
Sudah beberapa hari ini Nathan pergi ke palembang mengurus permasalahan yang ada di sana, selama itu pula Sesil yang menjalankan perusahaan.
Sudah beberapa proyek yang berhasil di tangan lembut Sesil. Karisma serta kepandaiannya merebut hati investor dan client membuat Sesil merasa begitu bersyukur.
Sore nanti sepulang bekerja Sesil berencana berkunjung ke rumah papinya di sela kesibukannya yang padat.
Sudah sebulan lamanya Papinya berada di Australia untuk mengurus opahnya yang berobat di sana.
Tapi beberapa jam yang lalu, Swan dan Rara sudah kembali ke Indonesia, perkembangan pengobatan Kinos sepertinya membuahkan hasil, karena yang Sesil dengar dari papinya, opahnya kini sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit dengan tongkat.
Sesil segera membereskan beberapa pekerjaan yang tertunda, kebetulan hari ini dia tidak ada jadwal pertemuan di luar.
Sesil sedang mengerjakan beberapa berkas yang menumpuk di banyu oleh Siska sekretarisnya.
Keduanya sibuk mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Satu persatu staf di kantornya pulang. Hanya tersisa beberapa orang yang harus lembur bekerja.
Siska juga sudah menuntaskan tugasnya, namun dia masih setia duduk di meja kerjanya menunggu bosnya pulang.
Saat Sesil membuka pintu ruang kerjanya, Siska beranjak berdiri dan memberi hormat kepada bosnya yang sangat di kagumi olehnya. Meskipun paras bosnya sangat cantik, tapi ketegasan dalam berbisnis membuat siapa saja yang menjadi lawan bicaranya akan tunduk pada perkataannya.
"Sis, kamu belum pulang?"
"Sebentar lagi Bu, kan ibu juga belum pulang" Siska tersenyum menjawab pertanyaan bosnya.
"Tidak usah menunggu saya, kalau pekerjaan kamu sudah selesai kamu bisa pulang"
"Saya juga mau pulang" Imbuh Sesil lagi.
Setelah berbasa-basi sebentar, Sesil memutuskan untuk cepat kembali ke rumah, karena dia berniat untuk mengunjungi opahnya yang baru saja pulang dari Australia. Rasanya Sesil sangat merindukan opahnya. Sebulan tak bertemu membuat Sesil ingin segera memeluk opah yang sangat di cintai olehnya.
Sesil mengemudikan ke area perumahan papinya dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.
Kurang dari satu jam, mobil yang di kendarai olehnya sudah sampai di depan rumah yang menjulang tinggi. Gaya Eropa klasik menambah kesan mewah pada rumah yang memiliki banyak kenangan masa kecilnya. Rumah dimana dirinya di besarkan oleh papinya seorang diri, rumah yang menjadi saksi lahirnya cinta kedua orang tuanya hingga dirinya kini bisa seperti ini.
Sejenak Sesil melihat sekeliling rumah sebelum masuk ke dalamnya.
"Nona" Tiba-tiba suara tukang kebun membuat lamunan Sesil buyar
"Mang, bagaimana kabarnya?" Sesil berbalik badan dan tersenyum ramah kepada pria paruh baya yang sudah bekerja di rumahnya semenjak dirinya kecil dulu
"Baik Nona" Tukang kebun tersebut melihat Sesil dari ujung kepala hingga kaki, dia begitu terkejut melihat Sesil sudah bisa kembali berjalan seperti dulu.
"Saya masuk dulu mang" Sesil mendorong pintu utama rumahnya dan masuk ke dalamnya.
"Papi.." Sesil berteriak memanggil papinya namun suasana begitu sepi. Membuat Sesil mengeryit keheranan.
"Papi.." Sesil kembali memanggil papinya untuk kedua kalinya
"Sayang..?" Suara bariton Swan terdengar dari kamar tidur yang terletak tepat di samping tangga rumahnya. Sesil tersenyum dan berlari kecil mendekat ke papinya langsung menghambur memeluk pria yang sangat di cintainya itu.
Hampir dua bulan tidak bertemu dengan papinya membuat Sesil tak bisa membendung keinginannya untuk bermanja dengan Swan.
Swan merentangkan tangannya menyambut putri semata wayangnya.
