
Sudah dua bulan lamanya Sesil tidak bertemu dengan gadis cempreng yang selalu menemaninya sejak kecil, sahabat terbaiknya yang satu ini akan pulang hari setelah dua bulan lamanya melakukan bulan madu di jerman bersama suaminya. Meskipun Imelda selalu bertukar kabar lewat video call, tapi itu rasanya tidak cukup untuk mengobati rasa rindu terhadap sahabat karibnya Sesil.
Setibanya di bandara sebenarnya Imelda ingin sekali berjumpa menyusul sahabatnya ke kantornya. Tapi karena kondisi pasca perjalanan jauh membuat Dave tak memberi ijin pada Imelda.
Sebenarnya Imelda merasa sangat kecewa akan keputusan dari Dave, tapi apa mau di kata dia sebagai seorang istri harus patuh kepada suami selagi apa yang suaminya katakan dalam hal kebaikan.
^
Sore harinya, seperti biasa Sesil dan Nathan baru pulang dari kantor, tubuh keduanya terasa begitu lelah karena seharian bekerja.
Keduanya terlihat beriringan masuk kedalam rumahnya.
Seperti biasanya keduanya membersihkan diri terlebih dahulu baru setelah itu akan duduk bersantai, karena hari ini Sesil dan Nathan sengaja makan malam di luar rumah.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Sesil lebih dulu turun ke bawah untuk membuatkan kopi untuk Nathan yang masih berada di dalam kamar mandi.
Namun belum sempat Sesil menginjakkan kakinya ke dapur, tiba-tiba pintu utama rumahnya di ketuk beberapa kali, membuat Sesil merubah haluan yang awalnya hendak pergi ke dapur kini membawa langkah kakinya menuju pintu utama.
Sesil menyentuh knop pintu dan menariknya hingga kini pintu rumahnya terbuka lebar.
Sesil begitu terkejut melihat orang yang berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Sesil.." Teriak Imelda dengan suara cemprengnya, bahkan dia langsung memeluk tubuh sahabatnya dengan erat, karena memang dia sangat merindukan sahabat baiknya yang sudah dua bulan lamanya tidak bertemu.
"Berisik sekali" Suara Nathan tiba-tiba muncul di balik punggung istrinya
"Diam" Ketus Imel sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Sesil.
Kemudian Sesil mengajak Imelda juga Dave masuk ke dalam rumahnya, serta menyuruh Bi nung untuk membuatkan minuman untuk mereka semua.
Kini ke empat sahabat itu duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu, Sesil duduk bersebalahan dengan Imelda, sementara Nathan dengan Dave.
Imelda menyodorkan beberapa paper bag berisi oleh-oleh kepada Sesil.
Kemudian mereka berbincang santai seputar liburan Dave dan Imelda ke jerman. Bahkan Imelda memperlihatkan foto-fotonya dengan Dave yang begitu mesra.
"Sil.." Tiba-tiba Imelda berbisik pelan di telinga Sesil
"Hm" Jawab Sesil seadanya
"Aku selama ini tidak memakai pengaman saat di atas ranjang" Ucap Imelda mesum
Seketika Sesil melebarkan matanya karena tidak menyangka. Imelda akan berbicara se-Fulgar itu padanya.
Pletak...
Sesil dengan kesal menjitak kepala Imelda, meskipun kini dirinya sudah menikah tapi untuk membicarakan hal seperti itu membuat Sesil malu bukan kepalang.
"Dasar mesum" Bisik Sesil pelan.
"Iya, benar seperti itu, maka dari itu aku.." Tiba-tiba Imelda menghentikan perkataannya. Perutnya lagi dan lagi merasa di aduk-aduk.
Hoek..Hoek..
Imelda terlihat mual-mual dan berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan sesuatu, Dave seketika beranjak dari duduknya dan menyusul istrinya yang sedang mual-mual di dalam sana. Dave dengan telaten memijat tengkuk leher istrinya. Setelah di rasa sedikit lega, Dave memapah istrinya kembali ke ruang tengah.
