
Sesil berada di kursi kemudi mengemudikan mobilnya, kepalanya sedikit terasa pusing karena menghabiskan beberapa gelas bir saat di cafe.
Meski tidak sepenuhnya mabuk, tapi kepalanya sedikit terasa sakit.
Perlahan Sesil mengemudikan mobilnya, bukan untuk kembali ke rumah melainkan menuju salah satu taman di kota ini. Taman yang selalu ramai saat malam hari di isi oleh muda-mudi yang berkencan. Meskipun Sesil sangat awam soal berkencan dengan pria, tapi kadang dia suka tersenyum melihat para remaja yang beradu kemesraan di depan umum.
Padahal saat dirinya seumur mereka, dirinya hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya membuat papinya bangga. Banyak mempelajari banyak hal yang akhirnya membawa Sesil menjadi Siswi paling berprestasi di sekolahnya dulu.
Walaupun pernah berpacaran dengan Dean bahkan melakukan beberapa kali kencan dengan Dean, bukan berarti Sesil bisa merasakan kebahagiaan. Karena Dean selalu saja memaksakan kehendak hatinya. Bahkan setelah putus dengan Dean, Sesil tidak punya pikiran untuk menjalin asmara lagi. Fokusnya saat itu adalah ingin segera lulus Sekolah Menengah Atas lalu masuk ke universitas impiannya setelah itu membantu papinya mengelola perusahaan.
Tapi semua keinginannya pupus saat Sesil harus bertemu kembali dengan Dean yang berujung perjodohan namun di gagalkan oleh Nathan. Kehadiran Nathan membuat hidup Sesil benar-benar berubah, awal pernikahan mereka Sesil sama sekali tidak memiliki cinta pada Nathan, hingga pada akhirnya dirinya menyerahkan sepenuh hatinya karena kegigihan Nathan untuk menyakinkan dirinya.
Hingga pada akhirnya Sesil tau ternyata masa lalu dirinya dan Nathan saling berkaitan dan hampir saja merusak rumah tangga mereka di tengah kebahagiaan yang sedang hangat-hangatnya terjalin.
Sesil memijat pelipisnya beberapa kali, jika di tarik benang merah ke belakang, kehidupannya memiliki cobaan yang luar biasa, tapi Sesil yakin setiap cobaan akan mendapatkan kebahagiaan tersendiri, buktinya Tuhan mengujinya lewat Dean dan pada akhirnya mempertemukan dirinya dengan sosok suaminya saat ini yang begitu mencintainya dengan sepenuh hati.
Tak terasa mobil yang Sesil kendarai sudah sampai di area parkir taman, lampu-lampu taman menyala dengan terang, muda-mudi berjalan saling bergandengan tangan. Bahkan beberapa dari mereka terlihat duduk menyandar di bahu pasangan. Membuat Sesil kembali teringat saat moment di tepian pantai tanjung mas.
Sesil menarik kedua sudut bibirnya saat mengingat moment kebersamaan antara dirinya dan Nathan di tanjung mas dulu. Seperti sebuah lagu jawa klasik "Tanjung Mas Ninggal Kenangan"
Lagu yang berlirik bahasa jawa dan di bawakan oleh salah satu tokoh penyanyi ternama di indonesia itu sangat pas dengan kenangan Sesil dan Nathan kala itu.
Sesil melepaskan seat belt dari tubuhnya kemudian turun berjalan-jalan di taman sebentar, menikmati suasana malam yang sangat indah, bintang bertaburan bahkan sinar rembulan begitu jelas terpancar. Membuat siapa saja pasti ingin memandang sinar teduhnya.
Sesil duduk di salah satu bangku taman tersenut dengan memegang permen kapas yang baru saja di belinya dari pedagang yang berjualan di dekat taman tersebut. Permen gulali yang memiliki warna pink tersebut begitu menggoda di mata Sesil hingga Sesil tak kuasa menahan keinginannya untuk segera menghabiskan makanan manis tersebut.
