
"Jangan tinggalkan aku" Nathan memeluk erat tubuh istrinya yang masih diam saja tak bergerak sedikitpun.
"Sayang aku mohon, buka matamu !" Seru Nathan lagi, kali ini dengan suara yang semakin berat, bahkan matanya sudah terlihat berkaca-kaca.
Nathan memeluk erat tubuh istrinya yang tak kunjung bergerak.
Sementara Sesil masih menutup kedua matanya, namun kedua sudut bibirnya melengkung ke atas.
Sekuat tenaga dirinya tidak tertawa saat ini, karena Sesil ingin sedikit memberi shock terapi pada suaminya.
"Sayang, ku mohon" Nathan semakin mengeratkan pelukannya. Berharap istrinya mau membuka matanya kembali.
"Aku baik-baik saja" ucap Sesil lirih.
Mendengar istrinya berbicara, Seketika itu pula Nathan melepaskan pelukannya dan melihat wajah istrinya. Sementara Sesil tersenyum tanpa dosa ke arah Nathan yang wajahnya terlihat sangat kawatir terhadap dirinya.
"Aku baik-baik saja sayang" tegas Sesil kembali
"Kau berbohong?" Nathan menatap tajam ke arah istrinya bahkan kedua alisnya menaut dengan sempurna.
"Sedikit" jawab Sesil sambil melebarkan senyumnya
Seketika itu pula Nathan langsung melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya. Bahkan tanpa berkata sepatah katapun, Nathan langsung beranjak berdiri meninggalkan Sesil yang masih duduk di atas pasir.
"Sayang mau kemana?" Teriak Sesil yang melihat suaminya berjalan semakin menjauh darinya.
Sesil yang merasa sudah di tinggalkan oleh suaminya langsung beranjak berdiri, terlebih dulu dirinya mengambil kamera miliknya yang sudah di lemparkan oleh suaminya. Untung saja kameranya dalam keadaan baik-baik saja, kemudian Sesil menylempangkan kamera miliknya di lehernya.
"Sayang tunggu" Sesil berteriak sambil berlari kecil mengejar suaminya yang semakin menjauh darinya.
Sesil terus berlari, namun tiba-tiba saja dirinya tersandung batu karang hingga dirinya jatuh terjerembab ke atas pasir.
"Ah..." Sesil mendesis kesakitan merasakan kakinya terbentur pasir.
Sesil berusaha duduk dan membersihkan tubuhnya yang penuh dengan pasir, bahkan karena tidak berhati-hati ada percikan pasir yang masuk ke dalam matanya.
"Ya Tuhan" Sesil mengangkat tangannya dan hendak menggosok matanya yang terasa perih, namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh tangan kokoh milik suaminya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Nathan mulai membuka mata istrinya dan mendekatkan bibirnya ke depan mata istrinya, perlahan dia mulai meniup mata istrinya berusaha mengeluarkan sedikit pasir, setelah cukup lama berusaha akhirnya usaha Nathan tidak sia-sia, kini mata istrinya sudah kembali bersih.
"Sakit.." Sesil merengek sambil mengusap lututnya yang terasa perih.
Pandangan Nathan beralih melihat tangan istrinya yang sibuk mengusap lututnya yang penuh dengan butiran pasir.
Lagi-lagi Nathan tak mengucapkan sepatah katapun, dia menarik tangan Sesil menjauh dari lututnya sendiri. Kemudian Nathan mengusap lutut istrinya hingga butiran pasir terlihat sedikit berkurang. Setelah pasir di lutut istrinya bersih, Nathan mulai meniupnya perlahan sembari tangannya sibuk memberikan pijatan kecil di sana.
"Sakit.." Sesil merengek dengan suara yang sangat manja
Nathan langsung membopong tubuh istrinya dan membawanya kembali ke resort. Sesil tersenyum senang mendapat perhatian seperti itu dari suaminya, bahkan kedua tangannya mengalung dengan sempurna di tengkuk leher Nathan, Sesil terus saja memandangi wajah suaminya yang masih diam saja tanpa ekspresi, sepertinya Nathan masih marah karena tadi Sesil sudah berbuat jahil dengan pura-pura pingsan.
