Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Hanya Aku yang Berhak


__ADS_3

Mentari sudah terlihat meninggi di atas langit, bahkan sinarnya sudah menghangatkan seluruh warga bumi.


Namun Nathan dan Sesil masih terjaga dalam tidurnya, bahkan panasnya sinar mentari tak membuat mereka membuka matanya.


Suara kicauan burung bersahutan satu dengan yang lainnya, bahkan deburan ombak pun manari-nari hingga terdengar sampai ke kamar yang sesil tempati saat ini.


Sesil menggeliat dari tidur pulasnya, salah satu tangannya menggosok matanya. Sesil menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, namun saat menyadari dirinya tidur tidak mengenakan busana sesil kembali membalutkan selimut tersebut.


"Ah.." Sesil mendesis menahan rasa sakit saat tubuhnya di gerakkan barang sedikit saja, suara desisan dari mulut sesil membuat nathan mengerjapkan matanya, lalu dia pun menoleh ke arah samping tepat dimana sesil berada saat ini.


"Kenapa sayang?" Ucap nathan dengan suara khas bangun tidur.


"Sakit..." Rengek sesil dengan suara yang begitu manja di dengar oleh nathan


"Apanya yang sakit? Apa kau demam? pusing ? atau masuk angin?" Nathan terdengar begitu panik saat mendengar sesil mengatakan kata sakit.


Namun dengan cepat sesil menggelengkan kepalanya menjawab semua pertanyaan nathan.


"Lalu..?" Nathan menaikkan kedua alisnya menatap ke arah istrinya


"Badanku sakit semua" Sesil mengerucutkan bibirnya ke arah nathan, dan seketika saat nathan mendengar ucapan sesil senyum di bibirnya mengembang sempurna, nathan kembali teringat Aktivitasnya semalam, dirinya menghabiskan malam dengan sesil, bahkan hingga sang fajar mereka masih melakukannya.


Nathan bahkan tidak memberi jeda sedikitpun kepada sesil, membuat sesil kewalahan menghadapi dirinya. Baru setelah fajar terbit dan sesil terlihat begitu lelah nathan melepaskan sesil dan membiarkan sesil beristirahat. Nathan terus melakukannya hingga melupakan kondisi sesil, pasalnya ini pengalaman sesil yang pertama pasti tubuhnya tidak sekuat dirinya yang notabennya seorang pria.


"Maaf sayang.." Nathan membelai mesra kepala sesil, membuat sesil menjadi malu dan wajahnya merona, bayang kejadian semalam berputar kembali di otaknya. Rasanya sesil tidak percaya dia sudah melakukannya dengan nathan, padahal dulu mereka tidak pernah akur, selalu bertengkar, tapi takdir ternyata menyatukan mereka dalam tali suci pernikahan.


"Biar aku pijit ya?" Ucap nathan, membuat sesil yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya, sesil sudah bisa menebak apa yang selanjutnya akan terjadi jika nathan memijat tubuhnya.


Rasa sakit belas semalam saja belum sembuh, bagaimana jika mereka melakukannya lagi?


Pastinya tulang sesil akan lepas dari sendinya, karena saat ini saja sesil merasa tulangnya sudah patah.


"Kenapa?" Nathan menaikkan kedua alisnya menatap istrinya, membuat sesil tersenyum pelik, pasalnya dia tidak mungkin mengatakan semua isi kepalanya saat ini.


"Ya sudah kalau tidak mau" imbuh nathan lagi, kemudian tangan nathan terulur dan mengusap perut sesil yang di lapisi oleh selimut.


"Sayang jangan nakal di dalam sana, kasian mama" Ucap nathan sambil tangannya terus mengelus perut sesil, membuat sesil menggelengkan kepalanya karena keheranan melihat tingkah konyol nathan.


"Kau ini bicara omong kosong apa? kita kan baru melakukannya semalam, bagaimana mungkin sudah ada bayi dalam rahimku" Dengus sesil kesal.


