Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Pindah Kamar


__ADS_3

Genap seminggu sudah Sesil di rawat di rumah sakit, selama itu pula Nathan terus berada di sampingnya, sedangkan papinya belum sekalipun datang menjenguknya setelah kejadian tempo hari.


Nathan terlihat sedang mengemas barang-barang milik istrinya dan memasukkannya ke dalam tas jinjing berwarna hitam.


Sedangkan Sesil sudah terlihat rapih dan duduk di kursi roda sambil tersenyum melihat suaminya yang sedang sibuk mengemas barang. Selama menemani dirinya di rumah sakit sama sekali belum melihat Nathan membawa atau bekerja, Nathan selalu fokus menemaninya serta merawatnya dengan sepenuh hati.


"Sudah sayang" Nathan mengangkat tas jinjing yang sudah terisi penuh baju-baju milik istrinya


"Ayo kita pulang"


"Letakkan di sini saja Nath" Sesil menunjuk ke arah pahanya dengan senyum begitu lebar di bibirnya


"Biar aku saja sayang" Tolak Nathan, namun Sesil memaksa dan langsung mengambil tas dari Nathan dengan paksa dan meletakkan di pangkuannya.


"Ayo" Nathan hanya bisa tersenyum kemudian Nathan mendorong kursi roda istrinya keluar dari ruangan tersebut.


Nathan mendorong kursi roda melewati koridor rumah sakit. Hingga kini dirinya berhenti tepat di lobi dimana sebuah mobil berwarna hitam sudah menunggunya di sana.


Nathan membopong tubuh istrinya kemudian mendudukkan tubuh istrinya di bangku belakang kursi kemudi, sedangkan supir Nathan yang bernama Pak Yan memasukkan kursi roda serta tas di bagasi mobil.


Kemudian Pak Yan kembali masuk ke dalam kursi kemudi dan melajukan mobilnya kembali ke rumah majikannya.


Jalanan pagi ini cukup lengang, hingga tak membutuhkan waktu lama mobil yang mereka kendarai sudah sampai di halaman rumah mereka. Nampak sang satpam membukakan pintu dan menyambut kepulangan majikannya.


Nathan adalah orang pertama yang turun dari mobil dan langsung mengambil kursi roda dari bagasi mobil dan meletakkan di teras rumah kemudian dia membopong tubuh istrinya dan mendudukkan istrinya di kursi tersebut.


Sepekan lamanya tidak berada di rumah Sesil begitu rindu rumahnya. Nathan mulai mendorong kursi yang di duduki oleh istrinya masuk ke dalam rumah.


Bi Nung terlihat menyambut kedatangan mereka dengan senyum


"Selamat datang, Tuan, Nona" Terdengar ucapan sambutan yang terlontar dari mulut Bi nung, Nathan dan Sesil pun membalas ucapan Bi nung dengan begitu gembiranya.


Nathan kemudian mendorong kursi Sesil menuju kamar yang terletak di dekat tangga, Nathan menyentuh knop pintu lalu membukanya, Nathan mendorong kursi roda dan masuk ke dalamnya.


"Sayang kau di sini saja ya" Nathan mengusap puncak kepala istrinya dan tanpa menunggu jawaban istrinya dia berlalu keluar dari kamar tersebut.


Sesil menoleh ke arah belakang namun sayangnya sudah tak terlihat lagi. Sesil mengusap dadanya, tak dia tak menyangka kalau suaminya akan tetap meminta pisah kamar dengannya, dia pikir setelah hubungannya membaik Nathan akan kembali satu kamar lagi namun kenyataan pahit malah harus di terimanya lagi.


Sesil membawa kursi rodanya mendekat ke arah jendela,dia menatap keluar jendela ke arah taman samping kamar, bunga di sana tumbuh dengan begitu indahnya. Membuat Sesil mendapat ketenangan saat menatapnya.


Namun tiba-tiba saja kedua matanya di tutup oleh dua telapak tangan kokoh. Indera penciumannya mengendus aroma parfum yang begitu familiar.