"Sayang, apa aku berat?" tanya Sesil, namun sayangnya Nathan masih enggan menjawab pertanyaan istrinya.
"Sayang, ngomong-ngomong bagaimana kalau besok kita ke pusat kota untuk shopping?" Sesil mengedipkan matanya beberapa kali, berharap suaminya mau menjawab perkataannya.
"Sayang, bicaralah ! kenapa kau diam saja" imbuh Sesil yang mulai merasa sebal karena suaminya mendiamkan dirinya sedari tadi.
Merasa kesal akhirnya Sesil memutuskan untuk menutup mulutnya dan tak ingin mengajak suaminya berbicara lagi.
Sesampainya Nathan di resort, dirinya langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dengan mimik wajah yang masih sama, Nathan langsung meletakkan tubuh istrinya di dalam bath up kamar mandi, kemudian dirinya mengambil alih kamera yang menggantung di leher istrinya kemudian Nathan berlalu keluar dari kamar mandi. Sementara Sesil menatap kesal ke arah punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Nathan memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi kamar sebelahnya, Nathan sudah tidak marah. Tapi dia hanya kesal akan tingkah istrinya yang membuat lelucon seperti tadi.
^
__ADS_1
Setelah hampir dua jam lamanya Sesil berendam di dalam bath up akhirnya dirinya kini keluar menggunakan selembar handuk yang melilit di tubuhnya. Saat keluar kamar, Sesil tak mendapati sosok suaminya, namun pandangan mata Sesil tersita ke arah atas ranjang, karena di atas ranjang saat ini terdapat satu setel pakaian lengkap dengan pakaian dalamnya.
Jika biasanya Sesil yang menyiapkan pakaian untuk Nathan, kali ini malah Nathan yang menyiapkan pakaian untuk dirinya.
Sesil meraih baju tersebut dan mulai mengenakan pakaiannya. Setelah berpakaian rapih, Sesil terlebih dulu menyisir rambutnya, lalu memoles bibirnya dengan lipstik baru setelah itu dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya, setelah yakin penampilannya rapih serta tubuhnya harum, Sesil memutuskan untuk mencari keberadaan suaminya, karena langit mulai berubah menjadi jingga.
Sesil menyusuri setiap sudut ruangan namun masih tak menemukan keberadaan suaminya. Tiba-tiba Sesil teringat balkon kamarnya yang langsung menghadap ke laut lepas. Dengan langkah kaki yang lebar Sesil menuju balkon kamarnya dan benar saja, Nathan terlihat berdiri di sana dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Pandangan mata Nathan melihat ke arah depan menatap sang mentari yang hampir saja tenggelam, sinarnya begitu indah di lihat.
Sesil berjalan mendekat dan langsung memeluk tubuh kekar suaminya dari belakang, Sesil paham betul Nathan masih marah padanya karena tadi dirinya sudah bercanda kelewatan.
"Sayang, kenapa kau membiarkan aku sendirian?"suara Sesil di buat semanja mungkin, berharap suaminya mau memaafkan dirinya.
"Sayang, maafkan aku" pinta Sesil lembut.
Nathan menjauhkan tangan istrinya yang melingkar di perutnya, kemudian dia berbalik badan dan menghadap istrinya. Sesil yang merasa bersalah menundukkan pandangannya tak berani menatap suaminya.
Nathan perlahan menarik dagu runcing istrinya dan menghadapkan wajah istrinya ke arah wajahnya. Nathan menatap intens kedua bola mata Sesil, dengan satu kali tarikan, Nathan membawa Sesil masuk ke dalam dekapannya.
"Jangan bercanda dengan nyawamu. Aku tidak suka" seru Nathan penuh penekanan.
"Maafkan aku" ucap Sesil lirih, karena Sesil sadar letak kesalahannya saat ini.
Nathan tak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya memeluk erat tubuh istrinya, dia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Sesil kembali. Cukup sudah dulu dirinya hampir kehilangan Sesil karena ulah Kintani dan Elena.
