
Sesil sedang mematut diri di depan cermin rias kamarnya, dia memang sengaja sedang berdandan untuk acara Dinner Romantis yang dia desain di dalam rumahnya, awalnya Sesil ingin mengajak Nathan Dinner di restoran, namun menurut Sesil Dinner yang di buat sendiri di rumah pasti memiliki kesan tersendiri dan jauh lebih indah tentunya.
Sejenak Sesil melirik ke arah jam dinding rumahnya yang sudah menunjukkan pukul 05.55pm. Jika Nathan menepati janji berarti dia akan sampai dalam waktu lima menit lagi.
Sambil menunggu suaminya pulang, Sesil memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah menyala, lebih terlihat berani dari sebelum-sebelumnya. Jika biasanya Sesil cenderung mengenakan lipstik dengan warna-warna yang lebih soft, kali ini dia memilih tampi berbeda dari sebelumnya.
Indera pendengaran Sesil menangkap suara deru mesin mobil memasuki garasi rumahnya, sudah bisa di pastikan itu pasti adalah suara mesin mobil suaminya. Suaminya memang selalu tepat waktu dalam segala hal.
Tak berselang lama terdengar pantulan suara sepatu fantovel mendekat ke arah kamarnya dan benar saja pintu kamar terbuka dan masuklah Nathan yang masih berpakaian rapih serta membawa tas kerja di tangannya.
"Ada apa ini sayang?" Nathan mengeryitkan dahi melihat istrinya dandan begitu cantiknya.
"Hanya ingin makan malam bersama suamiku saja" jawab Sesil santai sambil tangannya sibuk memasangkan sebuah jepit rambut bertahta berlian yang pernah Nathan berikan padanya.
"Dalam rangka?" Nathan menaikkan kedua alisnya ke atas karena bingung melihat istrinya benar-benar tampil beda dari sebelumnya.
"Bawel!!" Sesil berbalik badan dan memlototkan matanya ke arah Nathan yang berdiri tak jauh darinya.
"Cepat mandi, aku tunggu di meja makan" perintah Sesil
Nathan kembali menghela nafasnya menghadapi sikap istrinya yang seperti itu.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Nathan duduk di sofa melepaskan sepatu yang membalut kedua kakinya, setelah sepatu tersebut terlepas, Nathan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Sesil bergegas turun ke bawah menuju ruang makan yang sudah di sulap olehnya menjadi tempat Dinner romantisnya nanti.
Sesil menghias meja makan dengan dengan begitu cantik, ada banyak lilin yang sengaja di pasang oleh Sesil di lantai membentuk hati, belum lagi kelopak bunga mawar yang menghiasi ruang makan menambah kesan romantis bagi siapa saja yang melihatnya.
Setelah lili menyala semuanya, Sesil mematikan lampu ruang makan, hingga kini hanya ada sinar lilin yang menyinari seluruh ruang makan.
Sesil menarik kursi dan duduk di sana sambil menunggu suaminya turun.
Setelah cukup lama menunggu, terdengar derap kaki menuruni anak tangga, dan benar saja terlihat Nathan turun mengenakan pakaian yang cukup santai tapi tetap terlihat elegan di mata Sesil, cocok sekali di padukan dengan gaun yang di kenakan Sesil saat itu.
Sesil melebarkan senyumnya menyambut kedatangan Nathan, tak berbeda jauh dengan Nathan yang juga mengernyitkan keningnya melihat suasana yang begitu romantis di ruang makannya.
"Duduklah, ayo kita makan"
Nathan yang masih di penuhi segudang tanda tanya hanya bisa mengangguk menuruti semua perkataan istrinya.
Setelah Nathan duduk, Sesil seperti biasa mengambilkan makanan untuk suaminya. Kini keduanya makan bersama dalam suasana yang cukup hening tidak ada yang membuka obrolan terlebih dahulu.
