
Terhitung sudah lima hari Sesil di rawat di Rumah Sakit, dan selama itu pula Nathan memindahkan kantornya ke ruang rawat sesil, nathan selalu setia menemani istrinya, dia bahkan tak mau meninggalkan sesil barang sedetik saja, jikalau dia terpaksa pergi, maka Nathan akan meminta imelda untuk menemani serta menjaga sesil.
Dan Dave juga sepertinya sudah lebih bisa berdamai dengan hatinya serta perasaannya terhadap sesil, selama Sesil di rawat ri Rumah sakit, Dave sudah tiga kali membahas proyek kerja sama dengan Nathan, namun Dave sama sekali tidak melirik ke arah sesil, dan Nathan juga melihat Dave sudah kembali seperti saat masa kuliah dulu, banyak membuat lelucon dan terlihat ceria.
Siang ini, Nathan sedang ada meeting dengan client papi mertuanya, Nathan menggantikan Swan untuk meeting siang ini karena Swan harus menghadiri meeting di luar kota, dan Sean juga sedang pergi ke Australia menemani Rara untuk mengurus kasus teman rara di sana.
Jadi Swan mempercayakan semuanya kepada menantunya.
Nathan merasa menerima beban yang berat, pasalnya Nathan harus bisa mendapatkan tender ini, Nathan ingin menunjukkan kemampuannya, Nathan ingin membuktikan kalau Sesil tak salah memilih dirinya.
Nathan sudah datang terlebih dahulu di salah satu restauran yang tak jauh dari Rumah Sakit tempat dimana sesil di rawat.
Siang ini seperti biasanya Nathan di temani oleh sekretarisnya yaitu Emilia.
Sekitar lima menit menunggu, sang Client pun terlihat memasuki Restauran tersebut, karena Nathan sudah memberi tau nomor meja yang dia duduki, maka sang client langsung saja berjalan menuju meja Nathan, mereka saling berjabat tangan dan mulai acara meeting mereka, Nathan dengan lugas dan begitu yakin menjelaskan proposal yang di rancang olehnya dua hari lalu.
***
Sementara Imelda sedang duduk di sofa sembari memainkan gamenya, pasalnya dia hari ini libur kerja jadi dia dengan leluasa bisa menjaga sesil tanpa kawatir akan ada pasien yang perlu di tangani olehnya.
Sedangkan sesil terlihat begitu bosan, karena selama lima hari ini sesil merasa terisolasi dan tak bisa pergi kemana-mana. Nathan menyuruhnya untuk benar-benar beristirahat, bahkan ketika Nathan tidak ada seperti sekarang ini, nathan mengutus dokter cempreng yang suaranya bisa merusakkan gendang telinga sesil untuk menjaganya.
Padahal Sesil merasa, dirinya sudah sangat baik-baik saja, luka-luka di bagian kakinya juga sudah mengering dan sembuh.
Dan jika tidak ada halangan, sore nanti Sesil bisa pulang ke rumahnya, namun rasanya waktu berputar begitu lama, beberapa kali sesil melirik jam dinding yang berada di ruangan tersebut, namun jika jam itu tak kunjung berputar menurut Sesil.
"Mel, aku ingin makan Udang saus tiram, Apa kau bisa membelikannya?" Seru Sesil, sesil berharap Imelda mau membelikannya, supaya Sesil setidaknya bisa keluar ruangan.
Karena semenjak kejadian kecelakaan itu, papinya dan suaminya menjaganya dengan begitu ketat. Bahkan Nathan menyuruh anak buahnya untuk berjaga di depan pintu ruang rawat sesil.
"Kau pergi saja dengan penjaga di depan kamar, dia masih muda dan tampan loh" Imbuh sesil lagi mencoba memprovokasi Sahabatnya, namun Imelda masih tak bergeming akan posisinya.
"Aku order saja ya" Saut Imelda tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Aku tidak mau, aku mau kau membelikannya di tempat biasa kita makan" Imbuh sesil lagi dengan suara merajuk
"Sil, kalau aku meninggalkanmu sendirian, Suamimu bisa berkhotbah selama seminggu" Sesil menggosok-gosok daun telinganya, membayangkannya saja sudah bergidik ngeri apalagi jika benar terjadi.
Namun Sesil dan Imelda seketika menoleh ke arah pintu saat pintu ruangan tersebut terbuka, dan menyebullah wajah Dave dari luar ruangan dengan menjinjing tas laptop dan beberapa berkas di tangannya.
Imelda menarik nafasnya dengan kasar, rasanya kejadian tempo hari membuat imelda merasa begitu malas berjumpa dengan lelaki itu.
