Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Kuasa Tuhan


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Nathan sedang berdiri di depan cermin sambil mengancingkan kemeja miliknya. Sejenak dia melirik ke arah cermin dimana ada pantulan wajah istrinya yang masih terlelap dalam tidur pulasnya,sepertinya istrinya sangat kelelahan hingga sudah waktunya bangun malah masih terlihat setia berada di alam mimpinya.


Sebenarnya Nathan juga merasa sangat lelah, tapi tanggung jawabnya untuk tetap bisa memimpin perusahaan yang memiliki ratusan ribu karyawan di berbagai cabang di berbagai kota di negri ini membuat Nathan harus mengesampingkan dirinya sendiri, karena masih banyak orang yang bergantung di bawah naungan perusahaan yang dia pimpin saat ini.


Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada perusahaan tentu saja bukan hanya dirinya dan Sesil yang akan terlunta-lunta, tapi seluruh stafnya serta keluarga dari stafnya juga akan terkena imbasnya. Maka dari itu Nathan selalu saja berusaha kuat demo nasib banyak orang di perusahaannya.


Setelah selesai mengancingkan kemeja miliknya, Nathan mulai memasangkan dasi di kerah bajunya, jika biasanya Sesil yang selalu sigap memasangkan dasi, tapi pagi ini Nathan sendiri yang harus mengenakannya.


Setelah di rasa penampilannya sudah rapih, Nathan berbalik badan dan mendekat ke arah ranjang, bahkan kini Nathan berdiri di tepian ranjang sambil matanya menatap wajah istrinya yang di rasa semakin tembam saja.


Perlahan Nathan mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang, dan tangannya juga mulai membelai lembut pipi istrinya.


Merasakan ada sentuhan di pipinya membuat Sesil mengerjapkan matanya beberapa kali, bahkan Sesil langsung menggosok kedua matanya menggunakan punggung tangannya supaya penglihatannya lebih jelas.


"Sayang, kau hari ini ke kantor?" Tanya Sesil dengan mata yang masih sangat mengantuk.


"Iya, banyak pekerjaan yang menanti. Kau baik-baik saja di rumah, istirahat yang cukup ya" perintah Nathan dengan suara penuh kasih sayang.


"Maafkan aku, hari ini aku sangat lelah jadi aku tidak ke kantor, mungkin besok aku sudah mulai bekerja" imbuh Sesil memasang wajah yang tidak enak


Nathan menghela nafasnya lalu melepaskan dengan perlahan, kedua tangannya masih terus memberikan usapan lembut di pipi istrinya. Jika saja Nathan bisa meminta, Nathan tak ingin Sesil lelah bekerja di kantor, menurut Nathan semua tanggung jawab mencari uang adalah tugasnya, tugas Sesil hanya memanjakan diri di rumah, melakukan banyak perawatan atau berbelanja, seperti kebanyakan wanita di luar sana, tapi istrinya ini sangat berbeda meskipun tumbuh dan di besarkan di keluarga yang sangat kaya tapi tidak membuat kepribadian Sesil menjadi sombong. Kekayaan yang melekat di tubuhnya membuat Sesil menjadi sosok yang sangat rendah hati dan pekerja keras, dia tidak mau berpangku tangan begitu saja menikmati kerja keras suaminya atau papinya.


Semasa sekolah saja Sesil banyak menerima beasiswa karena memang Sesil adalah siswi berprestasi, banyak perlombaan yang di menangkan olehnya, baik akademik maupun non akademik.


Semua prestasi itulah yang membawa Sesil bisa mendapatkan beasiswa.


Di besarkan tanpa adanya kasih sayang Maminya, membuat Sesil tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, apalagi dirinya adalah anak tunggal yang artinya kelak ketika papinya sudah tua pasti akan menjadi tanggungan dirinya sepenuhnya.


