
Sesil masih diam berdiri di depan pintu IGD, sesil memegang knop pintu dan nampak ragu untuk membukanya, hatinya berkecamuk begitu hebat, nathan bisa seperti ini akibat menyelamatkan dirinya dari perjodohan dengan dean, seandainya nathan tidak datang tadi, pasti saat ini dirinya sudah resmi menjadi tunangan dari dean.
Lalu soal ungkapan perasaan nathan kepada dirinya sesil masih bingung harus menjawab apa, pasalnya sesil tidak tau perasaan apa yang di miliki untuk nathan.
Sesil menarik nafasnya begitu dalam, kemudian sesil mendorong pintu hingga terbuka, sesil melihat ke arah dalam, terlihat nathan sedang berbaring di atas tempat tidur mengenakan baju pasien berwarna biru muda, tangan kanannya nampak selang infus terpasang di sana, nathan juga terlihat memejamkan matanya.
Sesil berjalan mendekat ke arah ranjang yang di tempati oleh nathan bahkan sepatu heels yang dia kenakan terdengar begitu nyaring, namun nathan masih diam saja dengan memejamkan matanya.
Dengan ragu-ragu sesil berdiri di samping ranjang yang nathan tempati, sesil memandang wajah nathan yang terlihat sedikit pucat.
Sesil masih diam tak bergeming, dia benar-benar merasa bersalah dan tidak tau harus mengucapakan apa saat ini, sekian menit berlalu sesil masih terus menatap wajah nathan.
"Apa aku setampan itu? hingga kau tak berkedip memandangku" Nathan menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum ke arah sesil namun matanya masih terlibat tertutup
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja, jadi aku bisa pulang" sesil mengerucutkan bibirnya, rasanya sesil ingin memukul nathan yang masih bisa bercanda dalam kondisi seperti ini, sesil membalikkan badan hendak meninggalkan ruangan itu, namun nathan terlebih dulu meraih pergelangan tangan sesil
"Mau kemana?" Nathan membuka matanya dan menatap sesil
"Pulang" dengus sesil,sesil melepaskan tangan nathan dengan paksa
"Ah.." Nathan mendesis sembari memegang perutnya yang tergores pisau.
"Sakit sekali" Nathan memejamkan matanya dan memegang perutnya
"Kau kenapa? apanya yang sakit?" seketika sesil sangat panik melihat ekspresi dari nathan, mungkin nathan sakit akibat sesil mengibaskan tangan nathan tadi.
"Aku panggil dokter lagi" Imbuh sesil, sedangkan nathan membuka sebelah matanya dan melihat ekspresi bingung dari sesil, rasanya dia sangat ingin tertawa, namun masih di tahannya, sesil berjalan mengitari ranjang untuk memencet tombol pemanggil dokter, namun saat sesil hampir memencetnya, nathan tak kuasa lagi menahan tawanya, nathan tertawa terbahak-bahak karena sudah berhasil menggoda sesil.
Seketika sesil membuang nafasnya kasar, Nathan benar-benar selalu menyebalkan, terus saja bercanda di saat yang tidak tepat.
Melihat sesil memasang wajah cemberut dan mengerucutkan bibirnya, nathan berhenti tertawa. Rasanya mungkin dia sudah kelewatan bercandanya saat ini.
"Maaf" Suara nathan terdengar begitu rendah di indera pendengaran sesil.
"Sil ..?" nathan memanggil gadis kecilnya, namun sesil malah memundurkan dirinya menjauh dari nathan.
"Sil, maaf, kemarilah" nathan melambaikan tangannya ke arah sesil, berharap sesil mau memaafkan dirinya, namun nathan tau betul sesil bukan orang yang mudah di bujuk.
"Baiklah, kalau kau tidak mau mendekat, biar aku saja yang ke sana" nathan bangkit dari ranjangnya, kemudian nathan turun dan menapakkan kakinya di lantai rumah sakit, tangan kiri nathan hendak melepas infus yang terpasang di tangan kanannya, melihat hal tersebut sesil menjadi panik kembali dan berlari menghampiri nathan
"Cari mati?" sesil memukul lengan nathan dan nathan hanya bisa terkekeh, kemudian sesil membantu nathan kembali berbaring di ranjang, dan tak lama kemudian beberapa suster memasuki ruang IGD tersebut, mereka hendak memindahkan nathan ke ruang rawat biasa.
Kini ranjang nathan di dorong oleh beberapa perawat, dan sesil hanya mengikuti dari belakang, namun saat pintu ruangan IGD terbuka, sesil tak melihat papi, tante, dan om nya di sana, sesil mengernyitkan dahinya.
"Apa mungkin mereka sudah pulang?" gumam sesil dalam hati, sesil kembali melangkahkan kakinya mengikuti perawat yang membawa nathan.
Kini nathan sudah berada di ruang rawat biasa, setelah memastikan semua baik-baik saja, perawat tersebut pamit pergi keluar.
