Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Berkabung


__ADS_3

Sesil berjalan terburu-buru menyusuri lorong rumah sakit, hatinya begitu gelisah, dan saat dia berdiri di ujung koridor yang menghadap langsung pintu UDG, seketika langkah kakinya terhenti.


Sesil melihat papinya sudah duduk di sana sembari menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Sesil berjalan mendekat dengan langkah kaki yang sudah terasa begitu berat, dan saat sudah dekat sesil yang tak bisa lagi menahan rasa keingintahuannya, langsung melontarkan pertanyaan ke arah papinya.


"Pi, bagaimana?"


Mendengar suara putrinya, swan lantas membuka telapak tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya, Lalu swan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Seketika kaki sesil terasa kehilangan tulangnya saking terasa lemas, bahkan kedua kakinya tak bisa menopang tubuh mungilnya dan sesil langsung jatuh terduduk di lantai sembari membeka mulutnya.


Air mata tak bisa di bendung lagi, bahkan mengalir begitu deras tanpa bisa di tahan lagi.


Swan yang melihat putrinya begitu shock langsung berlari dan merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukannya.


Swan mengusap punggung sesil dan mencoba menenangkan putrinya yang sedang menangis histeris itu.


"Sayang, tenanglah.." Swan mencoba menenangkan sesil yang semakin tersedu-sedu menangis.


"Ini di luar kuasa kita, kau harus ikhlas menerimanya" Swan berkata begitu lirih, ternyata selain dirinya, putrinya juga tak kalah terpukul atas musibah ini.


Sedangkan sesik masih terus menangis di dalam dekapan swan, bahkan kemeja depan swan sudah terlihat basah karena air mata sesil.


Tak lama kemudian, terlihat beberapa dokter keluar dari ruang UGD membawa brangka yang terdapat seseorang yang sudah di tutupi dengan kain putih.


"Sesil mimpi kan pi..?" Sesil bergumam dan langsung berlari menghampiri brangka tersebut, seketika langkah kaki dokter dan beberapa perawat terhenti karena sesil memeluk orang yang sudah di tutupi dengan kain putih itu.


"Rasanya, baru kemarin siang sesil berbincang dengan oma, dan oma juga berjanji akan sembuh, tapi kenapa oma, oma meninggalkan sesil secepat ini? Apa oma sudah tidak menyayangi sesil? Sama seperti mami yang pergi begitu cepat?" Sesil meraung meratapi kepergian omanya yang terasa begitu cepat.


Tak lama kemudian, terlihat kinos keluar dari dari ruang UGD dengan langkah kaki yang gontai.


Swan sangat bingung saat ini, dia hanya sendirian, sedangkan sesil dan kinos sama-sama terlihat membutuhkan seseorang untuk menenangkan mereka.


Untung saja tak lama kemudian terlihat nathan berjalan tergesa-gesa menghampiri swan.


"Pi..." Nafas nathan terdengar begitu masih belum stabil.


"Cepat urus istrimu" Swan berlari menghampiri ayahnya yang sudah hampir terjatuh, untung saja swan berhasil menangkap tubuh kinos yang pingsan.


Sedangkan nathan juga langsung menghampiri sesil yang masih menggoyangkan tubuh omanya dan meminta omanya untuk membuka mata.


"Sayang, tenanglah.." Nathan menarik paksa tubuh sesil ke dalam dekapannya, dan langsung menyuruh dokter mengurus jenazah dari omanya itu.


Melihat brangka omanya di bawah menjauh, sesil semakin meronta ingin menghentikan langkah kaki para dokter, namun sekuat tenaga nathan mendekap tubuh mungil istrinya.


"Stop.. stop..." Suara sesil berteriak menggema di koridor rumah sakit.


Sesil bahkan memukul dada bidang suaminya yang kini terus menghalanginya untuk menyusul oma.


"Dokter pasti salah, oma hanya kelelahan saja.." Sesil berteriak ke arah dokter yang sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


"Sayang, tenanglah.." Nathan tak kuasa melihat gadis yang di cintainya berderai air mata seperti ini.


Nathan terus mengusap punggung sesil dan berkali-kali mengecup kepala sesil.


"Nath, ayo cepat, hentikan dokter itu, atau aku akan marah padamu" Ancam sesil, sedangkan nathan hanya diam saja, dia tidak ingin membuat sesil semakin terguncang.


Sedangkan swan terlihat memanggil beberapa perawat untuk membawa ayahnya yang pingsan.


Nathan membimbing sesil untuk duduk di bangku panjang yang terlihat tak jauh dari tempatnya beridiri saat ini.


Nathan masih terus mendekap tubuh istrinya yang bergetar hebat saat itu.


"Sayang, dengarkan aku.." nathan nampak berhati-hati memilih kata-kata yang akan di sampaikan pada sesil.


"Sayang, semua yang bernyawa pasti akan di panggil oleh tuhan, cepat atau lambat itu pasti akan menghampiri kita, mungkin tuhan tak ingin melihat oma terlalu lama menderita sakit, jadi dengan rasa cintaNya, tuhan mengambil oma untuk bersamaNya di surga sana" Nathan mengusap puncak kepala sesil, dan sesil hanya menangis di dalam dekapan nathan.


