
"Pak, cepatlah" seru Nathan sambil memukul bagian belakang kursi kemudi sopir, wajah Nathan sangatlah panik karena sepertinya air ketuban istrinya sudah pecah.
Nathan menatap wajah istrinya penuh rasa kawatir, namun Sesil malah berusaha menepiskan senyumnya ke arah Nathan, dia tidak mau membuat suaminya kawatir.
"Aku tidak apa-apa sayang" bisik Sesil lembut sambil tangannya berusaha mendekat ke arah pipi suaminya lalu memberikan usapan di sana.
"Diamlah. Jangan banyak berbicara" tegas Nathan dengan suara yang sangat panik.
Saat ini jantung Nathan berdegup dengan begitu kencang, dia begitu takut terjadi hal-hal yang buruk pada istrinya, telapak tangannya terus menggenggam telapak tangan istrinya dengan begitu eratnya. Bahkan tak sedikit keringat di dahinya juga terlihat menetes di sana.
Mobil yang Nathan kendarai akhirnya sampai di salah satu rumah sakit swasta di Semarang, dengan begitu cepat Nathan membuka pintu dan langsung menggendong tubuh istrinya keluar dari dalam mobil.
Dengan langkah kaki yang lebar Nathan membawa tubuh Sesil masuk ke dalam rumah sakit "Tolong.." Teriakan Nathan menggema di senantero rumah sakit.
Seolah tidak mendengar teriakan Nathan, tidak ada perawat yang datang membantunya.
"Kalian tuli? cepat tolong istriku" kali ini Nathan berteriak lebih keras saat melihat beberapa perawat mendorong brangka mendekat ke arahnya.
Saat brangka yang di dorong oleh perawat tepat berhenti di depannya, Nathan langsung membaringkan tubuh istrinya di atas brangka tersebut, dengan penuh rasa kepanikan Nathan juga ikut mendorong brangka tersebut menuju ruang bersalin.
"Sayang bertahanlah" suara Nathan terdengar begitu parau, ketakutan serta kekecewaan begitu menguasai dirinya saat ini.
"Tuan silahkan menunggu di luar, kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu" Seorang dokter wanita menghalangi langkah kaki Nathan yang hendak ikut masuk ke dalam ruang bersalin.
Setelah menghentikan langkah kaki Nathan, Dokter tersebut lantas masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintu rapat-rapat.
Nathan hanya bisa berdiri mematung menatap ke arah pintu ruangan yang baru saja tertutup. Pikirannya begitu kalut.
"Jaga mereka Tuhan.." Nathan mengatupkan kedua tangannya di depan dada sembari memejamkan matanya. Hatinya terasa begitu gelisah saat ini.
Sepuluh menit berlalu, dokter masih belum keluar. Nathan semakin panik hingga kini dirinya berdiri mondar-mandir di depan pintu ruangan.
Lima belas menit berlalu, akhirnya pintu ruangan kembali terbuka, dan muncullah dokter dari dalam sana "Istri ada akan melahirkan hari ini tuan, sudah pada tahap pembukaan tiga" jelas dokter tersebut.
"Pembukaan tiga?" Nathan mengulangi perkataan dokter tersebut.
"Kita tunggu sampai pembukaan sepuluh Tuan, saat sudah pembukaan sepuluh itu tandanya istri anda bisa segera melakukan persalinan normal. Kami sudah memberikan perangsang supaya proses pembukaannya lebih cepat" imbuh sang dokter.
"Dok, bolehkan saya masuk?" pinta Nathan penuh harap.
"Tentu tuan, silahkan"
Tanpa menunggu lama, Nathan langsung menerobos masuk ke dalam, saat pintu terbuka terlihat Sesil sedang berbaring sambil mengusap perutnya, keringat begitu bercucuran di keningnya.
Nathan melangkahkan kakinya mendekat ke arah istrinya, pandangan matanya menatap ke arah istrinya.
"Apa masih sakit?" Nathan meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan begitu erat.
"Hanya sedikit sayang, aku tidak apa-apa" Sesil menepiskan senyumnya sambil membalas pegangan tangan suaminya.
__ADS_1
"Andai saja bisa aku tukar posisi, aku bersedia menggantikanmu" Nathan mencondongkan tubuhnya dan berbisik tepat di telinga istrinya.
Ingin rasanya Nathan bertukar posisi dengan istrinya, seperti saat merasakan pusing serta mualnya mengidam dulu. Meski rasanya sangat tidak nyaman tapi setidaknya itu terjadi pada dirinya, Nathan tidak rela bila istrinya menderita meski itu semua wajah bagi setiap wanita yang sedang hamil.
^
Dua jam kemudian, proses pembukaan Sesil sudah sampai puncaknya, kini Dokter sedang membantu Sesil dalam proses melahirkan.
Sementara Nathan masih berdiri di samping istrinya, tangan kanannya menggenggam tangan istrinya sementara tangan kirinya memberikan usapan lembut di kepala istrinya. Bibir seksi Nathan terus saja mengucapkan kata-kata penyemangat untuk istrinya yang saat ini sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan buah hati mereka.
"Sakit..." teriakan Sesil menggema di seisi ruangan, membuat Nathan merasa ngilu mendengarnya.
"Tarik Nafas nyonya,lalu hembuskan" dokter terus memberikan arahan pada Sesil.
Sesil terus berusaha sekuat tenaganya, keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Sementara Nathan berusaha kuat untuk menemani istrinya. Jika beberapa bulan yang lalu Nathan sempat menertawakan Dave karena Dave terlihat konyol saat baru keluar dari ruang bersalin menemani istrinya melahirkan. Tapi seolah kini perkataan Dave menjadi sebuah mimpi yang nyata untuk Nathan.
