Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Siapa Dia..?


__ADS_3

Sesil menggeliat dari tidurnya, matanya mengerjap beberapa kali mencoba mengumpulkan kesadarannya, sesil hendak menggerakkan badannya untuk sedikit meregangkan ototnya, tapi tubuhnya susah bergerak karena tangan nathan masih melingkar sempurna di perutnya.


Sesil menoleh ke arah samping dan melihat nathan masih tertidur pulas di sana.


Sesil perlahan melepaskan tangan nathan yang masih melingkar di perutnya, perlahan sesil meletakkan tangan nathan di guling yang berada tepat di sampingnya.


Setelah berhasil lepas, sesil perlahan bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Setelah membasuh wajahnya dan menyikat gigi, sesil mengucir rambutnya dan berjalan keluar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, karena di rumah barunya belum ada pelayan.


Sesil berjalan menuruni anak tangga untuk menuju dapur, setelah sampai dapur sesil membuka melihat ke sekeliling dapur, nampak begitu di tata rapih, pandangan mata sesil beralih ke arah kulkas berpintu dua yang terletak di pojok dapur, sesil tidak yakin kalau di dalam kulkas sudah ada bahan makanan yang bisa di olah.


Namun untuk menjawab rasa penasarannya, sesil berjalan mendekat ke arah kulkas lalu membukanya, betapa terkejutnya sesil saat membuka kulkas ternyata kulkas tersebut sudah penuh dengan berbagai macam sayuran, buah dan minuman ringan di sana.


Sesil benar-benar tidak menyangka nathan akan mempersiapkan hingga sesuatu yang sekecil ini.


Sesil mengambil beberapa beberapa potong daging dan sayuran.


Setelah mengambil beberapa keperluan bahan makanan, sesil memulai acara memasak sarapan paginya.


Tidak seperti pada umumnya jika sarapannya nasi goreng, sandwich atau roti-rotian, sesil memilih menggoreng daging dan tempe, serta membuat sayur sop kentang kesukaannya tidak lupa pula sesil membuat sambal tomat.


Sesil terlebih dahulu mencuci beras dan menanak nasi, setelah nasi di masak, sesil kemudian mulai menggoreng daging ayam yang sudah di beri bumbu olehnya.


Namun tiba-tiba saja sesil terkejut saat ada tangan yang melingkar sempurna di perutnya.


"Hm, kenapa kau meninggalkan aku sepagi ini" Nathan memeluk sesil dan meletakkan dagunya di pundak sesil, nathan mencium bau harum rambut sesil yang membuatnya selalu ingin memeluknya dn tak ingin melepaskannya.


"Nath, lepaskan ! nanti ayamnya gosong" Sesil mengecilkan api kompor, setelah memastikan api kompornya kecil, sesil berusaha melepaskan tangan nathan dari perutnya.


"Nath ayolah ! Nanti keburu siang, kan kita juga mau pergi berlibur? di tambah juga belum mengemas barang yang akan kita bawa" ucap sesil


"Hm baiklah" Nathan mengecup kepala bagian belakang sesil, lalu dia melepaskan pelukannya.


"Anak baik, tunggulah, masakannya akan segera siap" Sesil tersenyum dan melanjutkan aktifitas memasaknya.


Nathan hanya bisa tersenyum lalu dia mendudukkan diri di meja makan yang terletak tak jauh dari tempat sesil memasak, nathan tak hentinya menatap ke arah sesil yang sedang sibuk memasak, bahkan beberapa kali sesil terlihat menyeka keringat di dahinya.


Setelah hampir sejam lamanya sesil berkutat dengan spatula, panci dan beberapa peralatan masak lainnya, akhirnya masakan rumahan ala sesil sudah selesai.


Sesil membawa satu persatu masakannya dan menghidangkan di atas meja makan, nathan pun beranjak bangun untuk membantu sesil mengambil beberapa piring makanan yang masih terletak di dapur.


"Tidak usah, biar aku saja" tolak sesil.