Sesil melihat wajah Imelda yang sudah pucat di tambah dengan keringat dingin yang membasahi dahi sahabatnya. Karena merasa takut, Sesil mengambil minyak angin dan menyerahkan kepada Dave.
"Kau sakit apa Mel..?" Tanya Sesil kawatir sambil memijat lengan sahabatnya. Sementara Dave malah tersenyum tanpa berkata.
"Ini semua gara-gara dia" Imelda menunjuk Dave yang sedang tersenyum melihatnya.
"Kita melakukannya suka sama suka, jadi kenapa kau menyalahkan aku?" sanggah Dave
__ADS_1
"Apa sih yang kalian bicarakan?" Tanya Sesil polos.
"Jadi sebenarnya Imelda sudah mengandung, usia kandungannya sudah menginjak dua minggu" Dave melebarkan senyumannya karena merasa bahagia sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.
Sesil dan Nathan kompak saling memandang dan langsung tersenyum lebar. Sesil memeluk Imelda dan mengucapkan selamat atas kehamilannya. Sementara Nathan menepuk pundak Dave dan mengucapkan selamat atas kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Setelah mengobrol banyak dengan Imelda dan Dave dan waktu juga semakin larut malam, mereka akhirnya berpamitan untuk pulang ke rumahnya.
Sesil sudah terlebih dulu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Nathan terlihat masih setia di depan layar laptopnya.
Setelah di rasa pekerjaannya beres, Nathan menutup layar laptopnya kemudian menyimpannya ke tempat semula.
Nathan mendekat ke arah ranjang dan merangkak naik ke atasnya kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh ya dan Sesil.
Sesil yang masih belum tertidur seketika langsung membuka matanya kembali dan langsung melingkarkan tangannya di perut suaminya.
"Mereka sangat beruntung ya Nath" Ucap Sesil lirih.
"Siapa?" Nathan menaikkan kedua alisnya
"Dave dan Imelda, meskipun mereka baru saja menikah dua bulan tapi langsung di beri kepercayaan momongan. Sementara kita?" Sesil semakin mengeratkan pelukannya di tubuh suaminya.
Nathan merubah posisi tidurnya menjadi miring dan langsung memeluk istrinya dengan erat. Nathan paham betul apa yang istrinya rasakan.
Perlahan tangan Nathan mengusap kepala Sesil dengan begitu lembut.
"Kita juga pasti akan mendapatkan momongan kembali sayang" Seru Nathan pelan.
Jika saja dulu Nathan bisa menjaga Sesil, mungkin saat ini mereka sudah menimang bayi di tangannya, melengkapi kebahagiaan rumah tangganya.
"Kita memiliki segalanya Nath, uang, jabatan, kekayaan, kekuasaan, karir yang cemerlang. Tapi kita tidak memiliki anak, lalu untuk siapa kita bekerja selama ini Nath" ucap Sesil putus asa
"Sayang.." Panggil Nathan mesra
"Jangan berbicara sembarangan. Itu tidak akan pernah terjadi" Tukas Nathan dengan kesal. Bahkan dia langsung melepaskan pelukannya dari Sesil.
"Tapi Nath, apa yang aku katakan benar adanya. Ada kemungkinan aku tidak bisa hamil lagi" Sesil beranjak dari tidurnya dan menyandarkan dirinya di sandaran ranjang, air matanya tak hentinya menetes
"Sudah sekian bulan pasca keguguran, tapi nyatanya hingga saat ini aku masih belum mengandung lagi Nath" Sesil berkata dengan sesenggukkan di sela tangisannya.
Nathan diam saja dan ikut duduk di tengah ranjang berhadapan langsung dengan istrinya, kedua kakinya menyilang dengan sempurna, tatapan matanya sangat tajam. Wajahnya memerah menahan emosi jiwanya.
