Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Aneh Sekali


__ADS_3

Nathan dan Sesil sedang menikmati makan malamnya, makan malam pertama di hari pertama liburan keduanya.


Nathan terlihat melahap setiap makanan di atas meja, bahkan lebih tepatnya seperti orang yang kelaparan belum makan satu bulan.


Sesil mengernyitkan dahi melihat suaminya yang kalap makan, padahal biasanya Nathan tidak pernah makan sebanyak itu.


"Apa kau sangat lapar?" Sesil tak kuasa menahan rasa penasarannya ketika melihat suaminya makan seperti orang kesurupan


"Entahlah, aku hanya ingin makan banyak saja" Imbuh Nathan sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Setelah makanan di atas meja habis tak bersisa, Nathan melirik ke arah keranjang buah yang terletak di atas meja. Ada beberapa jenis buah yang terdapat di dalam keranjang tersebut namun tidak satupun yang mampu menarik perhatian Nathan.


Tiba-tiba terlintas buah kiwi di benak Nathan, membayangkan buah kiwi membuat Nathan menelan air liurnya susah payah, rasanya pasti sangat segar bila bisa memakan buah kiwi saat ini.


Sejenak Nathan melirik ke arah istrinya yang masih sibuk mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Sayang, aku ingin sesuatu" tutur Nathan lembut bahkan suara Nathan sangat terdengar manja di telinga Sesil.


Sesil menghela nafasnya saat mendengar suaminya berkata semanja itu, rasanya ingin sekali Sesil mencuci otak suaminya supaya tidak terus-menerus berpikiran mesum terhadapnya.


Baru juga selesai menelan makanan yang begitu banyak, dan saat ini malah Nathan ingin kembali memakan dirinya. Sungguh menyebalkan, pikir Sesil.


"Sayang...?" Panggil Nathan lembut


"Aku belum selesai makan, bisakah kau sedikit sabar? bukankah kau baru saja memakan makanan yang sangat banyak? dan saat ini kau juga ingin memakanku?" Sesil menatap tajam suaminya


"Haha" tawa Nathan kembali pecah, istrinya sungguh terlalu berpikiran buruk padanya.


"Kenapa kau tertawa?" Sesil memlototkan matanya ke arah suaminya yang terlihat sibuk menertawakan dirinya.


"Aku ingin makan buah kiwi sayang, bukan memakanmu" imbuh Nathan di sela tawanya.


"Kiwi?" Sesil mengernyitkan dahinya mendengar suaminya meminta buah kiwi yang notabennya memiliki rasa yang sangat asam.


"Apa aku tidak salah dengar?" seru Sesil kembali


"Pasti sangat segar bisa memakan buah kiwi sekarang, membayangkannya saja aku sudah sangat ngiler" Nathan menjilat bibirnya menggunakan lidahnya saat membayangkan buah kiwi di dalam benaknya


"Ini sudah malam, dan lagi kita tinggal di pulau terpencil jauh dari kota, mana mungkin ada buah kiwi di sini? lebih baik kau makan saja buah yang ada"


"Tidak mau, aku hanya mau kiwi" tolak Nathan. Bahkan dia terlihat begitu cemberut, hatinya tiba-tiba merasa sedih saat istrinya tak mau memenuhi permintaannya kali ini.


"Tapi sayang..." Ucapan Sesil terhenti saat melihat mata suaminya malah berkaca-kaca. Sesil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia bingung akan sikap Nathan yang di rasa semakin hari semakin aneh saja.


"Aku hanya mau buah kiwi sayang.."pinta Nathan sambil mengusap matanya yang terasa panas, entah mengapa perasaannya menjadi sangat sensitif.


"Nath tapi ini sudah malam, dan lagi di sini tidak ada kiwi. Besok ya kita cari?" Bujuk Sesil


Tanpa menjawab perkataan istrinya, Nathan meninggalkan ruang makan dan berlalu dari sana. Sesil menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang di rasa sangat aneh, bahkan seperti wanita yang PMS, sangat sensitif.


Sesil menatap punggung suaminya yang hilang di balik pintu, sejenak Sesil menghela nafasnya, mencoba mengatur emosinya sendiri. Setelah tenang, Sesil mengambil ponsel suaminya yang kebetulan ketinggalan di atas meja makan.


Sesil mencari nomor Chan untuk meminta bantuannya membelikan buah kiwi.