Nathan melepaskan pelukannya dan mengajak Sesil menikmati sunset yang sangat indah. Nathan menempatkan Sesil berada di depan tubuhnya, keduanya kini menikmati sinar mentari yang berubah warna menjadi orange.
Nathan merogoh sesuatu dari dalam saku celananya, dan tiba-tiba saja Nathan mengalungkan sebuah kalung berlian di leher jenjang istrinya.
"Sayang ini apa?" Sesil yang merasa terkejut langsung menyentuh lehernya lalu merabanya, sementara Nathan masih sibuk memasang kalung tersebut di leher istrinya.
Setelah Nathan berhasil memasangkan kalung tersebut, Sesil mencoba melihatnya, kalung yang sangat simple dengan satu berlian sebagai liontinnya, membuat Sesil tak berkedip. Kalung simple dengan satu mata berlian Graff yang memiliki harga sangat fantastis kini menghiasi leher jenjangnya.
"Ini sangat mahal sayang" Sesil langsung membalikkan badannya menatap ke arah suaminya yang sedang asik menikmati sunset.
"Memangnya kenapa kalau mahal? ada yang salah?" jawab Nathan santai
"Kau sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untukku, biaya sewa pulau, liburan kita kemari, dan sekarang kau memberiku sebuah kalung berlian Graff, Berlian jenis ini sangatlah malah sayang"
"Memangnya ada yang salah? aku selama ini bekerja keras siang malam, mencari client sana-sini jika tidak di gunakan untuk menyenangkan istri untuk apa lagi semua penghasilanku? semua jerih payahku? harta tidak akan di bawa mati sayang" tegas Nathan.
Sesil hanya terdiam mendengar perkataan suaminya, memang benar hidup mereka sudah lebih dari cukup, sudah memiliki beberapa panti sosial serta panti asuhan yang rutin di santuni setiap bulannya, tabungan, rumah aset semua sudah merela miliki, jadi tidak ada salahnya kalau Nathan ingin menyenangkan dirinya saat ini.
"Terimakasih sayang, aku hanya tidak ingin merepotkanmu saja" balas Sesil.
"Kau setiap hari sudah merepotkan aku sayang" Nathan mengacak-acak puncak kepala istrinya dengan gemas.
"Jadi sebagai ucapan terimakasih, aku ingin minta satu kiss darimu" Nathan menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya.
Sesil tersipu malu mendengar ucapan suaminya, kemudian Sesil berjinjit dan mengecup mesra pipi suaminya sebentar lalu melepaskannya.
Sinar mentari mulai menghilang, berganti dengan gelapnya malam. Hari ini begitu cerah, bahkan sang mentari kini mulai di gantikan dengan taburan bintang di atas langit. Angin bertiup sepoi-sepoi menerpa rambut Sesil yang tergerai dengan indah.
Nathan mengajak Sesil masuk ke dalam untuk menikmati makan malam yang sudah di siapkan oleh pelayan. Kini keduanya duduk di meja makan yang sudah di hias dengan lilin, bahkan Nathan sudah menyiapkan sebuket bunga lili putih untuk istrinya.
Seperti biasanya Sesil mengambilkan nasi dan menuangkannya di atas piring, kemudian Sesil juga mengambilkan beberapa lauk untuk suaminya.
Kini keduanya menikmati makan malam berdua dengan suasana tenang.
Setelah makan malam, Sesil memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena rasa lelah di tubuhnya serta matanya yang mulai merasa ngantuk, Sesil sendiri tidak paham mengapa akhir-akhir ini dirinya gampang sekali merasa lelah di tubuhnya.
Sementara Nathan memutuskan untuk duduk di ruang santai sambil menikmati secangkir kopi.
Sesil berganti piyama tidur dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, rasa kantuk yang mendera matanya membuat Sesil langsung memejamkan matanya dan masuk ke dalam alam mimpi.
__ADS_1
Nathan masih duduk santai menikmati secangkir kopi hitam sambil tangannya sibuk mengetik pesan dari Dave. Sahabatnya yang satu itu sedang berbagi cerita seputar kehamilan istrinya, bahkan Dave menceritakan tentang Imelda yang masih mual-mual dan bersikap semakin manja terhadapnya. Dave sangat di buat kewalahan dengan sikap manja Imelda dan beberapa permintaan yang menurut Dave di luar nalar manusia.