"Sayang, oma tidak akan suka jika melihatmu seperti, apa kau mau oma bersedih di atas sana?" Nathan melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata istrinya yang basah karena air mata, kemudian dengan telaten nathan mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya.


"Kau tidak mau kan oma bersedih?" nathan kembali melontarkan pertanyaan yang sama, dan sesil dengan cepat menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kau berdoa untuk mendiang oma ya" Nathan menatap dalam ke arah bola mata istrinya, dan satu kecupan mendarat di kening sesil.


Sesil nampak sedikit lebih tenang setelah mendengar semua ucapan nathan.


Dan tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka, nampak keandra dan sean datang tergesa-gesa.


Setelah keandra dan sean duduk, nathan menjelaskan semuanya kepada mereka, keandra dan sean juga sangat shock, tidak menyangka akan terjadi seperti ini, karena tadi pagi anne masih terlihat baik-baik saja saat sebelum semua anggota keluarga pergi beraktivitas.


"Tante dimana om?" Nathan melihat ke arah sekeliling dan tidak melihat rara di sana.


Dan tadi sean sudah meminta rara pulang, dan saat ini rara sudah berada di jalan, dan sekita dua jam ke depan rara akan sampai di semarang kembali.


Setelah sean mengurus segala keperluan administrasi, akhirnya pemulangan jenazah berjalan lancar.


Kini jenazah anne di semayamkan di rumah sean.


Kinos hanya bisa memandang tubuh kaku istrinya yang terbujur kaku di dalam peti.


Kinos kembali memutar memorinya saat pertama kali bertemu dengan anne di hari pernikahan saudara kembarnya, saat itu kinos mengantikan posisi saudara kembarnya yang meninggal akibat kecelakaan tragis.


Saat itu kinos benar-benar membenci anne, Tapu seiring berjalan waktu, saat swan kecil lahir kinos mulai memiliki perasaan kepada anne.


Bahkan kinos merawat swan dan mendidiknya layaknya anak kandungnya, dan saat swan berumur 3tahun, mereka memutuskan untuk mengadopsi rara kecil saat itu, semakin lengkap kebahagiannya.


Air mata kinos tiba-tiba lolos begitu saja saat mengenang kembali masa lalunya.


Sedangkan rara juga terlihat menangis di dalam dekapan suaminya.


Menjelang sore, mereka sudah memakamkan jenazah anne tak berdekatan dengan makam ayu.


Prosesi pemakaman, berlangsung begitu khidmat, dan setelah prosesi pemakaman selesai, semuanya kembali ke rumah masing-masing.

__ADS_1


***


Di dalam ruang tamu, swan langsung mendudukkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya, bahkan kedua matanya terlihat tertutup.


Swan sangat begitu kehilangan ibunya, tapi swan tidak ingin terlihat bersedih, karena itu akan membuat sesil semakin histeris dan tertekan.


Sedangkan nathan membimbing sesil untuk masuk ke dalam kamarnya, nathan terlebih dahulu mandi untuk membersihkan dirinya, setelah dirinya selesai kemudian nathan menyuruh sesil untuk mandi juga.


Tidak seperti biasanya, sesil kali ini mandi dengan cepat, bahkan setelah mengenakan pakaiannya, sesil langsung berbaring dan membalutkan selimut hingga ke lehernya.


Matanya tak terpejam, sesil menatap langit-langit kamarnya, semua memori masa kecilnya bersama omanya menari di dalam kepalanya.


Nathan mendudukkan tubuhnya di ranjang kosong sebelah sesil dan langsung mengusap kepala sesil dengan begitu lembut.


"Silz sedari siang kau belum makan apapun, makanlah walau hanya sedikit" Rayu nathan, dan langsung mendapat gelengan kepala oleh sesil.


Nathan menghela nafasnya berat, dia benar-benar tidak tega melihat kondisi sesil yang begitu terguncang


Tiba-tiba nathan sangat terkejut saat sesil meletakkan kepalanya di atas pahanya.


Sesil menyandarkan kepalanya di pangkuan nathan, dan nathan menatap sendu ke arah istrinya, dengan lembut nathan menyibakkan rambut yang menutupi wajah sesil, dengan perlahan nathan mengusap kepala sesil, dan sesil juga terlihat kembali mengeluarkan air matanya.


Nathan diam saja tidak mengatakan sepatah katapun, karena menurut beberapa orang, menangis akan membuat hati kita sedikit merasa tenang dan lega.


Tangan nathan dengan telaten terus mengusap puncak kepala istrinya itu, hingga tak tau sudah berapa lama, akhirnya nathan merasakan air mata sesil tak lagi membasahi pahanya, sekilas nathan melihat ke arah sesil dan ternyata sesil sudah tertidur di sana.


Dengan perlahan, nathan membenarkan posisi tidur sesil.


Nathan memindahkan kepala sesil dari pangkuannya ke atas batal.


Kemudian nathan mengecup kening sesi dan ikut membaringkan tubuhnya tepat di samping sesil, bahkan nathan melingkarkan tangannya di perut istrinya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Ah cerita srayu udah nggak seru ya?

__ADS_1


alurnya udah ketebak eh, hmmm flat dong ya???


Happy Satnight*


__ADS_2