Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Kabar Bahagia


__ADS_3

Sesil berusaha memaksakan mulutnya untuk menelan makanan yang terhidang di atas meja makan, meskipun dirinya sama sekali sudah tidak bernafsu makan tapi Sesil juga harus memikirkan bayi yang berada di kandungannya.


Setelah hampir setengah jam Sesil bersusah payah menelan sesendok demi sesendok nasi yang berada di piring, akhirnya piringnya kini sudah kosong dan tak tersisa nasi sedikitpun.


Waktu masih menunjukkan pukul 10.00pm, Sesil yang belum merasa ngantuk memutuskan untuk menonton siaran televisi di ruang tengah.


Sesil beranjak meninggalkan kursi meja makam menuju ruang tengah.


Dia duduk bersandar di sofa dengan kedua kakinya terangkat dan di selonjorkan ke atas meja kaca yang tepat berada di depannya, kemudian Sesil meraih remote Tv dan menyalakannya.


Awalnya Sesil begitu tertarik dengan acara komedi di salah satu stasiun swasta, bahkan beberapa kali Sesil tertawa saat salah seorang stand up melontarkan lawakannya.


Namun rasa senang di wajah Sesil tak bertahan lama, kini Sesil mulai di landa kebosanan yang luar biasa.


Biasanya ada Nathan yang selalu menemani malamnya, karena semenjak memutuskan untuk pindah rumah, hanya Nathan yang selalu menghiburnya. Bahkan Nathan selalu meluangkan waktu untuk menemaninya di saat malam hari.


Kini suaminya berada di luar kota dan tak bisa di hubungi, Sesil merasa sebagian hatinya menjadi kosong.


Sesil meraih ponselnya dari atas meja dan kembali mencoba menghubungi Nathan, namun sayang sekali usahanya masih membuahkan hasil yang sama, nomor Nathan masih tidak bisa di hubungi.


Dengan mendengus kesal, Sesil meletakkan kembali ponselnya.


Kedua mata Sesil teralihkann ke arah meja kecil yang berada tak jauh darinya, di sana terpasang foto masa kecil dirinya saat perayaan hari Ibu, kala itu Sesil mengenakan pakaian pilot karena dirinya berfikir jika maminya tak kunjung kembali dia akan menyusul maminya terbang ke langit.


Namun rasanya Sesil begitu bersyukur saat Tuhan mendengar semua doanya dan mengembalikan maminya.


Meskipun saat perayaan hari ibu maminya belum mengingat dirinya, tapi setidaknya Sesil di beri kesempatan untuk bisa membasuh kaki maminya kala itu.


Bahkan foto lengkap keluarganya juga di dapatkan saat hari itu juga.


Sesil meraih foto tersebut dari atas meja kecil yang kebetulan terletak tidak jauh dari posisinya duduk saat ini.


Sesil menatapi foto masa kecilnya dengan kedua orang tuanya.


Di dalam foto tersebut papi dan maminya mengecup pipinya dengan begitu lembut, meskipun Sesil tau betul saat itu papinya pasti merasa begitu tertekan karena maminya melupakan anak dan suaminya.


Tapi itulah yang membuat Sesil bangga, papina adalah sosok pria hangat yang hanya setia terhadap satu wanita saja.


Sesil mendekap foto itu dengan begitu erat, rasanya dia begitu merindukan maminya saat ini. Jika saja maminya masih hidup pasti maminya akan banyak memberitahu perihal masa-masa kehamilan.


"Mih, Sesil merindukan mami" Sesil melepaskan bingkai foto tersebut dari pelukannya kemudian Sesil mencium foto tersebut begitu lama.


Bahkan bulir air mata kerinduan lolos begitu saja dari kedua mata Sesil.


"Mih, Sebentar lagi mami akan menjadi seorang nenek, Sesil sedang mengandung calon cucu mami" Sesil tersenyum ke arah foto mendiang maminya dan mengusap air matanya yang masih membasahi pipinya.