Nathan menyaksikan istrinya bertaruh nyawa serta menahan rasa sakit yang luar biasa. Begitu besar pengorbanan Sesil hanya untuk melahirkan anak mereka. Nathan benar-benar tak bisa berkata apapun saat ini, yang mampu dia katakan adalah lantunan doa yang di panjatkan pada Tuhan supaya istri dan anaknya selamat.
Setelah melakukan perjuangan panjang serta melelahkan, akhirnya terdengar suara tangisan pertama dari seorang bayi mungil yang baru saja di lahirkan oleh Sesil.
Nathan menghela nafasnya dengan begitu lega, sementara Sesil juga sedang mengatur nafasnya yang masih naik-turun bahkan tubuh Sesil terkulai lemas di atas ranjang.
Nathan membantu menyeka keringat istrinya yang berada di kening Sesil menggunakan jari-jemarinya.
Mata Nathan terlihat berkaca-kaca, bahkan kedua bola matanya tak lepas menatap ke arah Sesil yang kini sedang tersenyum menatap ke arah dirinya.
Nathan mencondongkan tubuhnya lalu mendekatkan bibirnya ke arah kening istrinya, perlahan Nathan memberikan satu kecupan di kening Sesil "Sayang terimakasih" Bahkan bulir air mata Nathan mengalir tanpa bisa di bendung lagi.
"Tuan, Nyonya, selamat atas kelahiran putra pertama kalian" Dokter mendekatkan bayi mungil ke arah Nathan.
Dengan tangan yang gemetar Nathan mengambil alih bayi tersebut dari tangan dokter lalu menggendongnya. Nathan benar-benar tidak menyangka hari ini sudah tiba , hari dimana dirinya akan menjadi orang tua "Nak selamat datang di dunia, terimakasih sayang" Nathan mengecup pipi gembul putranya dengan begitu gemas.
"Kalau begitu kami permisi dulu Tuan, kami akan menyiapkan ruang rawat biasa" Dokter dan para perawat terlihat meninggalkan ruang bersalin tersebut.
Sementara Nathan masih terus menatap wajah mungil putranya yang di rasa sama sekali tidak mirip dengannya, malah bisa di bilang mirip dengan opahnya (Swan).
"Sayang kemarikan, aku ingin melihat anak kita" Sesil mengangkat tangannya ke atas dan meminta putranya. Nathan pun lantas memberikan putranya kepada istrinya.
"Anak mami tampan sekali" Sesil mengecup pipi bayi mungil yang baru saja di lahirkan olehnya.
"Jagoan Mami dan Papi" imbuh Sesil sambil kembali mencium pipi putranya.
"Kau tidak kecewa anak kita laki-laki?" tanya Nathan penuh selidik.
"Kau ini bicara apa? laki-laki atau perempuan bukan masalah untukku?" ketus Sesil sambil memlototkan kedua matanya ke arah suaminya.
"Tapi kan...." ucapan Nathan terhenti saat pintu ruangan kembali terbuka dan masuklah dua pria paruh baya yang menampakkan raut wajah penuh kegembiraan.
"Papi? Ayah?" sapa Sesil
__ADS_1
"Putri Ayah, selamat sayang" Adibjo langsung mengusap kepala menantunya dengan begitu lembut.
"Selamat sayang" Swan langsung mencondongkan tubuhnya dan memberikan satu kecupan di kening putrinya.
"Terimakasih Ayah, Papi" Sesil menepiskan senyumnya.
Pandangan mata Swan dan Adibjo teralihkan ke arah bayi mungil yang berada tepat di samping Sesil "Itu cucu kami?" Tanya Adibjo dan Swan dengan begitu kompaknya.
"Apakah dia laki-laki?" Tanya Swan dengan begitu antusias saat melihat cucu pertamanya yang memiliki wajah mirip dengannya.
"Iya Pi" jawab Sesil sambil menganggukkan kepalanya.
"Ah, cucu Opah" Adibjo langsung mengambil alih bayi mungil di samping Sesil dan menimangnya dengan begitu senang.
Swan menarik kedua sudut bibirnya, terukir senyuman di bibir tipisnya, namun hatinya merasa sedih karena kebahagiaannya terasa kurang lengkap, jika saja Tuhan memberikan umur panjang pada istrinya, pasti Ayu akan sangat bahagia bisa menimang cucu pertama mereka.
Setelah puas menimang cucunya, Adibjo memberikan kesempatan untuk Swan menimang cucunya.
Swan mengambil alih cucunya dari tangan Adibjo, dengan begitu luwesnya Swan menggendong cucunya, bagaimana tidak luwes, sejak Sesil bayi Swan mengurusnya seorang diri, bahkan hingga pertemuannya kembali dengan Ayu kala itu yang baru berusia empat tahun hingga kebahagiaan mereka tak berlangsung lama karena Tuhan kembali mengambil istrinya untuk kedua kalinya.
Sejak saat itu, Swan memutuskan untuk merawat serta membesarkan putri semata wayangnya seorang diri.
Swan menimang dengan begitu senang, namun pandangan mata Swan teralihkan saat bayang mendiang istrinya kembali muncul dan tersenyum ke arahnya. Senyuman istrinya terukir dengan begitu sempurna, bahkan mata Ayu terlihat menitikkan air mata sembari kedua ibu jari tangannya terangkat dan mengacungkan jempolnya ke arah Swan.
Swan juga membalas senyuman mendiang istrinya sambil kepalanya mengangguk.
Meski hanya bayangan mendiang istrinya, tapi kebahagiaannya hari ini terasa lengkap karena kehadiran bayang wajah istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ada yang mau usul nama untuk Baby Boy Sesil dan Nathan?