Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Kemarahan Imel


__ADS_3

"Maaf" Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulu Nathan saat ini.


Nathan mendekap tubuh mungil istrinya dengan begitu erat. Adibjo hanya bisa melihatnya saja. Dia tidak ingin mendahului apa keputusan Sesil. Semua jawaban Sesil akan di terima Adibjo dengan lapang dada meskipun itu sebuah keputusan yang akan membuat putranya kehilangan istri sebaik Sesil.


Sesil masih terdiam di dalam dekapan Nathan, Dia membiarkan suaminya menumpahkan semua kesedihannya saat ini. Sesil paham betul kalau suaminya sedang menyesali apa yang sudah terjadi saat ini.


Air mata Nathan terasa membasahi leher jenjang Sesil.


Sedangkan Nathan begitu takut akan kehilangan gadisnya, sikap diam serta ketenangan istrinya membuat Nathan melepaskan pelukannya dan memberanikan diri menatap istrinya kedua bola mata istrinya.


"Sa-sayang" Nathan membelai lembut pipi istrinya, dia sangat menyesal atas sikapnya selama ini terhadap istrinya


"Maaf saja tidak cukup untuk semua kesalahan yang sudah aku perbuat, aku tau penyesalanku tidak akan merubah apapun, termasuk mengembalikan buah hati kita" Seru Nathan dengan suara yang begitu beratnya, sedangkan Sesil masih diam setia menunggu apa yang akan suaminya katakan.


"Aku tidak pantas mendapat maaf maupun kesempatan darimu, tapi ijinkan aku katakan, aku mencintaimu dari sini" Nathan menunjuk dadanya yang semakin terasa sesak


"Sudah cukup Nath, jangan bahas itu lagi. Aku sama terpukulnya sepertimu,kehilangan buah cinta kita yang sudah setahun lamanya kita nantikan, tidak ada seorang ibupun yang tidak sakit ketika kehilangan anaknya. Tapi aku yakin Nath, Tuhan memiliki rencana lain lagi Nath. Yakinlah akan kebesaran Tuhan" Sesil menarik tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat, dia ikut menangis ketika mengingat anaknya sudah pergi sebelum sempat datang ke dunia.


"Ayo bangunlah" Sesil melepaskan pelukannya dari Nathan dan meminta Nathan untuk berdiri, Nathan dengan masih begitu bergetar mencoba beranjak berdiri sambil membantu istrinya juga berdiri namun sayangnya istrinya tak bisa menggerakkan kakinya. Membuat Nathan menjadi panik dan menggendong tubuh istrinya masuk kembali ke dalam ruangan serta langsung membaringkannya di atas ranjang.


"Kakiku kenapa Nath, kenapa susah sekali di gerakkan?" Sesil berusaha meraba kakinya dan mencubitnya namun sialnya kaki ternyata mati rasa.


"Aku akan panggil dokter, kau tunggu di sini" Nathan dengan tergesa-gesa keluar dan berteriak memanggil dokter


"Ada apa dengan menantu ayah?" Adibjo yang kala itu menunggu di depan ruangan langsung panik ketika melihat putranya berteriak memanggil-manggil dokter.


Satu orang dokter dan dua orang perawat datang tergopoh-gopoh menghampiri Nathan dan langsung masuk ke dalam. Di dalam Sesil menceritakan kondisi kakinya saat ini dan dokter langsung melakukan pemeriksaan.


"Tuan, sepertinya kaki Nona mengalami kelumpuhan akibat luka di bagian mata kakinya. Untuk mengetahui lebih jelasnya apa penyebabnya aya akan lakukan pemeriksaan dan Rontgen.


Nathan bagaikan tersambar petir di tengah musim kemarau, dia tak menyangka istrinya harus mengalami kelumpuhan. Nathan mengepalkan tangannya dan berjanji akan membuat Kintani merasakan apa yang istrinya rasakan saat ini


"Kami permisi keluar Tuan" Dokter tersebut keluar dari ruangan Sesil.


"Ini semua salahku sayang" Nathan berlutut dan menjadikan lututnya untuk tumpuannya saat ini, kedua tangannya mengatup di depan wajahnya.


"Nathan cukup, bangun !" Namun seakan tidak mendengar ucapan istrinya, dirinya masih berlutut di samping ranjang istrinya, Adibjo yang melihat putranya begitu iba. Rasanya ini hukuman yang berat untuk Nathan dari Tuhan. Membuat Nathan menyesali semua perbuatannya dengan cara seperti ini malah lebih menyakitkan di banding hukuman fisik apapun. Batin putranya pasti begitu tertekan.