Sesil mengirim pesan pada Chan, dan kebetulan langsung di balas oleh Chan.


Puji Tuhan, sahabat suaminya itu mau membantu dirinya membelikan buah kiwi untuknya.


Setelah berbalas pesan dengan Chan, Sesil meletakkan kembali ponsel suaminya di atas meja kemudian dia menyusul suaminya.


Sesil melewati beberapa ruangan mencari keberadaan suaminya. Namun Sesil tak mendapati keberadaannya.


"Kemana dia?" Sesil bertanya pada dirinya sendiri.


Sesil keluar resort menuju jembatan yang menghubungkan kamarnya dengan bibir pantai, benar saja Nathan sedang duduk di ujung jembatan yang terbuat dari papan kayu, kakinya terlihat mengayun di atas air laut.


Sesil melangkahkan kakinya mendekat ke arah suaminya, dan langsung duduk di samping suaminya. Dia melihat wajah Nathan yang begitu murung.


"Sayang..?" panggil Sesil lembut. Namun sayangnya Nathan tidak mau menoleh ke arahnya. Sepertinya suaminya sedang mengambek padanya karena buah kiwi.


"Sayang?" Panggil Sesil kembali, bahkan kali ini Sesil melingkarkan tangannya di lengan suaminya dan langsung menyandarkan kepalanya di pundak suaminya..


"Aku hanya ingin memakan buah kiwi Sil, apa ada yang salah?" seru Nathan dengan suara yang sangat berat.


"Tidak ada yang salah sayang, hanya kita kan sedang berlibur di pulau terpencil, bahkan di pulau ini hanya ada kau dan aku serta dua pelayan yang melayani kita di sini, mereka juga tinggal di kamar yang berjarak lumayan jauh dari kamar kita" Sesil mencoba memberi pengertian pada suaminya, berharap Nathan mau mengerti.


Tapi entah mengapa Nathan tidak ingin mendengar apapun, yang dia inginkan hanya memakan buah kiwi, itu saja.


"Terserah, aku hanya ingin memakan buah kiwi" tegas Nathan.

__ADS_1


Sesil menghela nafasnya dengan berat, suaminya sangat aneh sekali hingga mengambek hanya karena ingin memakan buah kiwi.


Sesil tak mau menyerah begitu saja, dia terus berusaha membujuk suaminya, tapi segala cara dan upaya sudah di lakukan olehnya sayangnya Nathan masih tetap pada pendiriannya, ingin memakan buah kiwi.


Samar-samar terdengar suara kapal menepi, Sesil yakin pasti Chan sudah datang membawakan pesanan dirinya. Dan benar saja tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka.


"Hai kalian" Teriak Chan yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


"Astaga, siapa di sini yang sedang ngidam? hampir tengah malam begini masih ingin memakan buah kiwi? Apa kau nona Sesil?" seru Chan yang kini berhenti di belakang punggung Sesil dan Nathan.


Seketika itu pula Nathan dan Sesil beranjak dari duduknya dan menyambut kedatangan Chan.


Sesil mengambil alih satu kresek buah kiwi yang di bawa oleh Chan lalu Sesil mengucapkan terimakasih pada Chan yang sudah membantunya.


"Hei kenapa kalian diam saja? aku kan sedang bertanya?" imbuh Chan yang masih penasaran.


"Tidak ada yang ngidam di sini ! Dasar bodoh" ketus Nathan.


"Lalu untuk apa buah kiwi yang sangat asam ini?" Chan mengernyitkan dahinya dengan heran.


"Ya untuk di makan, memang ada yang salah? dasar bodoh" Nathan memlototkan matanya ke arah Chan


"Aku hanya ingin memakan buah kiwi, tidak ada yang salah. Lagian buah kiwi memiliki rasa yang sangat segar" imbuh Nathan kembali sambil menelan air liurnya melihat sekresek buah kiwi di tangan istrinya.


"Dasar bodoh ! Nathan kau ini sama sekali tidak peka. Sepertinya istrimu mengalami kehamilan simpatik" tutur Chan.


Seketika Sesil melebarkan matanya mendengar ucapan dari Chan, rasanya itu tidak mungkin terjadi karena dokter sudah mengatakan kemungkinan Sesil mengandung kembali sangatlah kecil.


Sejenak Sesil mengingat-ingat hari ini tanggal berapa, dan saat mengingat tanggal hari ini, seketika jantung Sesil berdegup dengan kencang, karena seharusnya hari ini dirinya sudah datang bulan.