Setelah menghabiskan makanan di atas piring, Nathan meneguk air putih untuk melarutkan sisa-sisa makanan yang berada di dalam rongga mulutnya. Setelah semua sisa makanan larut oleh air dan tertelan masuk ke dalam perut, Nathan mengambil selembar tisu untuk menyeka mulutnya, begitupun dengan Sesil yang juga sudah menyelesaikan makan malamnya.
"Sayang bagaimana pekerjaanmu?" Sesil memulai obrolannya
"Baik sayang, memangnya kenapa?" tanya Nathan sedikit heran
"Tidak, hanya bertanya saja" Sesil melebarkan senyumnya.
"Oh ya, aku ada kado spesial untukmu. Kan selama kita menikah aku belum pernah memberikanmu kado spesial" Sesil menyodorkan sebuah kotak kado berwarna biru dongker ke depan suaminya.
"Apa ini sayang?" Nathan menerima kotak tersenut dan mengamatinya dengan seksama
__ADS_1
"Kau tidak perlu repot-repot sayang, melihatmu bahagia sudah lebih dari cukup"
"Aku tidak repot sama sekali, aku senang memberimu itu. Bukalah" seru Sesil
Nathan menepiskan senyumnya, kemudian tangannya sibuk melepaskan pita yang mengikat kotak kado tersebut. Setelah pita tersebut terbuka, Nathan membuka penutup kotak kado dan melihat isi di dalamnya.
Nathan menyipitkan dahi melihat ada dua alat tes kehamilan di dalamnya yang menunjukkan dua garis, bahkan bukan hanya itu saja, ada selembar foto hasil USG juga.
Nathan mengalihkan pandangannya dengan wajah yang sangat datar, kemudian pandangan matanya menatap sendu kedua bola mata istrinya.
"Sayang, aku sudah berulang kali mengatakan kalau aku tidak mempermasalahkan tentang keturunan, kita bisa mengadopsi dari panti asuhan dan kita besarkan layaknya anak kita. Nanti aku akan cari waktu untuk mengurus itu semua" Nathan meraih tangan istrinya lalu menggenggamnya dengan erat.
Sesil membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut mendengar jawaban dari mulut suaminya. Bukan ekspresi ini yang ingin dia lihat dari Nathan.
"Sayang, memangnya ini alat tes kehamilan milik siapa? lalu ini, foto hasil USG siapa?" Nathan kembali melihat isi kotak kado tersebut.
Sesil mendengus dengan kesal melihat sikap bodoh dari suaminya "Itu foto USG anak kita" tegas Sesil.
Seketika itu pula Nathan melepaskan genggaman tangan istrinya dan wajahnya semakin datar tanpa ekspresi, bahkan aura dingin begitu terasa oleh Sesil kala itu.
"Kau kenapa?" Sesil menyipitkan dahinya melihat ekspresi di wajah suaminya.
"Memangnya kau mengandung anak siapa?"
"Maksudmu apa?"
Sesil langsung naik pitam mendengar pertanyaan dari suaminya "Kau pikir aku selingkuh dan mengandung anak pria lain?" ketus Sesil
"Bukan, maksudku adalah bukannya kau sendiri yang bilang kalau tidak bisa mengandung lagi, lalu tiba-tiba kau menunjukkan aku dua alat tes kehamilan serta hasil USG. Sayang jangan bercanda"
"Aku tidak sedang bercanda, ini memang benar anak kita. Aku sedang mengandung, usia kandunganku sudah menginjak dua minggu" tutur Sesil
"Dua minggu?" Nathan mengulangi perkataan istrinya karena dia takut telinganya salah mendengar.
Nathan kembali diam, dia memikirkan semua perkataan istrinya, ini seperti mimpi indah yang tiba-tiba datang. Kemudian Nathan meletakkan tangannya di atas paha dan mencoba mencubit pahanya, tapi ternyata sakit rasanya.