Kini tinggal nathan dan sesil di dalam ruangan tersebut, sesil mendudukkan diri di kursi yang terletak di samping ranjang nathan. Namun tiba-tiba ponselnya sesil bergetar nampak panggilan dari sang tante, tantenya menanyakan dimana ruang rawat nathan, setelah sesil memberitahukannya rara lantas memutuskan panggilan telefonnya.
"Nath, apa ayahmu sudah di kabari?" sesil menyipitkan matanya menatap nathan.
"Ayah sedang ada di Solo berziarah ke makam adik iparnya, besok segala keperluanku akan di urus sekretarisku"
__ADS_1
"Om kamu sudah meninggal nath?" Sesil tidak tau kalau nathan memiliki om di solo dan sudah meninggal
"Ya begitulah, saat umurku masih 7tahun" imbuh nathan, namun wajahnya berubah menjadi tidak bersahabat, seakan ada emosi di guratan wajahnya
"Karena meninggalnya om ku yang tidak wajar, Ibuku menjadi sakit-sakitan karena terus memikirkan adik semata wayangnya, dan ibuku juga sibuk mencari tau apa penyebab utama kematian dari om ku, Usaha ibuku tidak sia-sia, dia berhasil mengumpulkan data-data penyebab kematian om ku, namun keberuntungan tidak berpihak padanya, ibuku lebih dulu di panggil Tuhan, Semua berkas penyelidikan itu di simpan oleh ayahku, dan sialnya ayahku tidak mengijinkan aku untuk balas dendam, hingga saat ini aku masih mencari dimana ayahku menyimpan berkas itu" Imbuh nathan.
"Aku turut prihatin" sesil mengusap lengan tangan nathan, sesil bari melihat sisi nathan yang seperti ini.
Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka, Rara, Sean ,Swan berjalan beriringan memasuki ruangan tersebut. Rara nampak membawa sekresek makanan ringan.
Kini mereka bertiga berdiri berjajar di samping ranjang nathan.
"Tuan swan ada di sini juga" nathan sedikit gugup saat swan kini berdiri tegap di sampingnya, matanya terus menatap ke arah nathan.
Melihat kakaknya diam saja tidak menjawab pertanyaan dari nathan rara berinisiatif untuk mencairkan suasana
"Bagaimana keadaanmu? apakah sudah lebih baik? Ya kami iku kemari karena kami kuatir dengan keadaanmu" Rara tersenyum lebar ke arah nathan.
"Baik tante, hanya luka kecil" nathan juga membalas senyuman dari rara
"Oh syukurlah, ini tante belikan makanan" Rara meletakkan kresek berwarna putih ke atas meja kecil yang terletak di samping ranjang nathan.
"Sejak kapan?" Swan membuka suaranya kali ini
Sesil dan Nathan kompak saling menatap satu sama lain, Sesil tidak mengerti arah pembicaraan papinya, namun tidak dengan nathan, nathan paham betul arah pembicaraan swan, karena memang nathan lebih dewasa dari sesil jadi dia lebih bisa memahami apa yang swan tanyakan.
"Saya tidak tau sejak kapan saya mulai menyukai putri tuan, perasaan ini datang dengan sendirinya dan saya tidak tau kapan tepatnya perasaan ini mulai tumbuh di dalam jiwa, karena rasa suka itu tidak membutuhkan alasan, jika membutuhkan alasan itu bukan suka melainkan penjelasan, Rasa suka saya juga tidak memiliki syarat apapun, karena jika memiliki syarat itu bukan suka melainkan ambisi" Nathan meraih tangan sesil dan kembali menggenggamnya dengan erat.
Sesil benar-benar tidak menyangka nathan bisa berbicara seindah itu.
Swan mengeryitkan dahinya dan menatap tajam ke kedua bola mata nathan, seakan-akan swan sedang mencari jawaban atas semua perkataan nathan barusan, kali ini nathan dengan berani membalas tatapan dari swan, kedua pasang mata itu saling menatap cukup lama.
"Baiklah, Jadi kapan?" Swan kembali melayangkan pertanyaan yang di anggap ambigu oleh sesil, sean dan Rara. Namun tidak dengan nathan, lagi-lagi nathan menjawab pertanyaan swan.
"Secepatnya, setelah saya sembuh dan ayah saya sudah kembali dari solo, saya dan ayah saya akan datang ke rumah Tuan untuk melamar sesil" Nathan terlihat sangat yakin dengan setiap kata-kata yang di ucapkannya.
"Apa?????" sesil membuka mulutnya begitu lebar tidak mempercayainya, mungkin saja sesil hanya salah dengar jika nathan akan melamarnya
"Baiklah, saya tunggu!" tukas swan
"Ayo Ra, kita pulang" swan berbalik badan meninggalkan ruang rawat tersebut.
"Sil, temani nathan ya, kasian tidak ada temannya" kemudian rara dan sean juga ikut pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah semuanya di rasa sudah pergi, sesil melepaskan tangan nathan yang masih menggenggam tangannya.