Sesil terus menikmati permen gula kapas tersebut sambil mengingat moment masa kecilnya bersama maminya. Dulu maminya sering membelikan permen kapas saat pulang dari sekolah. Meskipun papinya suka marah padanya karena terlalu banyak memakan permen kapas dan membuat giginya gupis, tapi rasa-rasanya permen kapas memiliki magnet tersendiri untuk Sesil.
Setelah permen kapas di tangannya habis, Sesil membuang bungkus beserta gagang permen ke dalam tempat sampah yang terletak tak jauh darinya duduk saat ini. Matanya kembali melihat ke atas langit, tempat dimana Maminya saat ini berada. Sudah dua dua puluh tahun Maminya pergi dari hidup papinya juga dirinya, tapi sosok maminya selalu saja datang saat Sesil mendapatkan masalah yang berat.
Sesil mengirup udara malam dalam-dalam, menenangkan pikirannya yang sedang tidak tenang saat ini.
Setelah sedikit tenang Sesil memutuskan untuk kembali ke rumahnya, karena waktu juga sudah cukup malam. Bahkan kepalanya masih saja terasa pusing.
^
Gold Garden Perum..
Sesil memarkirkan mobilnya di garasi mobilnya, terlihat mobil Nathan dan mobil milik Yasmine sudah terparkir di sana, itu menandakan mereka berdua sudah berada di rumah.
Sesil melepas seat belt dan masuk ke dalam rumah, kebetulan pintu rumahnya tidak di kunci.
"Aku pulang" Ucap Sesil sambil menutup pintu rumahnya kembali.
Namun rumahnya terlihat sangat sepi. Sesil berjalan menuju ruang makan, tapi kosong.
__ADS_1
"Nyonya?" Sapa Bi Nung ramah.
"Bi, Tuan dan Nyonya Yasmine kemana?" Sesil menyapu seluruh ruangan tapi sayangnya ruangannya kosong.
"Sepertinya di teras samping Nona"
"Oh baiklah" Sesil menepiskan senyum dan berlalu dari hadapan wanita paruh baya yang sudah mengabdi padanya selama dua tahun ini.
Sesil membawa langkah kakinya menuju teras samping rumah, dan benar saja terlihat dari balik kaca Yasmine dan Nathan sedang mengobrol di sana. Tapi raut wajah keduanya terlihat sangat serius.
"Hai" Sapa Sesil sambil mendorong pintu kaca
"Sesil..?" Sapa Yasmine yang cukup terkejut.
"Sepertinya aku mengganggu kalian" Sesil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak sama sekali, ada apa Sil?" Tanya Yasmine menaikkan kedua alisnya
"Hm aku hanya ingin memberikan ini" Sesil membuka tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah amplop lalu menyerahkan kepada Yasmine.
Sedangkan Nathan hanya diam saja melihat pa yang akan di lakukan istrinya. Rasanya istrinya ini sangat keras kepala, bahkan lebih tepatnya kepalanya seperti batu yang sulit di lunakkan.
"Apa ini" Yasmine menerima amplop tersebut dan membukanya.
Matanya terbuka lebar saat mengetahui isi amplop tersebut adalah dua tiket berlibur ke Paris dengan waktu destinasi sepuluh hari lamanya.
Nathan menyipitkan matanya melihat dua lembar kertas yang di pegang di tangan Yasmine. Tangannya mengepal sempurna, wajahnya memerah menahan emosi.
"Tidak perlu berlibur Sil, karena aku..." Belum selesai Yasmine berkata, tiba-tiba Yasmine menggembungkan pipinya, lalu dia meletakkan kertas tersebut ke atas meja dan berlari masuk ke dalam rumah.
Sesil yang merasa heran langsung masuk ke dalam rumah mengikuti Yasmine pergi, dan ternyata Yasmine berada di Wastafel di dekat dapur dan terlihat sedang memuntahkan isi perutnya. Bahkan beberapa kali Yasmine membasuh mulutnya menggunakan air kran yang mengalir.
