Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Merasa Bersalah


__ADS_3

Dave masih terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan di bantu alat pernafasan dengan kedua matanya yang masih terpejam, bentol-bentol di wajahnya juga semakin banyak, warna wajah Dave juga terlihat semakin memerah. Nathan, Sesil dan Imelda mendudukkan diri di sofa yang terletak tak jauh dari ranjang yang Dave tempati saat ini.


Imelda beberapa kali melirik ke arah Dave, hatinya begitu merasa bersalah, karena sikap usilnya membuat Dave menjadi seperti itu.


Sedangkan Sesil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu. Rasanya dia benar-benar merasakan jenuh, dia benar-benar ingin kembali ke rumah, Sesil sudah sangat merindukan Bath up kamar mandinya,Sesil sangat ingin memanjakan diri dengan mandi busa.


"Mel.." Nathan memanggil imelda yang sedari tadi diam saja dan sesekali melihat ke arah Dave, mendengar nathan memanggil dirinya, imelda memalingkan wajahnya menatap suami dari sahabatnya itu.


"Dave tidak memiliki siapapun di sini, karena dia di indonesia sedang membangun cabang perusahaan milik keluarganya yang baru saja di buka, semua keluarganya berada di luar negri, hm sebenarnya aku ingin menjaga Dave, tapi kau tau sendiri Gadis manja ini juga baru saja sembuh" Nathan mengusap kepala sesil yang menyandar di dadanya dengan begitu lembut


"Aku tidak manja" Suara sesil terdengar begitu mendayu-dayu di telinga nathan.


"Jadi, aku minta tolong kau menjaganya ya, kan hari ini kau juga libur bekerja? paling tidak dia besok pasti sudah di perbolehkan pulang oleh dokter" Imbuh Nathan lagi.


"Tapi aku..."


"Gadis sial, ini semua kan karena makanan yang kau beli mengandung bawang bombay, jadi kau harus menebus dosamu" Sesil memotong ucapan imelda, bahkan sesil memlototkan matanya ke arah imel yang duduk tepat di sampingnya


"Nath, ayo kita pulang saja, dokter sudah mengijinkan aku pulang hari ini" Sesil melebarkan senyumnya menatap suaminya, Padahal bukan itu alasan utama sesil. Sesil hanya ingin memberi banyak waktu untuk imel dan dave saling mengenal.


Nathan diam saja tidak bergeming akan posisinya, dia nampak ragu mendengarkan penuturan dari istrinya.


Melihat suaminya tak bergeming, sesil mengedipkan sebelah matanya memberi kode kepada nathan, niat hati sesil memberi kode supaya Nathan bisa paham dengan tujuan hatinya, malah nathan salah mengartikan apa yang sesil inginkan.


Nathan tersenyum mesum saat melihat sesil mengedipkan sebelah matanya, dan tanpa pikir panjang lagi Nathan beranjak dari kursi dan menarik tangan sesil keluar ruangan.


"Hei barang kalian bagaimana??" Imel berteriak ke arah dua sejoli yang sudah berlalu dari ruang kamar tersebut tanpa menghiraukan maupun menjawab pertanyaan yang terlontar dari Imelda.


Imel mendengus dengan kesal akan tingkah sahabatnya itu, dengan amat sangat terpaksa imelda pasti yang akan mengantar pakaian milik sesil ke rumah sesil.


Sedangkan kini imelda tak lagi tinggal bersama Papi Swan.


Ayah James, telah membelikan Imelda sebuah apartemen yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat dimana imelda bertugas kali ini.


Imel kembali memusatkan pandangan matanya menatap ke Arah Dave, dan benar saja tak menunggu waktu lama, Dave membuka matanya, dan nafasnya juga sudah teratur seperti biasanya.


Imel yang melihat mata dave perlahan terbuka, seketika langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, imel memasang kembali wajah cemberut dan menyembunyikan rasa bersalahnya.


Dave melepas alat bantu pernafasan yang menempel di hidungnya, karena Dave merasa sudah membaik kondisi pernafasannya.


Dave melihat sekeliling ruangan yang sudah sangat sepi, karena seingat Dave tadi Nathan sudah kembali namun saat Dave melirik keadaan ruangan, Dave hanya melihat Imelda yang duduk di sofa sambil bermain ponselnya yang baru saja di keluarkan dari tas jinjingnya.


"Aku mau pulang..!" Dave menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya dan hendak beranjak dari ranjang yang dia tempati, dan saat melihat hal tersebut imelda beranjak berdiri dan berlari mendekat ke arah dave, namun sialnya imel malah tersandung kaki tiang penggantung slang infus hingga tubuhnya terjatuh di atas dada bidang milik Dave.


Imelda bisa mendengar dengan jelas detak jantung Dave yang terdengar begitu teratur, namun berbeda dengan detak jantung miliknya yang perlahan mengalami peningkatan. Jantung imelda tiba-tiba saja berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Imelda masih tak bergeming akan posisinya, dia sangat menikmati hangat suhu tubuh yang di salurkan dari tubuh Dave, dan entah mengapa Imel merasa begitu nyaman.