"Nath, ini tidak mungkin kan? Kau hanya bercanda kan? papiku akan marah jika kau membohonginya seperti ini, dan lebih parah dari itu, papiku bisa membuat seluruh keluargamu menderita" sesil menggelengkan kepalanya.
"Sil, aku tidak mungkin bercanda untuk hal seperti ini, semua yang ku ucapkan benar adanya, aku sudah cukup lama memendam perasaan ini sil, sejak saat kau masih duduk di bangku kelas X SMA" Nathan menarik nafasnya dengan panjang, nathan tidak menyangka jika sesil menganggapnya hanya main-main saja.
"Sil, percaya sama aku, aku tulus dengan perasaanku, aku dulu jatuh hati padamu tanpa aku tau kau ini putri dari pemilik Carnal Group, setelah aku mengetahuinya aku mencoba membunuh perasaanku, karena aku merasa tidak pantas untuk bisa bersanding denganmu, semakin aku membunuh perasaanku, perasaan itu semakin tumbuh membesar di jiwaku" Nathan menatap dengan dalam kedua bola mata sesil yang hampir tak terlihat karena matanya sudah sangat sipit akibat menangis tadi, dan saat ini mata sesil kembali berkaca-kaca.
"Sil, aku sedang berusaha memantaskan diri untuk bersanding denganmu, aku sedang mengembangkan bisnis keluargaku yang sempat redup. Karena aku menyukaimu bukan untuk urusan bisnis atau uang, aku menyukaimu dari sini" Nathan menunjuk dadanya dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Dan soal kerja sama antara aku dan papimu, aku tidak memiliki tujuan apapun, aku hanya ingin papimu bisa melihat kalau aku memiliki kemampuan, dan bila suatu saat aku datang melamarmu, papimu bisa mempertimbangkan lamaranku" jelas nathan panjang lebar mencoba memberi sesil pengertian, bahwa dirinya benar-benar tulus.
Sesil tak kuasa menahan air matanya, air matanya kembali turun dari kedua sudut matanya, Sesil benar-benar terharu akan penjelasan nathan.
"Sudah jangan menangis lagi, maaf jika kata-kataku ada yang salah" Nathan mencoba membatu sesil mengusap air matanya dengan ibu jarinya.
Sesil hanya bisa menggelengkan kepala saja, bahkan sesil terlihat semakin sesenggukkan.
"Cup.. cup.." Nathan semakin bingung saat sesil masih saja terus menangis.
"Nanti jika papimu tiba-tiba balik ke mari, beliau bisa salah paham denganku, nanti aku di kira menganiaya kau" nathan menggelengkan kepalanya, dia sudah benar-benar kehabisan akan untuk bisa menghentikan tangisan sesil.
Nathan baru melihat sisi sesil yang seperti ini, bahkan saat tempo hari dean memukulnya di cafe mawar, sesil sama sekali tidak menangis, setau nathan sesil adalah gadis yang kuat.
Nathan menggaruk kepalanya dengan frustasi.
Sesil menghapus air matanya dan mencoba mengendalikan emosinya. Setelah cukup lama, sesil sudah berhenti menangis.
"Sudah malam, istirahatlah, aku akan tidur di sofa" sesil hendak beranjak dari kursinya namun tangannya kembali di raih oleh nathan.
"Berbaringlah di sini" Nathan menggeserkan posisi tidurnya dan menepuk ranjang sebelahnya untuk sesil.
Sedangkan sesil masih diam saja, dia nampak berpikir sejenak.
"Aku tidak akan macam-macam, aku hanya tidak tega melihatmu tidur di sofa" imbuh nathan.
"Kemarilah? jika kau tidak mau seranjang denganku, biarkan aku tidur di sofa dan kau di sini?" seru nathan kembali, dan kini nathan mulai beranjak dari ranjangnya.
"Baiklah, banyak aturan" sesil mendengus dengan kesal, dan berjalan mengitari ranjang, sesil dengan ragu-ragu memposisikan dirinya berbaring di sebelah kiri nathan, seketika itu juga nathan menarik sesil ke dalam dekapannya, sesil berusaha melawan namun tenaga nathan lebih kuat darinya.
"Tidurlah" Nathan semakin mengeratkan pelukannya. Akhirnya sesil diam dan pasrah saja, cukup lama sesil di dekapan nathan, sesil mencoba melihat ke arah nathan, nampak nathan sudah memejamkan matanya, sesil berusaha mengubah posisinya, karena sesil merasa sedikit kram di tangannya, namun baru saja sesil bergerak sedikit, nathan kembali mengeratkan pelukannya, sesil mendengus dengan kesal di buatnya,akhirnya sesil mencoba menyamankan diri dan tak lama kemudian sesil sudah masuk ke dalam alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
YANG SUKA MINTA CRAZY UP, PART INI HARUSNYA JADI DUA EPISODE YA, TAPI SAMA SRAYU JADI SATU EPISODE LOH
TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN, SRAYU SUKA SENENG BACA KOMENTAR KALIAN YANG LUCU-LUCU😁
__ADS_1