
Nathan bangun terlebih dahulu, meskipun kini dirinya sedang berlibur tapi bukan berarti Nathan lepas tangan sepenuhnya pada semua pekerjaannya. Meskipun Bram bisa di andalkan tapi tetap saja Nathan memiliki tanggung jawab untuk mengecek keadaan perusahaan Dignal Group.
Pagi-pagi sekali Nathan menyusun beberapa projek pekerjaan dan saat sudah selesai mengerjakannya Nathan langsung mengirim via email pada Bram.
Waktu menunjukkan pukul 04.45am waktu setempat, pagi ini Nathan berencana ingin mengajak Sesil menikmati sunrise di bibir pantai sambil berjalan-jalan pagi, pasti rasanya sangat menyenangkan, udara di sini sangat segar dan juga masih bersih, suasana yang sangat tenang membuat Nathan ingin segera membangunkan istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya.
Nathan terlebih dahulu menutup laptop miliknya dan menyimpannya kembali di dalam koper miliknya, dia tidak ingin masa liburannya terganggu oleh pekerjaan. Meskipun Nathan masih terus memantau kondisi perusahaan bukan berarti mengganggu masa liburannya. Selama liburannya Nathan berencana akan bekerja saat istrinya sedang tertidur itu semua di lakukan oleh Nathan supaya waktu dengan Sesil tidak terkurangi sedikitpun.
Setelah menyimpan laptopnya di tempat semula, Nathan mendekat ke arah ranjang dan langsung mengusap lembut pipi istrinya, perlahan dia mulai menepuk pelan pipi mulus istrinya.
"Sayang, bangunlah" tutur Nathan lembut.
Sesil hanya mengubah posisi tidurnya tanpa mau membuka matanya, karena matanya masih sangat merasa mengantuk sekali.
"Sayang bangunlah" Nathan kembali mencoba membangunkan istrinya.
"Ya Tuhan suamiku yang paling tampan, apa kau memintaku untuk mengupas buah kiwi lagi? bukankah tadi sudah aku kupaskan tiga? apa masih kurang,m" ucap Sesil tanpa membuka kedua matanya. Bahkan Sesil mengeratkan selimut untuk membalut tubuhnya yang merasakan udara pantai di pagi hari yang sangat dingin.
Nathan terkekeh mendengar ucapan istrinya, istrinya ini selalu mampu membuat Nathan terhibur dengan celotehan yang dia lontarkan.
"Sayang mari kita memotret sunrise, di sini sangat indah" seru Nathan.
Ucapan Nathan kali ini sangat ampuh membuat Sesil langsung membuka matanya, hobinya di dunia fotografi membuat Sesil tak ingin melewatkan pemandangan sunrise pulau Song Saa apalagi ini kali pertama dirinya datang kemari.
"Baiklah, Ayo" Sesil dengan begitu bersemangat langsung menyibakkan selimut kemudian dia terlebih dahulu mencuci wajahnya serta menggosok gigi lalu berganti pakaian, begitupula dengan Nathan juga melakukan hal yang sama dengan istrinya.
Sambil menunggu suaminya menggosok gigi, Sesil terlebih dahulu mengambil kamera dari atas meja kecil dan mulai membuka kamera tersebut, terlebih dahulu Sesil menekan tombol On kameranya baru setelah itu dia mulai membuka koleksi fotonya.
Sesil di buat tersenyum saat melihat kembali fotonya kemarin bersama Nathan, banyak pose konyol yang di lakukan olehnya dan juga suaminya.
"Sayang Ayo" Nathan menggandeng tangan Sesil dan membimbingnya keluar kamarnya, keduanya kini berjalan beriringan menapaki jembatan yang terbuat dari ratusan papan yang menghubungkan dengan bibir pantai, karena kebetulan resort yang di pilih Nathan memang mengambang di atas permukaan air laut.
Sesil dan Nathan saling menautkan kedua jari-jemarinya dan duduk di pinggir pantai menantikan munculnya sang mentari, udara pagi ini sangat sejuk dan dingin, angin bertiup cukup kencang membuat Sesil menggigil kedinginan karena lupa tidak mengenakan jaket.
"Kau dingin sayang?" Nathan melihat ke arah istrinya yang duduk tepat di sampingnya, bahkan istrinya terlihat menggosokkan kedua telapak tangannya dan meniup tangannya.
"Hm" Sesil menganggukkan kepalanya dengan cepat, karena saat ini memang dirinya benar-benar merasa kedinginan.
"Hm, tapi sayangnya aku tidak akan meminjamkan jaket milikku padamu. Aku tidak seromantis pria-pria dalam film-film romantis" Seru Nathan kembali menatap ke arah depan.