"Hai Dave, Apa kau mencari nathan? jika iya sayang sekali, nathan sedang keluar menemui client papi ku" Seru Sesil
"Oh baiklah, bolehkan aku menunggunya di sini?" Ucap Dave dan Sesil pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Mendapat persetujuan dari Sesil, Dave membawa langkah kakinya menuju sofa tempat dimana imelda sedang duduk.
Sebenarnya imelda sangat malas duduk bersebalahan dengan Dave, tapi mau bagaimana lagi tidak ada tempat lagi selain di sofa, jadi imelda akan mencoba berbagi tempat duduk dengan lelaki yang di anggapnya begitu menyebalkan.
Namun Dengan sengaja, saat Dave berjalan dan sudah dekat dengan sofa, dia menginjak ujung sepatu heels yang Imelda kenakan, membuat imelda memekik kesakitan.
"Kaki gue!!!" Suara cempreng imelda begitu menggema mengisi ruang rawat Sesil.
Sedangkan Dave tersenyum samar, rasanya hatinya begitu senang bisa membuat dokter gadungan itu menahan sedikit rasa sakit di ujung jari kakinya.
Dave berlalu dari hadapan Imelda, dan mendudukkan diri tak jauh dari imelda.
"Kau ini sengaja hah?" Suara imelda begitu nyolot terdengar, tangannya mengusap ujung sepatu heels yang dia kenakan.
Sedangkan Dave mengacuhkan celotehan dari imelda, Dave mengeluarkan laptop dari tas dan meletakkan laptop di atas meja kaca yang berada tepat di depannya, kemudian dia mulai menyalakan laptop kerjanya serta membuka satu map yang di bawanya.
Imelda merasa begitu kesal karena Dave mengacuhkannya, dan dengan kasar imelda meraih kunci mobil yang di letakkan di atas meja, dia beranjak berdiri dan melenggang pergi dari sofa tersebut.
"Kau mau kemana?" Seru Sesil saat melihat Imelda beranjak dan berjalan mendekat ke arah pintu.
"Daripada aku di sini memakan manusia, aku lebih baik membeli makanan keluar, kau tunggu di sini" Imelda melangkahkan kaki keluar ruang rawat yang sesil tempati.
Sesil hanya menggelengkan kepalanya menanggapi perkataan sahabatnya.
Sedangkan Dave terlihat acuh saja, matanya fokus menatap ke layar laptop di depannya.
Sesil mengernyitkan dahinya, karena Dave terlihat sudah tidak memperhatikan dirinya seperti saat berlibur tempo hari.
"Tuan, Dave.."
__ADS_1
"Dave saja, aku dan suamimu adalah sahabat, jadi akan lebih enak di dengan bila kau memanggil namaku saja" Seru Dave tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Temanmu itu sangat menyebalkan sekali, setiap aku bertemu dengannya rasanya aku selalu mendapat musibah" Imbuh Dave lagi
"Dia memang seperti itu, tapi dia gadis yang baik Dave, dia bersikap seperti itu untuk menutupi rasa sepi dalam hidupnya, Dia di besarkan tanpa kasih sayang kedua orang tuanya"
Mendengar penuturan Sesil, Dave mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan menatap ke arah Sesil.
Dave benar-benar tak mengerti arah pembicaraan sesil. Yang Dave tau dari Nathan imelda adalah Putri tunggal dari Dokter James pemilik salah satu rumah sakit swasta di bandung. Lalu bagiamana bisa Sesil menyebut Imelda tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.
"Imelda adalah adalah anak angkat dari Sahabat mendiang mamiku, tante Dyana dan suaminya Dokter James, Imelda di adopsi oleh mereka saat usia imelda menginjak sepuluh tahun dari salah satu Panti asuhan yang papiku santuni. Meskipun Tante Dyana menyayangi Imelda seperti putri kandungnya, namun imelda ingin mengetahui siapa kedua orang tuanya yang sudah membuangnya di pinggir jalan, karena Ibu pengurus panti menemukan bayi imelda di tepi jalan di letakkan dalam sebuah kardus mie instan" Sesil menarik Nafasnya dengan berat, dan memori masa kecilnya bersama Imelda berputar di dalam kepalanya, karena sepeninggal maminya sesil menjadi pribadi yang pendiam dan tak banyak memiliki teman, semua yang berteman dengannya hanya karena memandang status papinya saja.
Dan hingga saat Papinya mengajak ke panti asuhan tempat dimana imelda di besarkan dia bertemu dengan gadis cempreng itu yang memiliki usia terpaut satu taun dengannya. Ketulusan imelda membuat sesil dan imelda bersahabat hingga sekarang.