Keduanya saling berpelukan melepas rindu satu sama lain, karena selama hampir dua bulan ini sepasang anak dan ayah ini hanya bisa melepas rindu dengan video semata.
Swan melihat sekeliling tak mendapati Nathan di samping putrinya. Seketika Swan mengendorkan pelukannya dan menatap kedua bola mata putrinya
"Dimana Nathan?"
Sesil tersenyum mendengar pertanyaan dari papinya, Kamudian dia menjelaskan kalau Nathan sudah tiga hari ini berada di Palembang mengurus renovasi hotel yang berada di sana. Tapi Sesil tidak menceritakan perihal masalah yang menimpa perusahaannya. Karena masalah itu sudah bisa di atasi olehnya juga Nathan.
Swan mengajak Sesil untuk duduk di sofa sambil menikmati secangkir teh hangat yang baru saja di sajikan oleh salah satu pelayan rumahnya.
Awalnya Sesil ingin langsung menemui Kinos di dalam kamarnya, tapi Swan melarang karena Kinos baru saja istirahat setelah tadi sempat berjalan-jalan sebentar di taman belakang rumah.
Keduanya berbincang hangat, Sesil banyak meminta saran dari papinya perihal berbisnis. Walau bagaimanapun Sesil masih merasa butuh bimbingan dari papinya untuk mengurus perusahaannya.
__ADS_1
Meskipun Swan banyak memuji kinerja putrinya yang di rasa menurun dari dirinya, meskipun wajah cantiknya menurun dari mendiang maminya tapi urusan bisnis Sesil sangat pandai seperti dirinya.
Setelah cukup puas melepas rindu serta meminta banyak masukan kepada papinya, Sesil memutuskan untuk melihat opahnya di dalam kamar, sedangkan Swan masih duduk di tempat yang sama membiarkan putrinya melepas rindu dengan opahnya.
Sesil mendorong pintu perlahan kamar Kinos, terlihat Kinos menutup kedua matanya.
Sesil perlahan duduk di tempian ranjang memandang wajah opahnya yang sudah banyak kerutan di area wajahnya.
"Opah Sesil rindu" Sesil mengusap lembut pipi opahnya, kedua bola matanya menatap lekat-lekat wajah opahnya, entah mengapa perasaannya tiba-tiba saja tidak enak.
Sesil memperhatikan seksama wajah opahnya, kemudian dia meraih tangan opahnya lalu menggenggamnya. Tangan opahnya di rasa cukup dingin.
Sesil mencoba menyentuh pipi opahnya dan memanggilnya lirih. Namun sayangnya opahnya tak kunjung membuka matanya. Awalnya Sesil berpikir opahnya tertidur sangat pulas, tapi saat Sesil menyentuh pergelangan tangan opahnya, sudah tak terdapat denyut nadi di sana.
"Papi, cepat kemari" Sesil berteriak memanggil papihnya, sedangkan Swan yang mendengar teriakan putrinya langsung berlari menerobos masuk ke dalam kamar.
"Papi cepat bangunkan opah" Sesil langsung meraih tangan Swan dan menariknya dengan kasar, air matanya tak bisa di bendung lagi.
Swan yang panik melihat putrinya menangis seketika mengecek kondisi Kinos yang masih setia memejamkan matanya dan betapa terkejutnya Ayahnya ternyata sudah pergi menghadap Tuhan.
Swan berusaha mengontrol emosinya dan menenangkan perasaannya yang terguncang.
Sedangkan Sesil memeluk erat tubuh kaku Kinos. Dia tak menyangka opahnya akan menyusul omahnya ke surga secepat ini, sebelum Sesil memberinya seorang cicit.
Di tengah rasa kacau yang melanda hatinya, Swan meraih ponsel dari dalam saku celana yang dia kenakan, kemudian menghubungi Sean untuk membawa Rara datang kemari serta bisa mengabari Keandra yang sedang menimba ilmu di negri kanguru.
Beberapa Jam Kemudian...
Rumah Swan terlihat sudah di penuhi oleh pelayat, bahkan halaman rumahnya juga sudah terdapat beberapa karangan bunga yang di kirim oleh kolega serta rekan bisnisnya.
