Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Back To Semarang


__ADS_3

Pagi ini, Chan terlihat duduk santai di resort tempat dimana Nathan dan Sesil menginap, semalam setelah mendapatkan kabar dari Bram bahwa Geordan akan menyusul datang ke Kamboja, Nathan memutuskan untuk membawa pulang istrinya lebih cepat. Dia takut Geordan akan mengambil perhatian Sesil selama di Kamboja.


Sebenarnya Sesil tidak setuju saat Nathan tiba-tiba saja memangkas waktu liburan mereka. Harusnya besok sore keduanya baru kembali ke negaranya, tapi dengan seenak hati Nathan memutuskan memangkas waktu liburan mereka, padahal Sesil sama sekali belum puas bermain dan rileksasi di pulau ini.


Menurut Sesil pulau Song Saa memiliki pesona yang tersembunyi, tempatnya yang terpencil membuat pulau ini jarang di jamah oleh banyak orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui tempat seindah ini.


Maka tidak heran bila harga sewa pulau ini bisa sampai milyaran rupiah, namun harga mahal yang di keluarkan seakan terbayar lunas oleh keindahan yang di milikinya, pesona pasir putih, sunset serta sunrise yang memanjakan mata, suasana yang sangat sunyi jauh dari keramaian kota serta polusi udara membuat pulau ini menjadi destinasi wisata untuk orang-orang yang lelah bekerja dan bosan dengan suasana ramainya kota.


Setelah mengemas barang, Nathan langsung mengajak Sesil naik ke kapal yang sudah di siapkan oleh Chan, hari ini Chan akan mengantarkan sepasang suami istri yang sekaligus teman baiknya untuk menuju Phnom Phen ibukota dari Kamboja. Nathan memang sengaja meminta Chan menemaninya berkeliling ibu kota Kamboja sebelum memutuskan untuk membawa istrinya pulang ke Indonesia.


Nathan berencana akan membawa Sesil berkeliling untuk membeli oleh-oleh dan cedera mata yang akan di bagikan untuk teman, sahabat, kerabat dan tentunya kedua orang tua mereka.


Setelah menempuh perjalanan satu jam lamanya kini kapal yang di tumpangi oleh Sesil, Nathan dan Chan sudah menepi di Dermaga..


Ketiganya berjalan keluar Dermaga dam menaiki mobil pribadi milik Chan yang akan mengantar merela berkeliling kota.


Dari dermaga menuju pusat kota memakan waktu empat puluh menit lamanya, perjalanan yang cukup memakan waktu dan energi untuk Sesil yang akhir-akhir ini gampang sekali merasa lelah.


Bahkan sepanjang perjalanan, tangan Sesil sama sekali tidak di lepas dari lengan tangan suaminya.


Kepalanya yang terasa sedikit pusing membuat Sesil menjadikan pundak suaminya menjadi sandaran yang paling nyaman saat ini. Tidak berbeda jauh dengan Nathan, sebenarnya dia juga merasa mual di perutnya, namun sekuat tenaga dia menahan rasa mualnya karena Nathan tidak mau membuat kondisi istrinya semakin memburuk.


Setelah sampai di salah satu pusat cindera mata, Chan mengajak Sesil dan Nathan untuk turun berburu oleh-oleh. Ada berbagai macam oleh-ole yang tersedia di jajaran stand, mulai dari makanan khas negara Kamboja, aksesoris, pakaian, lukisan dan masih banyak lagi.


Setelah berjalan-jalan sebentar dan meneguk satu kaleng soda membuat Nathan dan Sesil merasa sedikit lega. Bahkan kini keduanya bisa di bilang sudah membaik dan bisa berburu oleh-oleh.


Sesil tidak terlalu banyak membeli oleh-oleh, dia hanya membeli untuk Imelda dan Dave, serta sekretarisnya, di tambah dua asisten pribadi suaminya yaitu Emilia dan Bram.


Tak lupa Sesil juga membelikan pakaian untuk asisten rumah tangga, supir serta penjaga rumah.


Setelah puas membeli oleh-oleh untuk karyawannya, Sesil kini mengalihkan pandanagan pada toko lukisan, sepertinya lukisan sangat cocok di jadikan buah tangan yang akan di berikan untuk ayah serta papinya.