"Lepaskan Nath"


Nathan hanya tersenyum dan melepaskan telapak tangannya yang menutupi kedua mata istrinya, kemudian Nathan membalikkan kursi Sesil hingga kini dirinya bisa leluasa menatap wajah ayu istrinya.


Nathan berjongkok hingga mensejajarkan dirinya dengan istrinya.


Mata Sesil menatap ke bekang punggung suaminya yang terdapat dua koper di sana.


"Apa kau mau jalan-jalan ke taman"


"Tidak" Sesil menggelengkan kepalanya sambil kedua matanya fokus melihat ke arah koper, apa mungkin suaminya akan pergi meninggalkannya?


Semua pertanyaan itu bermunculan di kepalanya. Nathan seolah bisa membaca apa yang istrinya pikirkan langsung melebarkan senyumnya dan mengusap punggung tangan istrinya dengan begitu mesra.


"Sayang, mulai saat ini kita akan pindah kamar di sini, mungkin tidak sebesar kamar kita di atas, tapi aku memilih kamar ini semata-mata untuk mempermudah aktifitasmu hingga sembuh nanti"


"Jika di atas, pasti akan sulit ketika beraktifitas, kau tidak apa-apa kan jika harus tinggal di kamar yang memiliki ukuran kecil seperti ini" Imbuh Nathan lagi

__ADS_1


"Kita? maksudmu kau dan aku?" Sesil menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya


"Tentu saja, masa aku dengan Bi Nung"


"Kau ada-ada saja" Imbuh Nathan sambil terkekeh.


Sesil seketika tersenyum pelik, semua pikiran jeleknya lenyap seketika saat mengetahui tadi Nathan meninggalkannya untuk mengemas barang-barang miliknya di lantai atas.


"Sisa barangnya akan di pindahkan Bi Nung menyusul sedikit demi sedikit termasuk foto pernikahan kita"


"Ya sudah, aku tinggal berkemas ya" Nathan beranjak dari hadapan istrinya lalu mengacak rambut istrinya, dia berjalan mendekat ke arah koper kemudian menarik kedua koper tersebut dan mulai memindahkan isinya masuk ke dalam lemari pakaian satu persatu. dengan begitu telaten.


Sesil yang melihat hal itu merasa iba terhadap suaminya, seharusnya itu adalah tugasnya namun karena keterbatasan fisiknya membuat Nathan harus merangkap peran.


Sesil menyentuh roda kursi dan mulai memutar lalu mengarahkan mendekat ke arah suaminya yang sedang sibuk menata pakaian ke dalam lemari.


"Sayang aku bantu ya" Sesil menawarkan diri, namun dengan cepat Nathan menolaknya lalu meminta istrinya untuk istirahat saja.


"Apa karena aku sudah tidak bisa apa-apa?" Sesil menundukkan pandangannya menatap kedua kakinya yang telah mati rasa. Nathan tertegun mendengar apa yang di katakan istrinya. Kemudian dia menghentikan aktifitasnya dan kembali berjongkok di depan istrinya.


Nathan mengangkat dagu runcing milik istrinya hingga kini kedua mata mereka saling beradu pandang.


"Aku hanya tidak ingin kau merasa lelah saja"


"Tapi aku ingin membantu" Paksa Sesil.


Mendengar istrinya memaksa akhirnya Nathan membiarkan Sesil membantunya menata pakaian milik mereka.


Keduanya terlihat begitu kompak merapihkan barang-barang milik keduanya


Tok..Tok..Tok..


"Tuan, Nona, di luar ada Tuan besar Swan menunggu"


"Oh, baik Bi, kami akan segera keluar" Tukas Nathan, mendengar jawaban majikannya membuat Bi nung langsung pemit kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Sayang ayo kita keluar" Nathan hendak mendorong kursi roda, namun dengan cepat Sesil mencekalnya.


"Kau saja, aku lelah ingin berisitirahat" Tolaknya


"Sayang, tidak baik. Di luar pasti papi sudah menunggu. Apa kau masih marah terhadap sikap papi"


Sesil diam saja tak merespon ucapan suaminya. Memang benar apa yang di katakan oleh Nathan, dia masih tidak bisa menerima perlakuan kejam papinya kemarin.