"Suami istri itu harus saling membantu" tukas nathan, nathan mengacuhkan sesil dan membawa sepiring tempe serta ayam goreng di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membawa semangkuk sambal tomat, kemudian nathan membawanya dan meletakkan di atas meja makan, sedangkan sesil sedang menyiapkan secangkir teh panas untuk nathan.


Setelah semua terhidang di atas meja, sesil mengambilkan nasi dan menaruh di piring nathan, nathan yang melihat sesil melayaninya makan hatinya terasa begitu hangat dan bahagia, sepertinya perlahan sesil sudah bisa menerimanya sebagai suaminya.


Mereka berdua menikmati sarapan paginya bersama, bahkan seusai sarapan pagi sesil dan nathan berbincang santai dengan nathan.


Suasana begitu hangat di rasakan oleh sesil maupun nathan.


"Nath, memangnya mau berangkat jam berapa ke sana?" Ucap sesil lagi.


"Hm..." Nathan melirik ke arah jam dinding yang berada di ruang makan, waktu menunjukkan pukul 09.04am.


"Terserah kau saja, oh iya semalam om sean memberi kita tiket honeymoonth ke maldiv, tapi aku menolaknya, karena kan kau meminta ke rembang" imbuh nathan.


"Oh.." Sesil membulatkan mulutnya


"Aku ingin ke rembang, di sana ada resort pribadi papi, papiku bilang dulu pertama kali papi dan mami ku pergi ke luar kota ya ke sana, meskipun kala itu hanya urusan pekerjaan, tapi berawal dari resort itulah akhirnya papi bisa menikah dengan mami" Sesil tersenyum mengingat semua cerita papinya.


Nathan menganggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan dari sesil, Mungkin tujuan sesil selain ingin mengenang memories kedua orang tuanya, mungkin sesil juga ingin kisah cintanya juga abadi seperti kedua orangnya yang masih terus menjaga cinta mereka meskipun salah satunya sudah lebih dulu menghadap Tuhan.


"Baiklah, aku jadi tidak sabar ingin cepat tiba di sana" Ucap nathan, lalu nathan beranjak berdiri menarik tangan sesil untuk segera bersiap-siap berangkat liburan.


Sesil dan nathan kembali lagi ke dalam kamar, sementara sesil menyuruh nathan mandi terlebih dahulu dan dirinya mengemas beberapa pakaian dan memasukkan ke dalam koper.


Sesil melirik ke arah salah satu koper yang berisi kado dari imel.


Tiba-tiba sesil ingin membawa gaun pemberian imel dalam acar liburannya, tidak ada salahnya nanti sesil akan memakainya dan membuat nathan senang.


Sebelum membuka kopernya, sesil melihat ke arah kamar mandi, sepertinya nathan masih lama, dengan cepat sesil membuka koper tersebut dan membuka kotak kado serta langsung mengambil gaun itu dam dengan cepat sesil meletakkan di dalam kopernya di bagian paling bawah.

__ADS_1


Sesil terkekeh saat aksinya berjalan mulus, wajah sesil merona mengingat gaun itu yang begitu transparan.


Saat sesil masih tersenyum mengingatnya, tiba-tiba nathan keluar dari kamar mandi dan sudah rapih mengenakan pakaian yang rapih.


Nathan mengernyitkan dahi saat melihat sesil tersenyum sendiri bahkan dia tidak menyadari nathan yang sudah berdiri tepat di sampingnya.


Tiba-tiba nathan menempelkan telapak tangannya di dahi sesil, membuat sesil terkejut.


"Kau baik-baik saja?" Imbuh nathan sembari memiringkan kepalanya menatap heran sesil.


"Baik-baik saja" Sesil dengan cepat menutup kopernya dan bergegas mandi.


***


Nathan sedang sibuk mengemudi mobilnya sedangkan sesil terlihat asik berbalas pesan dengan imel, bahkan suara cempreng imel beberapa kali membuat nathan maupun sesil menggosokkan jarinya di daun telinga mereka.


Setelah menempuh perjalan panjang dan memakan waktu beberapa jam, kini mereka sudah sampai di depan pintu gerbang resort pribadi papinya, bahkan resort di samping resort pribadi terdapat hotel milik swan.