Di bantu oleh Nathan, Sesil mulai terlihat memilih beberapa lukisan dari pelukis ternama di negara Kamboja. Ada banyak sekali jenis lukisan yang di pajang di toko tersebut, mulai dari jenis suralisme, romantisme, realisme dan masih banyak lagi.


Setelah memilah-memilih cukup lama, akhirnya Sesil dan Nathan sepakan mengambil jenis lukisan Ekspresionisme, jenis lukisan ini sangat cocok untuk karakter ayah dan papinya yang selalu ekspesif dalam menuangkan segala perasaan dalam dirinya.


Setelah puas berburu buah tangan dan oleh-oleh, Nathan terlebih dahulu mengajak Chan makan siang bersama sebelum akhirnya nanti mereka akan berpisah di bandara.


Ketiganya makan di sebuah restoran chaines ternama di kota Phnom Phen. Sesil terlihat memakan banyak sekali makanan karena entah mengapa dirinya sangat merasa kelaparan saat ini. Tidak berbeda jauh dengan Nathan, awalnya Nathan menginginkan jus kiwi namun karena tidak ada, akhirnya Nathan lebih memilih memesan jus lemon.


Setelah merasa perutnya terisi dan kenyang, Nathan kembali melanjutkan perjalanan menuju bandara.


Chan masih dengan setia mengantar teman lamanya hingga kini mereka bertiga duduk di ruang tunggu bandara.


"Chan terimakasih atas segala bantuanmu selama kami di sini, maaf jika banyak merepotkanmu" ucap Sesil memulai obrolan.


"Tidka perlu sungkan nona Sesilia, saya sangat senang bisa membantu kalian. Oh ya bolehkan suatu saat saya berkunjung ke indonesia?" pinta Chan penuh harap


"Tidak boleh" ketus Nathan sambil menatap tajam ke arah Chan.


"Nathan" Sesil memlototkan matanya menatap suaminya dengan sedikit kesal.

__ADS_1


Nathan hanya tersenyum pelik sambil mengusap rambutnya yang tidak gatal, istrinya jika sudah memlototkan matanya terlihat sangat menyeramkan.


"Tentu saja boleh Chan, datanglah kapanpun kau ingin, pintu rumah kami selalu terbuka untukmu" imbuh Sesil.


"Terimakasih nona Sesilia, anda memang sangat murah hati" Chan tiba-tiba saja memeluk Sesil dan memberi usapan di punggung istri temannya.


Chan tidak ada maksud atau tujuan apapun, Chan hanya menganggap Sesil seperti adiknya, karena memang Sesil memiliki umur yang jauh lebih muda darinya.


"Beraninya" Nathan menggertakkan giginya, bahkan kedua tangannya mengepal dengan sempurna, dia merasa sangat cemburu melihat istrinya di peluk oleh pria lain di depan mata kepalanya sendiri.


"Chan !!" suara Nathan menggelegar sangat keras, bahkan berhasil menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di bandara tersebut.


Namun seolah mengacuhkan Nathan, Chan masih saja memeluk istri dari temannya.


Nathan semakin naik pitam karena ucapannya di acuhkan oleh Chan dengan perasaan yang penuh emosi, Nathan menarik Sesil hingga membuat tubuh Sesil berbalik dengan paksa menghadap ke arah tubuhnya.


Bukannya takut, Chan malah tertawa sangat keras melihat mimik wajah Nathan yang sudah memerah. Bahkan kerena terus menerus tertawa, kedua mata Chan terlihat berair.


"Dasar gila" semprot Nathan sambil meletakkan jari telunjuknya di keningnya.


"Kau yang gila ! Dasar Bucin!" seru Chan sambil ketawa geli


Nathan mendengus dengan kesal mendengar perkataan dari temannya. Namun rasa kesalnya kembali bertambah saat melihat pria dengan perawakan tinggi,putih dengan wajah bule berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Kaca mata hitam yang menutupi kedua matanya membuat pria tersebut lebih muda daripada umurnya yang seharusnya. Pria yang sangat membuat Nathan kesal karena masih saja terus mencoba mendekati Sesil meski ada Nathan di samping Sesil.


"Tuan Nathan, tidak aku sangka kita berjumpa di sini" Geordan melepaskan kaca mata hitam yang menutup kedua matanya, lalu Geordan menyunggingkan senyuman manis ke arah Nathan, namun tak bisa di pungkiri pandangan mata Geordan terus menatap ke arah Sesil yang duduk tepat di samping Nathan.