"Sayang kenapa diam saja?" Sesil menautkan kedua alisnya karena suaminya malah melamun sepagi ini


"Ada masalah?" tanyanya lagi


"Tidak sayang. Hm kau ini istriku kau bebas kapan saja tidak masuk ke kantor, atau bahkan kau bebas bekerja atau tidak. Aku tidak akan memaksamu membantuku sayang"


"Kau ini bagaimana, meskipun aku istrimu itu ketika di rumah, di kantor kita adalah partner bisnis yang harus bekerja sama, bahu-membahu mengembangkan kerajaan bisnis yang sudah kita perjuangkan selama ini" tegas Sesil.


"Terserah istriku yang bawel saja" Nathan mengacak-acak rambut istrinya dengan gemas.


"Aku berangkat ke kantor dulu ya, baik-baik di rumah" Nathan mendaratkan satu kecupan di kening istrinya lalu melepaskannya. Kemudian Nathan menarik kembali selimut hingga menutup dada istrinya.


Nathan melambaikan tangannya, kemudian dia mengambil tas kerja serta membawa jas di lengan tangannya kemudian dia berlalu keluar kamar.


Hingga tak berselang lama terdengar deru mobil meninggalkan garasi rumahnya.


Sesil kembali mengeratkan selimutnya dan memejamkan matanya yang masih merasa mengantuk. Namun belum benar-benar terlelap seketika Sesil membuka matanya kembali dan langsung menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Sesil meraih tas slempang miliknya dan mengambil benda yang sempat di beli di apotik kemarin. Tidak tanggung-tanggung Sesil membeli dua alat tes kehamilan.


Dengan dada yang berdegup kencang Sesil melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi.


Lima menit kemudian...


Sesil terlihat keluar kamar mandi memegang alat tes kehamilan yang belum dia lihat hasilnya, Sesil benar-benar berharap ada suatu keajaiban Tuhan yang bisa membuatnya hamil kembali. Tangan Sesil terlihat bergetar hebat, jantungnya berdetak sangat kencang.


Sesil memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan, dengan perlahan Sesil mulai melihat tes pack yang sedari tadi di dalam genggaman tangannya.


Perlahan Sesil membuka sebelah matanya untuk melihat benda yang sedari tadi di genggam olehnya, dan saat sedikit mengintip Sesil melihat dua garis merah tertera di sana seketika itu pula Sesil langsung membuka matanya memastikan kalau penglihatannya tidak salah, mata Sesil semakin terbuka lebar saat melihat benar ada dua garis merah tertera di sana. Sesil kembali menggosok kedua matanya, memastikan kalau penglihatannya tidaklah salah kali ini.


Dengan masih sedikit ragu Sesil mencubit pipinya begitu keras "Ah sakit" Sesil mendesis merasa sakit di pipinya.


"Ini bukan mimpi" imbuh Sesil lagi berbicara pada dirinya sendiri.


Merasa belum terlalu puas, Sesil kembali masuk ke dalam kamar mandi dan kembali menggunakan alat tes pack satunya lagi untuk memastikan kalau alat tersebut menunjukkan hal yang sama seperti pada alat sebelumnya.


Dan benar saja saat Sesil kembali mengetesnya ternyata menunjukkan dua garis merah.


Sesil melebarkan senyumnya, hatinya begitu bahagia hari ini, dia tak menyangka Tuhan kembali menunjukkan kuasa-Nya, memberikan kasih sayang yang luar biasa untuk dirinya.


"Tuhan terimakasih" Sesil mengatupkan kedua tangannya di depan bibirnya sambil berulang kali mengucapkan terimakasih pada Sang Pemilik Kehidupan.


"Nak, baik-baik di dalam sini, papi pasti akan sangat senang" Sesil mengusap perutnya yang masih rata.


"Kita beri kejutan untuk papi ya sayang" bisik Sesil lagi berbicara pada anak yang berada dalam kandungannya.


Sesil memutuskan untuk segera mandi dan akan pergi ke dokter kandungan untuk memastikan kondisi kandungannya saat ini.


