
Seusai sarapan pagi, Nathan terlihat membantu Swan menyiapkan peralatan memancing, berbeda dengan Kenzo yang sedang asik berceloteh kepada opah serta papinya, banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Kenzo kepada Papinya terutama perihal adik bayinya yang belum ada. Padahal dengan jelas opahnya semalam mengatakan kalau kedua orang tuanya sedang membuat adik bayi untuknya.
"Nak, adik bayi itu tidak bisa langsung lahir dalam waktu satu malam, adik bayi membutuhkan proses selama lebih dari sembilan bulan lamanya untuk bisa lahir ke dunia, Kenzo harus banyak-banyak mendoakan papi dan mami supaya bisa cepat membuatkan Kenzo adik bayi ya" tutur Nathan lembut.
"Jadi adik bayi membuatnya lama ya pi?" tanya Kenzo lagi
"Iya begitulah, intinya sekarang Kenzo harus banyak berdoa ya. Jangan membuat mami setres supaya cepat ada adik bayi dalam perut mami"
Meski sebenarnya Kenzo masih bingung, tapi karena tidak mau membuat papinya pusing, Kenzo menutup mulutnya tak bertanya kembali. Setelah selesai menyiapkan perlengkapan memancing, Nathan segera membawanya dan memasukkannya ke dalam mobil.
Sementara Kenzo menggandeng tangan opahnya menuju mobil, di susul oleh Sesil yang berjalan di belakang papi serta putranya.
Saat Sesil masuk ke dalam mobil mata Nathan begitu terkesiap melihat penampilan Sesil yang mengenakan kaos santai di padukan dengan celana denim di atas lutut, serta sepatu sneaker berwarna putih dan topi Basball berwarna putih senada dengan kaos yang di kenakannya. Tampilan Sesil sangat segar seperti anak gadis yang masih remaja meski usianya sudah menginjak dua puluh delapan tahun, bentuk tubuhnya yang langsing membuat Sesil sangatlah imut.
"Kau cantik sekali sayang" puji Nathan sambil memanyunkan bibirnya hendak mencium istrinya, namun dengan cepat Sesil mendorong bibir suaminya menggunakan telapak tangannya, kedua matanya memlotot dengan sempurna.
"Jangan berikan contoh yang buruk untuk Kenzo ! Jangan ajarkan dia untuk menjadi playboy sepertimu" Ketus Sesil sambil melipat kedua tangannya di perut.
"Hei, tarik ucapanku ! Dari dulu hingga sekarang bahkan nanti seterusnya hanya ada satu wanita dalam hatiku" tegas Nathan
"Siapa pi?" tanya Kenzo penasaran sementara Swan hanya tersenyum melihat kemesraan putrinya, dia kembali mengingat tingkah malu-malu Ayu saat masih hidup dulu.
"Liswa Sesilia Cornelio"
"Itu nama mami pi?"
"Hm, tentu sayang,jangan dengarkan mamimu, Mami hanya malu saja" ledek Nathan sambil mencubit pipi Sesil dengan gemas, membuat Sesil mengerucutkan bibirnya.
"Cepat jalankan mobilnya, kau ini cerewet sekali" perintah Sesil.
Nathan hanya terkekeh saja menanggapi istrinya, kemudian dia terlihat mulai menyalakan mesin mobil miliknya dan menjalankannya meninggalkan rumah kediaman papi mertuanya. Nathan mengarahkan laju mobilnya menuju tempat pemancingan yang biasa dirinya kunjungi bersama ayah serta papinya. Selama perjalanan Kenzo tak hentinya bercengkrama dengan opahnya, bahkan Kenzo terlihat berduet bernyanyi dengan opahnya.
Suara mungilnya sahut-menyahut dengan suara milik opahnya, mereka berdua menyanyikan sebuah lagu favorit Swan Sad Song- we Are king feat elena.
Lagu yang mengisahkan meninggalnya seorang istri yang meninggal lalu meninggalkan seorang anak yang berusia masih kecil. Lagu tersebut di rasa begitu cocok oleh Swan dengan kisah hidupnya. Meski lirik lagu tersebut menggunakan bahasa Ingris tapi Kenzo begitu hafal karena setiap Kenzo bertemu opahnya pasti opahnya mengajaknya bernyanyi lagu tersebut.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam lamanya, kini mobil Nathan sudah terparkir di salah satu area parkir salah satu pemancingan terbaik di kota tersebut. Nathan terlihat turun dari mobil dan mengambil peralatan pancing di bantu oleh Swan, sementara Kenzo di gandeng oleh Sesil. Kini keempatnya terlihat melangkahkan kaki masuk ke dalam tempat pemancingan tersebut. Setelah memesan tempat dan salah satu saung, Nathan mengajak seluruh keluarganya menuju tempat yang sudah di pesan olehnya.
Sesil yang enggan untuk ikut memancing, hanya duduk-duduk santai di atas saung sementara ketiga pria berbeda generasi itu sudah duduk di bangku dengan masing-masing tangannya memegang pancing. Kenzo terlihat begitu gembira karena ini kali pertama Kenzo memegang pancing sendiri, sambil mengobrol santai bersama Swan kedua mata Nathan terus saja mengawasi putranya yang sedang serius memegang pancing di tangannya.