"Mami doakan Sesil terus ya dari surga" ucap Sesil lirih, kemudian Sesil meletakkan kembali foto tersebut ke tempat semula dan Dia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya beristirahat.


^


Sinar mentari mulai menampakkan sinarnya, Sesil yang baru saja selesai mandi, berencana akan berjalan-jalan pagi, yang Sesil baca di internet semalam berjalan pagi sangat bagus untuk ibu hamil. Maka mulai pagi ini Sesil berencana akan rutin berjalan-jalan pagi, meskipun hanya berjalan di dalam area komplek perumahannya saja.


Setelah mengenakan setelan baju olahraga dan mengenakan sepatu di kedua kakinya, dengan langkah yang begitu riang Sesil menuruni anak tangga dan meninggalkan rumahnya.


Udara pagi ini begitu segar di rasa oleh Sesil, dengan langkah yang begitu ringan Sesil membawa dirinya berjalan menyusuri jalanan komplek.


Komplek perumahannya masih sangat sepi, karena tempat dimana dia tinggal tidak jauh berbeda dengan rumah papinya, karena sama-sama berada di perumahan Elite, yang notabennya penghuninya hanya akan keluar rumah saat pergi dan kembali dari kantor.


Sinar mentari mulai menampakkan sinarnya yang terasa mulai membakar kulit, bahkan kini keringat mulai membasahi tubuh baju yang Sesil kenakan.


Setelah merasa kakinya lelah, Sesil sejenak mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk di bangku taman di bawah pohon yang rindang.


Suasana taman juga nampak lengang, hanya ada beberapa orang saja di sana.


Namun tiba-tiba saja pandangan mata Sesil tersita dengan seorang pedadang bubur kacang hijau yang memukul mangkok dengan sendok.


"Burjo..burjo.." Teriak sang pedagang.


"Mang.." Sesil melambaikan tangannya ke arah pedagang burjo tersebut, kemudian dengan tersenyum ramah pedagang tersebut mendorong gerobaknya mendekat ke arah Sesil.


"Satu ya mang"


"Baik non" Ucap sang pedagang tersebut, kemudian pedagang tersebut mulai meracik burjo dagangannya.


Tak butuh waktu lama, semangkok burjo hangat dengan campuran sedikit ketan hitam sudah siap dan di serahkan kepada Sesil.


Sesil dengan senang hati menerimanya dan mulai memakannya, rasanya begitu nikmat makanan sederhana yang dia beli di pinggir jalan.


Sedari dulu memang Sesil di biasakan hidup sederhana oleh papinya, meskipun papinya memiliki kekayaan yang melimpah, namun itu semua tidak membuat Sesil malu jika harus makan makanan yang di beli dari pedagang kaki lima.

__ADS_1


"Kak Sesil..." Tiba-tiba saja suara lelaki ada yang memanggilnya.


Sejenak Sesil mencari sumber suara tersebut, dan ternyata Keandra baru saja turun dari sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari Sesil duduk saat ini.


Bahkan adiknya tersebut dengan langkah kaki yang lebar berjalan menghampirinya.


"Kakak.." Keandra duduk di samping Sesil dan melebarkan senyumnya


"Anak nakal" Sesil meletakkan mangkok burjo yang dia pegang di sampingnya


"Kean merindukan kakak" Keandra tanpa sungkan langsung memeluk Sesil dengan begitu eratnya.


"Bagaimana kuliahmu?" Sesil melepaskan pelukan Keandra dan kembali meraih mangkuk yang terletak di sampingnya lalu melanjutkan kembali memakan burjo miliknya


"Lancar.."


"Oh ya kak, aku tadi bermaksud berkunjung ke rumah kakak, tapi saat melintas di disini tak sengaja aku melihat kakak, jadi ya sudah aku ke sini saja" Kean melebarkan senyumnya dan ikut memesan burjo satu mangkuk untuknya


"Kean kan sedang libur semester kak, Jadi ya kean memutuskan untuk pulang ke indonesia" Imbuh Kean.