Namun sebelum mandi, Sesil mengirim pesan pada Imelda, mengajak sahabatnya untuk bertemu di tempatnya bekerja, karena Sesil berencana akan melakukan pemeriksaan di tempat Imelda bekerja.


^

__ADS_1


Kariadi Hospital....


Sesil menunggu di lobi rumah sakit, dia sedang menunggu kedatangan Imelda yang sudah berjanji bertemu di sini, karena memang Imelda kebetulan sedang libur bekerja hari ini.


"Sesil..." suara cempreng milik Imelda membuat Sesil menoleh ke arah belakang, terlihat Imelda berjalan mendekat ke arah mereka.


"Perutmu sudah mulai terlihat membuncit" seru Sesil saat Imelda kini sudah berdiri di depannya.


"Tentu saja, kandunganku sudah menginjak tiga bulan" imbuh Imelda sambil mengusap perutnya.


"Oh ya kau mengajakku kemari ada apa? apa kau sakit?" tanya Imelda dengan raut wajah yang kawatir.


"Tidak, Ayo temani saja aku. Aku sudah membuat janji dengan salah satu dokter di sini" Sesil menarik tangan sahabatnya mengikuti langkah kakinya


Kini keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit,namun kedua alis Imelda menaut dengan sempurna ketika melihat langkah kaki Sesil mengarah ke tempat ruang dokter spesialis kandungan.


"Hei, aku baru saja mengecek kehamilanku kemarin bersama Dave, lalu mengapa kau mengajakku kemari lagi" teriak Imelda dengan suara khasnya yang sangat cempreng, bahkan membuat Sesil harus menggosok daun telinganya menggunakan jari jemarinya.


Sesil diam saja tidak mendengarkan celotehan yang keluar dari mulut sahabatnya, dia terus saja melangkahkan kakinya hingga kini berdiri di depan sebuah pintu yang tertera nama dr. Kirana Sutedjo spOG.


Sesil mengetuk pintu tersebut dan tak menunggu lama pintu tersebut di buka oleh seorang perawat.


Karena memang Sesil sudah membuat janji sebelumnya, maka perawat tersebut langsung mempersilahkan Sesil untuk masuk ke dalam.


"dr.Melda, apa kabar?" Kirana terlihat menyapa teman sejawatnya.


"Baik dok, anda?" tanya Imelda balik.


"Tentu saja sangat baik, ada yang bisa saya bantu?" tanya Kirana ramah.


Imelda menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena dia saja tidak tau tujuan dari Sesil mengajaknya menemui dokter Kirana.


"Jadi begini dok, saya sudah telat haid beberapa hari, dan tadi pagi setelah saya tes menggunakan tes pack ternyata hasilnya positif" tutur Sesil.


"Oh baiklah, mari saya periksa" Kirana membimbing Sesil menuju ranjang yang biasa di gunakan olehnya untuk memeriksa para pasiennya.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dan ingin lebih memastikan lagi, Kirana melakukan USG dan ternyata memang benar Sesil sedang mengandung saat ini.


Setelah melakukan pemeriksaan Kirana mempersilahkan Sesil kembali duduk di tempat semula.


"Selamat nyonya, anda memang sedang mengandung dan usia kandungan anda sudah menginjak umur dua minggu, kondisinya juga sangat sehat" jelas Kirana sambil menyodorkan foto hasil USG kepada Sesil


"Tapi kenapa nyonya Sesil?" Kirana mengeryitkan dahinya saat melihat raut wajah Sesil yang datar saja saat mengetahui kehamilannya.


