
Nathan mengusap pipi sesil menggunakan telapak tangannya, pandangan mata nathan beralih ke bibir sesil yang nampak merona akibat polesan lipstik berwarna merah muda.
Otak nathan sudah liar entah kemana, logikanya di kalahkan oleh gejolak batinnya, nathan mendekatkan ke wajahnya lebih dekat ke arah wajah sesil.
Namun seketika wajah bundanya melintas di depan wajah nathan. Semua pesan mendiang ibunya untuk bisa menghargai wanita sebelum ada ikatan yang sah muncul di dalam kepalanya, seketika itu pula nathan menjauhkan wajahnya dari sesil, nathan mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Nathan membuka dashboard mobilnya dan mengambil sebungkus rokok dan korek api. Nathan memutuskan untuk keluar dari mobil dan menunggu sesil bangun dari tidurnya.
Nathan duduk di bamper depan mobilnya, nathan memandang ke laut lepas yang terhampar begitu indah tak terbatas, nathan sedang mengendalikan gejolak hatinya yang begitu hebat, selama ini jika nathan berdekatan dengan wanita nathan selalu bisa mengendalikan dirinya, namun ketika dekat dengan sesil, otak liarnya sebagai pria selalu datang tanpa bisa di cegah.
Nathan membuka bungkus rokok, dan mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya menggunakan korek api.
Nathan menghisap rokok yang di selipkan di antara jari jarinya, nathan sebenarnya bukan seorang pecandu rokok, namun rokok selalu menjadi pelampiasannya ketika perasaannya sedang tidak tenang.
Langit nampak mendung siang ini, angin bertiup cukup kencang, namun nathan masih duduk di depan mobilnya sambil menikmati pemandangan di hadapannya, beberapa kapal berlalu lalang di sana.
Nathan kembali menoleh ke arah sesil yang masih tertidur dengan lelapnya.
Udara cukup dingin tak seperti biasanya, nathan melepas jas yang melekat di tubuhnya, kemudian nathan berjalan membuka pintu mobil dan meletakkan jaketnya di atas tubuh sesil yang masih terlelap.
"Kenapa kau selalu membuatku seperti ini sil" tangan nathan terulur mengusap kepala sesil dengan lembut. Kemudian nathan kembali menutup mobilnya dan melanjutkan duduk di depan mobil dan menikmati rokoknya.
Tiba tiba terdengar bunyi kapal yang hendak melakukan pelayaran, sontak saja sesil terkejut dan mengerjapkan matanya, sesil menoleh ke arah samping namun kursi kemudi sudah kosong.
Sesil mengumpulkan kesadarannya dan melihat ke arah sekelilingnya.
"Dimana ini" sesil bertanya pada dirinya sendiri.
Namun seketika sesil melihat ke arah depan tepat dimana nathan sedang duduk di sana dan menikmati sebatang rokok di tangannya.
Rambut nathan terlihat berantakan akibat di terpa oleh angin, namun itu menambah ketampanan dari nathan.
Sesil menatapi punggung nathan cukup lama, sesil mengerutkan keningnya ketika melihat nathan hanya menggunakan kemeja tanpa jas.
Pandangan mata sesil beralih ke jas yang kini berada di pangkuannya, seketika senyum sesil mengembang dengan sempurna, sesil tak menyangka di balik sikap menyebalkan nathan, nathan memiliki banyak sisi baik.
Sesil keluar dari mobilnya dengan membawa jas nathan.
"Ini aku kembalikan" sesil menyerahkan jas ke arah nathan, seketika nathan menoleh ke arah sesil.
"Sudah bangun? kau pikir mobilku hotel?" nathan kemudian menjatuhkan rokoknya ke tanah lalu menginjaknya.
Seketika mood sesil berubah menjadi buruk akibat pertanyaan yang di lontarkan oleh nathan.
__ADS_1
Sesil membuang nafasnya dengan kasar, dan duduk di bamper mobil nathan, sesil meletakkan jas nathan di belakangnya.
"Kau selalu menyebalkan ! kenapa kau tidak membangunkan aku hah?" sesil melipat tangannya di atas perut.
"Apa? tidak di bangunkan ? bahkan aku menepuk pipi mu berkali kali kau tetap saja terlelap, kau ini tidur atau koma?" jawab nathan lagi.
"Ah masa sih?" sesil meraba pipinya.
"Apa benar aku tidur sepulas itu" gumam sesil dalam hati.
Nathan hanya melirik ke arah sesil, sesil nampak terlihat konyol dengan ekspresi bingungnya.
Kemudian nathan meminum soft drink untuk menghilangkan bau tembakau di mulutnya.
Dan sesil asik memandang pemandangan yang ada di depannya, hamparan laut tak berbatas dan beberapa kapal yang melintas. Sesil sungguh sangat senang melihat pantai.
"Nath, soal dean..." sesil menarik nafasnya dalam dalam sebelum melanjutkan kata katanya, serasa ada benda tajam yang tiba tiba menusuk kedalam relung hatinya.