Sesekali Sesil juga terlihat melihat ke arah papi, suami serta putranya yang terlihat sedang mengobrol, wajah mereka terlihat begitu berseri, hingga tiba-tiba saja Kenzo melompat-lompat kegirangan saat kail pancingnya di tarik-tarik oleh ikan ke sana kemari.
"Papi, opah, lihat ! Pancing Kenzo bergerak" seru Kenzo dengan begitu senangnya
"Mana sayang, mana" Nathan beranjak dari tempat duduknya dan me dekati putranya, tangannya memegang tangan mungil putranya lalu membantunya menggulung senar pancing hingga terlihat seekor ikan emas di kail pancing milik Kenzo
"Hore..Hore.." teriak Kenzo begitu senangnya saat dirinya berhasil mendapatkan ikan menggunakan pancing miliknya sendiri.
__ADS_1
Swan menatap ke arah menantu serta cucunya yang sedang tertawa lepas, dia begitu bersyukur bisa melihat kebahagiaan yang lengkap dalam rumah tangga putri semata wayangnya. Setidaknya jika waktunya tiba dia akan tenang karena sudah membesarkan serta mengantarkan putrinya ke dalam kehidupan yang bahagia.
Setelah melepaskan kail pancing dari mulut ikan, Nathan memasukkan ikan hasil pancingan Kenzo ke dalam ember kecil yang sudah di isi sedikit air. Ember tersebut di sewanya tadi saat registrasi tempat.
Kenzo dengan begitu antusias langsung membawa ember tersebut dan berlari menuju maminya yang duduk menunggunya di salah satu saung yang terletak tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Mam, Mami.. Lihat ini" teriak Kenzo sambil berlari mendekat ke arah Sesil yang sedang duduk santai memainkan ponselnya.
"Mami lihat, Kenzo sudah mendapatkan seekor ikan" seru Kenzo sambil meletakkan ember berisi ikan tepat di depan maminya.
"Wah jagoan mami pintar sekali" Sesil mengusap puncak kepala putrinya sambil menepiskan senyum di bibirnya.
"Mami, ayo ikutlah bersama Kenzo. Kita memancing bersama" pinta Kenzo sambil menarik tangan maminya. Sesil yang tidak tega membuat putranya merasa kecewa akhirnya menyetujui permintaan putranya.
Tangan kanan Kenzo menggandeng tangan maminya, sementara tangan kirinya membawa ember berisi ikan. Kini Sesil duduk berdekatan dengan anak serta suaminya, dia terlihat ikut bergabung memancing. Bahkan tak butuh waktu lama, kail milik Sesil sudah di tarik oleh ikan, hingga membuat dirinya berjingkrak kegirangan, dan mampu menarik perhatian pengunjung di sana. Swan dan Nathan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Sesil yang tak jauh berbeda dengan tingkah Kenzo saat baru saja mendapatkan ikan tadi.
Setelah cukup lama memancing dan mendapatkan ikan yang lumayan banyak, akhirnya Nathan mengajak papi serta anak istrinya menuju saung yang sudah di sewanya tadi. Setelah meminta salah seorang pelayan pemancingan menimbang dan membersihkan ikan pancingan mereka kini sudah terhidang ikan yang sudah di bersihkan dan bumbui oleh pelayan tersebut. Tugas Sesil dan Nathan kini tinggal membakarnya saja di tempat pembakaran yang sudah tersedia.
Nathan terlibat begitu bersemangat membolak-balikkan ikan yang sedang di panggang, sementara Sesil terlihat menggerakkan kipas yang terbuat dari bambu. Tak sedikit keringat yang mengalir di pelipisnya, membuat Nathan terkekeh dengan senangnya, seolah tak memperdulikan kedua orang tuanya, Kenzo malah terlihat asik memijat pundak opahnya. Tangan mungilnya terlihat memberikan pijitan di pundak Swan, sementara Swan tersenyum mendapatkan perhatian dari cucunya. Cucunya memang sangatlah pengertian, bahkan Kenzo juga memindahkan tangan mungilnya memijat kepala opahnya.
"Opah, memangnya omah itu pergi kemana? Kenzo belum pernah bertemu dengan omah?" tanya Kenzo
"Sayang, omah itu sudah berada di surga sayang bersama Tuhan"
"Maksud opah? mami selalu mengajak Kenzo berkunjung ke tempat omah, tapi anehnya omah tidak tinggal di sebuah rumah opah"
"Surga itu jauh atau tidak opah?" imbuhnya lagi
"Opah mau mengantar Kenzo bertemu dengan omah? Kenzo ingin menyusul omah, opah!" jawabnya polos
"Kenzo jangan berbicara seperti itu, tidak baik sayang ! Dengarkan opah, Kenzo harus tetap bersama mami dan papi, Kenzo juga harus berjanji kalau akan menjaga mami seterusnya, sayangi mami seperti Kenzo menyayangi diri Kenzo. Suatu saat setelah Kenzo dewasa pasti Kenzo akan mengerti apa yang opah katakan" Swan mengakhiri percakapannya dan menarik Kenzo duduk dalam pangkuannya.