Sesil yang merasa kesal akan ekspresi datar dari suaminya beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan Nathan, namun saat melintas di samping Nathan seketika itu pula tangan Sesil di tahan oleh tangan Nathan. Kini keduanya terlibat adu pandang yang cukup lama.
Sunyi..
Sunyi..
Nathan dan Sesil masih terlibat adu pandang yang cukup lama, hingga tiba-tiba Nathan beranjak berdiri dan langsung memeluk erat tubuh istrinya "Sayang terimakasih" bisik Nathan lembut.
Nathan meletakkan dagunya di pundak istrinya, dia memejamkan matanya dan menghirup udara dalam-dalam, bahkan tak terasa sudut matanya mengeluarkan air mata hingga jatuh di pundak Sesil.
"Sayang kenapa?" Sesil merenggangkan pelukan suaminya dan menatap ke arah Nathan yang terlihat menitikkan air mata.
Perlahan Sesil membantu Nathan mengusap air matanya menggunakan ibu jarinya, namun dengan cepat Nathan menangkup kedua tangan Sesil menggunakan tangannya, Nathan memegang erat kedua tangan istrinya dan memberikan ciuman di tangan Sesil.
"Aku bahagia sayang" imbuh Nathan dengan suara yang sangat lirih, hari ini benar-benar emosinya sedang di aduk-aduk, segala jenis emosi bersarang di hatinya.
Nathan melepaskan tangan istrinya lalu berjongkok di hadapan Sesil, dia meletakkan daun telinganya mendekat ke arah perut rata istrinya "Nak, baik-baik di dalam ya. Jangan nakal, jaga mami" bisik Nathan sambil mengusap perut rata istrinya.
__ADS_1
Sesil tersenyum lebar melihat tingkah suaminya yang di rasa seperti anak kecil, bahkan bukan hanya berbicara, Nathan juga berulang kali memberi kecupan di perut rata istrinya.
"Pokoknya harus baik-baik jagoan papi ya" Nathan terkekeh pelan saat mengajak calon anaknya berbicara, meskipun calon anaknya belum bisa menjawabnya.
Setelah puas berbicara dengan calon anaknya, Nathan kembali berdiri dan memeluk istrinya dengan erat "Aku akan menjaga kalian dengan baik, meskipun nyawaku taruhannya" Nathan merenggangkan pelukannya dan mendaratkan banyak ciuman di area wajah Sesil bahkan membuat Sesil tertawa geli akan tingkah suaminya.
"Sayang..." tiba-tiba Nathan melepaskan pelukannya dari tubuh Sesil
"Uhm?" jawab Sesil seadanya.
"Aku ingin makan cake Daimtarta" Nathan melebarkan senyumnya menatap kedua bola mata istrinya.
"Daimtarta? Sayang apa kau tidak salah?" Tanya Sesil sedikit terkejut, karena keinginan Nathan bisa di bilang sangat langka karena cake tersenut adalah kue khas dari Swedia.
"Ayolah sayang, aku sangat ingin memakannya" Nathan memelaskan wajahnya
Sesil terdiam sejenak memikirkan permintaan suaminya, dirinya yang hamil mengapa Nathan yang harus mengidam, menyusahkan saja, pikir Sesil.
Dengan sedikit kesal, Sesil kemudian mengiyakan permintaan suaminya. Kini keduanya memutuskan mencari kue Daimtarta.
Nathan masih terus mengemudikan mobilnya menyusuri setiap sudut kota semarang mencari cake yang dia inginkan, sudah banyak toko kue yang mereka datangi namun sayangnya kue yang mereka inginkan masih belum ada.
Nathan tak pantang menyerah, dia terus berkeliling mendatangi setiap toko kue yang ada, hingga pada toko kue yang ke lima puluh enam kalinya akhirnya Nathan menemukan kue yang dia inginkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pada berprasangka buruk terus nih sama Srayu😭
__ADS_1
Tinggalkan komentar dan Vote kalian 🙏