"Tidak perlu di jelaskan jika kau tidak ingin menjelaskannya" sebenarnya nathan sangat penasaran, namun nathan tidak mau memaksa sesil mencurahkan isi hatinya yang akan membuat sesil malah terluka.
Sedangkan sesil masih diam, dia mengumpulkan tenaganya dan menguatkan hatinya.
"Kami, oh maksudku adalah aku dan dean, dulu kami tidak ada hubungan apapun, aku hanya mengenal dean ketika masa orientasi SMA dulu, sejak saat itu dean selalu berusaha mencari perhatianku dan bersikap manis terhadapku, selama itu aku menganggapnya seorang teman, hingga ketika aku duduk di bangku kelas XII semua teman temanku memiliki pasangan, dan aku di kira tidak normal karena tidak pernah dekat dengan lelaki, b
bahkan aku bermusuhan denganmu yang seorang bintang sekolah dengan segudang prestasi dan wajahmu yang cukup lumayan"
Sesil hanya tersenyum masam dan melanjutkan kata katanya "Bukan aku tak ingin memiliki pasangan, namun rasanya itu tidak adil untuk papiku nath, papiku bahkan rela menghabiskan sisa hidupnya untuk mengurusku seorang diri, karena sepeninggal mami, papi hanya fokus terhadapku dan bisnisnya"
Sesil kembali menarik nafasnya, ketika mengingat papinya ada kegelisahan di dalam hatinya akan permintaan papinya soal dean.
"Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk menerima dean yang sudah mengejarku sekian lama, dean selalu bersikap baik saat mengejarku dulu, aku sama sekali tidak tau kalau dia memiliki sikap yang tempramental, satu bulan pertama hubungan kami masih baik baik saja, meskipun aku sama sekali tidak menyukainya, namun aku selalu berusaha bersikap baik ketika bersamanya"
Nathan mendengarkan secara seksama apa yang sedang sesil ceritakan, seolah olah nathan juga ikut merasakan apa yang saat itu sesil rasakan, jika nathan dulu tidak bersikap menyebalkan mungkin ceritanya akan berbeda, mungkin yang akan menjadi kekasih sesil adalah dirinya dan bukan lelaki gila itu.
"Namun, setelah sebulan berlalu dean mulai berubah sikap, dean selalu menuntutku menghabiskan akhir pekan bersamanya, padahal akhir pekan adalah waktu senggang dari papiku, aku tak tega meninggalkan papiku seorang diri di rumah hanya di temani beberapa pelayan, sejak saat itu dean mulai bersikap kasar denganku dan memaksakan setiap kehendaknya, pada akhirnya aku sudah tidak kuat dan ketika 3bulan anniversary hubungan kita, aku memutuskan dean"
"Lalu, bagaimana keluarga dean menjadi mitra bisnis dari papi mu? dan kau pernah mengenalkan dean kepada papimu?" nathan membrondong pertanyaan terhadap sesil.
"Dean merasa tidak terima setelah aku memutuskan dirinya, dean berusaha mengejarku terus bahkan dia juga menerorku, dan entah bagaimana ayah dean berhasil mengajukan proposal kerja sama dengan papiku, dan sejak keluarga kami bermitra bisnis dean sering ikut ayahnya ketika meeting dengan papiku, sejak saat itu papiku mulai mengenal dean"
Nathan meraih jas yang sempat di letakkan sesil di belakangnya, lalu nathan melingkarkan jasnya ke tubuh sesil "Pakailah, anginnya cukup kencang"
Sesil hanya mengangguk dan tersenyum ke arah nathan "Terimakasih"
__ADS_1
"Dan sekarang, papiku meminta aku untuk mengenal dean lebih jauh, pasalnya papiku tidak mengetahui kalo aku dan dean pernah menjalin hubungan di masa lalu" sesil memejamkan matanya, seakan berat rasanya untuk menolak keinginan papinya.
"Sil.."nathan meraih tangan sesil dan menggenggamnya, seketika sesil membuka matanya dan melihat ke arah nathan, awalnya sesil ingin melepaskan tangan nathan, namun hatinya menjadi tenang saat tangannya di genggam oleh nathan. Nathan memberi banyak energi positif untuk sesil.
"Maafkan aku yang selalu menyebalkan, dan biarkan aku membuat papimu memilihku di bandingkan dengan dean, Meskipun perusahaan keluargaku di bawah keluarga dean, namun aku yakin aku bisa mengembangkannya ke arah yang lebih baik"
Sesil terperangah mendengar ucapan nathan, sesil masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulut nathan.
"Sebelum aku membuat anaknya menyukaiku, aku akan terlebih dahulu membuat papinya menyukaiku" nathan menarik sesil kedalam dekapannya.
Sesil hanya bisa mengerjapkan matanya dan tak bisa berkata apa apa.
Sesil cukup lama diam didalam pelukan nathan, dia masih tak mempercayai ucapan nathan yang baru saja dia dengar.
Dan lagi lagi jantung sesil berdegub dengan kencang bahkan kini sesil juga bisa mendengar detak jantung nathan yang nampaknya sama cepatnya dengan jantung miliknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Please call me srayu oke, kayaknya lebih enak daripada "thoor" heheheh😘