Sesil berjalan mendekat ke arah Yasmine dan membantu memijat tengkuk leher Yasmine. Setelah merasa sedikit lega, Sesil memapah Yasmine untuk duduk di sofa ruang tamu, lalu mengambil minyak angin dari dalam tas miliknya.
Sesil membuka tutup minyak angin tersebut lalu mengoleskan di area kening Yasmine yang terlihat memejamkan mata serta kepalanya menyandar di sandaran sofa.
Sementara Nathan baru saja masuk ke dalam dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya, wajahnya terlihat datar.
Tiba-tiba pikiran Sesil menebak sesuatu "Apa mungkin Yasmine hamil" Pertanyaan itu berputar di dalam otaknya namun tidak sempat di ungkapkan lewat lisannya.
"Nath, bawalah Yasmine masuk ke dalam kamar" Perintah Sesil yang merasa kesal melihat Nathan malah diam menonton dirinya.
Tanpa berkata apapun, Nathan menarik tangan Yasmine dan memapah Yasmine masuk ke dalam kamarnya. Sementara Sesil hanya bisa melihat punggung keduanya yang hilang di balik pintu kamar.
Kepalanya kembali merasa pusing, sepertinya efek alkohol masih sedikit berpengaruh pada dirinya. Sesil yang merasa lelah dan tak ingin berpikir macam-macam langsung naik ke lantai dua kamarnya. Setelah sampai di kamarnya, Sesil langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Matanya terasa berat,kepalanya terasa pusing, serta tubuhnya terlalu lelah hingga membuat Sesil langsung masuk ke alam mimpinya tanpa sempat berganti pakaian.
__ADS_1
^
Nathan menyentuh knop pintu dan masuk ke dalam kamar utama. Matanya menyipit ketika melihat istrinya tidur masih mengenakan pakaian kerja, bahkan sepatu heelsnya saja masih terpasang dengan sempurna di kaki istrinya.
Nathan menggelengkan kepalanya, lalu tanpa berkata Nathan keluar kamar tersebut.
Namun tak lama kemudian Nathan kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa baskom berisi air hangat serta handuk kecil di tangannya, Nathan meletakkan baskom tersebut di atas meja kecil di samping ranjang, kemudian dia mulai melepaskan sepatu heels miliki istrinya, lalu perlahan dia membuka baju serta rok yang membalut tubuh istrinya.
Perlahan Nathan mulai membasuh tubuh Sesil menggunakan handuk kecil yang sudah di celupkan ke dalam baskom berisi air hangat.
Dengan telaten Nathan menyeka tubuh istrinya, setelah di rasa bersih Nathan kemudian mengeringkan tubuh istrinya dengan handuk kecil satunya yang belum di basahi. Setelah di rasa tubuh istrinya kering, Nathan perlahan memakaikan piyama tidur untuk membalut tubuh istrinya.
Setelah di rasa semuanya beres Nathan terlebih dahulu mengembalikan baskom tersebut ke dapur rumahnya.
Setelah meletakkan baskom tersebut Nathan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar, Nathan melihat istrinya sudah tidur terlentang di tengah ranjang.
"Dasar gadis keras kepala" Nathan menggelengkan kepalanya lalu merangkak naik ke atas tidur, kemudian Nathan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Suasana semakin malam semakin dingin, hingga Sesil yang merasa kedinginan di bawah alam sadarnya dengan sendiri mendekat ke arah sumber kehangatan yang di keluarkan dari suhu tubuh Nathan.
Sesil semakin meringkuk mendekat ke arah tubuh Nathan sambil beberapa kali mengigau tidak jelas.
"Kau terlalu keras kepala, jangan salahkan aku kalau aku akan menyakitimu lebih jauh lagi" Nathan mengecup kening istrinya lama lalu ikut memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Mendekati klimaks konflik, sabar menanti episode selanjutnya🙏