
"Aku membencimu" Teriak Nathan ke arah ponsel yang sudah hancur tidak berbentuk itu.
Nathan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa marah, rasa benci, rasa dendam, rasa rindu dan rasa cinta seakan semua perasaan berperang serta bergejolak di dalam dada Nathan.
Dia sangat membenci orang yang sudah membuat omnya meninggal serta keluarganya jatuh bangkrut. Tapi saat dirinya mengetahui orang itu adalah papi dari istrinya membuat Nathan menjadi bingung harus seperti apa saat ini.
Dia mencintai dan sangat mengasihi Sesil istrinya, Namun dia juga tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.
"Tuhan...!!!!" Nathan berteriak dengan penuh kekalutan, dia beranjak dan mendekat ke arah lemari pakaian, dia bercermin di depan kaca besar yang berada menempel pintu lemari.
Dia menatapi wajahnya, bayang omnya mengajaknya bermain ke taman hiburan dan bayang adiknya anfal di rumah sakit kembali mengiang di dalam kepalanya.
Namun tiba-tiba saja bayang hari pernikahan dirinya dan Sesil juga ikut muncul dalam pikirannya, wajah Sesil yang begitu terlihat cantik menggunakan Gaun pernikahan berwarna putih yang sedang berjalan menuju Altar terpampang jelas di dalam cermin tersebut.
"Nathan ingat apa yang kau cari selama ini" Suara omnya tiba-tiba saja terngiang di telinganya sebelah kiri.
Dengan penuh amarah Nathan melayangkan tinju ke arah kaca lemari tersebut hingga pecah berantakan, punggung tangannya terlihat mengeluarkan darah segar di sana.
Di tengah rasa amarah yang memuncak tiba-tiba saja bel pintu rumahnya berbunyi.
Nathan nampak mengacuhkannya, karena tidak mungkin ada tamu penting berkunjung kemari.
Karena sudah lama rumah ini kosong tak berpenghuni.
Namun seakan tidak mau menyerah sang tamu terus memencet bel berulang kali, membuat Nathan menjadi semakin kesal di buatnya.
"Sialan" Nathan mengepalkan kedua tangannya dan dengan langkah kaki yang lebar Nathan berjalan keluar kamar menuju pintu depan. Dan saat Nathan membuka pintu rumahnya tidak ada seorangpun di sana.
Nathan melihat ke arah keliling rumahnya, namun tidak ada satupun orang di sana.
Pandangan matan Nathan tersita saat ada Amplop cokelat di tempel di knop pintu rumahnya.
Nathan dengan kasar mengambil amplop tersebut dan membukanya.
Terdapat secarik kertas dengan tulisan Kapital di dalamnya.
INI BARU AWAL, KAU AKAN BANYAK MENDAPAT KENYATAAN YANG SEBENARNYA NANTI !! TUNGGU PETUNJUK SELANJUTNYA !!
Nathan meremas amplop beserta surat kaleng yang baru ri bacanya.
Dia melemparkan ke sembarang arah dan kedua matanya mencari sosok orang yang memberinya banyak petunjuk itu, Nathan sangat ingin mengetahui siapa orangnya dan apa tujuannya memberi tau perihal tentang keluarganya.
"Siapa kau? keluarlah!!!" Nathan berteriak sembari kedua matanya menyapu ke sekeliling rumahnya. Berharap orang yang memberinya petunjuk mau menampakkan wajahnya.
"Keluarlah" Nathan berteriak kembali, namun sialnya tidak ada seorangpun di sekitar area rumahnya. Nathan kembali masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu cukup keras.
Tangannya yang berdarah tak membuatnya merasa sakit sedikitpun.
Nathan kemudian Duduk di sofa ruang tamu, dia kembali berfikir siapa sosok di balik semua ini. Apa hanya rival kerjanya yang ingin menghancurkan keluarga serta karirnya atau ada orang lain?
Jika memang semua ini ulah rival kerjanya, bagaimana mungkin bisa mengetahui letak brangkas serta paswordnya? belum lagi mempunya cetakan undangan pernikahan antara om dan mami mertuanya. Belum lagi foto-foto masa remaja omnya juga ada.
