Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Mencari Gaun


__ADS_3

Pagi ini Sesil rasanya enggan sekali untuk beranjak dari kasurnya, dia rasanya benar-benar malas harus ke kantor pagi ini.


Namun suara ketukan pintu kamarnya membangunkan sesil dari lamunan panjangnya, terdengar suara papinya membangunkan sesil.


Sesil dengan malas beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu, sesil menyentuh knop pintu lalu membukanya, terlihat papinya sudah rapih dengan setelan jas kantor yang melekat di tubuhnya, Swan tersenyum manis ke arah putri semata wayangnya, dan sesil hanya membalas senyuman papinya dengan terpaksa.


"Sayang, mau ke kantor bareng papi?" swan bertanya ke putrinya dan di balas gelengan kepala oleh putri semata wayangnya.


Swan melihat putrinya begitu tidak bersemangat di pagi ini, biasanya sesil selalu ceria dan jam segini biasanya dia sudah berada di meja makan menemani papinya sarapan pagi. Sesil berjalan kembali memasuki kamar tidurnya, dan swan juga mengikuti putrinya, swan merasa bersalah ketika kemarin sesil ingin mengutarakan sesuatu malah dia pergi karena ada masalah di Carnal Entertainment, sesil mendudukkan diri di sofa kamarnya.


"Ada apa sayang?" swan ikut mendudukkan diri di samping sesil, swan mengusap puncak kepala sesil.


"Pi, sesil ingin melanjutkan study bisnis sesil di London" sesil melirik ke arah papinya, sebenarnya sesil tidak tega harus meninggalkan papinya lagi, bahkan kali ini tujuan study nya lebih jauh dari study sebelumnya, namun hanya cara itu yang sesil miliki untuk menghindari perjodohan dengan dean, setidaknya bisa mengulur waktu beberapa taun ke depan.


Swan mengeryitkan dahinya keheranan, pasalnya putrinya kemarin saat selesai wisuda mengatakan dia akan melanjutkan studynya di indonesia karena tidak mau berjauhan lagi dengan dirinya, tapi mengapa tiba-tiba putrinya meminta hal semacam ini.


"Bukan papi melarang sayang, bukannya kemarin kau bilang sendiri mau melanjutkan study di sini? lalu mengapa secara tiba-tiba kau membuat keputusan semacam ini? ada apa sayang? coba cerita sama papi?"


"ehm.... Sesil hanya ingin melanjutkan study saja pi, dan lagi kalau sesil berjauhan dengan papi sesil bisa lebih mandiri lagi, belajar bertanggung jawab pada diri sesil pi" sesil tak sampai hati jika harus mengatakan uang sebenarnya kepada papinya.


Swan diam sejenak, mencoba mencerna setiap permintaan putrinya.


"Sudahlah nak, kita bicarakan selepas acara makan malam dengan keluarga Pak wira, papi tidak enak karena kemarin sudah mengiyakan permintaan dari pak wira, dan kau jangan lupa hari ini harus mencari gaun untuk acara makan malam besok, dean akan menjemputmu nanti ke kantor, sekarang lebih baik kau mandi dan jangan lupa sarapan, lalu menyusul papi ke kantor ya, papi mau berangkat sudah siang" swan mengecup puncak kepala putrinya dan beranjak dari kursinya meninggalkan sesil yang nampak masih diam tak bergeming.


"Ya Tuhan..." sesil bergumam dan memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, setelah cukup tenang sesil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi..


🌷🌷🌷

__ADS_1


Sesil kini sedang duduk di depan meja komputer kerjanya, waktu sudah menunjukan pukul 10.00am, Tiba-tiba pintu ruang kerjanya di ketuk, muncullah dean dari balik pintu dengan membawa sebucket bunga lili yang terlihat cantik dan segar, memang sesil sangat menyukai bunga lili seperti mendiang maminya, namun rasa sukanya seketika sirna ketika melihat dean yang membawa bunga lili untuknya.


"Selama pagi sayang, bagaimana paginya?" dean tersenyum dan meletakkan bunga lili di meja depan sesil, dan dean tanpa di suruh duduk di kursi yang berada tepat di depan sesil.


Sesil hanya melirik dan kembali fokus ke layar komputernya.