Adibjo berlalu keluar kamar dan membiarkan suami istri itu menyelesaikan masalahnya. Adibjo ingin mencari minuman.


Melihat suaminya tak bergeming, Sesil berusaha bangun dan hendak turun. Nathan yang melihat hal itu langsung berdiri dan menahan istrinya.


"Sayang" Nathan mengecup kening istrinya begitu lama, tangan kanannya menggenggam tangan Sesil begitu erat.


"Nathan aku tidak apa-apa, percayalah ! Aku yakin aku bisa sembuh nanti dan aku juga yakin Tuhan juga pasti akan menitipkan lagi momongan kepada kita" Sesil berusaha menepiskan senyumnya di tengah perasaan hatinya yang begitu sakit, ingin rasanya dia menangis, tapi jika itu di lakukan olehnya akan semakin membuat Nathan terpukul.


Adibjo berjalan menyusuri koridor rumah sakit hendak menuju kantin membeli air mineral untuk putranya, namun tak sengaja dia berpapasan dengan Imelda yang kala itu baru saja datang, karena kebetulan dia jaga siang hari ini.


"Tuan Adibjo, apa kabar?" Imelda menyapa Adibjo dan mengulurkan tangannya


"Nona Louis?" Adibjo membalas jabat tangan dari Imelda


"Tuan sedang apa kemari? Siapa yang sakit tuan?"


"Menantuku terkena musibah dan sekarang di rawat di sini?" mendengar penuturan Adibjo mata Imel membulat sempurna, dia langsung menanyakan letak ruangan rawat sahabatnya itu. Dan saat menadapat jawaban dan penjelasan kalau Sesil sudah di temani oleh Nathan, Imelda malah semakin merasa penasaran dan langsung berpamitan menuju ruang rawat teman kecilnya.


Sepanjang perjalan menuju ruang rawat Sesil, imelda menghubungi Dave untuk datang kemari. Entah mengapa Imelda merasakan firasat buruk.

__ADS_1


Tanpa mengetuk pintu Imelda langsung menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut. Dirinya melihat Nathan duduk di kursi samping pembaringan Sesil dengan mata begitu sembabnya


"Kau sakit apa?"


"Imel? Aku mengalami sedikit insiden tadi. Tergelincir di tangga rumah" Sesil berusaha menepiskan senyumnya supaya sahabatnya tidak cemas


"Lalu bagaimana kondisi kandungan mu? baik-baik saja kan?" Imelda mengeluarkan stetoskop dari tas kerjanya dan langsung memeriksa kondisi Sesil.


"Aku tidak apa-apa sayang" Sesil menjauhkan tangan Imelda yang sedang memeriksanya.


"Kau yakin?" Imelda menautkan kedua alisnya


"Katakan padaku, aku bukan orang yang bodoh" Tukas Imelda


"Ini semua salahku, kesalahan bodohku membiarkan emosiku mencelakai istriku bahkan membuat calon anak kami tiada"


"Apa kau bilang hah?" Imelda langsung naik pitam dan menarik krah leher yang di kenakan oleh Nathan


"Katakan sekali lagi padaku!!" Imelda mendorong tubuh Nathan hingga Nathan hilang keseimbangan dan tersungkur ke lantai


"Kau melukai sahabatku hah?" Imelda memukul Nathan menggunakan tas jinjing di tangannya. Tas buatan salah satu brand terkenal luar negri yang memiliki berat lumayan itu terus menghujani kepala dan wajah Nathan. Seolah membiarkan Imelda meluapkan emosinya Nathan hanya pasrah saja.


Kemarahan Imelda tidak menyiksanya sama sekali, yang lebih menyiksa adalah sikap tegar dan bijak dari istrinya membuat Nathan merasa sangat rendah tak bermoral.


Seakan kalap dan tak bisa mengendalikan emosinya, Imelda meraih gelas yang berisi setengah air putih dan menyiramkannya ke tubuh Nathan.


"Lelaki brengsek!!! kenapa kau di butakan oleh egomu hah" Imelda memukul kembali kepala Nathan dengan tasnya, meluapkan isi hatinya.


Namun tiba-tiba saja tubuh Imelda di tarik menjauh.