Nathan hanya terkekeh saja membaca pesan yang berisi curahan hati sahabatnya. Karena Nathan paham betul posisi Dave saat ini. Sesil saja yang tidak hamil membuat dirinya pusing dengan sejuta sikap manja yang melekat pada istrinya. Nathan tidak bisa membayangkan kalau Sesil hamil akan jadi apa dirinya, pasti Sesil akan lebih membuat kepalanya menjadi pusing tujuh keliling.
Puas berbalas pesan dengan Dave, Nathan menyimpan kembali ponselnya di atas meja. Sejenak Nathan memijat tengkuk lehernya yang terasa pegal, tiba-tiba saja pandangan mata Nathan melirik ke arah kolam kecil yang terletak di samping ruang santai, kolam kecil yang berisi air hangat sepertinya sangat cocok untuk menghilangkan rasa pegal di tubuhnya.
Nathan memutuskan untuk melihat istrinya ke dalam kamar, jika Sesil belum tidur Nathan akan mengajak Sesil berendam air hangat sambil menikmati pemandangan langit yang begitu indah.
Namun sayang sekali, saat Nathan melihat ke dalam kamar, terlihat Sesil sudah terlelap dalam tidurnya. Nathan hanya tersenyum melihat istrinya sudah tertidur, sepertinya Sesil sangat kelelahan, tidak mau mengganggu tidur pulas istrinya, Nathan memutuskan untuk berendam air hangat sendirian saja.
Kini Nathan sudah melepaskan pakaiannya, dia hanya mengenakan celana kain pendek. Kemudian Nathan mulai masuk ke dalam kolam mini dan merendamkan tubuhnya di dalam air hangat. Matanya terpejam menikmati suasana yang sangat sunyi. Benar-benar suasana yang menenangkan, pikir Nathan.
^
Sementara, Sesil yang sudah cukup lama tertidur merubah posisi tidurnya menghadap ke samping, namun saat tangannya ingin memeluk suaminya ternyata kasur di sampingnya kosong,seketika itu pula Sesil membuka matanya dan menyapu seluruh kamarnya, namun sayangnya dia tak menemukan sosok suaminya.
"Kemana Nathan malam-malam seperti ini" Sesil melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10.00pm waktu setempat.
Karena merasa tidak tenang Sesil memutuskan untuk mencari suaminya, pertama-tama Sesil menuju ruang santai, karena terakhir kali Nathan berada di sana.
Saat Sesil sampai di ruang santai ternyata ruangan tersebut kosong, sejenak Sesil menyapu sekeliling ruangan, dan pandangan matanya tersita pada sosok seseorang yang sedang berendam di kolam air hangat yang terletak tepat di samping ruang santai.
Sesil menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan matanya, dan benar saja ternyata yang sedang berendam air hangat adalah suaminya.
Sejenak Sesil terlihat memikirkan sesuatu, bahkan dirinya sedang mempertimbangkan sesuatu. Nathan sudah melakukan banyak hal untuknya, liburan mewah, hadiah mewah dan semua kasih sayang yang tercurah untuk Sesil, ingin rasanya Sesil membalas semua yang sudah Nathan lakukan padanya.
Tapi jika Sesil harus memberikan Nathan hadiah, Sesil sama sekali tidak mempersiapkan hadiah untuk Nathan kali ini.
Sesil berdiri mondar-mandir memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk membalas semua kebaikan suaminya. Setelah cukup lama berpikir, tiba-tiba senyum di wajah Sesil mengembang dengan sempurna, dia memiliki satu ide yang di rasa tidak terlalu buruk dan pantas untuk di coba. Siapa tau suaminya akan menyukai idenya kali ini.
"Tunggu aku" Sesil terkekeh pelan akan ide konyol yang tiba-tiba saja bersarang di dalam benaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sepi Vote
Sepi Like
Sepi komentar
Sepi pembaca.
Duh jadi nggak semangat Nulis lagi.
Mungkin lebih baik Srayu cepat buat tamat aja ini cerita kali ya☹️
__ADS_1