Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Persiapan


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, kini sesil dan nathan sedang di sibukkan dengan acara pertunangan mereka, walaupun acaranya sederhana, karena mereka memutuskan untuk mengadakan acaranya di salah satu villa milik papinya di ungaran. Karena pemandangan di sana saat malam hari memang indah, terletak di atas bukit dengan view langit berbintang itu menjadi pilihan sesil.


Mereka hanya akan mengundang sahabat dan kerabat terdekat mereka saja.


Kini Sesil yang di temani oleh nathan sedang berada di salah satu boutique langganan keluarga sesil, sesil sedang melakukan fitting baju yang akan mereka kenakan untuk di kenakan saat acara pertunangan mereka nanti.


Sesil sangat senang karena nathan membebaskan pilihan baju yang akan di kenakan oleh sesil nanti, Sesil kembali mengingat saat dirinya datang kemari bersama dean, kala itu dean memaksa dirinya membeli baju yang sama sekali tidak sesil sukai.


Kini sesil sedang duduk menunggu di sofa, karena nathan sedan di ukur di dalam salah satu ruangan.


Sesil mebolak-balikkan majalah yang di pegangnya.


"Sesil" suara wanita memanggil dirinya, sesil merasa sangat familiar dengan suara yang memanggilnya barusan, sesil mengalihkan pandangannya menatap wanita yang berdiri di hadapannya.


Sesil melihat dari ujung kaki hingga saat sesil melihat wajah wanita paruh baya yang kini berdiri tepat di hadapannya, matanya terbuka lebar.


Sesil tidak menyangka akan bertemu dengan wanita ini lagi, sekian puluh taun sesil tidak pernah melihatnya lagi, dan tak di sangka saat ini dia bertemu kembali. Sesil kira, kemarin saat beberapa hari lalu melihat tasya berada di area pemakaman, itu sesil salah lihat, ternyata memang benar itu tasya


"Tante?" sesil beranjak berdiri dari duduknya, rasanya dia cukup takut, namun sesil sekuat tenaga mengendalikan perasaannya.


"Kau sudah dewasa?" Wanita paruh baya itu tersenyum sinis ke arah sesil.


Sesil membungkam seribu bahasa, bayang masa kecilnya yang sering mendapat perlakuan kasar darinya berputar di kepala dan pikirannya.


Bahkan wanita yang kini berdiri di hadapannya juga lah yang menjadi penyebab maminya meregang nyawa. Kematian maminya membuat sesil mengalami trauma, karena sesil melihat sendiri maminya meninggal saat acara resepsi pernikahannya dulu.


Tubuh sesil bergetar hebat, bahkan beberapa keringat dingin mulai membasahi dahinya.


"Kau sangat mirip dengan mami ya?" tasya mengelus pipi sesil dengan telapak tangannya, namun tak di sangka tasya mencengkram kedua pipi sesil dengan telapak tangannya.


"Bocah sial, hm rasanya aku senang sekali kau sudah kembali ke sini, aku jadi tidak perlu bersusah payah mencarimu ke sidney" Suara tasya terdengar begitu mengerikan di telinga sesil.


"Tante lepaskan! Sakit!!" sesil meronta dan mencoba melepaskan tangan tasya dari pipinya, namun tasya semakin erat mencengkram pipi sesil


"Cih, ini tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku, penderitaanku selama berpuluh tahun, dan rasa kehilanganku akibat mamimu yang merebut swan dari sisiku, aku juga akan menghancurkanmu sama seperti aku menghilangkan mamimu dari muka bumi ini" tasya tertawa sarkas


"Lepaskan, apa yang anda lakukan?" Nathan menarik tangan tasya menjauh dari pipi sesil.


"Sil kau tidak apa-apa?" Nathan menyentuh pipi sesil yang terlihat tapak jari tangan tasya. Sesil gemetar hebat, kedua kakinya tak mampu lagi menopang berat badannya, sesil jatuh terduduk di sofa.


"Saya tidak perduli siapapun anda, jika anda berani menyakiti calon istri saya, anda akan berurusan dengan saya" Suara nathan terdengar begitu keras, bahkan beberapa pengunjung menoleh ke arahnya dan menjadi bahan tontonan.


Dean yang baru saja memasuki boutique melihat ke arah sumber keributan.

__ADS_1


Dena berjalan tergesa-gesa menghampiri nathan.


"Jaga bicaramu nath" Dean menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah nathan.


"Mam, mama baik-baik saja?" Dean mengalihkan pandangannya ke tasya, dan tasya menganggukkan kepalanya.


Sesil melebarkan matanya, sesil benar-benar tidak menyangka kalau dean adalah anak dari tasya.


"Oh, jadi ini ibumu? Ibu dan Anak kelakuannya sama ! Sama-sama tidak bermoral!" seru nathan.


"Nyonya wira yang terhormat, jika anda tidak suka putra anda di tolak oleh sesil, bukan seperti itu cara anda memperlakukan sesil, dengan sikap anda yang seperti itu, membuat kita semua tau bahwa dean bisa kasar seperti itu pasti atas didikan anda" Suara nathan terdengar begitu sinis


"Mam, maksudnya apa ini?" Dean menatap tasya


Tasya terbelalak mendengar penuturan dari nathan, tasya memang mendengar kalau dean akan bertunangan, dan acara pertunangannya batal, tapi tasya tidak tau jika gadis yang di sukai oleh dean adalah sesil, karena saat itu tasya sedang mengurus agency yang berada di luar kota.