Tapi Sesil langsung menepis jauh-jauh pikirannya, dia tidak mau berharap lebih, takut-takut akan kembali kecewa.


Mungkin keterlambatan datang bulannya ini wajar terjadi, karena biasanya mundur atau maju tanggalnya suatu hal yang wajar terjadi.


"Sudahlah, susah berbicara dengan kepala batu sepertimu" Chan mengibaskan telapak tangannya dan berbalik badan meninggalkan sepasang suami istri yang malah saling diam.


Nathan sedang membayangkan buah segarnya buah kiwi, sedangkan Sesil memikirkan siklus datang bulannya.


Lama keduanya saling diam, Nathan terlebih dulu menarik kresek yang sedari tadi di pegang oleh istrinya.


"Ayo sayang, aku sangat ingin memakan buah ini" Nathan melebarkan senyumnya dan mengajak Sesil kembali masuk ke dalam resort.


Kini Nathan duduk kembali di meja makan, sementara Sesil terlihat sedang mengupas buah kiwi menggunakan pisau. Nathan terus saja melihat ke arah buah kiwi yang sedang istrinya kupas.


"Makanlah" seru Sesil.


"Tidak mau" tolak Nathan.


Seketika itu pula Sesil langsung menatap tajam suaminya, tadi suaminya merajuk meminta buah kiwi dan saat ini setelah di kupas malah suamianya tidak mau memakannya.


'Astaga sungguh menyebalkan' gumam Sesil dalam batinnya.


"Tidak mau memakan sendiri, suapin aku" pinta Nathan dengan suara yang sangat manja, bahkan Nathan terlihat mengedipkan matanya beberapa kali. Membuat Sesil ingin tertawa geli melihat tingkah suaminya yang seperti itu.


"Buka mulutmu" Sesil menyuapkan satu potong buah kiwi menggunakan garpu ke dalam mulut suaminya.


"Mmmm, lezat sekali" Nathan mengunyah buah tersebut tidak terlalu lama dan langsung menelannya.


"Lagi.." Nathan membuka mulutnya kembali dan Sesil pun kembali menyuapkan potong buah kiwi ke dalam mulut Nathan.


Sesil yang melihat suaminya memakan buah kiwi menjadi ingin tau rasa dari buah kiwi, mungkin saja buah kiwi di Kamboja rasanya manis tidak seperti di indonesia yang memiliki rasa asam.


Melihat suaminya yang memakan buah kiwi dengan begitu lahap, membuat Sesil merasa penasaran dan ingin pula mencicipi buah tersebut.


Dengan rasa penasaran yang menggebu, Sesil menyuapkan sepotong buah kiwi ke dalam mulutnya.


Dan baru saja masuk mulutnya seketika itu pula Sesil merasakan ngilu yang luar biasa, rasa buah kiwi di Kamboja ternyata sama saja seperti di Indonesia, sangat asam.


Sesil berlari meninggalkan meja makan menuju dapur, setelah sampai dapur Sesil memuntahkan buah kiwi yang masih utuh belum sempat di kunyah di dalam mulutnya.


Kemudian Sesil membuka kulkas mengambil air mineral untuk menghilangkan rasa asam di dalam rongga mulutnya. Namun sialnya rasa asam di dalam mulutnya masih begitu terasa. Sesil kembali menenggak air mineral, berharap rasa asam di dalam mulutnya bisa hilang.


Dengan masih menggenggam sebotol air mineral, Sesil kembali menuju meja makan, dan betapa terkejutnya saat sepiring buah kiwi sudah habis oleh suaminya seorang diri.


"Enak sekali sayang" Natha. menjilat bibirnya yang masih menyisakan rasa buah kiwi.


Rasa puas sudah di dapatkan olehnya setelah memakan sepiring buah kiwi.


Sesil melongo melihat tingkah suaminya yang sangat aneh.

__ADS_1


Malam semakin larut, keduanya memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa pegal karena perjalan panjang hari ini.


Setelah berganti pakaian, Sesil dan Nathan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Nathan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Sesil. Keduanya tidur dengan saling memeluk satu sama lain.


Nathan terlihat langsung memejamkan matanya, sementara Sesil memejamkan matanya tetapi tidak bisa tidur. Pikirannya kembali teringat perkataan Chan barusan.


