
"Tunggu sebentar, aku akan membersihkan diri" Nathan mengusap lembut kepala istrinya dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket akibat keringatnya.
Hampir dua puluh menit lamanya Sesil duduk menunggu di sofa, akhirnya pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Nathan yang sudah rapih mengenakan pakaiannya. Rambutnya basah sepertinya habis di keramas, bahkan beberapa tetesan airnya jatuh mengenai pakaian depan Nathan.
Nathan berjalan mendekat ke arah kaca dengan menggosok-gosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil berwarna putih.
Setelah di rasa kandungan air dalam rambutnya sedikit berkurang, Nathan meletakkan handuk dan menyisir rambutnya. Setelah di rasa rapih Nathan juga menyemprotkan parfum di bajunya beberapa kali.
"Sayang ayo kita makan malam" Nathan mendorong kursi roda Sesil keluar kamar, saat pintu terbuka terlihat dua orang pria paruh baya yang duduk saling berhadapan dengan raut wajah yang cukup tegang.
Nathan menghela nafasnya melihat ayahnya serta papi mertuanya sepertinya sedang melakukan permainan catur yang cukup sengit.
"Ayah, kapan datang" Sesil menyapa Ayah mertuanya yang sedang sibuk menatap sebidang kotak persegi empat di hadapannya.
"Putri ayah" Adibjo menoleh ke arah Sesil yang kini duduk tak jauh darinya.
"Bagaimana keadaanmu Nak? Ayah kemari mengantarkan beberapa vitamin dan juga gingseng merah yang ayah pesan langsung dari teman Ayah di Korea" Adibjo mengambil paper bag yang di letakkan di sampingnya dan menyerahkannya kepada Sesil.
Sesil tersenyum senang mendapatkan perhatian dari ayah mertuanya dan mengucapkan terimakasih, sedangkan Swan menautkan kedua alisnya, merasa semakin mempunyai banyak saingan, setelah harus merelakan berbagi cinta putrinya dengan Nathan, kini dirinya juga harus menerima kenyataan kalau saat ini Sesil sudah mempunyai satu Ayah lagi yang juga sangat mencintainya.
Harusnya Swan bersyukur karena putrinya di kelilingi orang-orang yang menyayanginya. Tapi entah mengapa Swan tak rela berbagi cinta putrinya.
"Cepatlah ! Kau sudah hampir kalah" Ucap Swan dengan nada kesal
"Kau cemburu melihat putrimu lebih menyayangi aku?" Ledek Adibjo
"Aku adalah pria nomor satu di hati putriku, mana mungkin aku cemburu" Sangkal Swan
"Sudah-sudah, papi, ayah. Lebih baik kita makan malam dulu yuk" Seru Sesil
"Iya pi, yah . Makan malam dulu baru bermain catur lagi" Timpal Nathan. Kemudian keempat orang beda generasi itu menuju ruang makan, dia atas meja makan tersedia banyak sekali hidangan yang di masak oleh Bi Nung.
Sesil terlebih dulu mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk Nathan, baru setelah itu dia mengambilkan makanan untuk papi dan ayahnya secara bergantian.
Baru saja mereka memulai makan, tiba-tiba saja muncul Dave berdiri di ambang pintu kaca yang membatasi ruang makan dan ruang tamu.
"Dave, kau kemari nak?" Adibjo yang menyadari kehadiran Dave langsung mengajak sahabat dari putranya itu bergabung makan malam. Awalnya Dave menolak karena merasa canggung terhadap Swan. Ini kali pertama Dave bertemu dengan legenda kaisar bisnis yang namanya begitu tersohor.
Selain merasa canggung terhadap Swan, Dave juga sudah makan malam seusai meeting dengan client
Alhasil kini Dave hanya duduk sambil menikmati potongan buah apel yang baru saja di sediakan oleh Bi nung.
Seusai menyantap makan malam, mereka semua kembali berkumpul di ruang tamu menikmati secangkir kopi panas dan beberapa kue.
Adibjo dan Swan kembali melanjutkan permainan catur yang tertunda, sementara Dave dan Nathan serta Sesil mengobrol santai.
Selama mereka mengobrol, tangan kanan Nathan terus saja melingkar di pinggang istrinya, bahkan dengan tidak sungkan Nathan beberapa kali mengusap pipi istrinya dengan mesra, membuat Dave yang merasa jomblo akut hatinya terasa semakin sepi.
__ADS_1
"Kalau saja ada dokter cempreng itu, pasti bisa aku ganggu" Gumam Dave dalam hatinya, tiba-tiba saja bayang wajah Imelda muncul di kepalanya. Senyumnya yang begitu manis membuat Dave tersenyum sendiri.
"Kenapa dia?" Nathan dan Sesil kompak saling menatap saat melihat Dave yang tiba-tiba tersenyum sendiri.