Sesil yang mendengar ucapan suaminya seketika langsung membuka mulutnya lebar, dia tak menyangka suaminya akan membiarkan dirinya mati kedinginan di sini.
Nathan malah terlihat berdiri dan meregangkan otot-ototnya, sikapnya masih sangat cuek. Sesil hanya menghela nafasnya dengan berat akan tingkah suaminya yang sudah menyebalkan sepagi ini.
'Dia sungguh sangat menyebalkan' batin Sesil
Sesil memejamkan matanya dan kembali menggosokkan kedua tangannya berharap bisa mengurangi hawa dingin yang menyerang tubuhnya. Namun tiba-tiba saja Sesil merasa ada orang yang memeluknya dari belakang, lebih tepatnya Nathan kini duduk di belakang tubuh Sesil dan mulai mengapit tubuh istrinya dengan kedua kakinya, tangannya melingkar sempurna di pinggang istrinya.
Seketika hawa hangat dari tubuh Nathan mulai menjalar di sekujur tubuh Sesil.
"Aku tidak akan meminjamkan jaket yang aku kenakan padamu, aku tidak ingin hingga aku jatuh sakit" Nathan menghirup udara pagi yang sangat segar dalam-dalam
"Jika aku sakit, maka siapa yang akan menjagamu? aku ingin selalu menjaga istriku hingga akhir nafasku nanti" imbuh Nathan sambil mengeratkan pelukannya, bahkan dagunya menyandar di bahu istrinya sebelah kanan.
Sesil menarik kedua sudut bibirnya, padahal tadi dirinya sudah sempat neting pada suaminya sendiri, tapi lagi dan lagi pikiran kotornya sama sekali tidak beralasan, saat ini suaminya sedang memeluk tubuhnya dengan erat, menghilangkan hawa dingin yang menyerangnya.
Perlahan sinar sang mentari mulai menampakkan sinarnya, Sesil mengambil banyak foto mesra bersama suaminya, keduanya sangat menikmati sunrise pagi ini. Bahkan rona kebahagiaan begitu terpancar di kedua wajah insan manusia yang saling mencintai itu.
"Sayang.." panggil Nathan lembut di telinga Sesil
"Hm.." jawab Sesil sambil terus melihat hasil jepretannya baru saja.
"Kau tau mengapa aku memilih pulau ini untuk kita berlibur?" Imbuh Nathan.
"Tentu saja karena pulau ini sangat indah, pasir putih yang cantik, suasana yang tenang dan terlebih lagi kau bisa menyewa pulau ini hanya untuk kita berdua, kau ini kan selalu berpikir mesum, jadi jika hanya ada kita berdua tentu saja tidak akan ada yang menganggu tujuanmu kemari. Iya kan?"
"Hahaha, kau ini selalu saja berpikiran negatif terhadap suamimu yang tampan ini" Kilah Nathan
"Memang benar, kau ini sangat mesum. Aku tak menyangka kau mengisi seluruh koperku dengan bikini" imbuh Sesil tak mau kalah.
"Ya Tuhan sayangku" Nathan mencubit gemas pipi istrinya dan memberikan ciuman di pipi istrinya.
"Dengarkan aku, aku membawamu ke sini bukan tanpa alasan. Selain pulau ini sangat indah pemandangannya, ada hal lain yang menjadi alasan utamaku"
"Apa memangnya?" Tanya Sesil penasaran.
"Kau tau makna dari Song Saa dalam bahasa k
Khmer?"
__ADS_1
"Tidak, memangnya apa?" Sesil semakin merasa penasaran menunggu jawaban suaminya.
"Makna Song Saa dalam bahasa Khmer adalah Kekasih, karena kau satu-satunya kekasih yang pernah aku miliki selama hidupku, maka aku ingin membawa kau ke tempat spesial seperti ini, tempat spesial untuk wanita yang sangat spesial di dalam hidupku" imbuh Nathan
Mendengar ucapan suaminya, Sesil tersipu malu. Rona merah muda menyembul di kedua pipinya.
"Gombal" suara Sesil terdengar sangat malu-malu
"Aku tidak pernah berbohong, aku hanya pernah mencintai dua wanita dalam hidupku. Pertama adalah ibuku, ibuku saat ini sudah tenang di atas sana. Dan yang kedua adalah istriku, wanita yang mampu membuat hidupku lebih bermanfaat dan bersemangat menjalani hari-hariku, menyadarkan aku kalau setiap ujian pasti ada jalan penyelesaian dengan cara baik-baik. Bahkan berkatmu juga aku bisa memahami kalau yang terlihat baik belum tentu terbaik untuk hidup kita"
Sesil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan semua perkataan suaminya.