Rara masih terlihat menangis di pelukan Sean, sedangkan Swan dan Sesil hanya berdiam diri di samping peti mati Kinos. Sesil tak mengalihkan sedetikpun pandangan matanya dari wajah Kinos yang sudah terlihat kaku di dalam peti, meskipun seperti itu Sesil sama sekali sudah tidak meneteskan air mata. Dia mencoba menguatkan hatinya sendiri kalau ini semua kehendak Tuhan, dan pasti sudah jalan terbaik untuk opahnya karena memang semenjak omahnya meninggal Kinos menjadi sakit-sakitan hingga pada akhirnya Kinos struk.
"Sayang" Tiba-tiba saja suara pria yang begitu familiar terdengar di telinga Sesil, bahkan Sesil merasa pria itu sudah berdiri di sampingnya.
Dan benar saja saat Sesil menoleh ke arah sampung terlihat Nathan sudah berada di sana masih menggunakan setelan baju kerjanya.
Karena setibanya di bandara Nathan langsung menuju rumah papi mertuanya.
Sesil mencoba menepiskan senyumnya kepada suaminya sebentar lalu pandnagan matanya kembali menatap ke arah peti mati opahnya.
Keluarga besar Cornelio memutuskan untuk memakamkannya besok sambil menunggu Keandra yang masih dalam perjalanan kembali ke Indonesia.
^
Setelah melakukan upacara penghormatan yang terakhir kali untuk Kinos Cornelio, dan acaranya juga berlangsung dengan khidmat meskipun di selimuti oleh duka mendalam dari pihak keluarga yang di tinggalkan.
Satu persatu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman tempat dimana Kinos di semayamkan.
Rara masih berdiri mematung di dekat pusaran ayahnya, meskipun Kinos bukan ayah kandungnya tapi Rara dan Swan sangat mencintai Kinos.
Sementara Sesil, Nathan dan Keandra terlihat berdiri sejajar dan kompak mengenakan pakaian serba hitam di lengkapi dengan kaca mata hitam yang menutupi kedua bola mata mereka.
Sedangkan Adibjo sudah terlebih dulu berpamitan pulang.
Swan masih duduk berjongkok di samping pusaran Ayahandanya, rasanya dia benar-benar tak menyangka kehilangan sosok yang selama ini menjadi panutan untuknya. Sosok yang sangat di kagumi serta di hormati olehnya, bahkan kini Swan tak lagi memiliki orang tua. Ayah serta ibunya sudah berpulang ke sisi Tuhan.
Rasanya baru beberapa hari lalu bisa berbincang lagi dengan ayahnya setelah hampir setahun ayahnya menderita struk.
Bahkan kemarin saat dokter memberi ijin Kinos bisa kembali ke Indonesia karena di lihat kondisinya sudah sangat baik dan kondisinya juga stabil Swan begitu gembira. Tapi Swan tak menyangka kalau hari ini akan tiba, dia benar-benar di tinggalkan oleh ayahnya yang di jadikan sebagai panutan untuknya. Banyak pelajaran berharga yang Swan ambil dari sosok ayahnya yang pekerja keras, menghidupi keluarganya dari awalnya hanya fotografer keliling hingga mampu menjadi fotografer ternama.
Swan memegang erat batu nisan milik ayahnya, rasanya benar-benar seperti mimpi kalau dirinya sudah tak memiliki orang tua lagi.
Swan menatap tiga nisan yang berjajar sejajar. Nisan milik mendiang istrinya serta kedua orang tuanya.
Sesil yang berdiri tepat di balik punggung papinya merasa paham betul apa yang di rasakan oleh papinya, meskipun dulu saat maminya pergi Sesil masih kecil tapi dia sudah bisa merasakan sakitnya kehilangan, sama seperti kehilangan omah dan hari ini opahnya juga pergi meninggalkannya.
Hatinya sakit, tapi Sesil tidak mungkin memperlihatkan kesedihan dirinya yang akan membuat papinya semakin bersedih.
__ADS_1
"Pi, ayo kita pulang" Sesil mengusap pundak papinya perlahan, membuat Swan langsung beranjak berdiri dan merengkuh tubuh putri semata wayangnya.
Saat ini hanya Sesil dan Rara yang tersisa sebagai harta berharga untuk Swan.