Swan memeluk erat cucu kesayangannya, hatinya kembali merindukan mendiang istrinya. Andai saja Ayu masih ada pasti mendiang istrinya akan senang karena bisa memiliki cucu sepandai Kenzo, belum lagi Kenzo sangatlah penyayang serta penurut.
Meski kebahagiaannya sudah lengkap tapi hatinya tetap merasakan kehampaan.
"Mas.." tiba-tiba saja, Swan merasakan bayang istrinya menyandarkan kepala di bahu miliknya.
Swan menoleh dan menatap ke arah bayang istrinya yang sedang tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak miliknya, bahkan Swan juga melihat bayangan istrinya mengusap lembut rambut milik Kenzo. Wajahnya terlihat tersenyum melihat ke arah Kenzo, hingga sedetik kemudian bayang Ayu memudar dan akhirnya menghilang.
"Papi, Kenzo. Ayo kita makan" suara Sesil membuyarkan lamunan Swan.
"Memangnya sudah matang mam?" tanya Kenzo beranjak dari pangkuan opahnya.
"Sudah sayang. Papi ayo!" timpal Nathan sambil tangannya sibuk menuangkan nasi ke dalam piring kosong lalu menyerahkannya kepada Swan.
Begitu pula Sesil terlihat mengambil nasi untuk anak dan suaminya. Kini mereka menikmati ikan bakar hasil pancingan mereka dengan sepiring nasi yang masih terlihat mengepul asapnya. Karena cucu belum terlalu bisa membuang duri ikan, jadi dengan begitu telaten Swan membantu membuang duri ikan untuk Kenzo, awalnya Sesil yang akan melakukannya, tapi Kenzo malah lebih memilih opahnya yang membantunya ketimbang maminya. Kenzo memang sangat dekat dengan kedua kakeknya.
__ADS_1
Bahkan bisa di bilang jika Kenzo sudah bertemu dengan kakeknya, Kenzo akan melupakan kedua orang tuanya dan malah asik bermain bersama kakeknya.
Sesil sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut, wajar saja papi serta ayahnya begitu menyayangi Kenzo, karena Kenzo adalah cucu pertama mereka dan masih menjadi cucu satu-satunya, kelucuan dan semua sikap Kenzo memang selalu mampu menarik perhatian orang yang berada di sekelilingnya.
Tak ayal meski usianya baru menginjak empat tahun, dirinya kini sudah duduk di taman kanak-kanak.
Setelah merasa puas menikmati kebersamaan mereka dan hari juga sudah sore, Nathan mengajak anak istri serta papinya untuk kembali ke rumah, namun sebelum mereka kembali ke rumah, mereka semua menyempatkan berkunjung ke makam mendiang maminya. Setelah membeli bunga tabur dan air mawar, di dekat areal pemakaman mereka terlihat menyusuri jalan menuju makam Ayu. Saat sampai di makam Ayu, Swan adalah orang pertama yang langsung berjongkok dan mengusap nisan istrinya, tangannya membersihkan dedaunan kering yang berada di atas makam istrinya
"Salam omah, Kenzo datang" Kenzo ikut berjongkok di samping opahnya dan mengusap nisan omahnya menggunakan jari-jari mungilnya.
Swan menatap nanar nisan mendiang istrinya, tak terasa sudah 26 tahun lamanya Ayu meninggalkan dirinya begitu pula dengan Sesil juga terlihat imut berjongkok di samping papinya. Dia juga sama seperti papinya, merindukan maminya.
Setelah puas berkunjung ke makam Ayu mereka semua kembali ke rumah.
Sebenarnya Sesil masih ingin menginap di rumah papinya, tapi karena besok Kenzo harus pergi ke sekolah dan kebetulan di rumah papinya tidak ada seragam sekolah Kenzo, akhirnya Sesil memutuskan untuk kembali menginap minggu depan. Setelah mengantarkan Papinya pulang ke rumah, Nathan kembali melajukan mobilnya menuju rumah mereka.
Bahkan sepanjang perjalanan yang mereka tempuh, Kenzo terus saja bercerita tentang kebersamaannya bersama opahnya semalam, saat opahnya membacakan dongen untuknya bahkan menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untuknya.
Mendengar celotehan putranya, membuat Sesil kembali mengingat masa-masa dulu, masa kecilnya. Papinya memang selalu saja membacakan dongeng cerita saat Sesil menjelang tidur. Namun setelah Sesil tidur papinya akan kembali bekerja di depan layar laptopnya, itu semua Sesil ketahui saat tiba-tiba saja Sesil terbangun tengah malam dan tak mendapati papinya tidur di sampingnya malah terlihat tertidur di sofa sambil memangku laptop. Semua kenangan itu kembali berputar di memori kepala Sesil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Vote, Vote, Vote😍🌹