Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Kepergok


__ADS_3

Teriknya sang mentari berganti warna dengan warna jingga yang menandakan akan segera berganti menjadi petang.


Wajah seseorang yang di penuhi luka membiru dengan setia duduk di samping pembaringan seorang gadis yang tak henti menatapnya sedari siang tadi, mereka adalah sepasang suami istri yang baru saja mengalami cobaan dalam biduk rumah tangganya.


Sesil tak melepaskan pandangan matanya barang sedetik saja dari wajah suaminya. Hatinya terasa ngilu melihat kondisi suaminya yang di rasa mengenaskan itu.


Tapi entah mengapa dengan kondisi seperti itu, Nathan malah menjadi sering tersenyum dan mengajak Sesil berbicara. Hatinya sudah sedikit lega karena setidaknya papi mertuanya sudah mengijinkannya tetap di samping istrinya,tidak akan memisahkan mereka lagi.


"Nath, kira-kira kapan aku boleh pulang?" baru tiga hari berada di sini saja sudah membuat Sesil merasa tidak betah


"Tunggu dokter mengijinkan sayang ya" Nathan membelai lembut lembut pipi Sesil


Ceklek...


Terlihat pintu terbuka dan masuklah seorang dokter muda dengan wajah yang tidak ramah namun sedikit terkejut melihat kondisi Nathan saat ini, dokter itu adalah Imelda. Imel nampak membawa sebuah parcel buah di tangannya.


Dengan masih mengacuhkan Nathan, Imelda berjalan memutari ranjang dan meletakkan. parcel tersebut di atas meja kecil yang terletak di samping tempat pembaringan Sesil.


"Kau sudah membaik?" Seru imelda


"Kapan mel aku boleh pulang, aku sudah tidak betah di sini" Sesil memutar bola matanya malas dengan wajah yang terlihat tak bersemangat.


"Mungkin lusa, menunggu kondisimu benar-benar membaik"


"Oh ya, ku sarankan kau tinggal di rumah papi saja, papimu kan orang yang selalu menepati janji, aku yakin jika aku memintanya menjagamu pasti dia bisa berjanji akan hal itu" Nada perkataan Imelda terdengar begitu menyindir Nathan, namun Nathan sama sekali tidak menunjukan kemarahan karena perkataan dari sahabat istrinya yang terlihat masih marah padanya.


"Imel..." Sesil menggelengkan kepalanya serta memlototkan matanya melihat sahabatnya yang di rasa begitu menyebalkan itu.


Tanpa menghiraukan perkataan Sesil, dengan senyum lebar dan wajah yang tidak berdosa Imelda berpamitan dan berlalu dari ruangan tersebut.


*****


Komplek perumahan CSG


Swan duduk menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sedari pulang dari rumah sakit dirinya mengurung diri di dalam kamar, merutuki kebodohannya serta kesalahannya. Rasanya dia begitu menyesal akan apa yang sudah dia lakukan terhadap Nathan dan juga putrinya. Hampir saja dia melukai putrinya sendiri dengan cara menyakiti menantunya. Untung saja di detik terakhir Bayang wajah istrinya muncul dan menyadarkannya kalau sikapnya kali ini itu salah.


Swan merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya, untuk pertama kalinya dia menunjukkan sisi gelapnya di hadapan putrinya, selama ini dirinya akan mencontohkan hal serta sikap yang baik terhadap putri satu-satunya, meski tak bisa Swan pungkiri dirinya bukan orang yang baik dan bisa di bilang orang yang kejam terhadap siapa saja yang berani menyentuh ataupun melukai keluarganya.


Bayangan Ayu serta putrinya menangis tadi membuat hatinya begitu pilu, ngilu dan berbagai jenis emosi bercampur menjadi satu membuat dadanya terasa sesak.


Swan memejamkan matanya, menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan.


Namun tiba-tiba saja Swan merasakan ada yang melingkarkan tangannya di perutnya yang masih terlihat sispex itu. Swan membuka matanya dan menoleh. Lagi-lagi Swan melihat wajah mendiang istrinya tidur di sampingnya dengan memeluk erat dirinya.


Swan mengangkat tangannya dan mengusap lembut kepala wanita yang hingga saat masih menjadi pemilik tunggal hatinya.


Wanita yang sangat di cintainya itu terlihat tersenyum ke arahnya kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup mesra pipinya.


Swan menggeser posisi tidurnya hingga kini berhadapan dengan mendiang istrinya supaya bisa leluasa melihat wajah istrinya yang masih begitu cantik.


"Terimakasih mas" Hanya kata itu yang keluar dari bibir mungil Ayu yang memiliki candu bagi Nathan

__ADS_1


"Maafkan aku sayang" Swan membelai lembut pipi Ayu, rasanya hanya ayu yang mampu meredam emosinya sejak dulu, wanita yang berhasil membuat hatinya luluh


"Maafkan aku sayang, aku terlalu kejam hingga hampir saja membuat kita kehilangan putri kita" Tak terasa bulir air mata Swan menetes dari sudut matanya, menampakkan kesedihan dan penyesalan luar biasa. Swan hanya ingin membalas apa yang sudah terjadi, ingin membuat Nathan juga merasakan apa yang putrinya rasakan. Namun saat ini dia sadari, kalau bukan Nathan yang melukai putrinya, tapi Istri dari mendiang Arik lah yang bersalah.