Hari semakin sore, seluruh keluarga memutuskan untuk kembali ke rumah, dan hari ini Sesil mengajak Nathan menginap di rumah papinya sementara waktu. Karena tidak mungkin Sesil meninggalkan papinya sendirian yang masih dalam kondisi berduka.
CSG Perum..
Nathan duduk di sofa meregangkan punggungnya yang terasa begitu pegal, setelah sedari kemarin dia belum sempat mengistirahatkan tubuhnya.
Seorang pelayan mengantarkan secangkir kopi untuk Nathan setelah meletakan kopi di atas meja, pelayan tersebut kembali lagi ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Sesil terlihat baru turun dari lantai dua tempat dimana kamarnya berada.
"Bagaimana papi?" Tanya Nathan saat Sesil baru saja mendaratkan tubuhnya duduk di sampingnya.
"Seperti itu, tapi sepertinya papi sudah tidur" Sesil menghela nafasnya dengan berat kemudian menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
Nathan paham betul apa yang di rasakan oleh istrinya saat ini.
"Biar aku buatkan cokelat panas untukmu" Nathan menggeser kepala Sesil dan memindahkan ke sandaran sofa kemudian beranjak berdiri menuju dapur untuk membuatkan cokelat hangat untuk istrinya.
Tak butuh waktu lama, Nathan sudah kembali dengan membawa segelas cokelat panas di tangannya dan meletakkannya di atas meja kaca, sedangkan Sesil masih diam di posisinya dengan mata yang terpejam.
"Sayang minumlah, ini tidak panas" Nathan kembali mengambil gelas dan mendekatkan cokelat tersebut ke depan bibir istrinya.
Seketika Sesil membuka matanya dan mencoba tersenyum ke arah suaminya. Meskipun Nathan tau senyum di bibir istrinya itu hanya di paksakan semata dan bukan dari hatinya.
Sesil menerima segelas cokelat hangat dan meminumnya hingga menyisakan setengah gelas lagi, kemudian Sesil meletakan kembali gelas yang masih tersisa setengah cokelat hangat ke tempat semula.
"Sayang aku lelah, ayo kita ke kamar" Nathan menarik tangan istrinya dan mengajaknya menuju kamar mereka yang terletak di lantai dua.
Sesil seperti orang pikun yang hanya patuh kemana Nathan akan membawanya, bahkan saat Nathan yang mempersiapkan baju tidur untuk Sesil dia hanya pasrah menerimanya.
Kini Nathan sedang meluruskan kakinya di atas ranjang, sementara istrinya masih berganti pakaian di dalam kamar mandi.
Melihat istrinya keluar dari kamar mandi, Nathan langsung melambaikan tangannya dan menepuk sebelah ranjangnya yang kosong.
Sesil berjalan mendekat ke arah ranjang lalu merangkak naik ke atasnya, terlihat Sesil langsung membaringkan tubuhnya, sementara Nathan masih duduk bersandar di ranjang sembari melihat wajah istrinya yang tak bersemangat.
"Sayang.." Nathan mengangkat kepala istrinya lalu memindahkan ke atas pangkuannya, kemudian dia perlahan mengusap lembut rambut istrinya.
"Sayang, jangan berpura-pura lagi di depanku, luapkan apa yang kau rasakan" Nathan menyibakkan rambut yang menutupi sebelah pipi istrinya.
Namun Sesil tak merespon apa yang Nathan katakan, dia diam saja namun semenit kemudian Nathan merasakan pahanya basah, sepertinya Sesil menangis dalam diam, Nathan begitu tak tega melihat istrinya yang seperti ini. Dia lebih suka melihat istrinya bersikap galak terhadapnya.
Sesil masih terus menyandarkan kepalanya di pangkuan suaminya, bahkan air matanya mengalir terus menerus membasahi paha serta celana yang dia kenakan.
Nathan membiarkan istrinya menangis, mungkin hanya menangis yang bisa membuat perasaan dan hati istrinya lega, telapak tangan Nathan terus membelai lembut kepala Sesil, hanya dengan sentuhan Nathan ingin istrinya tau kalau sebesar apapun badai yang akan menghadang, Nathan akan selalu siap berada di sisi Sesil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Ada saran?