Keduanya kembali menikmati suasana pantai pagi ini dengan posisi Nathan memeluk Sesil dari belakang.
Sesil juga terlihat menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Setelah puas menikmati sunrise di pagi ini, Sesil dan Nathan kembali ke resort untuk membersihkan diri baru setelah itu mereka akan menikmati sarapan pagi bersama.
^
Seusai sarapan pagi, Nathan dan Sesil duduk santai sambil menikmati hamparan pantai yang menyejukkan pemandangan mata. Sesil memegang kamera di tangannya, dia sibuk melihat hasil jepretan yang sudah di ambil olehnya.
Sementara Nathan sedang meminta Chan membelikan gaun untuk istrinya, Nathan tak sampai hati melihat istrinya hanya di bawakan dua pakaian yang layak pakai, meskipun di pulau ini hanya ada mereka berdua dan dua orang pelayan, tapi Nathan tidak mungkin membiarkan istrinya mengenakan bikini sepanjang hari.
Setelah berbalas pesan dengan Chan, Nathan kembali meletakkan ponselnya di tempat semula dan melirik ke arah istrinya yang sedang tersenyum melihat isi kameranya.
Entah mengapa tiba-tiba Nathan merasa cemburu melihat istrinya malah tersenyum bersama kamera miliknya ketimbang suaminya sendiri
"Kemarikan kamera milikmu" Nathan meraih kamera dari tangan Sesil dengan paksa kemudian meletakkan kembali di atas meja kaca.
"Kembalikan kamera milikku" Sesil menengadahkan tangannya meminta kamera miliknya kembali
Bukannya mendengar ucapan istrinya, Nathan malah langsung berbaring di atas sofa lalu menyandarkan kepalanya di atas paha istrinya.
Sesil merasa terkejut melihat tingkah suaminya yang di rasa semakin manja setiap harinya.
"Aku ingin di manja" pinta Nathan sambil memelaskan wajahnya.
"Selama ini aku selalu bekerja keras, membanting tulang mengurus perusahaan. Jadi biarkan sekali ini aku ingin menjadi pria biasa di hadapan istriku" imbuh Nathan lagi
"Jadi kau tidak ikhlas mengurus perusahaan papi hm?" Sesil menaikkan kedua alisnya menatap suaminya yang sedang tidur di pangkuannya.
'Ya Tuhan' batin Sesil dirinya harus banyak bersabar menghadapi tingkah suaminya.
"Sayang...?" panggil Nathan lembut.
"Baiklah, baiklah!! Dasar menyebalkan" Sesil menarik hidung mancung suaminya dengan gemas kemudian tangannya perlahan mengusap pipi suaminya dengan begitu lembut dan telaten, sementara Nathan terlihat memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan istrinya.
Sesil terus mengusap pipi suaminya sambil sesekali Sesil memberikan cubitan gemas di sana. Rasanya sangat tidak etis jika orang bertubuh kekar seperti Nathan memiliki sikap yang sangat manja seperti sekarang ini.
Di tengah aktivitasnya, tiba-tiba Sesil teringat kembali akan siklus bulanannya. Ini sudah hari kedua dia terlambat, Sesil merasa penasaran akan kondisinya saat ini, dia terlambat karena hamil atau terlambat umum seperti biasanya, karena memang siklus bulanannya tidak selalu teratur, kadang mengalami kemajuan beberapa hari kadang pula mengalami kemunduran beberapa hari.
Sebenarnya Sesil sangat merasa penasaran saat ini, ingin rasanya dia meminta Nathan membelikan tes pack untuk mengetahui kebenarannya, tapi jika dirinya meminta Nathan membelikan alat tersebut Sesil takut suaminya akan berharap lebih akan sesuatu yang belum jelas, Sesil tidak mau membuat suaminya merasa kecewa.
Tapi jika selama liburan tamu bulanan yang di tunggu Sesil tidak kunjung datang, maka nanti sesampainya di rumah Sesil akan langsung mengeceknya ke dokter atau minimal akan membeli alat tes kehamilan.
Cuaca semakin panas, Sesil dan Nathan enggan melangkahkan kaki keluar resort. Hari ini keduanya ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah, sementara Sesil masih setia mengusap kepala suaminya dengan begitu telaten.
"Sayang..." Nathan kembali memanggil Sesil dengan lembut
"Kenapa?"
"Aku ingin minum.." Nathan mengusap tenggorokannya menggunakan telapak tangannya.
"Ya sudah, biar aku ambilkan ya" Sesil segera memindahkan kepala suaminya ke atas sofa kemudian dia bergegas masuk menuju lemari pendingin untuk mengambil sebotol air mineral.
Tidak butuh waktu lama, Sesil sudah kembali dengan membawa sebotol air minum di tangannya.