"Melakukannya semalam?" Nathan kembali mengulangi kata-kata sesil dan tersenyum penuh arti


"Jadi, kau mau melakukannya lagi sekarang?" Nathan menaik turunkan alisnya dan tersenyum mesum ke arah sesil, membuat sesil mendengus kesal dan mendorong wajah nathan menggunakan telapak tangannya.


"Dasar mesum!" Sesil mengubur dirinya dalam selimut, karena dia sangat malu mendengar semua ucapan nathan, wajahnya sudah terasa begitu panas.


Melihat sesil yang menunjukkan sikap malu-malu, membuat nathan tersenyum senang karena sudah menggoda sesil.


Dengan cepat pula nathan ikut mengubur dirinya ke dalam selimut dan memeluk sesil dengan erat, membuat sesil merasa sesak.


Saat sesil benar-benar merasa sesak, sesil membuka selimut yang menutupi wajahnya.


Dengan menggerutu tidak jelas di dalam dekapan nathan yang tak mau melepaskannya sedikitpun.


Namun tiba-tiba telefon yang terletak di meja kecil samping ranjang berbunyi. Awalnya nathan mengacuhkannya dan tetap memeluk istri kecilnya yang menurutnya menggemaskan itu.


Namun telefon tersebut tak hentinya berdering, membuat nathan berdecak kesal dan tangan kirinya meraih gagang telefon, sedangkan tangan kanannya masih memeluk pundak sesil.


"Halo..!"

__ADS_1


"......"


"Bilang padanya, aku tidak menerima tamu saat ini !"


"....."


"Apa dia memaksa bertemu denganku?" Nathan sejenak menutup gagang telefon dan melirik ke arah sesil yang juga sedang menatapnya penuh tanda tanya.


"Ada tamu mencariku" Seru nathan


"Ya sudah temui saja" Sesil melebarkan senyumnya ke arah nathan .


"Suruh dia menunggu di ruang tamu" ucap nathan kepada satpam yang menelfonnya, dia lantas meletakkan kembali gagang telefon ke tempat semula.


"Ya sudah kau mandilah, aku masih ingin berbaring" Imbuh sesil lagi, dengan terpaksa nathan melepaskan pelukannya, namun sebelum dia beranjak dia kembali memberi ciuman yang banyak di wajah sesil, membuat sesil menjadi geli dan tersenyum tiada henti.


Nathan beranjak dari kasurnya untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi.


Sedangkan sesil memungut pakaiannya yang tercecer di lantai. Sesil mengenakannya kembali pakaian tersebut, dan saat semua pakaiannya sudah terpasang di tubuhnya, sesil kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk di kamarnya, dan nathan juga sudah menyelesaikan mandinya dan keluar dengan pakaian santainya, celana selutut serta kaos berwarna hitam membalut tubuh kekarnya.


Terlihat begitu tampan di mata sesil.


"Sayang kau tidak mau ikut turun?" Nathan mendudukkan tubuhnya di samping sesil, menatap istrinya yang masih malas-malasan di atas tempat tidur.


"Tidak" Sesil memutar bola matanya malas, membuat nathan menggelengkan kepalanya.


"Cepatlah mandi, dan kita makan siang bersama" Nathan mengecup kening sesil lalu beranjak berdiri meninggalkan sesil yang masih berbaring di atas ranjang.


Sesil mengambil ponselnya dan melihat banyak pesan masuk, dari imel dan papinya.


Perlahan sesil menyentuh angka alfabet di layar ponselnya dan membalas pesan dari imel serta papinya.


"Kalian?" Suara bariton nathan membuat kedua tamunya yang sedang asik mengobrol menoleh ke arahnya.


"Nath, hai apa kabar?" Dave melebarkan senyumnya, seolah-olah dia tidak mengetahui kalau nathan berada di sini.


"Aku ada keperluan pekerjaan di sini, dan tak sangka tadi pagi aku bertemu dengan yasmine, ternyata kami menginap di hotel yang sama, dan yasmine bilang kau juga berada di sini serta menginap di resort ini" Imbuh dave


"Nath, apa mari kita jalan-jalan bersama" Yasmine berlari menghampiri nathan dan langsung bergelayut manja di lengan nathan.