"Setelah aku pikir, aku yang selama ini salah, aku terlalu posesif banyak mengatur dan memaksa kamu menyukai apa yang aku sukai, harusnya aku lebih bisa memahami dirimu lagi, sil tolong beri aku kesempatan ya, aku janji akan merubah semua sikap burukku, dan sikap emosional, aku yakin jika kamu berada di sampingku dan bersedia mengajariku aku yakin aku bisa seperti apa yang kamu mau" seru dean panjang lebar mencoba menyakinkan sesil, dean mengatupkan kedua tangannya dan memelaskan wajahnya.


Seketika sesil menghentikan aktifitasnya,dan menyipitkan mata memandang dean yang kini duduk di hadapannya, rasanya akan sulit untuk merubah dean menjadi orang yang sedikit sabar, sikap kasar dean sudah terlalu mendarah daging pada dirinya.


"Sil kau mau kan memberi aku kesempatan?" sambung dean lagi, namun sesil masih diam tak bergeming. Rasanya dia benar-benar tidak bisa mempercayai omongan dean, bisa saja ini hanya sebagai pemanis supaya sesil mau menerima rencana perjodohan ini, dan bisa saja seusai mereka menikah nanti dean akan menyiksanya. Sesil bergidik ngeri membayangkan bila harus menghabiskan sisa hidupnya bersama dean.


"Sil, ayo hari ini aku akan menemanimu mencari gaun untuk acara besok?" dean menarik tangan sesil dengan paksa.


"Dean lepas, kenapa kau memaksaku hah?" suara sesil terdengar meninggi.


"Jangan buat aku marah sil" seru dean tak mau kalah dari sesil, karena sesil tidak mau terjadi keributan akhirnya dia menurut kepada dean, sesil meraih tas jinjingnya dan berjalan keluar ruangan beriringan dengan dean.


Sesil berjalan dengan cepat karena tangannya di tarik oleh dean, sementara emilia hanya mengernyitkan dahi, rasanya dia tidak asing dengan lelaki yang bersama sesil.


🌷🌷🌷


Sesil dan dean kini berada di salah satu boutique terbaik di kotanya, sesil dengan malas memilih gaun yang akan di kenakannya besok dalam acara makan malam bersama keluarga dean, beberapa kali sesil mencoba gaun namun dean masih tak menyukainya, hingga kini gaun ke sepuluh yang di coba oleh sesil.


Sesil keluar dari ruang ganti dan berjalan ke hadapan dean, seketika dean melihat sesil dari ujung kaki hingga kepala, gaun berwarna biru dongker tanpa lengan dengan panjang sepuluh cm di atas lutut begitu cantik menghiasi tubuh seksi sesil, dean berdecak dengan kagum melihat keindahan tubuh sesil


"Ini saja" dean meminta pelayan membungkus gaun pilihannya, padahal sesil merasa sangat tidak nyaman mengenakan gaun tersebut, karena dean memaksa akhirnya sesil menurutinya, namun tanpa sepengetahuan dari dean sesil juga membeli gaun pilihannya sendiri.

__ADS_1


Ketika sesil sedang duduk menunggu dean di toilet, tiba-tiba terdengar dering ponselnya, sesil mengambil ponselnya dan melihat nama nathan tertera pada layar ponselnya, sesil hanya memandangnya saja, lalu mematikan ponselnya, rasanya sesil sudah tidak mau melibatkan nathan terlalu jauh, sesil takut akan berpengaruh pada bisnis keluarga nathan. Karena dean adalah tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.


Kali ini ponsel sesil kembali bergetar, sesil menyalakan layarnya dan nampak satu pesan masuk dari nathan


"Sil kau sedang dimana? bisakah kita bertemu?" ~nathan


Sesil hanya melihatnya saja, kemudian sesil kembali menyimpan ponselnya, tak berselang lama dean kembali dari toilet, dean segera mengajak sesil untuk kembali ke kantor, karena memang dean juga harus menggantikan ayahnya meeting siang ini.


Sepanjang perjalanan sesil hanya melihat keluar jendela tanpa berminat untuk mengobrol dengan dean, sesil hanya berfikir mulai sekarang sesil harus bisa menerima dean sebagi calon teman hidupnya, dan sesil juga harus lebih menekan ego nya supaya tidak banyak keributan antara dirinya dan dean. Inu semua di lakukannya untuk kebahagiaan papinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ikhlas nggak sesil sama dean pems?? tuliskan komentar kalian😁


__ADS_2