Kemudian Kean dan Sesil asik menikmati semangkuk burjo yang di makannya.


Setelah menghabiskan semangkuk burjo dan merasa perutnya sudah kenyang, Kean mengajak Sesil untuk kembali ke rumahnya.


Sedangkan Sesil meminta Kean menunggu di rumah sementara Sesil mandi terlebih dahulu sebelum berkunjung ke rumah papinya.


Tak butuh waktu lama untuk Sesil menyelesaikan mandinya, kini dirinya sudah duduk di dalam mobil yang Keandra kendarai. Adik laki-lakinya kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang mandiri dan semakin tampan.


Saat jalanan di rasa lengang, Keandra menambah laju mobilnya.


"Kean, pelan-pelan ! Nanti kalau terjadi sesuatu dengan keponakanmu, kau akan di habisi oleh papi juga Nathan" Seru Sesil dengan begitu keras.


"Keponakan???" Keandra begitu terkejut hingga secara tiba-tiba keandra menghentikan laju mobilnya.


"Ah..." Sesil begitu terkejut saat Keandra menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba.


"Bocah Nakal" Sesil menaikkan volume suaranya dan memlototkan matanya ke arah Kean.


"Kakak sedang hamil? Puji Tuhan, ini benar-benar kabar baik kak" Kean melebarkan senyumnya, dia sama sekali tidak takut melihat kakaknya memlototkan matanya ke arahnya. Kakaknya memang selalu memarahinya sejak dulu. Bukan karena kakaknya tidak sayang padanya, tapi justru kakaknya marah padanya demi kebaikannya.


"Baiklah, Kean akan berhati-hati membawa mobilnya Kak" Kean kembali menyalakan mesin mobilnya melajukan mobilnya perlahan.


Namun Kean sama sekali tidak menghiraukan celotehan dari kakaknya itu. Dia tetap melajukan mobilnya dengan hati-hati karena tidak mau melukai ataupun terjadi sesuatu dengan kakak dan calon keponakannya.


Kini mobil yang di kendarai oleh kean baru saja tiba di depan pintu utama rumah Swan.


Beberapa penjaga berlari kecil menghampiri mobil Kean, para penjaga tersebut membukakan pintu mobil untuk Kean dan Sesil yang baru saja tiba.


"Selamat pagi Nona, Tuan muda" Sapa para penjaga kepada kedua majikannya.


"Selamat pagi juga Pak, papih ada??"


"Ada Nona, silahkan masuk"


Kemudian Sesil dan Kean berjalan beriringan memasuki kediaman rumah papinya.


Sesil masuk ke dalam rumah dengan di bukakan pintu oleh penjaga.


Dengan wajah yang begitu sumringah, Sesil memasuki rumah yang memiliki banyak sekali kenangan di dalamnya. Di rumah inilah Sesil di besarkan oleh papinya.


"Papi...?" Sesil berteriak mencari sosok papinya yang tak di temukannya di ruang tamu.


"Papi.." Sesil kembali berteriak memanggil Swan.


"Ya Tuhan anak papi berisik sekali" Swan terkekeh pelan sambil menuruni anak tangga satu persatu


"Sesil kangen" Sesil dengan manjanya langsung berlari menghampiri papinya dan langsung memeluk cinta pertamanya itu. Cintanya akan selalu besar untuk laki-laki yang sudah berkorban untuk membesarkannya seorang diri.


Karena cinta pertama kepada lawan jenis bagi seorang anak perempuan adalah Ayahnya, begitupun dengan Sesil.


Swan membalas pelukan putri semata wayangnya, dia juga sangat merindukan putrinya itu.


"Kean kapan datang?" Swan mengalihkan pandangan matanya ke arah keponakannya itu


"Semalam om" Kean melebarkan senyumnya ke arah Swan.


"Ya sudah ayo kita duduk" Swan kemudian mengajak Sesil dan Kean untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Opah bagaimana keadaannya pih?" Sesil yang kini duduk di samping papinya langsung melontarkan pertanyaan ke arah papinya.