Namun dengan cepat nathan menjauhkan tangan yasmine dari lengan tangannya, nathan tidak mau membuat sesil salah paham seperti kemarin lagi.


"Duduklah" Nathan berlalu meninggalkan yasmine yang masih berdiri mematung, sedangkan nathan terlebih dahulu mendudukkan diri di sofa.


Yasmine tidak menyangka sikap nathan berubah menjadi acuh, padahal semalam mereka masih mengobrol dengan akrab di resto hotel sambil menikmati secangkir kopi panas.


Dengan wajah murung, Yasmine kembali mendudukkan tubuhnya di samping dave.


Kemudian dave dan Nathan mengobrol seputar pekerjaan, membuat yasmine yang merasa di acuhkan merasa kesal.


****


Tak terasa hampir setengah jam lebih nathan menemui tamunya tapi tak kunjung kembali, sesil meraih gagang telefon di meja kecil samping tempat tidur lalu dia menekan beberapa digit nomor lalu memanggilnya, sesil hendak meminta jus kepada para pelayan karena tenggorokannya terasa sangat kering, namun beberapa kali sesil menghubunginya namun tidak ada jawaban pula.


Sesil memutuskan untuk turun ke paviliun belakang mengambil minuman.


"Papi sungguh merepotkan, kenapa menempatkan dapur dan tempat penjaga di paviliun belakang" Sesil menggerutu dengan tidak jelas.


Sesil keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan rasa malasnya, bahkan pandangan matanya tidak melihat ke arah sekitarnya. Sesil menyeret kakinya yang terasa lemas efek kegiatan semalam menuruni anak tangga satu persatu, hingga beberapa anak tangga lagi dia akan tiba di lantai bawah.

__ADS_1


Dave yang sedang mengobrol dengan nathan seketika gagal fokus karena melihat sesil dengan pakaian yang begitu minim menuruni anak tangga. Karena nathan duduk membelakangi tangga jadi nathan tidak mengetahui kalau istrinya turun ke lantai bawah.


Nathan masih terus berbicara kepada dave, namun dave sudah tidak menjawabnya, membuat nathan menautkan kedua alisnya saat melihat pandangan mata dave tertuju ke tangga, sontak saja nathan menoleh ke arah tangga dan melihat sesil yang mengenakan pakaian yang begitu minim di sana.


Dengan cepat nathan beranjak dan menghampiri sesil yang kini berdiri di ujung tangga.


Melihat nathan tiba-tiba beranjak dari kursi, membuat yasmine yang sedari tadi memainkan ponselnya untuk mengusir rasa jenuhnya, melihat ke arah nathan yang sedang berjalan cepat menuju tangga.


"Sayang.." Nathan menarik tubuh sesil dan memeluknya, menutupi tubuh sesil yang terekspos sempurna.


"Ada apa?" Sesil merasa terkejut saat nathan tiba-tiba saja menghampiri dan memeluk tubuhnya.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, nathan dengan kondisi masih memeluk sesil membawa sesil naik ke lantai dua.


Setelah sudah tak terjangkau dari pandangan mata dave, nathan melepaskan sesil dari dekapannya dan menatap sesil dengan tajam.


Nathan mendorong tubuh sesil hingga kini tubuh sesil terhimpit dengan dinding.


"Aku tidak mau ini" Nathan menunjuk dada sesil dengan hari telunjuknya


"ini.."


"Ini.."


"ini.."


"Pokoknya ini semua hanya aku yang boleh melihatnya, jangan sekali-kali keluar dengan pakaian minim lagi, di bawah ada dave dan yasmine" Nathan menunjuk seluruh bagian tubuh sesil dengan jari telunjuknya


"Yasmine?" Ucap sesil lirih, rasanya dia tidak menyukai nama itu.


"Cepatlah mandi, dan menyusul ke bawah, bibi penjaga resort sedang menyiapkan makan siang untuk kita" tangan nathan terulur untuk membuka pintu kamar, mempersilahkan sesil masuk ke dalam kamar untuk segera membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2