"Nath menikahlah dengan wanita yang bisa memberimu kebahagiaan yang utuh, aku akan menerima siapapun pilihanmu sayang" Sesil meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
Bukan tanpa alasan Sesil meminta hal seperti ini pada Nathan. Karena beberapa hari yang lalu Sesil memeriksakan kondisi rahimnya pada dokter spesialis kandungan.
Tapi dokter tersebut memprediksi kemungkinan Sesil bisa mengandung lagi sangatlah kecil.
Karena dokter mengatakan terjadi penyumbatan pada tuba falopi yang menyebabkan akan sulit hamil kembali.
"Nath dengarkan aku, ini jalan terbaik. Aku yakin kau pasti sangat menginginkan buah hati hadir di rumah tangga kita, jadi dengan memiliki satu istri lagi aku yakin kebahagiaan yang utuh akan menaungi rumah tangga kita" ucap Sesil meyakinkan.
"Banyak cara Sil untuk mendapatkan momongan, bukan dengan cara seperti ini. Aku tidak akan sudi berbagi ranjang dengan wanita manapun selain dirimu" Tegas Nathan
"Sayang dengarkan aku, memang ada cara untuk menyembuhkan penyumbatan ini, tapi itu belum tentu berhasil dan jika berhasilpun proses penyembuhan akan memakan waktu lama" Imbuh Sesil lagi.
"Tidak akan pernah terjadi. Idemu itu di luar nalar manusia" Tukas Nathan.
"Tapi sayang, dengarkan aku, aku memiliki calon yang pas untukmu?" Sesil mencoba tersenyum
"Yasmine maksudmu?" jawab Nathan menatap tajam wajah istrinya
"Dia wanita baik Nath, apalagi dia sangat dekat denganku dan dia juga sahabatmu sejak lama bukan? bahkan dulu dia jelas-jelas menunjukkan rasa suka terhadapmu dan hingga saat ini Yasmine belum memiliki kekasih. Aku yakin dia masih mencintaimu sayang" Bujuk Sesil lagi
__ADS_1
"Tidak akan ada wanita lain yang menjadi istriku selain kau" Nathan menjauhkan tangan istrinya yang menggenggam tangannya. Kemudian dia beranjak dari ranjang berlalu keluar kamar, bahkan dia membanting pintu kamarnya dengan sangat keras, membuat Sesil menghela nafasnya dengan kasar.
Sementara Nathan keluar dari kamarnya menuju sofa ruang tamu, dia kembali duduk di sana sambil memijat pelipisnya. Rasanya istrinya kali ini sudah sangat kelewatan, bagaimana bisa istrinya menyuruhnya menikah lagi dengan wanita lain padahal dirinya sudah sering mengatakan apapun yang terjadi hanya akan ada satu wanita yang menjadi istrinya.
Perasaan Nathan begitu kalut, dia keluar rumah menuju garasi mobilnya dan mengambil sesuatu dari dalam dasboard mobilnya kemudian keluar menuju taman rumahnya.
Di duduk di kursi taman menghirup udara banyak-banyak untuk menenangkan pikirannya. Sejenak Nathan melihat ke arah langit, ribuan bintang bertabur di atas sana menghiasi langit malam serta menambah kecantikan langit di atasnya, kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok yang baru saja dia ambil dari dalam mobil. Nathan menyelipkan sebatang rokok di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah, kemudian menyalakan korek api dan mulai menghisap rokok tersebut dengan hisapan yang berat.
Nathan menatap ke arah kebun bunga yang sengaja dia buat untuk mempercantik rumahnya. Bayang kejadian beberapa hari yang lalu saat dirinya berkebun dengan Sesil kembali berputar di memori otaknya. Senyuman wajah istrinya menari-nari di dalam pikirannya. Sikap manja serta sikap menggemaskan Sesil, membuat Nathan tak akan pernah bisa membagi hatinya dengan wanita manapun.