"Sayang, pahamilah papi ! Kau putri satu-satunya, beliau sangat menyayangimu jadi pantas serta wajar saja jika papi marah kalau putri kesayangannya terluka, apalagi oleh pria yang sudah jelas-jelas bersumpah di hadapan Tuhan untuk selalu menjaga putrinya" Bujuk Nathan


"Tapi papi keterlaluan"


"Bukan keterlaluan Sil, tapi memang aku pantas mendapatkan pelajaran seperti kemarin, bahkan jika papimu mematahkan kakiku itu tidaklah cukup untuk membayar apa yang sudah aku lakukan padamu. Jadi ayo kita temui papi, tidak baik jika papi terlalu lama menunggu" Nathan mendorong kursi roda tersebut keluar kamar menuju ruang tengah.


Benar saja saat sampai di ruang tengah terlihat Swan sedang duduk menyilangkan kaki di sofa.


Nathan mendorong kursi roda istrinya mendekat ke arah sofa.


"Aku tinggal dulu ya" Setelah meletakkan kursi roda tersebut dekat dengan Swan, Nathan berpamitan pergi bertujuan memberi ruang kepada ayah dan anak itu untuk berbicara dari hati ke hati.


Namun Sesil menahannya dan tetap menyuruh Nathan di tempat.


Swan mengalihkan pandangannya menatap putrinya yang duduk di kursi roda saat ini.

__ADS_1


Tanpa Sesil sangka, papinya langsung bersimpuh di hadapannya, matanya juga terlihat penuh oleh cairan bening yang siap tumpah kapan saja.


"Sayang maafkan atas tindakan papi tempo hari, papi tau papi salah ! Tapi itu semua Papi lakukan karena papi sangat mencintaimu" Swan menggenggam erat tangan putrinya


"Papi minta maaf sudah gagal menjalankan amanah mami sayang untuk selalu menjagamu, bukan menjaga malah papi melukaimu kemarin" Imbuhnya lagi dengan suara begitu berat.


"Papi bangun, jangan seperti ini" Sesil merasa iba melihat papinya melakukan hal itu padanya, sedangkan Nathan berdiri mematung di posisinya.


"Papi bangun" Sesil berusaha membantu papinya bangun


"Maafkan papi sayang" Seru Swan


"Sesil sudah memaafkan papi sebelum papi meminta maaf terhadap Sesil, Sesil sama sekali tidak marah pi, Sesil hanya ingin papi menerapkan prinsip 'Gigi di balas dengan gigi'"


"Papi janji sayang" Swan mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan putrinya. Sedangkan Sesil malah tersenyum melihat tingkah papinya, jika biasanya dirinyalah yang melakukan hal itu terhadap papinya malah kini posisinya terbalik.


Swan mengalihkan pandangannya menatap ke arah Nathan yang berdiri tepat di samping kursi putrinya.


Pandangan mata yang begitu tajam membuat Nathan bergidik ngeri.


Swan beranjak dan mendekat ke arah menantunya, sedangkan Nathan masih tak bergeming dan akan tetap pasrah apapun yang terjadi nanti. Sedetik berlalu, Swan memeluk tubuh menantunya dan menepuk punggungnya.


"Jika kau membuat putriku menangis lagi, akan aku pastikan kau lenyap dari permukaan bumi dan jangan harap aku bisa mempercayaimu seperti dulu lagi" Seru Swan dengan nada berbisik tepat di telinga kanan milik Nathan supaya tidak di dengan oleh putrinya.


Nathan hanya tersenyun kecut dan menganggukkan kepalanya, dia begitu ngeri mendengar ancaman yang di ucapkan oleh papi mertuanya.


Sesil begitu senang melihat papinya sudah mau baikan dengan suaminya, tanpa dia sadari apa yang sedang papinya bisikkan di telinga Nathan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ada Saran?


Ide?


Kritikan?


Silahkan tulis di komentar♥️👍

__ADS_1


__ADS_2