"Lepaskan Dave, aku akan beri lelaki tidak tau diri ini sedikit pelajaran supaya otaknya menjadi sedikit lurus ! Minggir !!" Imel mengibaskan tangan Dave hingga terlepas dan hendak kembali menghajar Nathan yang terlihat pasrah


"Imel" Dave langsung menahan tubuh Imelda dari belakang dengan cara memeluknya. Kekuatan Imelda tidak bisa di remehkan begitu saja. Melihat Dave mencoba menghalangi niatnya membuat Imelda naik pitam


"Lepaskan aku!! Atau kau juga akan sama nasibnya seperti dia" Seolah tuli, Dave masih menahan Imelda dengan memeluknya.


"Sialan makan apa dia? kenapa tenaganya kuat sekali"


"Kau bilang apa bodoh? katakan sekali lagi" Teriak Imelda masih dengan usaha meronta minta di lepaskan


"Dave, bawa Imelda keluar" Kali ini Sesil ikut berbicara, sedari tadi dia ingin berbicara namun Imel terus-terusan berkata tanpa henti


Dave yang mendapat perintah dari Sesil langsung membawa paksa imelda keluar ruangan.


Di luar ruangan Imel masih tak mau menyerah dan berusaha lepas dari Dave.


"Lepaskan, atau aku akan memanggil satpam" Ancam Imelda


"Panggil saja ! Paling kau yang akan di usir dari sini karena kau membuat kekacauan!!"


"Lepaskan !! lepaskan!!"


"Dian atau aku cium kau di sini hah?" Ancam Dave


"Cium saja kalau kau berani" Tantang Imelda, Dave yang merasa tertantang langsung mengecup pipi wanita itu, karena saat ini Dave masih menahan Imel dengan cara memegang Imelda dari belakang.


Imelda membulatkan matanya dan tak menyangka Dave melakukan ini padanya, seketika Imelda diam tak bergerak, hatinya kembali berdetak hebat.

__ADS_1


Merasa Imelda sudah tenang, Dave perlahan melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Imel untuk duduk di kursi panjang.


Imel hanya patuh saja mengikuti apa yang Dave katakan, kini keduanya duduk bersebelahan di kursi panjang itu.


"Mel, dengarkan aku ! Aku tau kau menyayangi Sesil seperti kau mencintai dirimu. Tapi ada satu hal yang perlu kau tau. Kadang kehendak Tuhan tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan bukan berarti Tuhan tidak mendengar kita, tapi Tuhan hanya ingin kita meminta padanya seperti yang tertulis di Al Kitab


Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya (Mazmur 34: 17).


Imelda mendengarkan apa yang di katakan oleh Dave, tapi dia tak bisa membiarkan Nathan begitu saja. Imelda sejenak melirik ke arah Dave, dan ketika di rasa aman, Imelda beranjak dan berlari hendak masuk kembali membuat perhitungan kepada Nathan, namun sialnya Dave dengan sigap menarik tangan Imelda hingga Imelda jatuh terduduk di atas pangkuannya. Keduanya terlibat adu pandang satu sama lain. Dave melihat wajah Imelda yang cantik hanya dengan polesan sedikit make up, Sedangkan Imelda juga menatap setiap inci wajah Dave yang di rasa semakin tampan.


"Sudah menatapnya?" Suara Dave seketika membuat Imelda langsung beranjak berdiri dan mendudukkan diri di sebelah Dave namun dengan jarak satu kursi.


Dave hanya tersenyum samar dan kembali menetralkan wajahnya.


Dave sudah mendengar semua ceritanya dari ayah Nathan, karena saat perjalanan menuju sini Dave terlebih dahulu menelfon Adibjo untuk mencari tau apa permasalahan sebenarnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Hukuman terberat adalah Penyesalan dan Rasa bersalah yang menyerang hati dan pikiran kita (Itu menurut srayu sih😁)


Tidak semua hukuman harus dengan marah atau lewat kekerasan fisik, hukuman terberat itu ada di ♥️ guys😭


So, maaf buat yang kasih saran srayu nggak bisa wujudkan kemauan kalian.


Dan untuk yang bilang kisah srayu bertele-tele dan minta di pangkas "Hello ini novel bukan rumput"🤣🤣


Kalau srayu pangkas satu episode saja pasti tidak akan nyambung kan? kalau nggak suka jangan memaksa untuk membaca, bisa cari cerita lain yang lebih bagus di mangatoon ya😘


Dari awal srayu menulis ini cerita sesuai dengan otak srayu, jika kalian mau ceritanya sesuai dengan apa yang kalian mau, kalian tulis sendiri kisahnya🤣


#loh kok srayu curhat?


Heheh maaf ya🙏 Love you untuk kalian semua♥️😘**

__ADS_1


__ADS_2