Nathan menggertakkan kakinya, kedua tangannya mengepal dan rahangnya terlihat mengeras. Gurat emosi jelas terpampang nyata di garis wajahnya.
"Tunggu dulu, jika om dan mami Ayu memakai seragam sama, ada kemungkinan mereka sekolah di tempat yang sama" Seketika Nathan langsung beranjak dari sofa untuk keluar rumah menuju mobil mengambil laptop.
Setelah mengambil laptop dari dalam mobil, Nathan kembali masuk ke dalam rumah, dia sama sekali tak menghiraukan tangannya yang terluka dan mengeluarkan darah. Dengan tak sabar Nathan menyalakan laptopnya dan mulai mencari di laman google. Nathan mencari data mahasiswa di universitas dimana omnya menempuh study dulu.
Dan benar saja di sana terpampang jelas nama omnya serta mami mertuanya.
Nathan semakin yakin akan praduganya saat ini.
Nathan menutup laptopnya kembali dan dengan segera Nathan meraih kunci mobil dan ingin segera kembali ke Semarang. Rasa emosinya sudah benar-benar memuncak.
Nathan meletakkan kembali laptopnya di bangku belakang mobilnya dan langsung menancap gas mobilnya meninggalkan pelataran rumah mendiang omnya.
^
Sementara itu, Sesil baru saja selesai berbincang dengan opahnya yang kini sedang sakit struk. Meskipun opahnya tidak terlalu jelas saat berbicara, tapi sedikit Sesil bisa paham apa yang opahnya katakan padanya.
Setelah puas mengajak opahnya berkeliling taman di halaman rumah papinya, Sesil kembali membawa opahnya masuk ke dalam kamarnya, dan dengan di bantu oleh perawat, Sesil kembali membaringkan opahnya di atas ranjang.
Setelah yakin opahnya tertidur kembali, Sesil memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
Dengan hati-hati Sesil menuruni anak tangga satu persatu menuju ruang tengah, di sana nampak Kean dan papinya sedang bermain catur.
Adiknya memang selalu bisa di andalkan olehnya, bahkan Kean rela menunggunya dari pagi hingga sore seperti ini.
"Papi, Sesil pulang ya" Ucap Sesil dengan begitu lembut, seraya tangannya mengambil tas jinjing yang terletak di atas sofa.
"Menginap saja disini sayang, kan Nathan sedang di luar kota?" Swan mengalihkan pandangannya dari kotak catur yang sedang di mainkannya bersama Kean.
"Tidak pi, tadi Nathan memberi kabar kalau urusannya sudah selesai dia akan cepat kembali. Sesil takut jika nanti Nathan pulang dan Sesil tidak berada di rumah dia akan kuatir pi" Sesil melebarkan senyumnya mencoba meyakinkan lelaki paruh baya yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Tinggal kirimkan pesan pada Nathan dan katakan kau menginap di rumah papi" Imbuh Swan lagi, entah mengapa Swan memiliki firasat buruk. Seakan tak rela putrinya meninggalkan rumahnya.
"Lain kali pi, Sesil akan menginap di sini bersama Nathan"
"Ya sudah, hati-hati ya ! Jaga kandungan serta kesehatanmu, jika terjadi sesuatu cepat beritahu papi sayang" Swan beranjak dari duduknya dan mengusap puncak kepala putri semata wayangnya.
"Iya pi" Sesil melebarkan senyumnya ke arah papinya.
"Kean kau pulang tidak?" Kali ini Sesil menatap ke arah adiknya yang masih fokus menatap ke arah sebidang kotak catur yang terletak di hadapannya
"Kakak, bisakah tunggu sebentar? Kean sebentar lagi mengalahkan om Swan" Kean memelaskan wajahnya berharap kakaknya mau menunggunya barang sebentar untuk dia bisa menuntaskan dan mengalahkan Swan. Pasalnya sedari tadi Kean selalu di kalahkan oleh Swan.
__ADS_1
"Ya sudah.."
Mendengar jawaban kakaknya Kean seketika melebarkan senyumnya dan wajahnya terlihat begitu sumringah.
"Kau bermain catur, biar kakak pulang sendiri" Imbuh Sesil lagi, Kali ini jawaban Sesil langsung merubah raut wajah Kean menjadi datar. Dengan mendengus kesal Kean meraih kunci mobil dan beranjak dari sofa.