"Saya juga tidak menyangka bisa berjumpa dengan anda di sini" Nathan melebarkan senyum di bibirnya.


'Dasar penguntit' gumam Nathan dalam hatinya


"Seperti yang anda lihat"


"Apa kalian berlibur di sini? Saya juga kebetulan hendak berlibur selama beberapa hari ke depan" imbuh Geordan


'Sudah tau, kau pikir aku bodoh' batin Nathan kembali.


Nathan hanya menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum ramah ke arah Geordan yang masih saja secara terang-terangan menatap ke arah Sesil.


Sementara Chan diam sebagai penonton yang baik, jika dari segi sudut pandang seorang pria, Chan bisa melihat kalau Geordan mebaruh hati pada istri sahabatnya. Pantas saja Nathan memangkas waktu liburannya, jadi ini alasannya, pikir Chan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri.


"Sayang sekali tuan Geordan, masa liburan kami sudah berakhir. Dan sebentar lagi kami akan kembali ke indonesia. Iyakan Sayang?" Nathan mengalihkan pandangan matanya ke arah Sesil, bahkan tangan Nathan terulur mengusap lembut kepala istrinya.


"Hm, tentu saja sayang" jawab Sesil manja


"Hm, sepertinya kami harus melakukan boarding pass" Nathan melirik ke arah jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


Kemudian Nathan bangkit dari duduknya, kemudian berpelukan dengan Chan dan memberi salam perpisahan kepada teman lamanya, teman baiknya semasa berkuliah dulu, meskipun Nathan dan Chan memiliki latar belakang yang berbeda jauh, tapi hangat pertemanan mereka masih terus terjalin hingga saat ini.


Sesil juga terlihat memeluk Chan yang sudah di anggap kakaknya sendiri, karena memang selama di Kamboja, Sesil banyak sekali merepotkan Chan, bahkan saat tengah malam Nathan meminta Kiwi, Chan lah orang yang membantunya.


Meskipun Nathan tidak suka melihat istrinya memeluk pria lain, tapi saat melihat ketulusan dari sorot mata Chan yang pure menganggap Sesil temannya, membuat Nathan sedikit merelakan istrinya di peluk oleh teman lamanya.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada Chan, Nathan dan Sesil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam bandara.


Sementara Geordan kembali tersenyum penuh makna, meskipun dirinya gagal mengacaukan liburan Nathan kali ini, namun Geordan bertekad akan membuat Sesil jatuh ke dalam pelukannya.


"Sudahlah, jangan pernah melawan takdir Tuhan. Sesilia Takdir Nathan, bukan takdirmu" Chan menepuk pundak Geordan pelan lalu dirinya memakai kembali kaca mata hitam untuk menutup kedua bola matanya, baru setelah itu Chan berlalu dari hadapan Geordan.


"Tunggu aku mengambil hatimu sayang"


Tidak ada raut kemarahan dalam diri Geordan, karena menginginkan sesuatu perlu banyak perjuangan apalagi merebut milik orang itu harus menempuh perjuangan yang luar biasa.


^


Sementara itu Nathan dan Sesil kini sedang duduk di dalam pesawat pribadi yang akan membawa mereka kembali ke Semarang.


Sesil rasanya sudah tidak sabar untuk segera kembali ke kota kelahirannya, selain dia rindu rumahnya, kasurnya serta taman bunga yang terletak di samping rumahnya ada satu hal penting yang ingin Sesil cepat ketahui saat kembali di semarang Nantinya.


Sesil ingin tau apakah keterlambatan datang bulannya kali ini ada hubungannya atau tidak dengan perutnya. Meskipun tak bisa di pungkiri Sesil sangat mengharapkan perutnya kembali di isi oleh janin manusia.


Karena perjalanan yang masih cukup lama Sesil memutuskan untuk memejamkan matanya, karena Nathan sudah terlebih dulu tertidur pulas di pundaknya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa part lagi tamat.

__ADS_1


Niatnya sih pengin lebih panjang lagi, berhubung sepi like, sepi komentar serta sepi vote


jadi Srayu putuskan untuk segera mengakhiri cerita ini☹️


__ADS_2