Namun tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dan masuklah Lian dengan membawa secangkir teh panas yang terlihat mengepul.


Awalnya Lian ingin mengantar teh panas yang dia buat di ruangannya untuk Imelda, namun siapa sangka Lian malah di suguhi pandangan yang merusak matanya.


Melihat Lian masuk, seketika Imelda menjauhkan kepalanya dari dada bidang milik Dave.


Imelda merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Maaf sepertinya aku mengganggu" Lian tersenyum dengan terpaksa ke arah Dave dan Imel yang kini menatapnya


"Aku hanya ingin mengantar Teh ini untukmu dokter imel" Lian meletakkan secangkir teh panas di atas meja kecil yang terletak tepat di samping ranjang yang kini Dave gunakan.


"Bagaimana keadaanmu Tuan? Jika sudah merasa baikan, kau bisa pulang nanti sore. Aku sudah memberi obat terbaik untuk alergi" Ucap Lian yang menatap ke arah Dave.


"Terimakasih" Ucap Dave sambil tersenyum, namun senyum yang dave suguhkan tidak mendapat respon baik dari Lian, bahkan Lian mengalihkan pandangannya dan menatap imelda yang kini duduk di kursi kecil yang terletak di samping pembaringan.

__ADS_1


"Aku bisa mengurusnya dokter Li" Imel mencoba memaksakan senyumnya ke arah Lian.


"Baiklah, aku permisi dulu" Lian berlalu dari hadapan Dave dan Imelda.


"Aku ingin pulang, banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan, bisakah kau membantu aku mendapat surat ijin pulang dari rumah sakit ini?" Ucap dave sambil melirik ke arah imelda.


"Kau jangan macam-macam, atau aku akan menyuntikkan obat bius hingga kau tertidur selama seminggu ke depan!!" Dengus imelda.


Dave melihat imel yang sedikit menampakkan raut wajah bersalah dan kuatir akan kondisinya.


"Hah..hah..hah.." Tiba-tiba saja nafas Dave kembali tersengal-sengal, membuat imelda begitu panik dan memasangkan kembali alat bantu pernafasan yang sempat dave lepaskan tadi.


Sedangkan Dave masih berakting seolah-olah dirinya sesak nafas kembali. Rasanya dia begitu senang melihat raut kawatir dari imelda, gadis yang selalu membuatnya merasa kesal.


Dave kembali melancarkan aksinya, kali ini dave menutup matanya, membuat imelda merasa begitu panik dan menggoyangkan lengan Dave.


"Dave, bangun ! Dave!!" imel menggoyangkan lengan dave mencoba membangunkan Dave yang kembali menutup matanya.


"Dave jangan membuat aku merasa bersalah" Imelda merasa panik dan langsung berlari menuju sofa, dia mengambil stetoskop dari dalam tas jinjingnya, kemudian imelda kembali mendekat ke arah Dave dan memeriksa kondisi Dave.


"Tapi detak jantungnya baik-baik saja, tidak menunjukkan indikasi apapun" Imelda mengeryit keherananan.


Seketika imelda menghembuskan nafasnya dengan kasar, mengapa dia yang seorang dokter bisa begitu bodoh hingga mudah di kelabuhi oleh Dave.


Imelda meraih tangan Dave dan menekan di antara ibu jari dan jari telunjuk Dave, bahkan imelda menekan dengan tenaga penuh, membuat Dave memekik kesakitan.


"Ah sakit !!! Dasar dokter gadungan!!!" Dave mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa sakit akibat di pencet oleh Imelda.


Imelda mengacuhkan celotehan dari Dave, dengan rasa yang masih kesal, imelda kembali mendudukkan dirinya di sofa yang sempat tadi dia duduki.


"Nathan bilang seluruh anggota keluargamu tidak berada di sini, jadi dia memintaku untuk menjagamu sementara waktu, karena dia harus mengurus istrinya yang baru saja sembuh" Papar imelda.


"Aku bukan anak kecil yang harus kau jaga!!" Dave mendengus dengan kesal mendengar perkataan dari Imelda.


Hampir satu jam imel memainkan game tersebut, rasa kantuk mulai menyerang matanya, apalagi ini sudah siang, biasanya saat libur kerja imel akan menghabiskan harinya dengan memejamkan matanya.


beberapa kali Imel menguap bahkan matanya terlihat berair. Lama kelamaan imel tak bisa mengendalikan matanya lagi hingga di tertidur di atas sofa.


Dave yang kala itu memejamkan matanya namun dia tak tidur, Dave menajamkan indera pendengarannya namun tak terdengar lagi suara game online milik imelda.


Perlahan Dave membuka matanya dan mengintip imelda, namun Dave cukup terkejut melihat imelda sudah memejamkan matanya dengan posisi duduk.


Seketika Dave menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, dan dengan paksa Dave melepaskan infus yang menempel di pergelangan tangannya.