Dan saat Tante Dyana memutuskan untuk mengadopsi Imelda, membuat sesil dan Imelda harus tinggal berjauhan dan berbeda kota. Meskipun mereka tinggal berbeda kota namun saat libur sekolah, imelda akan selalu datang ke semarang mengunjungi sesil.
Hati Dave tiba-tiba merasa begitu iba mendengar cerita dari sesil. Mungkin jika Dave berada di posisi Imelda, tentu dia tak akan sekuat dan setegar imelda seperti saat ini.
"Maafkan sahabatku jika membuatmu terus merasa kesal" Imbuh Sesil lagi.
"Tidak apa, bukan masalah" Dave kembali mengalihkan pandangannya ke layar laptop dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Namun rasanya Dave begitu tak tenang karena cerita sesil membuatnya merasa iba.
Tik..tok...tok..tik..tok
Hanya terdengar jarum jam yang berputar di dalam ruangan tersebut, Kesunyianpun begitu mendera hingga akhirnya pintu ruangan terbuka dan imelda kembali dengan menenteng dua tas kresek berisi Box makanan dan satu lagi berisi minuman.
"Gadis tengil, ayo kita makan, ini seafood dari restoran Favorit kita" Imelda menaikkan kresek di depan wajahnya dan tersenyum begitu sumringah, rasanya imelda sudah merindukan masa-masa dulu ketika libur sekolah dan berburu makanan dengan Sesil.
"Ayo" Sesil beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mendekat ke arah imelda yang sudah duduk di sofa.
Imelda terlihat menurunkan satu persatu box makanan dari dalam kresek dan membukanya, bau harum dari udang saus tiram yang terlihat masih mengeluarkan kepulan asap menyeruak ke dalam indera penciuman Sesil.
"Selamat makan" Imelda terlihat mengambil satu udang dan mulai mengupasnya.
"Dave, ayo kita makan" Sesil menyodorkan satu box makanan yang masih di dalam kresek ke hadapan Dave, namun dengan cepat Imelda menarik kembali kresek tersebut dan memlototkan matanya ke arah Sesil
"Ini untuk Suamimu, kepiting lada hitam" Seru imelda.
"Untuknya?" Imelda menunjuk Dave dengan jari telunjuknya
"Tidak sudi.." Seru imel lagi
Mendengar penuturan Imelda, Dave merasa kesal dan langsung membuka box tersebut dan tanpa pikir panjang lagi dave mulai memakan kepiting yang berada di dalam box tersebut.
"Hei !!!! kenapa kau memakannya hah?" Imelda berteriak saat melihat dave malah memakan makanan yang di belikan imelda untuk suami temannya itu.
"Kau selalu saja menyebalkan" Dengus Imelda lagi.
Dave hanya tersenyum samar dan melanjutkan makannya. Rasanya dia begitu puas melihat wajah kesal dari imel.
Namun tiba-tiba saja wajah Dave berubah menjadi bentol-bentol merah, dan Dave merasa gatal serta sesak di dadanya.
Dave melihat ke arah tangannya yang juga terlihat mulai memerah. Dan rasa gatal begitu terasa di sekujur tubuhnya.
Dave merasa begitu sesak dan memegang dadanya.
"Dave kau kenapa?" Sesil melihat dave yang nafasnya mulai tersengal-sengal, dengan cepat sesil mengambil air mineral dan menyuruh dave meminumnya, namun Dave tak kunjung membaik, bahkan wajahnya semakin terlihat begitu merah padam.
"Mel, lihat Dave kenapa ya" Suara Sesil terdengar begitu panik, namun Imel malah mengacuhkannya dan asik memakan makanannya.
"Mel, aku serius...!!!!" Sesil menarik paksa wajah imel untuk melihat ke arah Dave, dan saat melihat Dave yang wajahnya sudah memerah dan tersengal-sengal nafasnya, Imelpun melebarkan matanya karena terkejut.
Di tengah keterkejutannya, Nathan yang baru datang dan masuk ke dalam ruangan tersebut langsung berlari saat melihat Dave yang nafasnya sudah tersengal-sengal, bahkan kini Dave menyandarkan kepalanya serta memejamkan kedua matanya.
"Dave, kau kenapa?" Nathan menggoyangkan lengan sahabatnya, namun dave diam tak meresponnya.
"Sayang, Dave kenapa?" Kali ini Nathan melontarkan pertanyaan ke arah Istrinya.
