Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Tidak Ada Yang Bisa Memilikimu


__ADS_3

Mentari menampakkan sedikit sinarnya melalui celah-celah jendela kaca kamar sesil, Sesil menarik kembali selimut yang menutupi tubuhnya sebagian, rasanya pagi ini udara sangat dingin, hari ini adalah hari weekend, di tambah sesil terasa begitu sangat lelah akibat acara semalam.


Tiba-tiba pintu kamar sesil terbuka, terdengar langkah kaki mendekat, tiba-tiba saja selimut yang menutupi tubuh sesil terbuka


"Bangunlah bodoh, kenapa kau seperti mayat hidup hah? ini sudah siang cepat bangun !" Suara cempreng milik imelda memenuhi seantero kamar sesil.


"Hem.." sesil hanya berdehem dan menarik kembali selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya.


"Kau jangan mengangguku, aku masih mengantuk ! jika kau ingin jalan pagi, pergilah bersama keandra" seru sesil dari balik selimutnya.


"Tante rara dan keluarganya sudah pulang termasuk opah dan omah, di sini hanya ada keluargaku dan papimu saja, Ayo cepat bangun, atau aku seret" imbuh imelda yang merasa kesal karena sesil tak kunjung bangun, kemudian imelda menarik paksa kaki sesil, sontak saja sesil meronta-ronta namun tenaga imelda jauh lebih kuat, kini sesil sudah terduduk di permadani kamarnya, dan imelda sedang tertawa terbahak-bahak di hadapan sesil sembari berkacak pinggang.


"Dasar nenek lampir, kau mau apa sih?" sesil berdecak kesal karena ulah dari imelda.


"Kita semua menunggumu untuk sarapan bersama !" cepatlah basuh wajahmu, dan kita turun bersama menuju ruang makan.


"Ini masih pagi, aku masih mengantuk ! jika kau lapar makan lah sendiri" sesil merangkak kembali hendak menaikki kasur miliknya, namun kerah baju sesil di tarik oleh imelda, seperti sedang menarik seekor anak kucing.


Sesil hanya bisa berdecak kesal dan mengumpat imelda terus menerus, namun imelda tetap memaksa sesil untuk bangun dan membasuh wajahnya.


Setelah sesil selesai membasuh wajahnya, imelda menarik paksa tangan sesil untuk turun ke lantai bawah.


Nampak di meja makan sudah ada swan, james dan dyana yang sedang menikmati segelas susu hangat.


"Selamat pagi.." ucap sesil dengan nada malasnya.


"Pagi sayang.." dyana bangkit dari kursinya dan mengecup pipi sesil, dyana memang sangat menyayangi sesil, sama seperti dyana menyayangi mendiang maminya sesil, bahkan kebiasaan bangun siang dari ayu pun menurun kepada sesil.


Sesil hanya tersenyum ketika mendapat ciuman dari dyana.


Kemudian sesil duduk bersebelahan dengan imelda.


Dyana dengan telaten mengambilkan nasi goreng untuk sesil dan imelda, sedangkan swan dan james memakan roti panggang yang di hidangkan oleh pelayan.


Sesil yang masih merasa ngantuk hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang terletak di piringnya.


"Makanlah, dasar manja" celetuk imelda yang merasa gerah melihat tingkah sesil.


"Diamlah, atau akan aku jahit mulutmu" seru sesil tak mau kalah dengan imel.


"Imel, sesil ,sudah nak" dyana menenangkan kedua gadis yang selalu bertikai jika bertemu, tapi itulah cara mereka menunjukkan kasih sayang satu dengan yang lainnya.


"Mah, sehabis sarapan pagi, aku dan imel akan berjalan-jalan di sekitaran villa melihat pemandangan, imel kan sudah lama tidak datang kemari"


"Kau saja, aku tidak mau" seru sesil yang menolak usulan dari imelda yang mengajaknya berjalan pagi, padahal cuaca di luar kembali mendung, hawa dingin menelusup ke dalam tulang sesil.


"Sil, temani imel, dia kan jarang kemari" swan mengusap puncak kepala putrinya, dan sesil hanya melirik ke arah papinya saja. Kemudian dengan sangat terpaksa sesil mengiyakan permintaan imelda.

__ADS_1


Seusai sarapan pagi, imelda mengambil jaketnya yang tebal dan mengenakannya, sedangkan sesil juga sedang mengambil jaket dan ponselnya di dalam kamar.


Entah mengapa sesil merasa tidak nyaman, sesil terlebih dulu menyalakan GPS di ponselnya, dan mengirim pesan singkat kepada nathan, mengatakan bahwa dirinya akan menemani imel berjalan-jalan di sekitar villa.


Sesil berjalan menuju teras villa, tampak di sana imel sedang berpose mengabadikan potret dirinya.


"Ayo..!" sesil berjalan mendahului imelda, dan imeldapun mengakhiri selfinya. Imel menyimpan kembali ponselnya di dalam saku jaket dan berlari mengejar sesil yang sudah berjalan mendahului dirinya.


Kini imel dan sesil berjalan menapaki jalanan yang sangat sepi, karena memang suasana mendung dan weekend membuat rumah dia area sini begitu sepi.


Beberapa kali imel mengabadikan foto mereka berdua di layar ponselnya.


Tiba-tiba ponsel sesil bergetar, tanda satu pesan masuk dari nathan, nathan mengatakan dia sudah dalam perjalanan menuju keberadaan sesil.