"Ya sudah Kean antar"
"Biar kak Sesil di antar supir saja" Swan mencoba menengahi keponakan dan putrinya.
"Tidak om, biar Kean saja yang mengantar" Kean berjalan menghampiri kakaknya dan dengan tidak sungkan Kean melingkarkan tangannya di bahu Sesil.
"Sudah jangan mengambek kakakku yang cantik, Kean antar pulang yuk" Bujuk kean, Namun raut wajah Sesil masih tidak berubah.
"Kakak ayo, atau mau Kean gendong? Seperti kakak suka menggendong Kean dulu?" Ledek Kean
"Anak nakal" Sesil mencubit pinggang adik laki-lakinya dengan begitu gemas, rasanya meskipun Kean sudah dewasa tapi Kean masih selalu bersikap manja terhadapnya.
"Pi, Sesil pamit ya" Sesil dan Kean bergantian mencium tangan Swan. Kemudian Swan mengantar keduanya keluar rumah. Dan saat di rasa mobil yang di kendarai oleh Kean dan Sesil tak terlihat Swan kembali masuk ke dalam rumah.
Kean mengendarai mobilnya dengan begitu hati-hati, dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada kakak beserta calon keponakannya.
"Apa ada yang ingin kakak makan atau beli?" Kean melirik ke arah kakaknya yang sedari tadi diam menatap ke arah ponsel yang dia genggam.
Sesil diam saja tidak menjawab pertanyaan Kean, karena saat ini Sesil sedang memikirkan mengapa nomor ponsel Nathan tidak bisa di hubungi lagi.
Padahal tadi pagi suaminya memberinya kabar lewat pesan singkat, bahkan menghubunginya namun sayangnya saat Nathan menelfon dirinya, Sesil sedang berada di taman dan tidak membawa ponselnya. Ponselnya Sesil simpan di dalam tas jinjing yang di letakannya di atas meja kaca di ruang tamu.
Dan saat Sesil kembali dan melihat ponselnya ternyata ada beberapa panggilan masuk serta satu pesan singkat dari Nathan, Dia langsung mencoba menghubungi balik Nathan. Saat panggilan pertama ponsel Nathan masih aktif namun tidak di angkat oleh Natha. Dan Sesil kembali mencoba menghubungi Nathan, Namun sialnya nomor Nathan tidak aktif lagi hingga saat ini.
"Kak.." Kean menyentuh bahu kakaknya yang sedari tadi di rasa sedang melamun, sentuhan tangan Kean membuat Sesil sadar dan menoleh ke arah adiknya.
"Kakak ada apa? Apa ada masalah?"
"Tidak ada, kakak hanya kawatir terhadap Kak Nathan, karena ponselnya sedari kemarin susah sekali di hubungi"
"Mungkin kak Nathan sedang sibuk kak, kakak harus berpikir positif dan jangan sampai setres, jika kakak banyak pikiran tidak baik untuk kandungan kakak"
Sesil terdiam mencoba mencerna apa yang di katakan oleh adiknya, saat ini Sesil juga harus memikirkan kandungannya juga selain dirinya sendiri.
Dengan memaksakan senyumnya, Sesil tersenyum dan menganggukkan kepala ke arah adiknya.
Hingga tak terasa mobil yang Kean kendarai sudah sampai di halaman rumahnya, penjaga rumah membuka pintu gerbang dan memberi salam hangat kepada majikannya yang baru saja kembali.
Kean memarkirkan mobilnya di bagasi rumah, karena Kean berencana akan menemani kakaknya sampai malam nanti supaya kakaknya tidak merasa kesepian.
Kemudian keduanya berjalan beriringan memasuki rumah yang Sesil tempati saat ini.
Sesil langsung menuju kamarnya untuk mandi dan membersihkan diri, sementara Kean duduk di ruang tengah dan menyalakan televisi.
Waktu berjalan begitu cepat di rasa oleh Kean, bahkan kini perutnya sudah merasa begitu lapar.
Kean memutuskan untuk membeli nasi kucing langganannya di dekat pasar Johar.
Tanpa berpamitan Kean keluar rumah menuju angkringan langanannya menggunakan mobilnya.