"Beberapa bulan yang lalu saya mengunjungi salah satu dokter kandungan untuk menanyakan bagaimana kondisi rahim saya setelah mengalami proses keguguran karena sudah cukup lama tapi saya tidak hamil lagi. Dan dokter tersebut mengatakan kalau terjadi penyumbatan tuba falopi yang mengakibatkan saya sulit hamil kembali"


"Oh saya paham, memang benar jika terjadi penyumbatan tuba falopi akan mengakibatkan susah kembali hamil, tapi bukan berarti tidak bisa hamil. Masih ada harapan meskipun kecil, dan harapan yang kecil itu bisa menjadi peluang yang besar jika Tuhan menghendaki" jelas Karina


"Sudahlah dasar bodoh ! Seharusnya kau senang, akhirnya kebahagiaan keluargamu akan lengkap" Imelda menarik sahabatnya ke dalam dekapannya.


Bahkan berulang kali Imelda mengucapkan selamat pada sahabat karibnya yang kini sedang mengandung kembali. Sesil juga terlihat menitikkan air mata kebahagiaan karena kuasa Tuhan begitu luar biasa.


Setelah berkonsultasi pada Kirana dan Kirana juga memberikan beberapa vitamin ibu hamil untuk Sesil, kini Sesil memutuskan untuk pergi ke kantor suaminya dan berpisah pulang dengan Imelda yang juga datang di antar oleh sopirnya.


Sepanjang perjalanan menuju kantor suaminya senyum di wajah Sesil tak hentinya mengembang dengan sempurna, rasanya dia sudah tak sabar memberitahukan kabar bahagia ini pada Nathan.


Hingga kurang dari empat puluh menit mobil yang dia kendarai sudah sampai di parkiran sebuah gedung perkantoran yang menjulang sangat tinggi.


Dengan langkah yang sangat lebar Sesil membawa langkah kakinya menuju lift yang biasanya di gunakan kusus oleh eksekutif perusahaan ini.


Tak menunggu waktu lama lift tersebut sudah terbuka, Sesil langsung masuk ke dalamnya dan menekan lantai tujuh belas tempat dimana ruangan suaminya berada.


Ting...


Lift berdenting dan pintunya terbuka, Sesil pun langsung menuju ke arah ruangan suaminya, terlihat di sana ada Emilia yang duduk di meja kerjanya, namun meja kerja Bram sepertinya kosong.


"Mil, Nathan ada?" tanya Sesil.


Seketika Emilia yang sedang sibuk menatap layar komputer langsung mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara wanita yang sangat familiar di telinganya.


"Nona? selamat siang" Emilia menyapa Sesil kemudian membungkukkan badannya memberi salam kepada Sesil.


"Nona, kebetulan CEO baru saja menghadiri pertemuan dengan client penting, baru saja keluar bersama Bram sepuluh menit yang lalu" jelas Emilia


"Apa perlu saya hubungi CEO?" imbuh Emilia.


"Tidak perlu, biar saya menunggu saja di dalam"


"Oh baiklah nona, mari saya antarkan" Emilia berjalan mendahului Sesil dan membukakan pintu ruang kerja milik Nathan.

__ADS_1


Sesil masuk ke dalam ruangan dan langsung duduk di sofa ruang kerja, sejenak Sesil melihat sekeliling ruang kerja milik papinya yang kini sudah di alihkan menjadi ruang kerja suaminya.


Di atas meja kerja Nathan masih tersimpan rapih foto mami, papi serta dirinya saat perayaan hari ibu dulu ketika masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Sesil ingat betul saat hari itu dirinya belum mengetahui Sisil (Ayu) adalah maminya, karena saat itu Sesil baru bertemu dua kali dengan Sisil, meskipun begitu ikatan batin antara anak dan ibu tidak bisa dipungkiri, meskipun baru saja bertemu tapi Sesil merasa begitu nyaman dengan Sisil kala itu.


Pandangan mata Sesil beralih ke arah bingkai yang terletak di samping bingkai foto keluarganya, di sana terdapat satu bingkai foto pernikahan dirinya dan juga Nathan. Suaminya tidak banyak merubah tatanan ruang kerjanya karena kebetulan Nathan dan Swan memiliki selera yang hampir sama.