Ayu terlihat menggelengkan kepalanya dan mencoba menghapus air mata yang menetes dengan jarang di wajah suaminya menggunakan ibu jari miliknya.


Kemudian Ayu menutup paksa mata Swan menggunakan telapak tangannya, dan saat Swan kembali membuka mata, bayang mendiang istrinya tak lagi ada di hadapannya.


"Sayang datanglah ! kembali sayang" Swan berteriak dan mencari kembali istrinya yang sudah hilang tak berbekas.


Swan menarik rambutnya dengan kasar dan memukul wajahnya sendiri. Swan terlihat berdiri dan mendekat ke arah sebuah bingkai besar yang menampakkan foto dirinya, istri serta anaknya. Foto terakhir yang di ambil sebelum istrinya meninggal.


Kala itu adalah hari resepsi mereka, ayu begitu cantik menggunakan gaun berwarna putih selutut yang membalut tubuh rampingnya. Senyum di wajahnya mengembang dengan sempurna, senyuman yang Swan lihat untuk terakhir kalinya.


^


Hari sudah malam, Nathan baru saja selesai menyuapi istrinya makan dan membantunya meminum obat.


Sesil terlihat duduk menyandar di kepala ranjang sedangkan Nathan masih setia duduk di kursi yang terletak tepat di samping pembaringan istrinya.


Rasa bosan mulai melanda Sesil meskipun sedari tadi Nathan mengajaknya berbicara namun tetap saja kebosanan sudah tinggal tiga hari di rumah sakit membuatnya merasa tak nyaman.


"Nath, bagaimana kalau kita bermain?" Ucap Sesil dengan mata berbinar.


"Bermain apa?" Nathan menaikkan kedua alisnya menatap istrinya


"Sesil nampak berfikir sejenak, dia juga bingung harus bermain apa saat ini"


"Kau mau bermain apa sayang? katakan saja"


"Hm.."


"Tidak jadi lah" imbuh Sesil sambil menundukkan pandangannya serta meremas jari jemarinya.


Sunyi


Sunyi


Keduanya saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Rasa-rasanya mereka bingung harus melakukan apa.


Hingga Sesil begitu terganggu dengan apa yang sedang di pikirkannya saat ini.


"Nath..." panggil Sesil lirih


"Kenapa sayang?" Nathan kembali mengarahkan pandangan matanya menatap istrinya


"Apa jika aku tidak sempurna dan tidak bisa berjalan kembali seperti sedia kala, kau masih mau bersamaku? masih mau memiliki istri cacat sepertiku"


Mendengar ucapan istrinya, Nathan menajamkan kedua matanya menatap wanita yang sangat di cintainya itu Dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Nathan beranjak berdiri dan langsung menarik tengkuk leher istrinya dan menciumnya dengan kasar. Nathan begitu tak mengerti akan pola pikir Sesil saat ini. Sedari kemarin Nathan sudah menegaskan kalau dia tidak akan meninggalkan Sesil apapun yang terjadi. Bahkan tadi saat dirinya di hajar habis-habisan oleh anak buah papi mertuanya saja dirinya tetap pada pendiriannya. Tapu mengapa saat ini istrinya masih meragukannya?


Nathan semakin memperdalam ciumannya, Sesil yang awalnya tidak membalas ciuman Nathan, kini mulai mengikuti alurnya. Kedua tangannya mengalung sempurna di leher suaminya. Dia juga sangat merindukan moment ini. Dua minggu lamanya Nathan tak menyentuhnya sama sekali.

__ADS_1


Keduanya menikmati ciuman mereka yang semakin panas


Ceklek...


Pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka dan nampak Imelda dan Dave memasuki ruangan tersebut. Imel yang merasa kaget serta malu langsung membalikkan badan hingga menabrak dada bidang milik Dave yang berdiri tepat di belakangnya.


Sedangkan Nathan dan Sesil langsung melepaskan diri satu sama lain dengan wajah yang begitu merona Sesil mencoba menenangkan hatinya yang sedang menahan malu.


Sedangkan Imelda diam saja masih dengan posisi yang sama, posisi Imelda begitu dekat hingga Imelda bisa mendengar detak jantung Dave yang berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan kalau bisa di bilang detak jantung Dave sama cepatnya dengan jantung miliknya.


"Mau sampai kapan kau bersembunyi di depan dadaku hah" Dave menarik krah baju bagian belakang Imel seperti menarik seekor anak kucing yang masih kecil.


"Lepaskan, dasar bodoh" Imelda menepiskan tangan Dave menjauh dari tubuhnya


"Sepertinya kami mengganggu, kami keluar dulu" Ucap Dave dengan nada begitu menggoda, membuat Nathan menggaruk tengkuk lehernya.


"Sudah terlambat dasar nyamuk" Celetuk Nathan


"Nath..." Sesil menatap suaminya sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, baiklah ! Masuklah" tukas Nathan.


Dave dan Imelda kemudian masuk ke dalam ruangan dengan beriringan kemudian mendudukkan diri di sofa yang terletak tak jauh dari pembaringan Sesil.


Kemudian Dave dan Imelda menemani Nathan mengobrol di sana. Kebetulan pekerjaan Imel juga sudah selesai jadi dia bisa menemani Sesil berbincang hanya untuk sekedar menghilangkan rasa jenuh dari sahabatnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2