megemudikan mobilnya dengan leluasa.


Mobil yang nathan kendarai memasuki area halaman rumah sesil, dengan ragu ragu nathan memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu utama, setalah tadi nathan di sambut oleh penjaga gerbang rumah sesil.


Nathan turun dengan membawa paper bag di tangannya. Dengan sedikit keraguan nathan berjalan menuju pintu utama dan membunyikan bel rumah sesil. Tak lama kemudian seorang pelayan membuka pintu tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu tuan" dengan ramah pelayan tersebut menyapa nathan.


"Maaf bi, nona sesil apakah ada di rumah? saya ingin mengembalikan barang miliknya" nathan mengangkat paper bag yang sedari tadi di pegangnya.


"Nona kebetulan sudah tiga hari ini sedang sakit tuan, mari silahkan masuk" pelayan tersebut mempersilahkan nathan untuk masuk ke dalam rumah.


Ketika baru beberapa langkah nathan memasuki rumah sesil, nampak nyonya anne baru keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi makanan.


Pandangan mata anne tertuju kepada nathan.


"Selamat siang nyonya" nathan membungkuk memberi salam hormat kepada anne.


"Selamat siang nak, pasti kau kemari untuk menengok sesil ya? kebetulan sesil sedang tidur dan ini sudah waktunya makan siang, bisakah kau membawa nampan ini dan menemaninya makan siang nak" anne memberi kesempatan pada nathan untuk menemani sesil makan siang, karena anne mengira nathan adalah kekasih dari cucunya.


Awalnya nathan ingin menolak, karena nathan takut sesil akan menolak kehadiran dirinya, namun karena merasa tidak enak kepada nyonya anne, akhirnya nathan mengangguk dan menyetujui usulan dari anne, nathan mengambil alih nampan berisi makanan dari tangan anne kemudian nathan membawa nampan tersebut menuju kamar sesil dengan di antar oleh pelayan rumah.


Pelayan membantu membukakan pintu kamar sesil karena kedua tangan nathan membawa nampan yang berisi makanan.


Nathan berjalan memasuki kamar sesil, terlihat sesil masih terlelap di atas ranjangnya dengan wajah yang cukup pucat dan infus yang terpasang di tangan sebelah kanan.


Nathan berjalan mendekat ke arah ranjang sesil, dan meletakkan nampan berisi makanan di atas meja kecil samping tempat tidur sesil.

__ADS_1


Dengan perlahan nathan duduk di ranjang sesil dan menatapi wajah pucat sesil, nathan benar benar merasa bersalah, sesil bisa sakit seperti ini pasti karena kemarin dirinya mengajak sesil bermain air hujan.


Tangan nathan terulur mengusap dahi sesil yang di penuhi oleh keringat dingin.


Kerena usapan tangan nathan , sesil menjadi terbangun, sesil mengerjapkan matanya beberapa kali dan samar samar melihat nathan sedang duduk di tepi ranjang, sesil menggosok matanya supaya pandangan matanya menjadi jelas. Dan saat di rasa sudah jelas sesil melihat nathan duduk di sampingnya.


"Ini pasti mimpi, mengapa dia juga datang ke dalam mimpiku" sesil berkata sambil menggelengkan kepalanya.


Nathan hanya tersenyum melihat tingkah sesil, kemudian nathan mengusap pipi sesil menggunakan telapak tangannya.


"Gadis bodoh, ini bukan mimpi"


"Astaga, kenapa kau bisa ada di sini" seketika sesil melebarkan matanya karena terkejut melihat nathan sudah duduk di tepi ranjangnya.


"Aku hanya ingin mengembalikan baju yang sudah kau pinjamkan, tapi ternyata kau sedang sakit" Nathan menatap mata sesil begitu dalam, seolah olah ada penyesalan dalam diri nathan yang ingin di sampaikan kepada sesil.


"Ini sudah waktunya makan siang, ayo bangunlah makan" nathan membantu sesil untuk bangun dan nathan menyandarkan sesil di kepala ranjang.


Nathan mengambil nampan berisi makanan yang sudah di bawanya tadi, kemudian nathan mengambil makanan tersebut dengan sendok dan menyuapkannya ke dapan mulut sesil.


"Ayo buka mulutmu"


"Tidak usah, aku makan sendiri saja" sesil berusaha menolaknya.


Kali ini sesil tak bisa menolaknya lagi, sesil membuka mulutnya dan memakan makanan yang di berikan oleh nathan untuk dirinya.


Entah mengapa sesil merasa sangat senang mendapat perhatian dari nathan seperti ini.


Nathan menyuapkan makanan dengan telaten hingga makanannya habis, kemudian nathan menyuapkan buah apel sebagai makanan penutupnya, setelah memakan beberapa potong buah apel, nathan mengambilkan obat dan meminumkannya kepada sesil.


"Sil, kenapa kau tidak menghubungiku kalau kau sakit" seru nathan


"Ah iya, aku lupa ! sepertinya ponselku mati, karena semenjak aku sakit aku tidak memegang ponselku" sesil menepuk jidatnya dan mengambil tas jinjing yang terletak di atas meja.


Kemudian sesil mengambil ponselnya dari dalam tas, dan benar saja ponselnya sudah mati karena habis batrei.


"Tuh kan mati" sesil memperlihatkan ponselnya yang sudah mati kepada nathan.


"Dasar ceroboh" nathan merebut ponselnya dari tangan sesil.


"Dimana kau menyimpan charge nya, biar aku charge ponselmu" sambung nathan lagi.

__ADS_1


"Di dalam laci meja" sesil menunjuk laci meja kecil yang terletak tak jauh dari lemari pakaian.


Nathan berjalan menuju meja dan membuka lacinya, kemudian nathan mengambil charge ponsel sesil dan mencolokkannya kedalam saklar yang berada tepat di atas lampu tidur kamar sesil.


Setelah terhubung nathan menyalakan ponsel sesil, tampilan layar pertama yang muncul adalah foto sesil di sidney, sangat manis dan menggemaskan, nathan tersenyum di buatnya.


Kemudian nathan mencoba membuka ponsel sesil, dan benar saja ponselnya tidak terdapat sandi.


"Dasar gadis ceroboh" gumam nathan dalam hati.


Kemudian nathan mengetikkan nomor ponselnya dan mencoba miss call satu kali, setelah nomor sesil masuk nathan mematikannya.


"Nath, kenapa lama sekali" sesil melihat ke arah nathan dengan perasaan kesal.


Nathan meletakkan ponselnya di meja dan kembali duduk di samping sesil.


Terlihat sesil menguap beberapa kali, pasti ini efek samping dari obat yang di minumnya, nathan membantu sesil untuk kembali berbaring.


"Tidurlah" nathan menyuruh sesil untuk tidur, tangannya terulur mengusap puncak kepala sesil.


Sesil yang di perlakukan begitu manis menarik sudut bibirnya menjadi senyum samar.


"Terimakasih" sesil dengan suara rendah mengucapkan terimakasih kepada nathan, bukan nathan tidak mendengarnya, tapu dia hanya pura pura tak mendengar dan tetap acuh.


Setelah cukup lama sesil sudah kembali terlelap, nathan menatap wajah sesil dengan seksama kemudian nathan mengecup puncak kepala sesil lama.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2