Setelah membunyikan beberapa kali klakson mobilnya, akhirnya sang penjaga resort membuka pintu gerbang dan menyambut kedatangan sesil dan nathan dengan ramah.


"Nona, Tuan muda, selamat datang" Pelayan tersebut menyambut hangat kedatangan mereka.


Nathan dan Sesil pun menjabat tangan penjaga vila tersebut.


"Silahkan Tuan, Nona, semuanya sudah saya siapkan, jika ada keperluan jangan sungkan langsung menghubungi saya, karena semua pelayan dan penjaga tinggal di paviliun belakang" Kemudian penjaga tersebut undur diri dari hadapan nathan untuk mengantar koper milik sesil dan nathan.


Nathan berdecak kagum dengan interior resort pribadi milik mertuanya tersebut, bahkan rasanya nathan sangat kagum dengan pemandangan di sini.


Sesil berlari menaikki anak tangga menuju kamar utama resort ini, sesil langsung membuka tirai kamar, dan saat tirai kamar terbuka pemandangan di hadapan mereka membuatnya berdecak kagum, hamparan laut yang begitu luas terpampang begitu cantik di matanya.


"Nath, lihat bagus banget kan? aku tidak salah pih tempat" Sesil bersorak girang bahkan dia terlihat meloncat-loncat saking senangnya.


"Hm" Nathan hanya berdehem dan mendudukan dirinya di ranjang kamar, nathan melepaskan sepatu sneakers yang membalut di kedua kakinya.


"Nath, tapi sepertinya aku sangat lelah, bolehkan aku tidur siang terlebih dahulu sebelum nanti kita berjalan-jalan dan melihat sunset?" Sesil berucap dengan begitu manjanya, membuat nathan tak bisa lagi menolak keinginan istrinya, setelah mendapat persetujuan dari nathan, sesil langsung melemparkan dirinya ke atas kasur dan memeluk guling dengan erat, dan tak butuh waktu lama sesil sudah tidur dengan begitu lelap.


Saat nathan sedang menatapi wajah teduh istrinya, tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar, dan satu pesan masuk dari swan.


Swan meminta nathan untuk mengecek keadaan hotel di sini, bahkan swan sudah menghubungi manager hotel untuk menemani nathan berkeliling nanti.


"Hm masih ada waktu" gumam nathan dalam hati, setelah melihat masih memiliki cukup waktu, nathan lantas membalas pesan dari swan dan menyanggupi permintaan swan.


Nathan kembali mengenakan sepatu sneakersnya dan berjalan menuju lantai bawah.


Dan benar saja tak lama kemudian nathan di jemput langsung oleh manager hotel dengan sebuah mobil mewah.


Setelah sampai di hotel, nathan berkeliling dan melihat kondisi hotel tersebut di temani oleh manager hotel.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, bahkan nathan tak menyadari bahwa waktu sudah menunjukan pukul 03.45pm.


Nathan segera menuntaskan pekerjaannya dan mengevaluasi apa saja yang perlu di benahi.


Nathan dengan terburu-buru kembali lagi ke resort, karena nathan ingin mengajak sesil menikmati sunset.


Nathan terburu-buru kembali lagi ke kamar, dan saat memasuki kamar sesil nampak sedang duduk melipat kedua tangannya di perut.


"Sudah bangun?" Sapa nathan


Namun sesil diam saja tidak merespon ucapan nathan.


"Sayang, ayo kita ke pantai" Nathan menarik tangan sesil, namun dengan cepat sesil mengibaskan tangan nathan.


Dahi nathan membentuk lipatan di dahinya, nathan tidak mengerti mengapa sesil tiba-tiba mengambek.


"Aku tadi di minta papi untuk mengecek keadaan hotel, karena kau sedang tidur makannya aku pergi tidak pamit, karena aku tak tega membangunkanmu" imbuh nathan.


Seketika wajah sesil yang muram, berubah menjadi sedikit membaik.


"Hm.." sesil berdehem dan langsung merangkul tangan nathan, rasanya sesil menyesal sudah berlikir yang tidak-tidak tentang nathan.