"Aku tidak tau, tari dia makan kepiting lada hitam yang imel beli"
"Imel, apa kau menaruh sesuatu ke dalam kepiting tersebut?" Sesil melirik tajam sahabatnya
"Kau sudah gila? ?mana mungkin aku meracuni orang" Imelda mendengus dengan kesal
__ADS_1
Nathan melirik ke arah kepiting yang masih tersisa setengah lagi, dan mencoba merasakan makanan tersebut, seharusnya Dave tidak alergi kepiting, namun saat Nathan mencoba makanan tersebut, nathan merasakan ada rasa Bawang Bombay yang di cincang begitu lembut sebagai bumbunya.
"Bawang Bombay!! Dave alergi itu" Seru Nathan.
Imelda dan Sesil terkesiap mendengar penuturannya.
"Cepat pindahkan Dave ke ranjang, aku akan memeriksanya" Seru imelda lagi, dan dengan cepat Nathan memapah Dave yang sudah setengah pingsan dan membaringkannya di atas ranjang yang sesil tempati.
Dengan cepat Imelda meraih peralatan darurat dari dalam tas jinjingnya, imelda memang selalu membawa peralatan medis darurat di dalam tasnya.
Dengan cepat pula imelda melakukan pertolongan pertama kepada Dave, sedangkan Nathan keluar ruangan untuk memanggil dokter jaga.
Imelda memasang alat bantu pernafasan yang tersedia di dalam ruangan tersebut.
Dan tak berselang lama, dokter dan nathan pun memasuki ruangan tersebut dan langsung memeriksa serta memasang slang infus di pergelangan tangan Dave.
Setelah infus itu terpasang dengan sempurna, Dokter tersebut menyuntikkan obat ke dalamnya.
"Untung saja ada dokter imel yang melakukan pertolongan pertama" Dokter tersebut tersenyum ke arah imelda yang berdiri mematung menatap wajah dave yang penuh dengan bentol-bentol berwarna merah.
"Dokter imel??" Panggil dokter tersebut, membuat imelda terbangun dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya ke arah dokter tersebut yang terlihat masih muda.
"Terimakasih dokter Lian" Imelda menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah rekan sejawatnya itu.
"Bukannya dokter imel libur hari ini? Tanya Lian penuh selidik. Imel rasanya malas menanggapi Lian, karena imel tau kalau Lian menaruh perasaan padanya.
"Kasian sekali kekasihmu mel" Seru sesil, imelda melebarkan matanya dan menoleh ke arah sesil yang berdiri bersebalahan dengannya.
"Kekasih???" Lian mengulangi perkataan Sesil
"Iya, bahkan demi menuruti kemauan dari imel, Dave rela memakan makanan yang membuatnya alergi" imbuh sesil lagi.
Seketika itu pula Wajah Lian berubah menjadi tidak ramah, mendengar penuturan sesil membuat Lian merasa tak nyaman dan memutuskan meninggalkan ruangan tersebut.
"Sayang, memangnya mereka sudah jadian?" Bisik nathan pelan di telinga sesil dan sesil hanya tersenyum lebar menanggapi ucapan nathan.
"Sebentar lagi" Ucap sesil lirih di telinga nathan, membuat keduanya sama-sama tersenyum
"Gadis bodoh ! kau jangan suka beromong kosong!!!" Imelda mendengus dengan kesal dan memutar badannya untuk duduk kembali di sofa.
"Kau yang bodoh, Dokter yang tadi bukan orang baik, aku tidak akan rela kau dengannya, dari caranya melihatmu aku sudah tau kalau dia manaruh hati padamu!!!"
"Kemarin aku melihat dia menggoda pasien kamar sebelah" Imbuh sesil lagi.
Namun imelda tak merasa terkejut sama sekali, karena dia memang tau kalau Lian adalah dokter yang hobi genit pada setiap pasien maupun perawat muda di rumah sakit ini.
Imelda kembali mengarahkan pandangannya ke arah Dave yang tertidur di atas ranjang dengan bantuan alat pernafasan. Wajah dan tubuh ya terlihat memerah.
Imelda merasa benar-benar bersalah karenanya Dave bisa seperti sekarang ini. Awalnya imelda hanya ingin iseng saja dengan meminta di masukkan sedikit bawang bombay dalam kepiting tersebut.
Imelda sebenarnya tau kalau Dave alergi bawang bombay, imel tak sengaja mendengar dari Nathan yang kala itu memesan makanan di kantin rumah sakit untuk dave.
Imel tak menyangka kalau alergi Dave begitu serius hingga menyebabkannya seperti itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya srayu nggak rutin up, masih pusing srayunya, nggak bisa mikir nih😔
__ADS_1
mudahan masih pada inget sama alur ceritanya dan masih setia mau membaca ya🙏