Dan lagi, tasya baru menikah dengan ayah dean sekita lima tahun, meskipun dean adalah anak tirinya, tapi tasya selaku berlaku baik dan memanjakan dean, maka dari itu dean juga sangat menghormati dan menyayangi tasya seperti ibu kandungnya.


"Mama hanya tidak terima gadis ini sudah menolakmu" ujar tasya, tasya memang sangat pandai berakting, padahal alasan utamanya jelas bukan karena dean, tapi kini tasya memiliki ide untuk membuat sesil menderita dengan memanfaatkan dean.


"Sil, maafkan mama ku, mamaku hanya merasa kasian denganku, karena acara pertunangan kita di kacaukan oleh dia ! " Dean melirik ke arah nathan, dan dean juga berusaha meraih tangan sesil, namun dengan cepat nathan menangkis tangan dean.


"Jangan sentuh sesil, dia calon istriku, sebulan lagi kami akan menikah, dan lusa kami akan menggelar acara pertunangan, jadi aku tekankan sekali lagi, jangan berani mendekati sesil lagi atau menyakitinya, atau kau akan berurusan denganku !" Nathan menarik tangan sesil, mengajaknya meninggalkan boutique itu.


"Tenanglah, mama akan bantu kamu dapatkan gadis itu ! jika kamu tidak bisa memilikinya maka orang lain juga tidak boleh memilikinya" Tasya mengusap pundak dean, dan menangkannya.


Sementara sesil kini duduk di dalam mobil nathan, sesil diam saja, wajahnya terlihat begitu murung.


Nathan mencoba beberapa kali mengajak sesil berbicara namun sesil diam saja tidak menjawab.


Awalnya nathan ingin mengantar sesil pulang, namun sesil menolak pulang, sesil meminta nathan untuk mengantarnya ke kantor papinya.


Mobil yang nathan kendarai tepat berhenti di depan lobi utama kantor, sesil dengan gontai turun dari mobil.


Nathan hanya bisa mengantar sesil sampai lobi, karena nathan ada meeting penting hari ini.


Sesil menekan tombol lift, dan saat lift terbuka sesil langsung masuk dan naik ke lantai 17, tepat dimana ruangan papinya berada.


Saat pintu lift terbuka, sesil berjalan menyusuri koridor untuk menuju ruangan papinya.


Sesil sangat terkejut melihat sasha yang duduk di samping meja galuh sekretaris papinya. Meja galuh nampak kosong, sepertinya galuh sedang tidak masuk kantor.


Sesil mengacuhkan sasha, sesil berjalan melewati meja sasha, namun sasha menghentikan sesil.

__ADS_1


"Mau kemana kau? kenapa kau ada di sini!" Sasha melirik penuh curiga ke arah sesil.


Sesil hanya menghela nafasnya dengan kasar.


"Apalagi ini, kenapa ada dia di sini" gumam sesil dalam hati, sesil mengacuhkan sasha dan tangannya hendak membuka pintu, namun di cekal oleh sasha.


"Dasar gadis miskin, kau tidak boleh masuk sembarangan ke ruangan CEO, semua tamu harus melewati ijin dariku, karena aku adalah sekretaris pribadi CEO di sini" sasha berkata dengan sombongnya.


Sesil hanya diam saja, dia sangat malas dan tidak bernafsu untuk meladeni sasha saat ini. Kehadiran tasya sudah membuat sesil cukup terguncang.


Swan yang mendengar keributan di luar ruangan, menghentikan aktifitasnya, sean berdiri dari kursi dan berjalan mendekat ke arah pintu, saat swan membuka pintu, terlihat sesil yang berdiri dan sedang di maki oleh sasha.


"Sayang ?" swan memanggil putrinya yang wajahnya terlihat murung.


"Sayang, ayo masuklah" swan menarik tangan sesil untuk masuk ke dalam ruangannya kemudian swan menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat. Swan membimbing sesil untuk duduk di sofa.


"Maafkan sekretaris baru papi, dia tidak tau kau ini putri papi, maklum dia baru seminggu di sini, sementara galuh sedang bercuti" imbuh swan, swan mengusap puncak kepala putrinya.


Sesil yang sedang merasa risau langsung menghampur ke dalam pelukan papinya.


Sasha yang merasa penasaran, mengintip ke dalam dengan membuka sedikit pintu, matanya terbuka lebar ketika melihat sesil sedang di peluk oleh swan, senyum di bibir sasha seketika mengembang, dia pikir sesil adalah simpanan bosnya, dan sasha juga beberapa kali mengambil foto sesil yang sedang di peluk oleh swan.


Setelah mendapat beberapa foto, sasha menutup kembali pintunya, dan kembali ke meja kerjanya.


Rasanya dia sudah tidak sabar ingin cepat menunjukkan foto sesil kepada nathan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2