Sesil yang merasa penasaran membuka matanya kembali dan melihat Nathan sudah terlelap tidur, setelah yakin suaminya tidur Sesil mengambil ponsel miliknya dan membuka benda pipih tersebut.


Sesil mencari tau tentang kehamilan simpatik di internet.


Perlahan Sesil mulai membaca artikel yang menjelaskan tentang kehamilan simpatik.


Sesil membaca dengan seksama, ada beberapa ciri-ciri yang mirip dengan yang di alami Nathan saat ini, namun Sesil tidak mau terlalu berharap karena takut merasa kecewa. Setelah puas mencari informasi Sesil meletakkan kembali ponsel miliknya di atas meja, dan dia kembali berusaha memejamkan matanya.


Entah sudah berapa lama, Sesil tiba-tiba merasa Nathan menggoyangkan lengan tangannya dan menyebut namanya beberapa kali.


"Sayang.. sayang... bangunlah" Nathan terus berusaha membangunkan istrinya yang masih terlelap.


"Ada apa?" Jawab Sesil masih memejamkan matanya


"Sayang bangunlah, aku ingin makan buah kiwi lagi" Imbuh Nathan.


Mendengar ucapan suaminya seketika itu pula Sesil langsung membuka matanya dan beranjak duduk di atas ranjang, di langsung melihat jam dinding yang ternyata menunjukkan pukul 02.05am waktu setempat.


"Apa aku tidak salah dengar?" Sesil menoleh melihat Nathan yang kini juga duduk di sampingnya.


Nathan menggelengkan kepalanya dengan pasti, karena memang dia sangat menginginkan buah kiwi kembali.


"Ayo sayang, kupaskan buah kiwi untukku" imbuh Nathan kembali.


Sesil diam saja menatap kedua bola mata suaminya, ada rasa kesal karena dirinya di bangunkan tengah malam seperti ini hanya karena buah kiwi, rasa-rasanya Sesil ingin marah dan melemparkan Nathan ke tengah lautan karena seharian ini sudah bersikap sangat konyol.


"Sayang ayo" Nathan beranjak dari atas ranjang dan menarik-narik tangan Sesil.


"Kau ini kenapa aneh sekali? ini tengah malam dan kau memintaku mengupas buah kiwi untukmu? kupaslah sendiri aku sangat mengantuk" Sesil tak merubah posisinya, dia masih duduk di atas ranjang menyilangkan kedua kakinya.


"Sayang, cepatlah, aku sangat ingin memakannya saat ini" rengek Nathan layaknya anak kecil yang sedang meminta jajan pada orang tuanya.


Sesil dengan terpaksa menuruti kemauan suaminya meskipun rasa malas karena rasa kantuk di matanya.


Kini Nathan dan Sesil duduk di kembali di meja makan, seperti biasa terlebih dulu Sesil mengupas buah kiwi, mencucinya baru memotongnya. Tidak tanggung-tanggung Nathan meminta Sesil mengupas tiga buah kiwi untuknya.


Setelah melihat istrinya selesai memotong buah kiwi, Nathan langsung mengambil alih piring yang berisi potongan buah kiwi dan memindahkan piring tersebut ke depannya bahkan dengan tidak sabar Nathan langsung kembali memakan buah tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


Sementara sambil menunggu suaminya selesai makan buah kiwi, Sesil menyandarkan kepalnya di atas tangannya yang dilipat di atas meja makan, rasa kantuk di matanya sudah tak bisa di tahannya hingga Sesil kembali memejamkan matanya.


Sementara Nathan terus saja asik menghabiskan potongan buah kiwi di atas piring hingga potongan terakhir, dan saat sudah habis Nathan mengusap perutnya yang terasa begah karena kenyang memakan buah kiwi.


Nathan mengalihkan pandangan matanya melihat ke arah istrinya yang sudah kembali terlelap. Perlahan Nathan menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya.


Ternyata benar istrinya sudah kembali tertidur. Merasa tak ingin membangunkan tidur lelap istrinya, Nathan menggendong istrinya dan membawanya masuk kembali ke kamarnya.


Setelah kembali ke kamarnya, Nathan kembali membaringkan tubuh istrinya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, udara di tepian pantai menjelang pagi seperti ini sangat dingin. Nathan pula ikut membaringkan badannya di samping istrinya, dia juga ikut kembali terlelap dengan posisi memeluk tubuh istrinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ada yang ingin kalian katakan?😁


Jangan lupa Vote dan komentarnya😘


__ADS_2