Namun tiba-tiba sesil di kagetkan dengan bayangan sekelebat orang di belakangnya, sesilpun menoleh ke belakang dan ternyata tidak ada seorangpun.


"Imel, ayo kita pulang, perasaanku tidak enak" Sesil mencoba menarik tangan imel dan mengajaknya pulang, bukannya mendengarkan sesil, imel malah memarahi sesil, imel kira itu hanya alasan sesil semata.


Kini mereka berjalan semakin jauh dari area villa. Tenggorokan imel terasa begitu kering, imelpun menoleh ke kiri dan kanan mencari warung atau apapun itu yang menjual minuman.


Pucuk di cinta ulam pun tiba, sesil melihat orang yang menjajakan susu kedelai hangat di ujung jalan sana.


"Sil kau tunggu di sini saja, aku beli susu kedelai hangat dulu untuk kita berdua" imel berlari meninggalkan sesil yang kini duduk di aspal jalan.


Sesil melihat ke arah imelda yang sedang sibuk memilih susu kedelai, namun tiba-tiba saja mulut sesil di bekap menggunakan sapu tangan oleh seseorang, kemudian sesil di tarik paksa oleh dua orang dan di bawa menjauh dari tempatnya duduk.


Dua orang tersebut membawa sesil memasuki sebuah villa yang letaknya jauh masuk ke dalam gang.


Sesil di bawa masuk ke dalam villa tersebut dan di dudukkan di sebuah sofa di ruang tamu, tangannya di ikat dan mulutnya di lakban.


Sementara imelda, yang baru saja kembali dari membeli susu kedelai hangat, mencari keberadaan sesil, beberapa kali imel berteriak memanggil sesil namun tidak ada jawaban.


Imel mencoba mengubungi sesil namun sesil tidak mengangkat telefonnya, dengan panik imel segera kembali ke villa, berharap sesil sudah terlebih dahulu kembali ke villa.


Dan saat imel pergi, mobil nathan datang dari arah yang berlawanan.


Nathan meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada sesil, bahwa dirinya sudah sampai di lokasi yang sempat sesil share tadi. Nathan menunggu begitu lama namun sesil tak kunjung membalas, akhirnya nathan mencoba menelfon sesil beberapa kali namun sesil juga tidak menjawab.


Perasaan nathan tiba-tiba jadi tidak nyaman. Hatinya merasa telah terjadi sesuatu terhadap sesil.


Sementara di sebuah ruangan villa yang letakknya jauh dari jalan utama, sesil sedang berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya. Namun belum berhasil usahanya, pintu ruangan tersebut terbuka.


Masuklah sosok yang sangat familiar oleh sesil, sesil melebarkan matanya ketika melihat dean kini berjalan mendekat ke arahnya.


"Halo, sayang?" Dean mengangkat dagu sesil hingga kini mata mereka saling memandang.


"Jika kau menurut sedikit saja, dan mau menjadi milikku tentu saja hal seperti ini tidak perlu terjadi" dean melepaskan dagu sesil, dan mengusap pipi sesil dengan begitu lembut. Kemudian dean melepaskan lakban yang menutupi mulut sesil.

__ADS_1


"Mau apa kau?" seru sesil yang tak bisa lagi menahan amarahnya


"Lepaskan aku, dasar gila !" imbuh sesil


"Ya aku gila karena tak bisa memilikimu, jika aku tak bisa memilikimu, orang lain juga tak boleh memilikimu" Seru dean, kemudian dean menyuruh anak buahnya meninggalkan villa tersebut.


"Pergilah, urusan kalian sudah selesai, aku ingin bersenang-senang dengan kekasihku" dean melemparkan sebuah amplop coklat yang berisi uang, kemudian semua anak buah dean pergi dari villa, kini hanya tinggal dean dan sesil berada di sana.


Dean kembali berjalan mendekat ke arah sesil, dena dengan seksama melihat wajah sesil, pandangan matanya beralih ke bibir tipis sesil.


Dean mencoba mencium sesil dengan paksa, namun sesil terus saja berusaha menolaknya.


"Bahkan sedari dulu, saat aku masih jadi kekasihmu, kau tak pernah mengijinkan aku untuk merasakan bibirmu" dean melayangkan tamparan ke pipi kanan sesil, rasanya dean begitu geram karena sesil terus saja menolak dirinya.


"Kita lihat, apakah nathan masih mau menerima gadis yang akan aku nikmati saat ini?" Dean tertawa sarkas,dan mulai melepaskan jaket yang membaluti tubuh sesil, setelah jaket sesil terlepas, dengan begitu brutal dean mulai merobek baju yang sesil kenakan, dengan sekuat tenaga sesil berteriak meminta tolong dan mencoba melawan dean, namun usahanya sia-sia, karena kedua tangannya di ikat dengan tali oleh dean.


Bahkan suara robekan terdengar begitu menggema mengisi ruang kosong tersebut.


Bulir air mata sesil membasahi matanya, rasanya dunianya runtuh sudah. sesil hanya bisa berdoa semoga akan ada yang datang menolongnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pingin bikin konflik yang lebih ekstream dari season satu, tapi nanti oke😁


Sekarang belum waktunya hahahha

__ADS_1


kalau romantis terus nggak ada gregetnya🤞


__ADS_2