__ADS_1


Swan pun menjelaskan kondisi Kinos saat ini, kondisinya masih sama seperti sebelumnya. Namun Kinos baru saja berisitirahat karena seusai di ajak berjemur dan di mandikan oleh perawat Kinos merasa kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat.


"Mbak..." Sesil memanggil salah satu pelayan di rumahnya yang kebetulan sedang membersihkan guci


"Mbak, Sesil minta tolong di buatkan Lemon Tea ya, satu gelas besar dengan dua sendok gula dan Lima lemon segar" Seru Sesil kepada pelayan tersebut, dan pelayan tersebut menganggukkan kepala tanda mengerti.


Swan yang mendengar putrinya meminta Lemon Tea dengan jumlah lemon yang menurutnya terlalu banyak untuk ukuran satu gelas minum itu seketika mengernyitkan dahinya


Sepengetahuan Swan, putrinya tidak terlalu menyukai rasa asam.


"Apa kau tidak salah sayang?" Swan menyipitkan matanya menatapn ke arah putrinya.


"Tidak pi, Sesil memang sekarang sedang menyukai minuman yang berasa Asam, terutama Lemon" Sesil melebarkan senyumnya, namun tidak dengan Swan, kerutan di dahi Swan semakin terlihat begitu jelas, menandakan Swan sedang mencoba mencerna apa yang di katakan putrinya.


"Sesil punya kabar gembira untuk papi" Sesil semakin melebarkan senyumnya, rona merah di wajahnya juga menyembul di kedua pipinya yang semakin cuby


"Sesil hamil pi"


"Ya Tuhan, puji Tuhan sayang"


"Akhirnya papi akan menjadi seorang kakek" Swan merengkuh putrinya ke dalam dekapannya.


Dia begitu merasa senang mendengar kabar baik ini.


Swan memang sudah menunggu lama untuk kehadiran momongan di tengah rumah tangga putrinya itu.


"Nathan dimana? kenapa dia tidak ikut kemari?" Swan yang baru saja menyadari ketidakhadiran Nathan di rumahnya, seketika melepaskan pelukan putrinya.


"Nathan dimana?" Swan melontarkan pertanyaan yang sama kepada Sesil yang tiba-tiba diam membisu.


"Sayang??? Kalian bertengkar???" Imbuh Swan lagi, namun kali ini Sesil langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari papinya. Karena memang dirinya dan Nathan sedang tidak bertengkar.


Kemudian Sesil menjelaskan kepada papinya kalau Nathan saat ini sedang pergi dinas keluar kota untuk mengurus proyeknya yang mengalami sedikit masalah.


Tapi Sesil juga tidak menceritakan kepada papinya perihal Nathan yang tiba-tiba saja pergi tanpa pamit padanya, bahkan nomor ponselnya tidak bisa di hubungi sama sekali.


Hari ini Sesil memutuskan untuk menghabiskan waktunya bersama papi, Kean dan juga opahnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Well yang bilang crita srayu banyak konflik dan membosankan ya srayu trima dengan senang hati komentar kalian.


Srayu mau buat cerita yang sebisa mungkin cerita srayu itu hidup dan pembaca bisa meresapinya.


Dari awal memang ada sedikit masalah, tapi masalah itu hanya masalah kecil yang dengan cepat mendapatkan solusi.


Kali ini Srayu benar-benar memunculkan konflik sesungguhnya ya, so syukur masih pada mau baca, kalau tidak ya Srayu tidak memaksa🤣


Well namanya juga hidup, dalam hidup pasti masalah silih berganti datang kan, Srayu mah tidak suka dengan Cerita yang terlalu bucin-bucin atau Halu tingkat DEWA.


Srayu ingin cerita srayu seperti kehidupan nyata.🙏


Terimakasih buat semua pembaca setia karya receh Srayu yang selalu suport dan kasih komentar dalam setiap episodenya.


Salam sayang buat kalian semua♥️🤗*

__ADS_1


__ADS_2