Sesampainya di tempat yang di tujuDia membeli beberapa bungkus nasi, sate telor puyuh serta susu jahe untuknya dan kakaknya. Setelah membeli apa yang di inginkan Kean kembali lagi ke rumah kakaknya. Kean yakin kakaknya pasti belum makan.
Hingga tak butuh waktu lama Kean sudah kembali memarkirkan mobilnya di bagasi rumah kakaknya.
Dengan langkah kaki yang riang kean membawa langkah kakinya masuk ke dalam rumah dengan kedua tangannya menenteng kresek di balik tangannya.
Dan benar saja saat Kean masuk kembali, Kean melihat kakaknya sedang duduk di depan televisi.
"Kakak.. lihat kean membeli apa??" Kean meletakkan kresek yang di bawanya di atas meja yang terletak di hadapan kakaknya.
Kean tidak langsung duduk, melainkan dia pergi ke dapur untuk mengambil gelas beserta baskom yang di isi olehnya dengan air.
Setelah mengambil dua gelas kosong serta baskom yang di isi air kran, Kean kembali ke ruang tengah menghampiri kakaknya yang sedang membuka kresek di atas meja.
"Kakak pikir kamu pulang" Seru Sesil seraya membuka kresek yang berisi makanan tersebut.
"Kakak pasti belum makan kan, ayo kita makan nasi angkringan bersama kak, ini Kean beli dari tempat biasa kita makan" Ucap Kean sambil menuangkan susu jahe hangat ke dalam gelas kosong yang terletak di hadapannya.
Setelah berhasil menuangkan susu jahe tersebut Kean menyodorkan segelas susu tersebut ke arah Sesil.
"Kakak minumlah" Ucap Kean sambil tersenyum. Kemudian Kean membasuh tangannya ke dalam baskom yang berisi air dan langsung membuka sebungkus nasi kucing, rasanya dia begitu lapar hingga tak sabar lagi makan makanan yang di belinya tadi.
Sesil yang melihat adiknya makan dengan begitu lahap hanya bisa tersenyum, kemudian Sesil mengambil segelas susu jahe yang di siapkan oleh Kean, Dia perlahan meniupnya dan meminumnya sedikit, kemudian meletakkan kembali gelas tersebut ke atas meja kaca.
"Kakak buka mulutmu" Kean menyodorkan sejumput makanan di tangannya ke depan mulut Sesil.
"Kau pikir kakak anak kecil?" Sesil mendengus kesal saat Kean hendak menyuapinya.
"Aku hanya mau menyuapi calon keponakanku saja, ayo kak cepat buka mulut kakak" Bujuk Kean lagi, dia begitu gigih membujuk kakaknya supaya. mau makan malam dengannya, Kean tau betul kakaknya pasti belum makan malam sedari tadi.
"Kakak..." Kean memelaskan wajahnya ke arah Sesil berharap Kakaknya mau menurutinya.
Melihat wajah adiknya yang seperti itu membuat Sesil menjadi tak tega, lantas Sesil membuka mulutnya. Dengan penuh semangat Kean menyuapkan nasi ke dalam mulut kakaknya.
Hingga menghabiskan sebungkus nasi angkringan.
"Sudah kakak kenyang" Tolak Sesil saat melihat Kean membuka lagi sebungkus nasi.
"Kean yang lapar kakak" Kean terkekeh pelan lalu memakan nasi angkringan tersebut dengan lahap.
__ADS_1
Setelah menghabiskan semua makanan yang di beli, Kean di bantu oleh Bi Nung membersihkan piring kotor serta gelas kotor.
Kemudian Kean menemani Sesil berbincang di ruang Tv.
Namun tiba-tiba saja ponsel milik Kean bergetar ada satu panggilan masuk dari Ayahnya Sean.
Sean meminta Kean untuk segera pulang ke rumahnya karena ada hal yang ingin di bicarakan.
Kean mendengus kecil pasalnya dia berencana akan menginap di rumah kakaknya untuk menjaga kakaknya yang sedang hamil muda.
Namun sepertinya ada hal penting yang akan di sampaikan oleh ayahnya sehingga Kean memutuskan untuk pulang saat itu juga.