"Mikir apa aku ini" Dave segera menepis jauh-jauh pikirannya dan berusaha kembali fokus, namun saat Dave kembali fokus, dia malah mendapat tatapan penuh selidik dari Nathan dan Sesil.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tukas Dave
"Kau sedang memikirkan apa?" Seru Nathan
"Memikirkan kenapa kalian tidak memiliki perasaan terhadapku yang jomblo ini? mengumbar kemesraan di depanku sama saja dengan menyiksaku" Gerutu Dave dengan nada kesal, sedangkan Nathan dan Sesil malah tertawa mendengar penuturan Dave yang konyol
"Makannya cepatlah menikah" Imbuh Nathan dengan nada yang tidak berdosa.
Dave hanya mendengus kesal mendengar penuturan dari Nathan.
"Sesil?" Terdengar suara cempreng menggema di seisi rumah, suara yang begitu familiar dengan di iringi suara sepatu heels yang berbenturan langsung dengan lantai marmer.
Imelda dengan langkah kaki yang riang menuju ruang tamu, dia begitu terkejut melihat banyak sekali orang di sana.
"Imel?" Sapa Swan
"Nona Louis?" Timpal Adibjo
"Gadis cempreng kenapa kau kemari?" Seru Sesil
"Eh, Hai" Imel menggaruk tengkuk lehernya dan tersenyum kaku
"Kita mengobrol di depan saja" Seru Sesil sambil mencoba beranjak dari sofa, dia lupa kalau saat ini kakinya lumpuh.
Nathan langsung sigap memindahkan tubuh Sesil ke atas kursi roda dan mendorongnya menuju teras rumah di susul oleh Imelda yang mengekor di belakang.
Sedangkan Dave masih tak bergeming di posisinya saat ini.
"Dave ayo" Nathan kembali ke ruang tengah dan menarik sahabatnya untuk bergabung bersamanya di teras rumah. Sementara dia pria paruh baya itu asik bermain catur.
Kini mereka berempat duduk saling berhadapan di teras rumah.
"Sil aku membawa kabar gembira, di Rumah sakit tempatku bekerja baru saja menerima dokter pindahan dari luar singapura, dokter spesialis saraf. Aku sudah menceritakan semua permasalah yang menimpa kakimu, beliau bilang besok kau sudah bisa berkonsultasi dengannya dan menentukan jadwal terapi" Seru Imelda dengan antusias, Sesil juga tak kalah senang mendengarnya, rasanya dia sudah ingin berjalan seperti sedia kala agar tidak menyusahkan Nathan maupun orang lain.
"Bagaimana? kau mau kan?"
"Tentu saja mel, terimakasih banyak" Sesil meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya begitu erat. Kedua wanita itu saling melempar senyum satu sama lain.
"Terimakasih Mel" Seru Nathan, namun karena Imelda masih kesal dia dia saja tak merespon perkataan suami sahabatnya itu.
Nathan pun maklum akan tingkah Imel yang tak meresponnya, dia paham betul kalau Imel pasti masih marah terhadapnya.
__ADS_1
"Heh dokter gadungan, kau tuli? Nathan mengajakmu berbicara?" Seru Dave
"Diamlah ! Aku tidak memiliki urusan denganmu" Imel memlototkan matanya ke arah Dave dengan begitu kesalnya
"Kau ini memang menyebalkan, jangan lupa peristiwa malam itu, bahkan aku...." Tiba-tiba imelda beranjak dari duduknya dan membekap mulut Dave dengan telapak tangannya.
Jika Dave sampai mengatakan kalau Imelda pernah menginap bahkan Dave juga mengantikan bajunya pasti harga dirinya akan hancur.
"Peristiwa malam itu? memangnya apa yang terjadi?" Sesil merasa begitu penasaran
"Tidak terjadi apa-apa, malam itu aku tak sengaja menabrak Dave, untung saja dia tidak terluka parah" Sangkal Imel, Dave menjauhkan tangan Imel dari mulutnya dan di balas Imel dengan memlototkan matanya ke arah Dave.
"Dave, apa kalian...?" Tiba-tiba saja ucapan Sesil terhenti dan langsung menjitak kepala Imelda yang baru saja duduk kembali di sampingnya.
"Apa kalian sudah tidur bersama hah? Ya Tuhan Mel, kalau sampai tante Dyana dan om James tau, mereka bisa jantungan" Sesil menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya akan pemikirannya sendiri
"Kau tidak perlu kawatir, aku akan bertanggung jawab" timpal Dave dengan menahan senyumnya
"Bertanggung jawab apa? kau jangan banyak bicara omong kosong" Tukas Imel
"Ya, aku setuju dengan Dave, lebih baik kalian segera menikah" Timpal Nathan
"Diammmmm" Imelda berteriak dengan suara cemprengnya, membuat Nathan, Sesil dan Dave menggosok daun telinga mereka.
"Kalian semua itu tidak tau apa-apa ! Dan memang tidak ada yang terjadi apapun di antara kami berdua ! Kau paham" Seru Imelda dengan Nada yang kesal.
Sedangkan Dave mengulum senyumnya melihat raut wajah kesal dari Imelda. Dave merasa senang jika sudah berhasil menggoda Imelda.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Srayu suka sedih deh, padahal Srayu rutin Up tiap hari. Tapi proses rivew nya lama banget, sampe dua hari baru berhasilš