Sesil menyandarkan kepalanya menatap langit-langit ruangan tersebut, tiba-tiba saja terlintas satu ide di dalam kepalanya. Jika dirinya memberitahukan kehamilannya saat ini rasanya akan sangat tidak menyenangkan.


Di tengah lamunannya, tiba-tiba saja pintu ruang kerja terbuka dan menyembullah wajah Nathan dari balik pintu tersebut.


"Sayang ada apa?" Suara Nathan terdengar sedikit panik saat melihat istrinya tiba-tiba datang ke kantornya.


"Kenapa kau sudah kembali? bukannya sedang bertemu dengan client?" Sesil mengernyitkan dahinya dengan heran.


Nathan menghela nafasnya, sebenarnya memang benar dirinya sedang bertemu dengan client penting, tapi saat Emilia mengirimkan pesan bahwasannya istrinya datang ke kantor, Nathan dengan segera menyudahi pertemuannya dan memutuskan untuk segara kembali lagi ke kantor.


"Katakan sayang ada apa? apa terjadi sesuatu?" Nathan mengusap rambut istrinya dengan lembut saat dirinya kini baru saja duduk di samping istrinya.


Sesil hanya menggelengkan kepalanya, kemudian dia langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat, menghirup aroma wangi parfum milik suaminya.


'pasti ada maunya' gumam Nathan.


"Sayang apakah hari ini kau sibuk? kira-kira kau pulang jam berapa?" tanya Sesil dengan suara yang sangat manja.


"Hm jadwalku lumayan padat hari ini, mungkin sekitar jam sembilan sayang aku baru sampai di rumah. Memangnya ada apa?"


" Apa?? jam sembilan?" Sesil memlototkan matanya sambil berkacak pinggang.


"Tidak boleh, kau harus pulang jam enam sore, kalau lewat dari jam enam sore lebih baik aku tidak usah pulang ke rumah" ketus Sesil sambil melipat kedua tangannya di atas perut.


"Tapi sayang, aku ada.."


"Ada apa? pertemuan penting? Memangnya aku tidak penting hah?"


Nathan memijat pelipisnya, istrinya selalu saja berbuat seenaknya sendiri.


"Kenapa kau tidak mau?" Seru Sesil lagi dengan suara yang semakin tidak enak di dengar.


Bahkan kali ini dirinya langsung beranjak berdiri hendak berlalu dari hadapan Nathan.


"Mau kemana?" Nathan menahan tangan istrinya supaya tidak pergi.


"Duduklah sayang" pinta Natha. lembut, dengan memasang wajah kesal Sesil kembali duduk di tempatnya.


"Baiklah aku akan pulang tepat waktu, sudah jangan mengambek lagi" Nathan menyelipkan anak rambut ke balik daun telinga istrinya.


"Benar? Janji?" Jawab Sesil antusias


"Hm, janji" Nathan mengangkat jari kelingkingnya ke depan wajah istrinya, Sesil pun dengan senang hati langsung menautkan jari kelingkingnya.


"Ya sudah jangan lupa janjimu, aku sekarang mau pulang dulu ya sayang" Sesil mengecup pipi Nathan dan melepaskannya kemudian dia berdiri dan berlalu dari hadapan Nathan.


"Bye sayang" Sesil melambaikan tangannya sambil melebarkan senyumnya sebelum tubuhnya hilang di balik pintu.


Setelah kepergian istrinya, Nathan kembali memijat pelipisnya, kepalanya akhir-akhir ini terasa lebih pusing, selain karena ulah Sesil, kepalanya juga sering pusing tanpa sebab.


"Istri satu saja sudah membuatku kewalahan" Nathan berbicara pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Ied Mubarok, Selamat hari Raya Idhul Fitri untuk semua teman, kerabat dan pembaca setia karya receh Srayu.


Mohon maaf lahir dan batin🙏 atas segala kesalahan yang Srayu perbuat🙏♥️

__ADS_1


Sayang kalian semua♥️ jaga kesehatan dan tetap Stay At Home🏘️


__ADS_2