Dia kembali mendudukkan tubuhnya di samping suaminya, kemudian Sesil menyerahkan sebotol air mineral kepada Nathan.
"Minumlah"
"Tidak mau" tolak Nathan dengan wajah yang cemberut
Sesil menaikkan kedua alisnya menatap tajam suaminya yang sedang cemberut, baru saja suaminya bilang haus, dan saat ini sudah menolak air minum pemberian dirinya. 'Sebenarnya apa maunya?' batin Sesil
"Aku tidak mau minum air mineral, aku ingin minum jus kiwi, pasti sangat segar" imbuh Nathan sambil menelan air liurnya, dia sedang membayangkan jus kiwi yang sangat enak di dalam benaknya.
"Kiwi lagi?" Imbuh Sesil memasang wajah tak percaya akan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Ayo cepatlah buatkan segelas untukku" pinta Nathan
"Baiklah, aku akan menyuruh pelayan membuatkan untukmu ya?" Sesil hendak kembali berdiri dari duduknya, namun dengan cepat Nathan meraih tangan istrinya dan menahannya.
"Aku hanya ingin minum jus kiwi yang di buatku oleh istriku" wajah Nathan terlihat memelas
"Aku??" Sesil menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya.
"Memangnya siapa lagi istriku? istriku cuma Sesilia" ketus Nathan sambil melepaskan tangannya dari lengan istrinya, bahkan terlihat Nathan langsung memalingkan wajahnya ke arah samping.
'Astaga kenapa dia sekarang jadi sangat sensitif? gampang sekali mengambek' Sesil bergumam dalam hatinya.
Sesil menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah sedikit tenang Sesil kembali duduk di samping suaminya.
"Sayang?" Sesil meraih dagu suaminya dan menariknya hingga menghadap ke wajahnya
"Suamiku yang aku sayangi, kenapa sekarang mudah sekali mengambek hm?" Sesil menaikkan kedua alisnya
Nathan tak menjawab pertanyaan istrinya, dia malah langsung menghambur ke dalam pelukan istrinya, Nathan menyandarkan kepalanya di dada istrinya.
Entah mengapa Nathan ingin sekali di manja oleh Sesil.
Sesil melebarkan matanya saat tiba-tiba saja suaminya menghambur ke pelukannya.
"Sudah jangan bersedih, aku akan meminta pelayan mengambil alat-alat yang aku butuhkan untuk membuat jus" Sesil mengusap punggung suaminya perlahan. Sementara Nathan menganggukkan kepalanya di dalam pelukan istrinya.
Kini Sesil mengajak Nathan menuju ruang makan, sambil menunggu pelayan datang membawa blender, Sesil terlebih dahulu mengupas buah kiwi yang akan di buat jus olehnya.
Setelah mengupas buah kiwi dan memotongnya, Sesil mengambil dua botol air mineral dingin dari dalam kulkas.
"Nona, ini blender yang anda minta" terlihat pelayan yang biasa menyiapkan segala keperluan Sesil mengantarkan blender dan meletakkannya di atas meja.
"Terimakasih" balas Sesil sambil tersenyum kemudian dia mengambil alih blender tersebut.
"Jika masih ada yang di perlukan, silahkan panggil saya nona" pinta pelayan tersebut ramah, kemudian pelayan tersebut undur diri dari hadapan Sesil dan Nathan.
Sesil terlihat mulai memasukkan potongan buah kiwi ke dalam blender tersebut, dan ingin memasukkan sekotak susu cair, namun dengan cepat Nathan menahan tangan Sesil.
"Jangan memakai susu, aku merasa mual" imbuh Nathan sambil tangan sebelahnya menutup mulutnya.
"Lalu?" Sesil bingung akan tingkah suaminya
"Gula saja satu sendok?" pinta Nathan kembali.
Sesil mengangguk mengerti apa yang suaminya inginkan, kemudian dia menuangkan satu sendok gula ke dalam blender tersebut.
Hingga tak butuh waktu lama segelas besar jus kiwi sudah terhidang di atas meja.
Nathan yang merasa tidak sabar langsung mengambil segelas jus kiwi dan meneguknya hingga tandas.
Sesil menggelengkan kepala saat melihat tingkah suaminya yang langsung menenggak habis segelas jus kiwi yang baru saja di buat olehnya.
"Sayang, ini sangat lezat" Nathan menyeka mulutnya dengan punggung tangannya.
Wajah Nathan terlihat sangat bahagia, bahkan senyuman di bibirnya mengembang dengan sempurna.
Sesil hanya bisa bersabar menghadapi tingkah suaminya yang di rasa aneh olehnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pelit banget komentarnya ya ampun☹️
__ADS_1