Sepulangnya Kean dari rumahnya, Sesil memutuskan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sesil mengganti pakaiannya dengan satu setel piyama tidur yang nyaman. Setelah berganti pakaian Sesil menuju ranjang menyandarkan tubuhnya dan meluruskan kakinya yang terasa pegal.
Dia kembali meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Nathan kembali, namun hasilnya masih sama.
^
Sementara itu Nathan sedang duduk di sebuah bar yang tak jauh dari kantornya, dia sudah menghabiskan setengah botol bir. Kepalanya juga sudah terasa pusing.
Sebenarnya Nathan sudah sampai di Semarang satu jam yang lalu, Namun rasa kalut membuat Nathan memutuskan untuk mampir ke Bar terlebih dahulu.
Setelah menghabiskan setengah botol bir, Nathan memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
Dengan keadaan setengah sadar Nathan mengemudikan mobilnya perlahan.
Cukup lama Nathan melajukan mobilnya akhirnya kini dia sudah sampai di halaman rumahnya. Dengan langkah sempoyongan Nathan turun dari mobil dan membuka pintu rumah dengan kunci duplikat yang di bawa olehnya.
Setelah pintu terbuka Nathan masuk ke dalam rumahnya dan menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya di lantai dua.
Ceklek...
Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka, sontak saja Sesil langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Senyum di bibirnya mengembang sempurna saat melihat Nathan yang membuka pintu.
Nathan dengan langkah sempoyongan masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
Melihat suaminya pulang, Sesil merangkak turun dari tempat tidur ke arah sofa.
Namun tiba-tiba saja indera penciumannya mencium aroma alkohol yang begitu menyengat. Bahkan pakaian Nathan juga terlihat berantakan tidak seperti biasanya.
Sesil duduk di samping Nathan dan mencoba mengusap pipi suaminya.
Namun belum sempat tangan Sesil menyentuh pipi Nathan, Nathan sudah terlebih dahulu mencengkram tangan Sesil dengan begitu erat.
"Jangan menyentuhku dengan tanganmu yang mengalir darah pembunuh" Ucap Nathan dengan begitu keras.
Sesil mengernyit bingung mendengar ucapan Nathan.
Belum sempat Sesil menjawab, tangan Nathan sudah terkulai lemas.
Sepertinya Nathan mabuk dan tak sadarkan diri.
Sesil dengan Susah payah memapah tubuh Nathan dan membaringkannya di atas ranjang.
Sesil terkesiap melihat tangan kiri suaminya yang terdapat darah mengering di sana. Bahkan luka di tangannya terlihat menganga.
"Ya tuhan apa yang sudah terjadi" Sesil menghela nafasnya berat.
Kemudian dengan begitu telaten Sesil melepaskan satu persatu baju yang melekat di tubuh suaminya. Lantas dia mengelap tubuh suaminya dengan Spon yang di basahi oleh air. Setelah tubuh Nathan bersih dari keringat, Sesil memakaikan piyama tidur di tubuh Nathan.
Perhatian Sesil teralihkan ke arah tangan Nathan yang baru saja di basuh olehnya. Noda darah kering sudah tak nampak di sana.
Sesil meraih kotak obat yang di simpannya di dalam laci meja kecil di samping tempat tidurnya. Perlahan Sesil mengoleskan obat merah di tangan Nathan yang terluka. Setelah obat merah teroles secara merata, Sesil memakaikan kain kasa untuk membalut luka Nathan, setelah di rasa semuanya beres, Sesil pun ikut merebahkan dirinya tidur di samping Nathan yang sudah terlelap.
Tangan Sesil melingkar sempurna di atas perut suaminya.
"Selamat malam sayang" Ucap Sesil lirih. Meskipun hatinya di penuhi banyak pertanyaan, namun Sesil memutuskan akan membicarakan semuanya secara baik-baik besok pagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
seneng baca komentar kalian yang panjang-panjang di eps sebelumnya, mungkin kalo di gabung bisa jadi satu eps hehehe ♥️
*jadi buat srayu semangat nulis nih dan nggak mau kalah panjang sama komentar kalian hehehe
Tetap jaga kesehatan ya♥️😍
Peluk jauh untuk kalian semua🤗*
__ADS_1