
Setelah nathan memastikan sesil benar benar istirahat, nathan keluar dari kamar sesil dan membawa nampan berisi mangkuk bekas bubur. Nathan berjalan mencari letak dapur, nathan menuruni anak tangga dan saat tiba di ujung tangga lantai bawah, tepat di samping ruang tamu, terlihat kakek dan nenek sesil sedang berbincang bincang di ruang tersebut.
Saat mendengar langkah kaki nathan, anne dan kinos kompak melihat ke arah sumber suara.
"Kemari nak" kinos melambaikan tangannya ke arah nathan
Nathan hanya tersenyum kemudian melangkahkan kakinya mendekati anne juga kinos.
"Tuan, nyonya, saya permisi pamit ke kantor lagi, namun sebelum saya pulang biarkan saya menyimpan nampan ini ke dapur terlebih dahulu" nathan tersenyum ke arah anne juga kinos.
"Kau masih saja memanggil kami dengan sebutan tuan dan nyonya, panggil kami oma dan opah" seru kinos sambil terkekeh, kemudian kinos memanggil pelayan untuk membawa nampan tersebut ke dapur.
Nathan hanya bisa tersenyum dan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Kemari duduk" kali ini anne ikut menimpalinya.
Nathan sejenak melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih ada waktu tiga puluh menit sebelum waktu makan siangnya habis. Akhirnya nathan memutuskan untuk duduk bergabung dengan anne juga kinos.
"Bagaimana apa sesil mau makan nak?" tanya anne.
"Semua buburnya di makan dengan lahap oleh sesil nyonya" jawab nathan
"Oma ya, bukan nyonya" anne tersenyum ke arah nathan
"Padahal kemarin kemarin anak itu susah sekali makan" sambung anne lagi.
"Terimakasih sudah datang menjenguk cucu kami, oh ya kau bekerja di kantor apa nak?" kinos bertanya sembari meminum secangkir teh panas yang baru saja di sediakan oleh pelayan.
"Kebetulan saya bekerja di perusahaan ayah saya, perusahan keluarga, meskipun perusahaan kecil" sambung nathan lagi sambil menyunggingkan senyumnya.
"Oh ya? baguslah, semangat macam ini yang saya sangat sukai, dulu putra saya juga merintis perusahaan dari nol, kebetulan saya ini hanya fotografer keliling, dan ibunya ya hanya pengabdi masyarakat, jadi papinya sesil memilih jalan hidupnya sendiri, kami sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya saja" papar kinos panjang lebar
"Tunggulah, sebentar lagi papi dan omnya sesil pulang dari luar kota" sambung kinos lagi.
Namun tiba tiba ponsel di saku celana nathan bergetar, terlihat panggilan dari emilia sekretarisnya.
"Hallo mil"
"...."
__ADS_1
"Baiklah, saya akan segera kembali ke kantor"
Setelah itu nathan menutup ponselnya dan segera berpamitan kepada kinos juga anne, ada tamu penting menunggunya, setelah berpamitan nathan berjalan keluar rumah dan segera memasuki mobilnya dan menjalankannya.
Setelah mobil nathan keluar dari halaman rumah sesil, tidak lama kemudian mobil swan memasuki area halaman rumahnya.
Swan dan Sean baru saja kembali dari perjalanan dinasnya.
Swan memasuki rumahnya dan berjalan menuju ruang tamu, nampak kedua orang tuanya sedang duduk dengan meminum secangkir teh panas.
"Ayah, Ibu" swan dan sean berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
"Kalian sudah kembali" anne dan kinos berbarengan menjawab pertanyaan dari swan.
"Sudah bu" kemudian swan dan sean bergantian mencium telapak tangan kedua orang tuanya, dan mendudukan dirinya di sofa.
"Sesil ke kantor kah? rumah sepi sekali" Sean nampak melihat sekeliling rumah kakaknya yang di rasa sangat sepi.
"Sesil sedang demam" jawab kinos
"Apa demam?" swan seketika membuka matanya, awalnya tadi swan menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata, rasanya sangat lelah sekali perjalanan dinas kali ini.
"Oh" swan membulatkan bibirnya, swan sudah bisa menebak siapa teman pria yang di maksud ibunya, pastilah dean.
Swan tidak salah jika berniat mendekatkan dean dengan sesil, dean memang sangat terlihat baik memperlakukan sesil, selagi sesil tidak menolak maka swan berniat untuk menjodohkan mereka berdua.
Kemudian swan berdiri dari tempat duduknya dan berpamitan untuk melihat keadaan putrinya.
Swan berjalan menyusuri tangga menuju kamar sesil, setelah sampai di depan kamar sesil swan menyentuh knop pintu dan membukanya perlahan.
Nampak putrinya sedang terlelap dalam tidurnya dan terdapat infus di tangan kanannya.
"Apakah demam parah" gumam swan dalam hati.
Swan berjalan mendekati ranjang dan mendudukan dirinya di sisi ranjang, swan memandangi wajah putrinya yang terlihat pucat, kemudian swan menyentuh kening sesil, namun suhu tubuh sesil sudah stabil.
Swan merasa sangat menyesal karena selama dinas swan sibuk dengan pekerjaannya, sehingga swan melupakan kewajibannya sebagai seorang ayah.
"Sayang, maafkan aku, aku lalai menjaga putri kita" swan menatap foto ayu yang tersimpan di meja kecil samping tempat tidur sesil, rasanya swan sangat merindukan mendiang istrinya sekaligus swan merasa bersalah karena sudah lalai dalam menjaga sesil.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷
Sementara nathan baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan klien dari singapura.
Nathan menyandarkan dirinya di kursi kerjanya, nathan nampak sedang membuka ponselnya, nathan mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan bagaimana kondisi sesil saat ini.
Bagiamana keadaanmu? apakah sudah lebih baik? jika sudah bangun tidur cepat kabari aku ~nathan
Setelah membaca ulang teks dan yakin tidak ada salah penulisan nathan mengirim pesan tersebut.
Tak lama kemudian terdengar pintu ruangannya di ketuk oleh emilia sekretarisnya.
Setelah di persilahkan masuk, emilia memasuki ruangan nathan dan menyerahkan beberapa file yang harus di tanda tangani.
Dan juga memberi kabar baik, bahwa pihak Carnal Group sudah memberi email balasan, bahwa pihak mereka meminta bertemu untuk membahas kontrak kerja sama besok siang.
Mendengat berita tersebut nathan tersenyum senang, akhirnya usahanya tidaklah sia-sia, sebentar lagi nathan akan membuktikan kepada keluarga sesil bahwa dirinya layak dan patut bersanding dengan sesil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tuliskan saran kalian pems.
Komentar kalian adalah semangat buat srayu♥️😘
__ADS_1