"Dasar bocah kecil" Nathan dengan gemas mengacak-acak rambut sesil.


"Ayo kita pantai" Nathan menggandeng tangan sesil dan membimbingnya berjalan ke luar villa.

__ADS_1


Karena jarak villa dengan pantai sangat sekat, mereka memutuskan untuk berjalan kaki ke sana.


Sesil melepaskan pegangan tangan nathan dan berlari ke bibir pantai.


Sapuan ombak di kedua kaki sesil membuat sesil berjingkrak kegirangan.


"Jangan terlalu ke tengah" Nathan berteriak ke arah sesil yang sedang asik bermain ombak. Sedangkan Dirinya duduk di tepian pantai menikmati angin sore hari yang menerpa wajahnya.


Tiba-tiba pandangan mata nathan tersita dengan seorang gadis yang juga sedang bermain air tak jauh dari sesil.


Sepertinya nathan mengenalnya. Nathan menyipitkan matanya melihat gadis itu, tapi belum jelas penglihatan nathan, gadis itu sudah keburu pergi dari sana.


"Nath, kemari..." Sesil melambaikan tangannya ke arah nathan. Melihat sesil yang begitu lincah bermain air, nathan juga tergerak untuk menemaninya.


"Nath, ayo kita membuat istana pasir" Sesil mulai mengorek pasir dan membentuknya. Bahkan raut wajahnya terlihat begitu ceria, nathan sebenarnya belum pernah melakukan hal ini, tapi demi istrinya nathan rela bermain permainan yang menurutnya kekanak-kanakan.


Mentari mulai menampakkan sinar jingganya yang begitu indah, nathan mengajak sesil berfoto mengabadikan moment ini, bahkan beberapa kali nathan mengambil foto sesil yang sedang asik membuat istana pasir di hiasi dengan sinar mentari yang sangat cantik.


Sinar mentari yang begitu indah berganti dengan suasana gelap, dengan taburan bintang di langit.


"Sayang ayo kita pulang, ini sudah gelap" Nathan mengusap puncak kepala sesil, sesil mengerucutkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya.


"Besok kita bisa kemari lagi sayang" Suara nathan terdengar begitu lembut di telinga sesil, membuat sesil mengangguk menyetujui permintaan nathan.


Saat sesil hendak beranjak berdiri, malah nathan berjongkok di hadapannya, melihat nathan berjongkok membuat sesil mengernyitkan dahinya karena terkejut.


"Ayo, naiklah" Ucap nathan, sesil tersenyum girang saat nathan akan menggendongnya, dengan cepat sesil langsung naik ke punggung nathan kemudian mereka berdua berjalan kembali ke resort.


"Nath, aku lapar, aku mau makan di hotel papi" Sesil merengek manja di balik punggung nathan.


"Tapi tubuhmu kotor, lebih baik kita kembali ke resort dulu dan mandi, baru setelah mandi kita ke hotel ya"


"No, pokoknya aku mau sekarang" Rengek sesil lagi, membuat nathan menggelengkan kepalanya, dan pasrah menuruti permintaan istrinya.


Nathan menurunkan sesil saat tiba tepat di depan pintu restoran hotel yang terletak di lantai dasar.


Kemudian mereka memasuki restoran tersebut, meskipun sesil masuk dengan keadaan kotor, namun sang manager restoran menyambut hangat kedatangan sesil, karena memang semua staf di sini mengenal sesil dengan baik.


Sesil terlebih dahulu berpamitan ke toilet karena dia ingin buang air kecil, sedangkan nathan mencari tempat duduk.


Dan saat nathan baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi, tiba-tiba ada yang menyapa dirinya.


"Nathan..?" Suara seorang gadis yang memanggil nama nathan membuat nathan menoleh ke arahnya.


Seketika nathan membuka matanya lebar saat melihat gadis yang mengenakan celana hot pen di lengkapi dengan kaos yang membentuk lekuk tubuhya yang indah.


"Nathan kan? Apa kabar?" Bahkan Gadis tersebut tak sungkan langsung memeluk nathan, setelah memeluk nathan, gadis itu langsung duduk di kursi kosong di samping nathan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2