Setelah infus tersebut terlepas, dave beranjak turun dari ranjang dan mendekat ke arah imelda yang tertidur di sofa.


Dave memandangi wajah imelda dengan seksama, ketika tertidur imelda terlihat begitu manis di mata Dave.


"Dia cukup Lumayan" Dave tersenyum dan memiringkan kepalanya ke kanan


"Mikir apa aku ini" Dave memukul kepalanya dengan telapak tangannya sendiri.


Tanpa menunggu lama, dave membopong tubuh mungil imelda dan memindahkannya ke atas ranjang yang sempat di tempati olehnya.


Kemudian dave membalutkan selimut hingga ke perut imelda.


Namun tiba-tiba Dave memiliki ide konyol, dia meraih slang infus dan menempelkannya di lengan imelda, setelah menempelkannya Dave memberi plester sebagai perekatnya, setelah infus terlihat terpasang cukup sempurna, ya meskipun Dave hanya menempelannya saja namun terlihat mirip seperti terpasang.


Dave terkekeh pelan, rasanya dia ingin segera melihat wajah konyol imelda saat bangun nanti. Karena sekarang posisinya adalah Imelda sebagai pasien dari Dave.


Dave kembali berjalan mendekat ke arah sofa dan membuka laptopnya kembali meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda karena insiden alergi tadi. Meskipun bentol di tubuhnya masih terlihat namun Dave merasa sudah membaik.


***

__ADS_1


Sementara itu, Nathan memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu utama rumahnya, dia dengan segera turun dari mobil dan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu mobil untuk sesil.


Setelah nathan membuka pintu mobil, sesil keluar dari dalam mobil lalu nathan menutup kembali mobilnya.


Keduanya berjalan beriringan memasuki rumah mereka. Nampak wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh dari arah dapur menghampiri mereka.


"Tuan, Nona" Sapa wanita tersebut yang tak lain tak bukan adalah ART di rumah nathan.


"Sayang, kenalkan ini Bi Nung, beliau yang di kirim yayasan untuk membantu kita mengurus rumah" Nathan memperkenalkan ART tersebut kepada Sesil, dan sesil dengan senang hati langsung mengulurkan tangannya ke arah Bi nung.


Setelah bersapa singkat, nathan menyuruh Bi nung untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Setelah Bi nung kembali lagi ke dapur dan tak terlihat wajahnya.


Nathan segera merengkuh dan membopong tubuh sesil menuju lantai dua rumahnya.


"Nath, turunkan aku" Sesil meronta minta di turunkan, namun Nathan mengacuhkannya dan tetap melangkahkan kakinya menapaki anak tangga satu persatu.


Melihat suaminya tidak bergeming, sesil hanya bisa tersenyum kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher nathan.


Sesil menatapi wajah suaminya yang tampan itu.


Setelah berdiri di depan pintu, nathan meminta sesil untuk membuka pintu tersebut. Wangi harum bunga mawar menyeruak ke indera penciuman sesil, Sesil melihat ke arah tempat tidur dimana di sana terdapat banyak sekali kelopak mawar merah berbentuk love, dan banyak sekali bunga lili yang bertebaran di bawah lantai.


Sesil begitu terkesiap melihat ini semua.


Nathan perlahan meletakkan tubuh sesil di atas ranjang yang di hiasi kelopak mawar merah.


Nathan kembali berjalan mendekat ke arah pintu kamar yang belum sempat di tutup. Nathan menutup pintu tersebut dan menguncinya, dia pun bergegas kembali mendekat ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu.


"Aku pikir ranjang kita gundukan tanah makam nath?" Sesil terkekeh pelan dan memalingkan wajahnya menatap nathan, sedangkan Nathan mengernyit keheranan dengan ucapan Sesil.


"Iya, karena ranjang kita penuh dengan kelopak mawar merah" Lanjut sesil lagi


"Tapi, bay the way terimakasih untuk ini, ternyata kau cukup romantis" Sesil mengecup bibir suaminya dengan begitu mesra, namun saat hendak menjauhkan bibirnya dari bibir nathan, tangan nathan meraih tengkuk leher sesil dan malah memperdalam ciuman mereka.


Rasanya Nathan merindukan kebersamaan mereka seperti saat menghabiskan malam di resort milik papinya.


Nathan mencium bibir istrinya dan memberikan lumatan kecil di sana, bahkan tangan nathan pun ikut melancarkan aksinya. Keduanya hanyut dalam suasana kenikmatan yang hanya mereka berdua yang bisa merasakan. Kali ini nathan begitu berhati-hati dan lembut membimbing sesil menikmati percintaan mereka.


Ranjang yang awalnya tertata begitu rapih, kini sudah berantakan akibat kegiatan panas mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa part ke depan, mungkin akan banyak membahas imelda dan dave ya guys😁


ya tapi tetap sih tokoh nathan dan sesil akan di bahas tapi tidak terlalu banyak😁

__ADS_1


Srayu pengin cariin jodoh soalnya buat Dave🤗


__ADS_2