Nathan mengisap sebatang demi sebatang rokok dengan berat, hingga tak butuh waktu lama dia bawah kakinya sudah berserakan puntung rokok.
Nathan menenangkan pikirannya dan mencari jalan keluar dari permasalahannya. Jika istrinya terus memaksa dia menikahi Yasmine, tentu saja dirinya harus memiliki rencana yang matang untuk menggagalkan niat istrinya itu.
Entah berapa lama Nathan duduk merenung, akhirnya dia memutuskan untuk kembali masuk ke rumahnya.
Perlahan Nathan membuka pintu kamarnya, lampu kamar sudah temaram, sepertinya Sesil sudah tertidur, Nathan masuk terlebih dulu ke dalam kamar mandi untuk berkumur supaya bau tembakau tak lagi tercium, setelah berkumur dan memastikan bau tembakau tak lagi tercium di bau mulutnya, Nathan keluar kamar mandi dan menuju ranjang. Dia melihat istrinya tidur memunggungi dirinya, ada penyesalan tadi Sesil sudah membentak istrinya, dia begitu kesal mendengar ide konyol dari istrinya. Seharusnya sebagai wanita Sesil tak ingin berbagi suami dengan wanita manapun sekalipun teman dekatnya seperti Yasmine. Meskipun Nathan lihat hubungan keduanya sangat dekat akhir-akhir ini, tapi Nathan tak menyangka Sesil sedang menyamankan diri berdekatan dengan Yasmine yang akan dia jodohkan dengan suaminya sendiri.
Meskipun nanti jika kenyataan buruk itu terjadi, dan istrinya bisa hidup rukun dengan Yasmine, tapi Nathan sama sekali tidak menginginkan adanya dua wanita dalam rumah tangganya. Nathan mengisap wajahnya dengan kasar dan berjalan mendekat ke arah ranjang tidurnya.
Nathan perlahan merangkak ke atas tempat tidur dan membaringkan dirinya di samping tubuh Sesil yang tidur dengan posisi memunggungi suaminya. Nathan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
Kemudian perlahan Nathan mengecup pipi istrinya dengan lembut.
"Sayang apapun keadaannya, aku tidak akan pernah melepaskanmu" Ucap Nathan lirih.
Kemudian dia melingkarkan tangannya di tubuh istrinya. Dan memejamkan matanya yang sudah terasa mengantuk.
Sesil yang sebenarnya belum tidur hanya bisa menghela nafasnya perlahan, air matanya kembali meleleh dari sudut matanya.
Rasanya akan tidak adil jika Nathan tak bisa memiliki kebahagiaan yang lengkap setelah semua pengorbanan yang Nathan lakukan untuk dirinya.
Jadi apa salahnya kalau saat ini Sesil ingin sedikit berkorban untuk memberi kebahagiaan yang lengkap untuk suaminya. Itu tekadnya saat ini.
Sesil ingin membalas semua kebaikan dan pengorbanan yang Nathan lakukan selama ini, dan lagi pula Sesil yakin betul kalau Yasmine adalah pilihan terbaik untuk suaminya, selama dua bulan ini Sesil banyak mengetahui sikap baik Yasmine, wanita yang benar-benar cocok untuk di jadikan istri dan melengkapi kebahagiaan untuk Nathan, kebahagiaan yang Sesil tidak bisa berikan padanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Srayu terimakasih buat yang sudah kasih semangat, semoga Tuhan yang membalas kebaikan kalian♥️
Klarifikasi :
Bukan srayu tidak menerima kritikan kalian, tapi kalau menyamakan karya srayu dengan karya orang lain namanya bukan kritikan, TAPI hujatan.
Srayu marah kalau seperti itu, karena semua tulisan Srayu hasil dari otak Srayu sendiri😑
Note :
Selama ini srayu slalu terima segala kritikan kalian dengan senang hati dan juga banyak mengucapkan terimakasih🙏♥️
__ADS_1
Percaya saja sama jari-jemari Srayu😘